Remaja
itu sedang mengikuti sebuah latihan spiritual, berkaitan dengan statusnya
sebagai samanera. Ia begitu terkesima
ketika secara tiba-tiba sosok misterius muncul dalam penglihatannya. Bagai
tersihir, ia mengikuti sosok lelaki bermuka sayu dan berbusana selayaknya
bangsawan itu, menerobos ke dalam areal yang dihuni pohon-pohon tua. Sekilas ia
melihat bayangan besar serupa chedi
yang telah runtuh, memancarkan getaran penuh dosa dan ketidaktenangan yang amat
mencekam. Sebelum sempat memahaminya, penglihatannya telah berubah dan sosok
tadi lenyap tanpa jejak. Ia mendapati dirinya kini telah berada di tepi sungai
besar dengan jembatan usang. Dilihatnya sosok kedua; seorang pemuda berpakaian
sederhana selayaknya dari golongan rakyat jelata, tampak berdiri di tengah
jembatan dan memancarkan getaran yang amat gelisah—samanera itu merasakannya serupa tangan berkuku tajam merogoh
dalam-dalam ke dadanya.
"Apa
yang kaulakukan di sini?" sapa seseorang.
Fokus
terpecah, bikkhu remaja itu melihat kehadiran penyapanya—seorang bikkhu yang
lebih dewasa—dan seketika itu juga semua penglihatannya yang mencekam tadi
musnah.
"Aku
melihat sosok aneh, dan aku seperti ditarik untuk mengikutinya ke jembatan
ini," jelasnya gugup, seraya
menunjuk tonggak-tonggak usang di tepi sungai—tak bisa lagi disebut jembatan.
Ia mulai ketakutan. "Aku tadi melihat mereka, dan jembatan ini tadinya tak
begini!"
"Nen, aku tak melihat siapa-siapa. Dan
jembatan ini sudah lama runtuh," sahut bikkhu yang lebih dewasa. "Kau
sudah terpisah dari rombongan. Ayo, kita kembali!"
Remaja
itu sadar, sebuah visi tak terjelaskan telah menyelinap ke alam kesadarannya.
Dipandanginya lagi bekas jembatan itu—sisa-sisa dari masa lalu yang tiba-tiba
terasa menggoyahkan realitasnya.
Sesungguhnya
ia merasa tak asing dengan tempat itu.
~PILGRIM~
Pemuda
itu terlihat cukup kepayahan meniti satu demi satu anak tangga untuk mencapai
biara. Rautnya tampak agak pucat, kulitnya yang sawo cerah mengkilap oleh
keringat. Itu memang jalan tangga yang panjang dan tinggi, akan sangat
melelahkan bagi orang yang tak biasa pergi jalan kaki. Untunglah hutan bambu
yang luas menumbuhi kaki bukit itu, kesejukannya cukup membantu meredam siksaan
panas dari kalori yang terbakar. Setelah setengah jam mendaki, sampailah ia di
depan gerbang biara.
Ia
istirahat sejenak, sambil memijit pelan-pelan kepalanya yang terasa agak
pening. Dipandanginya gerbang besar Biara Maha Paritta, biara tua yang masih
kokoh dan berwibawa. Para bikkhu berlalu-lalang dengan rapi dan sunyi.
Pengunjung lainnya juga tampak, tapi tak terlalu ramai. Jajaran chedi—bangunan stupa yang amat umum di
negeri itu—menjulang di berbagai sudut dengan pancaran yang bisu membatu,
berkata dengan keheningan bahwa mereka telah berdiri di sana melampaui berbagai
zaman, mengisi lintasan waktu dengan wajah yang kian keropos, tetapi tak runtuh
jua.
Pemuda
itu meneruskan langkahnya ke dalam. Di tepi sebuah kolam seorang bikkhu
menyambutnya. Namun sekilas ia tak terlalu hirau kepada penyambutnya. Dia
menggumam tanpa bertatap muka, "Kudengar biara ini sudah ada sejak zaman
Sukhothai. Jadi mungkin umurnya sudah lebih dari 500 tahun. Baiklah, aku kagum!"
Lalu dia memutar pandangan, 270 derajat, sampai matanya berhenti pada si
bikkhu. Kali ini barulah dia betul-betul menyapa penyambutnya, "Apa kabar,
Rama?"
Bikkhu
itu mengangguk hampir tanpa ekspresi. "Hal apa yang membawamu kemari,
Prai?" sahutnya.
Seorang
bikkhu Theravada tak boleh memelihara
rambut, kumis, jambang dan alis; itu membuat bikkhu bernama Rama itu sekilas
seperti seorang anak remaja, jauh lebih muda dari tamunya yang bernama Prai.
Padahal usia mereka berdua sepantar, antara 21-22 tahun.
"Aku
kemari karena ada hal yang membuatku bertanya-tanya: mengapa sepertinya banyak
yang sudah berubah pada dirimu?" gumam Prai disertai seulas senyum sinis.
Dia mendengus seraya membuang muka, tampak amat kesal. "Kautahu, sangat
jauh dari Bangkok kemari! Aku sudah berulang kali mengirim surat, tapi rupanya
aku memang harus kemari sendiri. Kau tak pernah berniat memberi penjelasan
lewat surat-surat balasanmu!"
"Sebab
aku tak yakin kau akan percaya begitu saja," balas Rama. Meskipun juga
tampak gelisah, ia tetap tenang dalam tutur katanya—mungkin karena kini dia
telah menjadi bikkhu.
"Baiklah,
kuanggap kau masih ingat sifatku!" tukas Prai. "Lagipula sudah
bertahun-tahun kita tak bertemu, Rama. Tak ada salahnya juga aku kemari."
"Ya.
Aku sama sekali tak menyalahkanmu."
"Lantas
mengapa masih bertanya maksud kedatanganku? Seharusnya kau sudah
mengerti!"
"Anggap
saja sekadar ramah-tamah dari tuan rumah," jawab Rama, tersenyum sedikit
lebih hangat.
Melihat
sambutan Rama, akhirnya Prai harus menelan lagi kekesalannya dalam hati.
Lagipula memang tak mungkin untuk memaki-maki seorang bikkhu di biara. Itu akan
menjadi karma yang amat buruk!
"Bagaimana
kabar pamanmu?" tanya Rama.
"Semua
baik-baik saja. Kautahu sendiri, sejak ibuku wafat, tinggal pamanku kerabat
yang tersisa. Meskipun aku tak betah tinggal dengannya di Bangkok, aku tak
punya pilihan lain lagi," desah Prai, kali ini tak terdengar marah-marah
lagi. Namun dia tetap memakai kalimat bernada sinis, "Mengapa bukan
kabarku saja yang kautanyakan?"
"Karena
aku sudah melihatmu sekarang. Meskipun kelihatan sedikit kesal, kau tampak
baik-baik saja," sindir Rama.
"Aku
senang ternyata kau masih mau sedikit memperhatikanku," ucap Prai.
Kedengarannya seperti balik menyindir, tapi juga bisa jadi sebuah isyarat rasa
rindu.
Rama
kembali tersenyum hangat. Lalu membawa pembicaraan ke arah lain. "Prai,
hari ini aku harus berziarah ke beberapa tempat."
Kening
Prai seketika mengernyit tajam. "Di saat aku sudah susah payah kemari, kau
mau pergi?!" tukasnya, kembali sengit.
"Aku
ingin kau ikut," balas Rama tenang.
Kedongkolan
Prai bangkit lagi. Namun kali ini dia meluapkannya dengan tawa. "Sialan
kau!" umpatnya. Beberapa bikkhu yang lewat mendengar umpatan tadi; mereka
berhenti sejenak dengan raut menyelidik. Prai tak menggubris mereka; dia malah
menggablok lengan Rama dengan agak keras sampai bikkhu muda itu hampir
terpelanting dengan wajah kaget. Prai mengulangi tawanya dan mencibir,
"Dulu kau lebih sering mengumpat dibandingkan aku, Rama! Jubah kuning itu
membuatmu jadi sangat sopan sekarang?" Prai berkacak pinggang memandangi
Rama. "Aku tak akan meloloskanmu! Tentu saja aku akan ikut!"
Kali
ini Rama nyaris tertawa. Wajahnya juga sedikit bersemu. Dengan bahasa tubuh
agak kikuk dia membalik badan, beranjak sambil garuk-garuk kepala.
"Apa
yang kaugaruk? Sekarang tak ada rambut lagi di kepalamu!" olok Prai sambil
mengikuti Rama. "Bahkan kau tak setampan dulu...."
