Senin, 01 Juni 2015

Sebuah cerpen ...




Remaja itu sedang mengikuti sebuah latihan spiritual, berkaitan dengan statusnya sebagai samanera. Ia begitu terkesima ketika secara tiba-tiba sosok misterius muncul dalam penglihatannya. Bagai tersihir, ia mengikuti sosok lelaki bermuka sayu dan berbusana selayaknya bangsawan itu, menerobos ke dalam areal yang dihuni pohon-pohon tua. Sekilas ia melihat bayangan besar serupa chedi yang telah runtuh, memancarkan getaran penuh dosa dan ketidaktenangan yang amat mencekam. Sebelum sempat memahaminya, penglihatannya telah berubah dan sosok tadi lenyap tanpa jejak. Ia mendapati dirinya kini telah berada di tepi sungai besar dengan jembatan usang. Dilihatnya sosok kedua; seorang pemuda berpakaian sederhana selayaknya dari golongan rakyat jelata, tampak berdiri di tengah jembatan dan memancarkan getaran yang amat gelisah—samanera itu merasakannya serupa tangan berkuku tajam merogoh dalam-dalam ke dadanya.
"Apa yang kaulakukan di sini?" sapa seseorang.
Fokus terpecah, bikkhu remaja itu melihat kehadiran penyapanya—seorang bikkhu yang lebih dewasa—dan seketika itu juga semua penglihatannya yang mencekam tadi musnah.
"Aku melihat sosok aneh, dan aku seperti ditarik untuk mengikutinya ke jembatan ini,"  jelasnya gugup, seraya menunjuk tonggak-tonggak usang di tepi sungai—tak bisa lagi disebut jembatan. Ia mulai ketakutan. "Aku tadi melihat mereka, dan jembatan ini tadinya tak begini!"
"Nen, aku tak melihat siapa-siapa. Dan jembatan ini sudah lama runtuh," sahut bikkhu yang lebih dewasa. "Kau sudah terpisah dari rombongan. Ayo, kita kembali!"
Remaja itu sadar, sebuah visi tak terjelaskan telah menyelinap ke alam kesadarannya. Dipandanginya lagi bekas jembatan itu—sisa-sisa dari masa lalu yang tiba-tiba terasa menggoyahkan realitasnya.
Sesungguhnya ia merasa tak asing dengan tempat itu.