***
Di
sebuah dermaga di Sungai Yom, dua pemuda itu duduk terpekur. Prai dan Rama,
mereka tengah menanti datangnya perahu. Desa Ning berada di pelosok Si
Satchanalai, provinsi Sukhothai, dan bukanlah desa yang ramai. Untuk
menyeberangi sungai masih harus menggunakan perahu, sebab belum dibangun
jembatan di desa itu.
"Aku
masih sulit mengerti, mengapa kau benar-benar meninggalkan hidupmu yang dulu
dan memilih tinggal di biara?" lontar Prai memecah keheningan.
Rama
balik bertanya, "Apakah menjadi bikkhu adalah hal yang buruk di matamu,
Prai?"
Prai
tampak kikuk sesaat. Jawabnya, "Setidaknya, banyak biara yang lebih dekat
dengan pusat kota. Juga banyak biara yang lebih bagus di Phitsanulok, kota asal
kita. Tapi kau malah memilih biara di tempat terpencil ini. Kubandingkan dengan
dirimu yang dulu; kau hidup berkelimpahan, penuh kesenangan dan suka
kemeriahan—sangat kontras dengan dirimu sekarang."
Rama
terdiam, tak menjawab kebingungan yang diungkapkan sahabatnya—entah tak mampu
atau tak mau. Dermaga kecil itu kembali kosong dari percakapan. Hanya kecipak
air sungai yang terdengar, seolah-olah menjadi irama bagi waktu yang terasa
lambat. Barulah kemudian bergabung sayup-sayup suara tiupan; mungkin seorang
petani sedang meniup khlui—seruling
warisan tradisi negeri itu—sambil menunggui ladangnya, ditemani kerbau
kesayangan. Kedengarannya nada-nada itu dari sebuah lagu roman lama, Lao Duang Duan—kisah tentang cinta yang
tak tersatukan.
"Dengarkan
lagu sedih itu," ucap Prai, meresapi nada-nada yang mengalun dari
kejauhan. Tapi dia buru-buru menyambung, "Ah, bukankah musik pun bikkhu
tak boleh mendengarnya?"
Rama
tersenyum masam. "Apa yang terdengar kadang tak bisa dihindari. Seorang
bikkhu hanya berusaha untuk tidak terikat."
"Padahal
kau berbakat musik. Ironis sekali," dengus Prai sinis. "Semua mungkin
memang bisa berubah, tapi aku tak mengira perubahanmu harus sejauh ini."
Rama
kembali tak menanggapi sindiran Prai. Bagi Rama, Prai hanya beropini menurut
sudut pandangnya sendiri, dan memang begitulah sifat sahabatnya itu.
"Akhirnya
perahunya tiba," ucap Prai, lega penantian itu berakhir.
Tukang
perahu itu seorang pria paruh baya. Sudah ada dua penumpang di perahunya: satu
perempuan renta dan satu gadis belia, dan mereka telah sampai di tujuan—di
dermaga itu.
"Cucu
saya ini cacat, tolong, Anda bisa membantunya naik ke dermaga?" pinta si
perempuan renta.
Prai
berdiri dari duduknya. Namun Rama sudah lebih dulu menuruni tangga dermaga.
"Saya
bisa membantunya," ucap Rama seraya menanting gadis itu.
Si
Nenek terperanjat, begitu pula Si Tukang Perahu. Namun tak ada yang lebih
terkejut dari Prai, ketika bikkhu muda itu menggendong Si Gadis dan membawanya
hingga ke atas dermaga. Si Nenek cepat-cepat menyerahkan dua tongkat peyangga
kepada cucunya, lalu ia melakukan sesuatu yang membuat semua orang di situ
terkesima. "Terima kasih. Kalau ada dosa karena ini, kiranya aku saja yang
akan menanggungnya," keluh kesah perempuan tua itu, seraya menekuk
lututnya di depan Rama.
Rama
cepat-cepat mengangkat bahu nenek itu, memintanya berdiri lagi. "Buddha
Maha Pengasih," ucapnya.
Perempuan
tua itu tak berkata apa-apa lagi, hanya mengangguk seraya mengusap pinggiran
matanya. Lalu segera menggamit pundak cucu gadisnya, dan berlalu. Si Gadis
berjalan tertatih dengan tongkat penyangga; ia menyempatkan diri menoleh ke
belakang, menatap seraya tersenyum polos kepada Rama. Bibirnya bergerak, "Terima kasih."
Sesaat
dermaga itu hening kembali, seiring berlalunya nenek dan cucunya tadi. Berbagai
tanya tampak tersembul di wajah heran Prai dan Tukang Perahu. Rama tak terlihat
menghiraukannya. Dengan tenang bikkhu itu duduk di ujung perahu.
"Kalian
mau ke mana?" tanya Tukang Perahu.
"Desa
Tham," jawab Rama.
Perahu
itu tak berlama-lama di dermaga, segera menempuh perjalanan lagi menuju desa
yang dikatakan Rama.
"Nenek
tadi seorang janda, dan gadis itu adalah cucu sekaligus keluarga satu-satunya
yang masih tersisa," tutur Tukang Perahu, bercerita sambil menjalankan
perahunya. "Berita yang kudengar, dulu ibu gadis itu mengandung secara
tidak sah. Tak lama setelah melahirkan, ia tewas hanyut di sungai. Kasihan
sekali mereka. Waktu berangkat tadi aku membantu mereka dengan susah payah, sebab
keadaanku sendiri juga sedang tidak mujur." Tukang Perahu menunjukkan
telapak kaki kanannya yang diperban. "Waktu aku mengurus ladang, cangkulku
mendarat di tempat yang salah. Kuku jempolku bahkan tak kutemukan, sebab air
dan lumpur langsung menjadi merah."
Terlepas
dari simpati dalam diri masing-masing, baik Rama maupun Prai merasa tak harus
menganggapi cerita Tukang Perahu—sebab Rama dan Prai memiliki cerita mereka
sendiri, dan itulah yang lebih perlu untuk diketahui.
"Sebetulnya
nenek tadi memandang ke arahku—akulah yang dia mintai tolong," singgung
Prai, merapat di sebelah Rama. "Dia pasti paham bahwa seorang bikkhu tak
boleh menyentuh perempuan. Bukankah begitu?"
"Aku
menolongnya, dan itu sudah berlalu. Jalan seorang bikkhu bukan bertujuan untuk
mencegah kebahagiaan orang lain," jelas Rama.
"Jika
ikrarmu tak bermaksud menghalangi kebahagiaan orang lain," bisik Prai
dengan raut gundah, "maka jelaskan padaku, Rama, mengapa tak ada tempat
untuk kebahagiaanku?"
"Kebahagiaan
adalah untuk diberikan, Prai. Bukan dituntut. Bukankah kau egois berucap
seperti itu?"
"Katakanlah
aku memang menuntut, tapi bukankah kau juga tahu alasannya?"
"Kau
tidak mengerti, Prai."
"Ya,
aku belum mengerti, sebab kau belum memberiku penjelasan! Kenapa kau belum
merasa juga?" tukas Prai sedikit menajam. Lalu, agar tak mengusik
pendengaran orang lain, ia menurunkan suaranya lagi, dan mulai berkeluh kesah.
"Berulangkali kuceritakan padamu, Rama, tentang keadaanku sejak pindah
dari Phitsanulok ke Bangkok; dari Matthayom
kelima hingga lulus, itu adalah masa-masa yang membuatku kesepian. Aku tak
pernah menemukan teman sepertimu lagi.... Tiap kali kau mengunjungiku, atau aku
mengunjungimu di saat liburan, itu adalah saat-saat yang paling menghiburku.
Aku sangat senang ketika mendengar kau mau kuliah di Bangkok—kau menjanjikannya
padaku. Aku menunggu dengan penuh mimpi. Tiga tahun, Rama! Tapi kau tak
menepati ucapanmu...."
Rama
membisu ketika cecaran sekaligus kesedihan Prai kian menggempur; kedua matanya
mengernyit rapat seolah begitu tersiksa oleh kata-kata sahabatnya itu—terasa
sangat menohoknya! Namun Prai belum mau berhenti menguak masa lalu.
"Perasaanku
amat buruk ketika kau memutuskan sesuatu tanpa memberiku penjelasan. Aku rindu
masa lalu kita—itu jangan kausangkal juga, Rama! Kautahu semua yang kita jalani
bersama di masa-masa itu...."
Akhirnya
Rama tak sanggup lagi mempertahankan kebisuannya. "Aku tak menyangkalnya,
Prai. Aku menerimanya, sebagai masa lalu. Seperti kau pun menyebutnya begitu:
masa lalu. Prai, sebenci itukah dirimu terhadap keputusanku untuk menjadi
bikkhu?"
"Yang
kubenci adalah saat kau tak menyelesaikan apa yang sudah kaumulai—semua yang
sudah kaumulai pada diriku, Rama!"
Rama
menghela napas dalam-dalam, dan menerawang jauh ke depan. "Percayalah,
Prai, aku tak akan melakukan semua ini tanpa alasan. Karena itulah aku
mengajakmu dalam perjalanan ini. Kuharap nanti kau akan mengerti."
***
Perahu
berhenti di dermaga Desa Tham. Rama dan Prai turun dari perahu, bersiap
melanjutkan perjalanan mereka. Rama mengulurkan payungnya kepada Prai.
"Matahari cukup terik," ujar Rama. "Aku tahu kau tak boleh
terlalu kepayahan. Aku masih ingat..."
"Tapi
aku sudah punya payung di kepalaku," Prai langsung memotong disertai
senyum sedikit mengejek, sambil mengusap-usap rambutnya. "Kepalamu lebih
membutuhkan payung."
Rama
tak menggubris dengan serius tingkah Prai. Ia mengembangkan payungnya,
menudungi dirinya sendiri. Mereka melanjutkan perjalanan.
Tham
adalah sebuah desa di tepi Sungai Yom yang subur; masih di distrik Si
Satchanalai, Sukhothai. Di siang yang agak terik itu, keduanya berjalan kaki
menyusuri jalan setapak, membelah perladangan luas yang ditunggui para petani
di dangau mereka. Rumah-rumah kayu milik penduduk desa tampak berkerumun di
sisi yang agak jauh.
"Tempat
apa yang akan kau ziarahi?" tanya Prai.
"Nanti
kau akan tahu sendiri. Tidak jauh lagi."
Mereka
memasuki areal kebun yang amat luas dan tampak tak terawat. Pohon-pohon besar
tampak berkuasa, menimbuni tanah dengan daun-daun gugurnya yang terendap
menjadi humus berbau pekat. Sinar matahari tersangkut di cabang-cabang rimbun,
memicu keteduhan yang terasa suram. Rama berhenti, diikuti oleh Prai,
menghadapi sebuah bangunan tua yang menjulang angker di depan mereka. Itu
sebuah chedi tua yang tak begitu
besar, berdiri di atas pondasi bata yang sudah banyak terserak. Lumut dan
rumput-rumput liar menyembul di mana-mana. Sebuah bangunan tua yang tampaknya
sudah tak ada lagi yang mengenangnya, selain...
"Inilah
tempatnya," ucap Rama, memecah kesenyapan.
"Di
sini? Kelihatannya tempat ini tak pernah diziarahi? Tempat apa ini? Siapa yang
diperabukan di sini?" Prai bertanya-tanya.
Selagi
Prai sibuk dengan keheranannya, Rama lebih menghiraukan hal yang lain; bikkhu
itu mengeluarkan sapu kecil dari dalam tas kainnya, lalu mulai membersihkan
lantai bangunan itu dari debu dan daun-daun kering.
Prai
geleng-geleng kepala melihat sahabat yang mengabaikannya itu, serba salah untuk
melampiaskan ketidaksabarannya. Akhirnya, dengan perangai seperti anak kecil
yang ngambek, ia mencabuti rambatan-rambatan liar yang menjalari bangunan itu.
"Akhirnya menjadi bikkhu membuatmu serba salah juga, bukan? Kau pasti
ingin makam ini tampak bersih, tapi sulit bagimu mencabuti tanaman-tanaman liar
yang bernyawa ini!" gerutu Prai bersungut-sungut.
Di
saat Prai beralih sibuk dengan perkerjaan yang dibuatnya sendiri, Rama kini
malah duduk-duduk saja sambil memandangi. Prai sadar, dan langsung berkacak
pinggang memelototi bikkhu itu.
"Semoga
kau masih sabar untuk menungguku, Prai," ujar Rama dengan
tersenyum-senyum—sekarang dialah yang seperti anak kecil. Ia cepat-cepat sibuk
dengan hal lain lagi; melipat kakinya di lantai, duduk dalam sikap khidmat.
Dengan cepat ia larut dalam doa.
Wajah
Prai tak bisa menyembunyikan emosinya yang mau meletus. Namun kendalanya masih
sama: tak mungkin baginya memarahi seorang bikkhu, apalagi yang sedang berdoa.
Namun rona merah padam di wajahnya itu lama-lama luntur juga, berangsur-angsur
menjadi lebih tenang ketika mendengar Rama melantunkan sutta—doa-doa berbahasa Pali. Mata Prai diam terpaku pada sosok
sahabatnya itu, merenungkan perubahan pada diri Rama yang masih sulit untuk ia
pahami sampai detik itu.
Rama
menyelesaikan doanya. "Aku tahu sesungguhnya kau seorang penyabar,"
ujarnya seraya bangkit berdiri.
"Bersyukurlah!"
dengus Prai kesal.
"Prai,
kau percaya pada karma?" Tiba-tiba pembicaraan yang dicetuskan Rama agak
berubah—mengenai sesuatu yang amat fundamental.
"Kalau
aku tak percaya, aku sudah memukuli seorang bikkhu hari ini. Dan aku juga
percaya bahwa karma tidak memandang status seseorang. Seorang bikkhu sekalipun,
kalau suka membuat kesal orang lain maka dia juga tak akan lepas dari
karma."
Rama
tertawa kecut mendengar gerutu Prai, menyadari betapa keras sahabatnya itu
telah menahan emosi. Ia lalu duduk di atas tumpukan bata dari dinding yang
sudah runtuh, tampak mengatur napas sejenak, lalu semacam tanda kegelisahan
mulai menebal pada raut wajahnya—kegelisahan yang selama ini disembunyikannya
dari Prai.
"Siapa
yang bisa lari dari karma, Prai?" Rama melontarkan pertanyaan seraya
menengadah ke langit, menerawang dengan sorot mata yang memancarkan kepahitan.
"Ke
mana arah bicaramu?" tukas Prai tak mengerti.
Rama
kini mengarahkan pandangannya pada chedi
itu. Ia menunjuknya, "Ke sana."
Prai
memandangi Rama dan chedi itu
bergantian. Wajahnya tampak semakin bingung.
"Ada
cerita yang aku ingin kau mendengarnya," tutur Rama setengah menerawang.
"Ini cerita tentang seorang putra bangsawan di Sukhothai. Kejadiannya
sudah amat lama, di masa-masa awal dinasti yang sekarang..."
"Ada
hubungannya dengan kita?" dengus Prai memotong—bukan sungguh-sungguh
pertanyaan, tapi lebih sebagai ungkapan ketidakmengertian bercampur kekesalan.
Daripada
menanggapi kesinisan Prai, Rama memilih melanjutkan ceritanya.
"Sebagaimana umumnya keluarga penguasa, putra bangsawan itu memiliki
banyak budak yang bekerja padanya. Tetapi ada satu budak yang amat
diistimewakan olehnya; seorang budak laki-laki yang diperlakukan secara khusus,
begitu juga dengan tugasnya—melayani di kamar tuannya."
"Bangsawan
itu menyukai sesama lelaki?" sela Prai, mulai memberi sedikit perhatian
pada cerita itu.
Rama
tersenyum semu, mengiyakan tanpa harus dengan berucap. "Anak bangsawan itu
memberi banyak janji kepada budaknya; ia akan melindunginya, menjamin hidupnya,
dan tak akan menyia-nyiakannya. Si budak juga berjanji setia kepada tuannya,
sebab bagi budak seperti dirinya adalah sebuah keberuntungan bisa memperoleh
kasih sayang dari sang tuan. Secara diam-diam, hubungan mereka pun semakin
jauh." Sejenak Rama menghentikan ceritanya. Raut wajahnya menyiratkan
seolah-olah kelanjutan cerita itu berat untuk dia tuturkan. "Suatu ketika,
hubungan mereka mulai tercium. Dan keluarga besar bangsawan itu benar-benar
marah. Mereka berdua disidang. Karena takut dan malu, anak bangsawan itu
mengingkari janjinya. Dia menyangkal hubungan gelapnya."
"Oh,
cerita pengkhianatan rupanya?" dengus Prai, seolah-olah tak begitu terkejut
dan mulai meremehkan lagi cerita Rama.