~PILGRIM~





Pemuda itu terlihat cukup kepayahan meniti satu demi satu anak tangga untuk mencapai biara. Rautnya tampak agak pucat, kulitnya yang sawo cerah mengkilap oleh keringat. Itu memang jalan tangga yang panjang dan tinggi, akan sangat melelahkan bagi orang yang tak biasa pergi jalan kaki. Untunglah hutan bambu yang luas menumbuhi kaki bukit itu, kesejukannya cukup membantu meredam siksaan panas dari kalori yang terbakar. Setelah setengah jam mendaki, sampailah ia di depan gerbang biara.
Ia istirahat sejenak, sambil memijit pelan-pelan kepalanya yang terasa agak pening. Dipandanginya gerbang besar Biara Maha Paritta, biara tua yang masih kokoh dan berwibawa. Para bikkhu berlalu-lalang dengan rapi dan sunyi. Pengunjung lainnya juga tampak, tapi tak terlalu ramai. Jajaran chedi—bangunan stupa yang amat umum di negeri itu—menjulang di berbagai sudut dengan pancaran yang bisu membatu, berkata dengan keheningan bahwa mereka telah berdiri di sana melampaui berbagai zaman, mengisi lintasan waktu dengan wajah yang kian keropos, tetapi tak runtuh jua.
Pemuda itu meneruskan langkahnya ke dalam. Di tepi sebuah kolam seorang bikkhu menyambutnya. Namun sekilas ia tak terlalu hirau kepada penyambutnya. Dia menggumam tanpa bertatap muka, "Kudengar biara ini sudah ada sejak zaman Sukhothai. Jadi mungkin umurnya sudah lebih dari 500 tahun. Baiklah, aku kagum!" Lalu dia memutar pandangan, 270 derajat, sampai matanya berhenti pada si bikkhu. Kali ini barulah dia betul-betul menyapa penyambutnya, "Apa kabar, Rama?"
Bikkhu itu mengangguk hampir tanpa ekspresi. "Hal apa yang membawamu kemari, Prai?" sahutnya.
Seorang bikkhu Theravada tak boleh memelihara rambut, kumis, jambang dan alis; itu membuat bikkhu bernama Rama itu sekilas seperti seorang anak remaja, jauh lebih muda dari tamunya yang bernama Prai. Padahal usia mereka berdua sepantar, antara 21-22 tahun.
"Aku kemari karena ada hal yang membuatku bertanya-tanya: mengapa sepertinya banyak yang sudah berubah pada dirimu?" gumam Prai disertai seulas senyum sinis. Dia mendengus seraya membuang muka, tampak amat kesal. "Kautahu, sangat jauh dari Bangkok kemari! Aku sudah berulang kali mengirim surat, tapi rupanya aku memang harus kemari sendiri. Kau tak pernah berniat memberi penjelasan lewat surat-surat balasanmu!"
"Sebab aku tak yakin kau akan percaya begitu saja," balas Rama. Meskipun juga tampak gelisah, ia tetap tenang dalam tutur katanya—mungkin karena kini dia telah menjadi bikkhu.
"Baiklah, kuanggap kau masih ingat sifatku!" tukas Prai. "Lagipula sudah bertahun-tahun kita tak bertemu, Rama. Tak ada salahnya juga aku kemari."
"Ya. Aku sama sekali tak menyalahkanmu."
"Lantas mengapa masih bertanya maksud kedatanganku? Seharusnya kau sudah mengerti!"
"Anggap saja sekadar ramah-tamah dari tuan rumah," jawab Rama, tersenyum sedikit lebih hangat.
Melihat sambutan Rama, akhirnya Prai harus menelan lagi kekesalannya dalam hati. Lagipula memang tak mungkin untuk memaki-maki seorang bikkhu di biara. Itu akan menjadi karma yang amat buruk!
"Bagaimana kabar pamanmu?" tanya Rama.
"Semua baik-baik saja. Kautahu sendiri, sejak ibuku wafat, tinggal pamanku kerabat yang tersisa. Meskipun aku tak betah tinggal dengannya di Bangkok, aku tak punya pilihan lain lagi," desah Prai, kali ini tak terdengar marah-marah lagi. Namun dia tetap memakai kalimat bernada sinis, "Mengapa bukan kabarku saja yang kautanyakan?"
"Karena aku sudah melihatmu sekarang. Meskipun kelihatan sedikit kesal, kau tampak baik-baik saja," sindir Rama.
"Aku senang ternyata kau masih mau sedikit memperhatikanku," ucap Prai. Kedengarannya seperti balik menyindir, tapi juga bisa jadi sebuah isyarat rasa rindu.
Rama kembali tersenyum hangat. Lalu membawa pembicaraan ke arah lain. "Prai, hari ini aku harus berziarah ke beberapa tempat."
Kening Prai seketika mengernyit tajam. "Di saat aku sudah susah payah kemari, kau mau pergi?!" tukasnya, kembali sengit.
"Aku ingin kau ikut," balas Rama tenang.
Kedongkolan Prai bangkit lagi. Namun kali ini dia meluapkannya dengan tawa. "Sialan kau!" umpatnya. Beberapa bikkhu yang lewat mendengar umpatan tadi; mereka berhenti sejenak dengan raut menyelidik. Prai tak menggubris mereka; dia malah menggablok lengan Rama dengan agak keras sampai bikkhu muda itu hampir terpelanting dengan wajah kaget. Prai mengulangi tawanya dan mencibir, "Dulu kau lebih sering mengumpat dibandingkan aku, Rama! Jubah kuning itu membuatmu jadi sangat sopan sekarang?" Prai berkacak pinggang memandangi Rama. "Aku tak akan meloloskanmu! Tentu saja aku akan ikut!"
Kali ini Rama nyaris tertawa. Wajahnya juga sedikit bersemu. Dengan bahasa tubuh agak kikuk dia membalik badan, beranjak sambil garuk-garuk kepala.
"Apa yang kaugaruk? Sekarang tak ada rambut lagi di kepalamu!" olok Prai sambil mengikuti Rama. "Bahkan kau tak setampan dulu...."