"Di
lain pihak, demi menyelamatkan tuannya dari cecaran, si budak berdalih bahwa
dialah yang menyalahartikan kebaikan tuannya. Bahwa itu bukan salah
tuannya." Wajah Rama kian murung mengurai ceritanya. "Pada jaman itu
hukum terhadap budak sangat keras. Budak itu dianggap bersalah karena berani
mencintai tuannya dan menodai nama baik keluarga itu. Dia dihukum, disiksa
dengan amat keji. Dia mati dalam keadaan menderita."
Suasana
hening setelah Rama menyelesaikan ceritanya. Prai menghela napas lesu berulang
kali, dan kembali tersenyum jengah kepada Rama. "Aku masih tak tahu di
manakah hubungannya dengan kita. Lagipula cerita seperti itu sangat banyak,
Rama. Tuan yang kejam, pelayan yang naif. Aku bersimpati jika cerita itu memang
terjadi, tapi bukan berarti itulah yang ingin kudengar setelah perjalanan yang
jauh ini."
"Tetapi
bahwa cinta harus berani berkorban, kau setuju, bukan?"
Prai
membuang pandangan ke arah tak tentu. Masih tak dia pahami apa sangkut paut
cerita tadi dengan dirinya, ataupun Rama.
Rupanya
masih ada yang belum disampaikan oleh Rama tentang akhir ceritanya.
"Setelah kematian budak yang dicintainya, tuan muda itu menyesali
pengingkarannya. Keluarganya juga telanjur menjadi tak senang padanya. Akhirnya
dia memilih pergi, hidup menyepi di tempat terpencil hingga akhir hidupnya. Di
sinilah abunya disimpan. Tempat inilah jejak riwayatnya yang masih
tersisa."
Kali
ini Prai terpana, memandangi chedi
tua itu. Hatinya masih merasakan tarik ulur—haruskah dia mempercayai cerita
itu?
"Siapa
yang bisa lari dari karma, Prai?"
Setelah
lama termenung, Prai kembali tertawa sinis. "Jadi inikah yang kautakutkan?
Takut hubungan kita akan membawa karma yang buruk?" Prai meremas rambutnya
seolah ingin membuang sesuatu yang keruh di kepalanya. "Semoga semua makhluk berbahagia, itulah
doa yang biasa kita ucap; apakah yang membuatmu berpikir bahwa kita berdua tak
layak bahagia?"
"Prai,
tentu kita layak bahagia jika tindakan kita benar!"
"Oh!
Jadi itu pendapatmu sekarang?" Prai berkata dengan nada tinggi.
Telunjuknya gemetar menunjuk bibir. "Dulu, di telaga kecil yang penuh
bunga teratai... kau masih ingat? Siapa yang telah memberiku ciuman pertama
waktu itu? Siapa orang itu, Rama?!"
"Prai,
tolong..."
"Kau
meracuniku, Rama!"
Rama
tertunduk lesu.
"Kaulah
yang mengenalkanku pada perasaan ini. Tapi sekarang kau menganggapnya
salah!" tuding Prai dengan wajah merah gusar. "Sekarang haruskah aku
bercinta dengan seorang bikkhu?! Kau mencari jalan terang dengan meninggalkanku
di tempat gelap! Kau menyesatkanku, Rama!"
"Ini
demi kebaikan kita...." Rama gemetar mengucapnya.
"Demi
menghindarkan kita dari karma? Aku seperti mau gila membayangkan kau begitu
terpengaruh oleh cerita kuno itu! Mengapa karma harus menghukum perasaan yang
tulus, Rama? Tapi... ya, tentu saja sekarang tak ada yang tulus! Kau sudah
merusaknya!" Kata-kata Prai pecah dalam marah serapah yang tak dapat ia
tahan lagi.
Mulut
Rama terkunci di tengah gundahnya. Hatinya terhantam, tersayat-sayat! Sedangkan
Prai yang telah meluapkan amarah kini tak mampu membuncahkan apa-apa lagi dari
mulutnya, dan hatinya tetap berujung pada kebingungan. Tak ada pencerahan di
tempat itu.
Rama
mengendapkan resahnya. Ia bangkit dari duduknya, menengadahkan kepala ke
langit. Dengan mata sayunya ia melihat tanda hari yang mulai melewati
pertengahan siang. "Hidup ini seperti rantai yang memutar roda—mata rantai
haruslah tersambung. Aku tahu belum semuanya dapat terjelaskan untukmu,
Prai," tuturnya lirih. "Kumohon, ikutlah ke satu tempat lagi. Di sana
nanti barulah aku bisa menjelaskan semuanya."
Prai
tak tahu pilihan lain yang ia miliki. Dia kembali mengikuti Rama, meninggalkan
reruntuhan tua itu untuk menuju ke tempat berikutnya yang ia juga belum tahu.
Dia tak ingin berharap tinggi-tinggi. Mungkin nanti semua masih akan tak jelas
baginya. Namun setidaknya dia bisa tetap bersama Rama—sahabat yang telah
membuatnya diliputi amarah sekian lama, di saat yang sama tetap menghadirkan
kerinduan juga.
Perjalanan
ziarah itu akan berujung ke mana, sebagian dari jiwa Prai tak mau memikirkannya
lagi.
***
Kehidupan
di jantung Desa Tham lebih ramai dibandingkan desa-desa tetangganya. Pasar di
desa itu menjadi tempat para petani dan nelayan sungai menjual hasil
pencahariannya; tak hanya pedagang dari Desa Tham, yang dari desa-desa tetangga
juga melimpah di tempat itu. Beberapa tahun sebelumnya, Desa Nok lebih ramai
dari Desa Tham. Desa Nok sudah lama memiliki jembatan untuk menyeberangi Sungai
Yom, tetapi kini jembatan itu sudah usang. Sedangkan jembatan di Desa Tham
masih baru dan lebih besar; hilir mudik manusia menjadi semakin ramai di desa
ini, menggeser keramaian Desa Nok.
Dari
pasar Tham, Rama mengajak Prai menuju ke Nok. Untuk itu mereka harus memakai
jasa tuktuk, mobil trasportasi rakyat
yang tarifnya terjangkau. Mereka tak bisa menggunakan jasa perahu, sebab sudah
tak ada perahu penumpang yang menuju ke Nok sejak lama. Dibangunnya jembatan di
desa Nok telah menggerus aktivitas dermaga-dermaganya, tukang perahu pun banyak
yang beralih pekerjaan menjadi sopir tuktuk.
Sedangkan Tham jembatannya masih baru, dermaga di beberapa titik masih dipakai
untuk naik-turun pengguna jasa perahu—dalam beberapa tahun ke depan mungkin
juga akan bernasib sama seperti dermaga-dermaga di Nok.
"Ke
jembatan lama," kata Rama, menyebutkan tujuannya kepada sopir tuktuk. Kendaraan itu pun melaju dengan
mesin berisiknya. Dapat di lihat di kanan-kiri jalan, padi-padi seperti
selendang hijau yang menghias wajah desa dengan permai. Di beberapa titik, chedi-chedi tua menjulang; saksi jaman,
saksi kejayaan Sukhothai, saksi kehidupan yang terus berputar dalam pergulatan
takdir.
"Kalian
mau menyeberang lewat jembatan lama?" sopir tuktuk membuka sekadar percakapan. "Jembatan itu sudah usang,
sudah tidak aman lagi."
"Kami
tak hendak menyeberang. Hanya singgah saja," jelas Rama.
Sopir
tuktuk memanggut paham. Beberapa
menit kemudian kendaraan itu menepi, berhenti di mulut sebuah pertigaan jalan.
"Hanya bisa sampai di sini saja. Untuk ke jembatan itu jalannya sudah
cukup rusak, kasihan mesinku," kata sopir tuktuk.
Rama
dan Prai turun. Prai menyodorkan uangnya lebih dulu kepada sopir tuktuk seraya mengucap, "Terima
kasih." Lalu dia beralih menatap Rama, sekilas saja seraya menyindir,
"Bikkhu tidak banyak uang, bukan?"
"Terima
kasih," balas Rama singkat, dan segera meneruskan perjalanan—jalan kaki
lagi.
Mereka
melewati perkampungan yang tampak lengang siang itu; sebuah permukiman yang
didominasi rumah-rumah kayu khas desa. Lalu mereka tiba di bagian ujung dari
jalan itu, diapit areal ladang yang berbatasan dengan sungai. Sebuah jembatan
tua dari kayu terbentang di sana, di atas Sungai Yom.
Rama
menghentikan langkahnya di mulut jembatan. Kali ini, dia benar-benar akan
menjelaskan semuanya. Prai di hadapannya, akan mendengar apa pun yang
diceritakan Rama, terlepas itu akan membuatnya puas ataupun tidak.
"Begitu
lulus dari Matthayom, orang tuaku
menganjurkanku untuk mengikuti ordinasi di biara," Rama memulai ceritanya.
"Begitulah tradisi kita; setidaknya satu kali dalam hidup, kita pernah
menjalani hidup di biara untuk mengharap berbagai kebaikan. Demi sekadar
mengikuti tradisi, mulanya aku bermaksud tinggal di biara hanya untuk
sementara. Setelah masa ordinasi berakhir, aku berencana akan memenuhi janjiku
padamu, yaitu menyusul ke Bangkok dan kuliah di sana."
Prai
sedikit bisa menebak kelanjutannya, maka dia mendului dengan satu kata:
"Tapi...?"
"Aku
mengalami banyak kejadian selama di biara, Prai," sambung Rama. "Aku
memilih Biara Maha Paritta setelah membaca sejarahnya yang panjang, dan entah
mengapa aku sangat tertarik dengannya. Padahal itu jauh dari rumah. Kurasa,
takdir memang telah menarikku."
"Kejadian
apa yang membuatmu jadi sedemikian yakin?"
"Di
biara itu, aku mendapatkan banyak visi tentang masa lalu, Prai."
"Visi?"
"Salah
satunya tentang chedi yang kita
ziarahi. Dalam beberapa kali meditasi, penglihatan itu selalu muncul, seperti
merasukiku dan membuatku ikut merasakan penderitaan mereka," tutur Rama
dengan wajah miris, seolah rasa sakit yang ia ceritakan memang betul terasa
seketika itu. "Aku juga mengalami penglihatan yang lain. Di biara itu,
dulu pernah hidup seorang bikkhu muda—sama sepertiku. Kulihat, bikkhu itu juga
sedang menjalankan meditasi sepertiku, tetapi tempatnya di sebuah hutan, di
tepi sungai.
"Lalu
tiba-tiba datang seorang pemuda yang terluka parah, dan minta perlindungan
padanya. Pemuda yang terluka itu adalah anak dari keluarga miskin yang menjadi
pencuri, dan ketika itu dia baru lolos dari kejaran. Bikkhu itu menolongnya,
merawatnya.
"Suatu
hari, beberapa bikkhu lain datang menjenguk karena merasa kawan mereka telah
tinggal terlalu lama di dalam hutan. Mereka terkejut ketika mendapati bikkhu
muda itu tampak begitu akrab dengan seorang pemuda. Mereka curiga, dan
melaporkannya kepada sangha."
"Tunggu,
kisah bikkhu itu sepertinya akan mirip dengan ceritamu tentang anak
bangsawan?" Prai menyela.
"Kau
akan tahu lebih dari itu," jawab Rama. Lalu kisahnya berlanjut, "Di
sidang sangha, bikkhu muda itu
berdalih bahwa dia hanya bermaksud menolong orang yang terluka. Dengan alasan
itu, sangha memaafkannya. Tapi, di
malam berikutnya bikkhu itu diam-diam meninggalkan biara, dan menuju ke sebuah
dermaga di Sungai Yom untuk bertemu dengan pencuri yang pernah ditolongnya.
Sayang, beberapa orang biara memergokinya. Bikkhu itu disidang untuk kedua
kalinya. Kali ini dia tak bisa mengelak lagi. Dia mengaku, menyadari, bahwa
ternyata dirinya hanyalah manusia biasa yang tidak kebal oleh ketertarikan
terhadap seseorang. Dia memutuskan untuk berhenti dari ke-bikkhu-annya.
"Sangha di biara dapat berbesar hati.
Tapi sayangnya, keluarganya tidak. Ayahnya adalah ketua desa; perkara itu
membuat keluarganya marah dan merasa malu. Ayahnya kalap. Bikkhu itu tewas di
tangan ayahnya yang lupa diri dalam kemarahan. Abunya disimpan di biara itu.
Sebagian ditebar di Sungai Yom.
"Sedangkan
si pencuri, dia menunggu di dermaga tanpa tahu apa yang terjadi pada orang yang
dinantinya. Dia menunggu hingga pagi, membuat jejaknya diketahui. Orang-orang
mengejarnya. Berpikir untuk menyelamatkan diri, dia menjatuhkan diri ke sungai.
Tapi arus sungai lebih kuat darinya. Dia pun tak pernah kembali lagi."
Prai
termangu mendengar akhir cerita itu. "Semua yang kauceritakan adalah kisah
tragis yang berujung sama. Tapi, sesungguhnya apa yang kauharapkan ketika
menceritakannya padaku?"
"Setiap
orang memiliki masa lalu, Prai," ucap Rama lirih, seraya menatap Prai
dalam-dalam. "Itu adalah masa lalu kita."
"Masa
lalu kita?" Prai tercekat.
Rama
tersenyum getir. "Itu adalah kehidupan kita di masa lalu. Dan karma masih
terus mengejar kita, Prai...."
"Kau
berpikir... bahwa kau adalah bikkhu itu?" Prai kian terusik dan mencoba
melawan apa yang Rama harapkan darinya. "Kau benar-benar menyuruhku untuk
mempercayai semua itu?!"
"Prai,
aku adalah tuan yang telah melupakan janjinya—orang yang telah memperbudak
kesetiaanmu. Aku bukan bikkhu yang menolong pencuri. Aku adalah pencuri
itu—orang yang telah mencuri keteguhanmu. Dua kali kehidupan, aku hanya membawa
penderitaan untukmu, Prai!"
"Rama,
aku kenal dirimu! Kau tidak bodoh! Mengapa cerita seperti itu sampai
mempengaruhimu?"
"Aku
percaya reinkarnasi, Prai. Apakah kau tidak?" Rama menantang keyakinan
Prai.
Prai
terhenyak, tak mampu membantahnya.
"Aku
harus menebus masa laluku. Jika tidak, aku hanya akan mencelakaimu lagi,"
ucap Rama getir. Butir-butir bening mulai tergelincir dari matanya. "Demi
kebaikanmu, selama ini aku berharap kau bisa melupakanku."
Hati
Prai hancur. Tangannya gemetar ingin merengkuh tubuh Rama, tapi ia tak
kuasa—tangannya seolah tak mampu menggapai. Bikkhu itu tak tercegah, menapakkan
kakinya dan mulai meniti jembatan itu.
"Dulu,
di sinilah dermaga itu—zaman berubah, jembatan ini menggantikannya. Di sinilah
dulu aku menantimu," ucap Rama. Tangannya menengadah, seolah bisa
menangkap kilasan masa lalu. "Bahkan aku masih bisa merasakannya,
Prai...."
Bikkhu
itu melipat kakinya di lantai jembatan, dan kembali melantunkan doa.
Setelahnya, ia mengeluarkan setadah bunga dari tas kain, menaburkan bunga-bunga
itu kepada debur sungai yang mendayu di bawah jembatan. Dalam sekejap
bunga-bunga itu lenyap ditelan air, seperti tubuhnya di masa lalu yang hanyut
dan tak pernah kembali. Prai hanya bisa membisu dalam kebimbangan, mendampingi
Rama tanpa sepatah kata pun.
"Aku
membawamu kepada saksi-saksi masa lalu kita. Apakah kau masih meragukannya,
Prai?"
"Kau
yang melihatnya. Aku tidak, Rama!"
"Prai,
aku tak akan menjadi bikkhu jika hanya demi kebohongan. Masihkah kau tidak
mengerti itu?"
Prai
termangu. Matanya perlahan mulai memerah, seperti luka yang terbuka. "Jika
memang itu masa lalu kita, mengapa takdir begitu keras, Rama?" ucapnya
terbata.
"Mulanya
aku pun berpikir sepertimu, menganggap takdir begitu kejam. Tapi kemudian aku
sadar; seperti halnya perbuatan jahat selalu dihitung, demikian pula perbuatan
baik pasti tak akan sia-sia. Hanya saja, kadang buahnya baru bisa kita petik di
kehidupan lain, Prai...."
Sejenak
semilir angin bertiup sejuk di tengah terik siang itu, menyambangi dua pemuda
belia itu dan sedikit mengeringkan bekas air mata di pelupuk mereka—serupa
jamahan lembut untuk menghibur jiwa-jiwa yang pahit dan resah.
"Sepahit
apa pun takdir itu, aku ingin memeluknya, menyambutnya dan bersahabat
dengannya. Itulah yang akan kulakukan di kehidupan ini, Prai."
"Tapi
di manakah kesalahan perasaanku? Mengapa aku harus menanggung bagian yang akan
membuat jiwaku haus, Rama?" bisik Prai mengiba.
"Prai,
kau mengira aku melupakan hari-hari kita dulu?" Rama menatap Prai dengan
senyum kebesaran jiwa. "Aku pun merindukannya, Prai. Selalu. Ketika kita
bercengkrama, ketika kita tertawa, ketika kita bersedih dan saling menghibur...
ketika aku mendekapmu dan memberi kecupan pertama, lalu kau memberikan yang
kedua—kau mengira aku tak ingin mengulangnya? Kalaupun kau pernah mengatakannya
sebagai racun, hingga sejuta kali pun aku akan meminumnya. Bagiku tak ada yang
salah dengan perasaan kita, hanya dunialah yang kadang begitu keras dan membuat
kita lari dari hati kita. Itulah yang pernah kulakukan di masa lalu. Aku ingin
menebusnya di kehidupan ini, Prai...."
Mata
Prai memerah, mengucur bagai luka yang terbuka. "Dan meninggalkanku
lagi?!"
"Akan
semakin buruk jika aku tetap bersamamu!" sergah Rama, memegang bahu Prai
erat-erat. "Dengan penebusan ini, semoga kemurahan takdir memberi kita
kesempatan di kehidupan yang lain. Kehidupan yang lebih sempurna."
Prai
masih berkeras hati. "Aku ingin tetap bersamamu!"
"Hidupmu
sangat berharga, dan aku tak mau merusaknya lagi, Prai!"
Prai
mengecup erat tangan Rama di genggamannya, tak tahu lagi bagaimana harus
menguraikan permohonannya. Ia tak sanggup menahannya lagi. Direngkuhnya, dan
didekapnya tubuh Rama erat-erat. Menangis keras bagaikan di perpisahan yang
terakhir.
Rama
menepuk-nepuk pundak kekasih hatinya itu. "Aku mohon, Prai. Relakan
aku...."
Dua
hati yang hancur itu berusaha mengais segala kemungkinan. Namun, bagaimanapun
takdir memiliki kisahnya sendiri. Kraaakkk...!
Jembatan tua itu tiba-tiba goncang dan lantai lapuk itu pecah. Lubang besar
menganga bagai mulut raksasa yang tertawa, dan melahap keduanya!
Satu
tangan Prai masih sempat bertaut ke penggalang jembatan. "Rama, pegang
tanganku! Jangan lepaskan!" Prai berusaha keras menahan tubuh Rama dengan
satu tangannya. Tubuh Rama bergelayut di bawah lubang lantai yang pecah itu, ia
memegang tangan Prai erat-erat.
Maka
rasa takut itu terbongkar—tak seorang pun dari mereka ingin kehilangan satu
sama lain. Mereka ingin selamanya bersatu. Namun beginilah takdir menulis
ceritanya, bahwa sebuah tragedi harus terjadi. Sungai Yom menyambut tubuh
mereka ketika jembatan tua itu akhirnya benar-benar terberai dari rangkaiannya.
Bersama batang-batang jembatan yang berjatuhan, keduanya saling merengkuh. Lalu
disongsong dalam letupan air yang bergema dalam keperkasaannya!
Jiwa-jiwa
yang resah, jatuh ke dalam pelukan Sang Takdir. Tangan mereka tetap tak
terlepaskan.
***
Di
sebuah ruangan yang tak begitu besar, dua orang tampak sedang terhanyut dalam
sebuah cerita. Seorang bikkhu yang sudah lanjut usia sedang menuturkan sesuatu.
Di hadapannya, seorang samanera
terpekur merenungkan cerita yang barusan didengar.
"Anda
membuat apa yang saya lihat menjadi semakin jelas," ucap remaja itu
takjub. "Tapi Bikkhu Kepala, ada sesuatu yang masih membuat saya
bingung."
"Apa
yang membuatmu bingung?" tanya bikkhu lanjut usia itu, Bikkhu Kepala.
"Mengapa
Rama begitu yakin bahwa dia akan mencelakai Prai? Saya percaya pada karma, tapi
bukankah kita juga harus optimis dalam menjalani kehidupan?"
Bikkhu
Kepala mendehem pelan. "Sesungguhnya ada rahasia yang disimpan Rama, yang
tidak ia sampaikan kepada Prai. Sebab rahasia ini sebuah kenyataan yang sangat
berat baginya." Bikkhu Kepala mencondongkan wajahnya sedikit ke depan.
"Ada penyakit berbahaya yang terus menggerogoti tubuhnya. Dan itu juga
berbahaya bagi orang lain."
Remaja
dengan jubah bikkhu itu tercenung sedikit bergidik. "Penyakit yang bagaimanakah
itu?"
Bikkhu
Kepala mengatur napas sebentar, menyiapkan penjelasan yang sesimpatik mungkin.
"Setelah ordinasi sementaranya usai, Rama mengikuti sebuah program
pendonoran darah. Dari situlah darahnya diketahui telah terjangkit penyakit
itu. Dia sangat terpukul dan sempat mengalami depresi. Akhirnya, dia sadar
bahwa sakit yang dideritanya—dan semua visi yang dialaminya—mendorong dirinya
untuk berani membuat sebuah keputusan besar: dia kembali ke biara ini, untuk
menjadi bikkhu sepenuhnya."
Remaja
itu tercengang mendengarnya. "Tapi, bagaimana dia bisa terjangkit penyakit
itu?" selidiknya.
"Kepadaku,
Rama mengaku tak pernah berhubungan seksual dengan siapa pun—meski dia memiliki
kekasih. Kemungkinan besar penyakit itu disebabkan oleh infeksi jarum yang
tidak steril saat dia berobat. Atau, bisa juga oleh penyebab lainnya yang kita
tidak tahu."
"Dengan
kondisi itu, dia tetap diterima di biara ini?"
Bikkhu
Kepala terkekeh. "Nen, yang
sakit adalah tubuhnya. Kita tak boleh menolak jiwa yang ingin mencari pencerahan."
"Meskipun
sebenarnya itu hanyalah pelarian?" timpal remaja itu meragukan.
Bikkhu
Kepala menggeleng, disertai senyum memperingatkan bahwa tidaklah baik berburuk
sangka. "Latar belakang Rama memasuki biara ini sesungguhnya adalah
persoalan pribadinya. Tetapi itu bisa menjadi sarana bagi proses kesadarannya,
keyakinannya, dan penebusannya. Bisa jadi juga menjadi proses pencerahannya.
Tak ada yang bisa menebak takdir seseorang—kita tak berhak menghakimi ataupun
menghalangi."
Remaja
itu merenungkan baik-baik pelajaran yang didengarnya. "Lalu, mengapa dia
tak mengatakan saja kepada Prai soal penyakitnya itu?"
Bikkhu
Kepala mengenang dengan wajah haru. "Itu berat dan rumit bagi Rama.
Keluarganya ingin soal penyakitnya itu dirahasiakan dari siapa pun. Rama
sendiri awalnya berharap Prai bisa melupakan dirinya. Tapi rupanya Prai tak
bisa dicegah. Rama tak mengungkapkan soal penyakitnya, sebab dia tak ingin Prai
menilai jalan ke-bikkhu-annya berdasarkan prasangka yang keliru. Rama memang
merasa sudah 'kotor', tapi ia menjadi bikkhu bukan semata-mata untuk pelarian,
melainkan untuk tujuan yang lebih besar. Rama yakin tentang karma masa lalunya,
dan tak ada tempat untuk berlari darinya. Satu-satunya jalan hanyalah
menebusnya. Itulah yang ingin dia tandaskan ketika mengajak Prai menziarahi
jejak-jejak masa lalunya.
"Rama
meninggal dalam kecelakaan di jembatan itu. Kepalanya terluka parah. Meskipun
keadaan Prai juga cukup parah, dia selamat. Akulah yang menjelaskan padanya
tentang penyakit yang diderita Rama. Barulah Prai betul-betul mengerti bahwa
Rama melakukan semua itu benar-benar demi kebaikan keduanya. Setelah memahami
semua itu, Prai memutuskan untuk masuk biara, mengikuti jejak Rama.
"Tetapi,
ternyata Prai juga mengindap sesuatu. Organ otaknya sangat rentan. Dia juga
terlalu sedih sejak kehilangan Rama. Suatu ketika otaknya mengalami pendarahan
hebat. Dia meninggal di tahun ketiga sejak tinggal di biara ini."
"Saya
sedih mengetahuinya," ucap remaja itu, tertunduk haru. "Sekaligus
saya kagum, sebab dia meninggal dengan mewariskan perbuatan baik."
"Banyak
bikkhu mendonorkan organ mereka setelah meninggal, sebagai bagian dari
perbuatan menolong sesama," sahut Bikkhu Kepala, menegaskan apa yang
disinggung anak didiknya itu. "Tapi Prai melakukannya bukan semata-mata
untuk dirinya. Dia mendedikasikan perbuatan baiknya untuk membantu penebusan
Rama, dengan harapan kehidupan yang akan datang lebih murni dan terbebas dari
karma masa lalu."
Remaja
itu mengangguk. Ruangan sesaat senyap. Mereka hanyut dalam perenungan
masing-masing; dua dari generasi berbeda, pertemuan antara pembawa nasihat dan
pencari hikmat.
"Bikkhu
Kepala, sekarang bisakah Anda memberi tahu saya," bikkhu remaja itu
mengakhiri keheningan dengan pertanyaan, "apakah cinta mereka salah?"
Bikkhu
Kepala tercenung sesaat, memandangi bikkhu yang jauh lebih muda di hadapannya
itu. Lalu tertawa landai. Sepasang matanya yang telah kelabu seolah tak
kesulitan untuk memahami gejolak anak remaja itu—ia sendiri juga pernah
seusianya. "Nen, seorang
pencinta sesama jenis tetaplah manusia yang bisa melakukan perbuatan baik,
bukan? Perbuatan baik itulah yang akan menolong jiwanya untuk menemukan
kehidupan yang baik ketika kelak dilahirkan kembali. Demikian pula sebaliknya,
perbuatan buruk membawa kehidupan yang buruk. Begitulah karma."
Remaja
itu mengangguk. Ada senyum lega di wajahnya.
"Tapi
ingatlah, Nen, bahwa tujuan yang
lebih tinggi dari itu adalah melepaskan diri dari segala ikatan. Yaitu ketika
kita tak dibayangi lagi oleh karma. Ketika kita tak dibayangi kelahiran yang
terus terulang. Ketika mata rantai saling terlepas dan roda berhenti di Nibbana!"
Senyum
di wajah remaja itu berubah sedikit kecut. Namun juga tersisa sorot nakal di
matanya, seakan-akan sebagian dari jiwanya tetap memiliki kekokohan untuk tidak
tunduk pada aturan-aturan. "Saya mengerti itu, Bikkhu Kepala,"
sahutnya tenang. "Hanya saja, kadang itu juga terasa sebagai tujuan yang
terlalu tinggi bagi saya. Sebab bagaimanapun, dilahirkan kembali ke dunia dalam
keadaan yang lebih baik adalah takdir yang tak terlalu buruk juga. Nibbana bisa menanti."
Bikkhu
Kepala hanya tertawa pelan, memaklumi jiwa-jiwa muda seperti anak didiknya itu.
"Setelah ordinasimu selesai, kau ingin melanjutkan hidupmu seperti
apa?"
Remaja
itu merenung beberapa waktu sebelum menjawab. Saat itu seekor burung murai
datang menyela, singgah dan berkicau riuh di jendela. Remaja itu tersenyum
mengerling, dan sedikit bersipu. "Dia datang mendahului keluarga yang akan
menjemput saya. Dia sedang menunggu saya di taman. Saya ingin segera
menemuinya." Dia memilih jawaban sederhana itu, lepas dari
pemikiran-pemikiran yang terlalu rumit bagi jiwa remaja sepertinya.
Bikkhu
Kepala sekali lagi tak menuntut jawaban yang diharapkannya. "Kau sudah
mengemasi barang-barangmu, Nen?"
tanyanya hangat.
"Saya
sudah mengemasinya. Dan saya harus segera bersiap untuk upacara
penutupan," jawab remaja itu bersemangat. Lalu menangkupkan kedua telapak
tangannya di dada, dan membungkuk. "Terima kasih, Bikkhu Kepala, sudah
menjelaskan arti dari semua penglihatan yang saya alami selama di biara ini.
Sekarang semua sudah jelas."
Bikkhu
Kepala terkekeh. Dia memberikan doa berkatnya, "Semoga semua makhluk
berbahagia."
Remaja
itu meninggalkan ruangan Bikkhu Kepala. Dia berjalan keluar dengan langkah
tenang. Di muka pintu angin pagi menyambut, mengibaskan jubah kuning yang
sebentar lagi akan ditanggalkan itu. Dia melewati bikkhu-bikkhu yang
berlalu-lalang di beranda, juga para samanera
lainnya. Itu memang pagi yang sibuk bagi Biara Maha Paritta, sebab semua sedang
menyiapkan upacara penutupan ordinasi di akhir masa liburan itu.
Tak
hanya angin pagi dan kicau beburung liar, seseorang juga telah menunggu di
taman biara; ia juga seorang remaja belia, sedang bersabar dalam penantiannya
di tepi kolam yang penuh bunga teratai. Maka wajahnya pun berbinar-binar ketika
orang yang dinantinya telah muncul. "Anand...!" panggilnya.
"Mark!"
si bikkhu balas menyambut.
Mereka
saling menghampiri, bertatap muka satu sama lain. Ada raut rindu, seolah-olah
sudah tahunan tak bertemu. Padahal masa ordinasi yang dijalani Anand hanyalah
dua minggu. "Aku tak bosan memandangi rambutmu yang sekarang. Sebaiknya
kau tetap gundul saja!" gurau Mark, si penanti itu, sambil mengusap kepala
Anand. Dia sendiri lalu pura-pura menyesal. "Harusnya aku juga ikut
ordinasi ini. Bodohnya aku!"
"Giliranmu
pasti tiba!" timpal Anand. "Sebentar lagi upacara penutupan akan
dimulai, tapi kita masih ada waktu untuk..." Ia terhenti beberapa saat.
"Apa?"
desak Mark.
"Sudahlah.
Ayo ikut aku!" Anand membalikkan badan seraya menggamit Mark, mengajaknya
ke suatu tempat.
Mereka
berjalan melewati jalan setapak di samping biara, menembus kebun bambu yang
lembab di musim hujan itu. Lalu sampailah mereka di sebuah bangunan lain yang
tak begitu besar di belakang biara. Sebuah kuil kecil yang lengang. Mereka
masuk dengan tenang. Di dalam kuil kecil itu terdapat ruang yang agak terbuka;
ada patung Buddha agak besar berbalut selendang berwarna emas, dengan
relung-relung bernaung di bawah lapiknya. Dengan sikap khidmat, Anand duduk di
lantai dalam posisi berdoa. Mark mengikuti.
"Mark,
kautahu mengapa aku memilih biara ini?" Anand melontarkan pertanyaan
setelah doanya selesai.
"Kenapa?"
"Kautahu
bahwa ayahku meninggal ketika umurku masih tiga bulan di dalam kandungan,"
tutur Anand dengan wajah merenung. "Ayahku memiliki kelainan jantung.
Suatu ketika dia harus menjalani transplantasi. Dengan jantung baru itu ayahku
bertahan selama tiga tahun, sampai akhirnya meninggal—hasil transplantasi itu
memang tak terlalu bagus. Tapi seandainya transplantasi itu tak pernah
dilakukan, sudah pasti ayahku akan meninggal lebih awal, dan... aku tak pernah
dilahirkan."
"Ya,
aku masih ingat tentang ayahmu," sahut Mark.
"Kautahu?
Jantung yang dicangkokkan itu adalah donor dari seorang bikkhu bernama Prai.
Dia berasal dari biara ini. Karenanya aku memilih biara ini untuk menghormatinya.
Abunya disimpan di kuil ini, bersama abu kekasihnya yang lebih dulu menjadi
bikkhu, bernama Rama."
Mark
termangu menyimak cerita itu. Anand menatapnya, tersenyum sayu ketika menyadari
kebingungan di wajah Mark.
"Mungkin
sulit untuk kaupercaya, Mark. Tapi selama aku di sini, banyak kejadian yang
kualami. Aku mengalami penglihatan-penglihatan yang membuatku seakan-akan masuk
ke masa lampau, dan merasakan kehidupan mereka sekitar dua puluh lima tahun
yang lalu. Keyakinanku terasa digerakkan, bahwa semua yang kulihat itu adalah
kehidupanku di masa lalu...."
"Kehidupanmu
di masa lalu? Yang mana?" Mark masih ragu dan bingung.
Anand
menghela napas. "Terus terang, sebetulnya aku juga sempat takut untuk
terlalu meyakininya. Sebab, sebenarnya yang lebih penting adalah bagaimana
menjalani kehidupan kita saat ini. Masa lalu itu seperti bisikan saja, yang
memberi tahu kita supaya berusaha menjalani hidup dengan lebih baik."
Anand bangkit dari duduknya, mengulurkan tangannya kepada Mark, menantingnya berdiri.
"Kau mau tahu apa yang ia bisikan padaku, Mark?"
"Apa?"
"Bahwa
aku harus menepati janjiku padamu. Kau jadi kuliah di Bangkok, bukan?"
Mark
menjawab bersemangat, "Ya. Tentu saja."
Anand
tersenyum lebar. "Jadi, kapan kita akan berangkat ke sana?"
Mark
membalas dengan senyum yang lebih nakal. "Bisa kita bicarakan setelah
jubahmu itu kautanggalkan. Saat aku boleh menciummu lagi...."
Anand
meraih tangan Mark, menggenggamnya erat, seolah-olah sudah tak sabar lagi untuk
berbuat lebih banyak. Namun, itu bukan untuk menampik sebuah keyakinan yang
kini mulai mengakar dalam hati Anand, bahwa ada tujuan yang lebih tinggi dari
sekadar kesenangan-kesenangan masa muda.
Anand
tak hendak melanggar sesuatu. Dia hanya ingin menerima bahwa cintanya memang
kepada Mark. Bahwa hasrat masa muda tak harus selalu dikekang; sesekali ia
perlu dibawa ke tempat yang semestinya, dengan begitu jiwa-jiwa dengan segala
kebutuhannya akan mendapatkan keadilan—tindakan yang salah membuatnya belajar,
tindakan yang benar membagikan kebahagiaan. Mungkin beberapa orang akan terluka
ketika mengetahuinya, tetapi itulah harga sebuah tujuan. Siapakah yang tak
memiliki tujuan? Dan siapakah yang boleh mengekang orang lain?
Ruang
di kuil kecil itu kini hening, membagikan ketenangan bagi kehidupan yang pernah
dimiliki kumpulan abu yang tersimpan di sana. Sebagian telah dilahirkan
kembali, oleh sentuhan takdir yang selalu menyisakan misteri. Misteri-misteri
itu bersemayam di dalam relung-relung penyimpan abu; terselip di balik
selendang emas Sang Buddha; tertutup bayang-bayang chedi tua; tersirat di lembaran teratai di atas kolam.
Atas-bawah
selalu bergantian pada sebuah roda ataupun rantai yang memutarnya. Namun takdir
sekalipun tak akan memerintahkan pedati untuk melaju mundur. Masa depan tetap
ada di depan. Dua remaja itu menuju ke sana.
19
Oktober 2011, 04:33 WIB
1.
Chedi
bangunan stupa yang merupakan ciri arsitektur khas Buddhist; bisa dijumpai di kompleks istana ataupun tempat-tempat
keagamaan milik masyarakat lapisan bawah. Di Thailand, chedi mencapai ribuan jumlahnya dan tersebar di banyak tempat,
sehingga bisa disebut sebagai pemandangan yang biasa di negeri itu.
2.
Lao
Duang Duan adalah lagu kuno yang diciptakan oleh Pangeran
Benbadhanabopngse, putra Raja Chulalongkorn—raja yang menghapuskan perbudakan
di Thailand. Lagu ini berkisah tentang kerinduan sang pangeran kepada seorang
puteri dari Laos yang gagal dinikahinya. Lagu ini kemudian meninggalkan mitos
kultural pada masyarakat Thailand; konon para perempuan Thailand hingga kini
selalu merasa cemburu pada perempuan Laos, sebab pangeran mereka telah jatuh
cinta kepada seorang puteri Laos, dan tak ada seorang pun puteri dari Thailand yang
mampu menggantikannya.
3.
Matthayom
adalah nama institusi pendidikan di Thailand yang setara dengan Sekolah
Menengah di Indonesia; Matthayom 1-3
setara dengan SMP, Matthayom 4-6
setara dengan SMA. Klasifikasi usia untuk jenjang pendidikan ini tidak jauh
berbeda antara Thailand dan Indonesia.
4.
Nen
adalah panggilan yang umumnya digunakan oleh bikkhu dewasa kepada bikkhu yang
lebih muda. Nen juga biasa digunakan
sebagai panggilan langsung kepada samanera.
5.
Ordinasi adalah istilah untuk
pentahbisan seseorang soal statusnya di biara. Dalam tradisi Buddhist di Thailand, seseorang boleh
memilih untuk hidup sebagai bikkhu secara sementara saja. Ini juga berlaku
untuk usia remaja—dengan demikian akan berstatus sebagai samanera—dengan kurun waktu yang ditentukan. Ordinasi yang bersifat
sementara ini bertujuan agar setiap orang (di Thailand) setidaknya sekali dalam
seumur hidupnya pernah memfokuskan diri menyelami ajaran Buddha.
Menurut kultur masyarakat Thailand,
laki-laki yang pernah hidup di biara dipandang lebih berkualitas untuk
dijadikan calon suami/kepala rumah tangga/pemimpin yang ideal. Selain itu,
ordinasi sementara ini juga bisa ditujukan untuk mendoakan keluarga—biasanya
sebagai wujud balas budi kepada orang tua. Ordinasi sementara ini biasanya
dilakukan pada musim hujan, yaitu ketika para lelaki sedang tidak terlalu sibuk
dengan pekerjaan di luar rumah. Atau di masa liburan sekolah. Masa
berlangsungnya bisa bervariasi, dari yang hanya seminggu hingga beberapa bulan.
6.
Phitsanulok dulunya adalah ibukota
Kerajaan Ayutthaya—kerajaan penerus Sukhothai. Sakarang, Phitsanulok menjadi
salah satu provinsi di Thailand dan letaknya berdekatan dengan Provinsi
Sukhothai. Prai dan Rama berasal dari Phitsanulok.
7.
Samanera,
secara kaprah bisa diartikan sebagai "bikkhu muda". Dalam aturan
kebiaraan, seseorang baru bisa diordinasikan/ditahbiskan sebagai bikkhu bila
telah mencapai usia minimal 20 tahun. Apabila usia masih di bawah 20 tahun,
seseorang tetap diperbolehkan hidup membiara tapi dengan status samanera. Samanera belum diharuskan mengikuti aturan hidup membiara secara
penuh, hanya perlu mengikuti sebagian peraturan saja. Apabila sudah ditahbiskan
sebagai bikkhu sepenuhnya, barulah dikenakan seluruh peraturan hidup sebagai
bikkhu yang disebut Vinaya, dan
secara resmi telah masuk sebagai anggota perkumpulan yang disebut Sangha.
8.
Sukhothai merupakan kerajaan kuno
yang dipercaya sebagai cikal bakal Kerajaan Thailand. Dewasa ini, nama
Sukhothai tetap dipakai untuk merujuk wilayah pusat kerajaan tersebut dahulu
kala. Thailand saat ini berada di bawah Dinasti Rattanakosin yang memerintah
sejak abad 18, dan Sukhothai menjadi salah satu provinsinya. Kisah
"PILGRIM" mengambil tempat di Si Satchanalai, salah satu distrik di
provinsi Sukhothai.
9.
Theravada
merupakan aliran dalam Buddhisme yang meneruskan tradisi serta ajaran mula-mula
dari Siddharta Gautama. Buddha Theravada
merupakan yang paling banyak dianut di Thailand. Aliran ini umumnya menggunakan
bahasa Pali sebagai bahasa utama dalam ritus keagamaannya, yang memberi lafal
berbeda dari bahasa Sanskerta (yang umumnya dipakai oleh aliran Mahayana). Nibbana merupakan bahasa Pali dari Nirwana (Sanskerta); bikkhu adalah bahasa Pali dari biksu (Sanskerta); sutta adalah bahasa Pali dari sutra
(Sanskerta).

3 komentar:
Membaca cerita ini, untuk kesekian kalinya, masih saja memberikan pencerahan ke pada saya. Tentang sejarah masa lalu saya, hidup saya di masa kini maupun arah yang saya tuju di masa depan.
Terima kasih mas Noel, sudah memberi pencerahan lewat tulisanmu.
Selamat Hari Waisak (buat yang merayakannya).
Salam.
Selalu rindu dgn tulisan2 k' noel yg bukan skdar "cerita":)
Ada penulusan kata yg sedikit salah bang noel
Posting Komentar