***

Di sebuah dermaga di Sungai Yom, dua pemuda itu duduk terpekur. Prai dan Rama, mereka tengah menanti datangnya perahu. Desa Ning berada di pelosok Si Satchanalai, provinsi Sukhothai, dan bukanlah desa yang ramai. Untuk menyeberangi sungai masih harus menggunakan perahu, sebab belum dibangun jembatan di desa itu.
"Aku masih sulit mengerti, mengapa kau benar-benar meninggalkan hidupmu yang dulu dan memilih tinggal di biara?" lontar Prai memecah keheningan.
Rama balik bertanya, "Apakah menjadi bikkhu adalah hal yang buruk di matamu, Prai?"
Prai tampak kikuk sesaat. Jawabnya, "Setidaknya, banyak biara yang lebih dekat dengan pusat kota. Juga banyak biara yang lebih bagus di Phitsanulok, kota asal kita. Tapi kau malah memilih biara di tempat terpencil ini. Kubandingkan dengan dirimu yang dulu; kau hidup berkelimpahan, penuh kesenangan dan suka kemeriahan—sangat kontras dengan dirimu sekarang."
Rama terdiam, tak menjawab kebingungan yang diungkapkan sahabatnya—entah tak mampu atau tak mau. Dermaga kecil itu kembali kosong dari percakapan. Hanya kecipak air sungai yang terdengar, seolah-olah menjadi irama bagi waktu yang terasa lambat. Barulah kemudian bergabung sayup-sayup suara tiupan; mungkin seorang petani sedang meniup khlui—seruling warisan tradisi negeri itu—sambil menunggui ladangnya, ditemani kerbau kesayangan. Kedengarannya nada-nada itu dari sebuah lagu roman lama, Lao Duang Duan—kisah tentang cinta yang tak tersatukan.
"Dengarkan lagu sedih itu," ucap Prai, meresapi nada-nada yang mengalun dari kejauhan. Tapi dia buru-buru menyambung, "Ah, bukankah musik pun bikkhu tak boleh mendengarnya?"
Rama tersenyum masam. "Apa yang terdengar kadang tak bisa dihindari. Seorang bikkhu hanya berusaha untuk tidak terikat."
"Padahal kau berbakat musik. Ironis sekali," dengus Prai sinis. "Semua mungkin memang bisa berubah, tapi aku tak mengira perubahanmu harus sejauh ini."
Rama kembali tak menanggapi sindiran Prai. Bagi Rama, Prai hanya beropini menurut sudut pandangnya sendiri, dan memang begitulah sifat sahabatnya itu.
"Akhirnya perahunya tiba," ucap Prai, lega penantian itu berakhir.
Tukang perahu itu seorang pria paruh baya. Sudah ada dua penumpang di perahunya: satu perempuan renta dan satu gadis belia, dan mereka telah sampai di tujuan—di dermaga itu.
"Cucu saya ini cacat, tolong, Anda bisa membantunya naik ke dermaga?" pinta si perempuan renta.
Prai berdiri dari duduknya. Namun Rama sudah lebih dulu menuruni tangga dermaga.
"Saya bisa membantunya," ucap Rama seraya menanting gadis itu.
Si Nenek terperanjat, begitu pula Si Tukang Perahu. Namun tak ada yang lebih terkejut dari Prai, ketika bikkhu muda itu menggendong Si Gadis dan membawanya hingga ke atas dermaga. Si Nenek cepat-cepat menyerahkan dua tongkat peyangga kepada cucunya, lalu ia melakukan sesuatu yang membuat semua orang di situ terkesima. "Terima kasih. Kalau ada dosa karena ini, kiranya aku saja yang akan menanggungnya," keluh kesah perempuan tua itu, seraya menekuk lututnya di depan Rama.
Rama cepat-cepat mengangkat bahu nenek itu, memintanya berdiri lagi. "Buddha Maha Pengasih," ucapnya.
Perempuan tua itu tak berkata apa-apa lagi, hanya mengangguk seraya mengusap pinggiran matanya. Lalu segera menggamit pundak cucu gadisnya, dan berlalu. Si Gadis berjalan tertatih dengan tongkat penyangga; ia menyempatkan diri menoleh ke belakang, menatap seraya tersenyum polos kepada Rama. Bibirnya bergerak, "Terima kasih."
Sesaat dermaga itu hening kembali, seiring berlalunya nenek dan cucunya tadi. Berbagai tanya tampak tersembul di wajah heran Prai dan Tukang Perahu. Rama tak terlihat menghiraukannya. Dengan tenang bikkhu itu duduk di ujung perahu.
"Kalian mau ke mana?" tanya Tukang Perahu.
"Desa Tham," jawab Rama.
Perahu itu tak berlama-lama di dermaga, segera menempuh perjalanan lagi menuju desa yang dikatakan Rama.
"Nenek tadi seorang janda, dan gadis itu adalah cucu sekaligus keluarga satu-satunya yang masih tersisa," tutur Tukang Perahu, bercerita sambil menjalankan perahunya. "Berita yang kudengar, dulu ibu gadis itu mengandung secara tidak sah. Tak lama setelah melahirkan, ia tewas hanyut di sungai. Kasihan sekali mereka. Waktu berangkat tadi aku membantu mereka dengan susah payah, sebab keadaanku sendiri juga sedang tidak mujur." Tukang Perahu menunjukkan telapak kaki kanannya yang diperban. "Waktu aku mengurus ladang, cangkulku mendarat di tempat yang salah. Kuku jempolku bahkan tak kutemukan, sebab air dan lumpur langsung menjadi merah."
Terlepas dari simpati dalam diri masing-masing, baik Rama maupun Prai merasa tak harus menganggapi cerita Tukang Perahu—sebab Rama dan Prai memiliki cerita mereka sendiri, dan itulah yang lebih perlu untuk diketahui.
"Sebetulnya nenek tadi memandang ke arahku—akulah yang dia mintai tolong," singgung Prai, merapat di sebelah Rama. "Dia pasti paham bahwa seorang bikkhu tak boleh menyentuh perempuan. Bukankah begitu?"
"Aku menolongnya, dan itu sudah berlalu. Jalan seorang bikkhu bukan bertujuan untuk mencegah kebahagiaan orang lain," jelas Rama.
"Jika ikrarmu tak bermaksud menghalangi kebahagiaan orang lain," bisik Prai dengan raut gundah, "maka jelaskan padaku, Rama, mengapa tak ada tempat untuk kebahagiaanku?"
"Kebahagiaan adalah untuk diberikan, Prai. Bukan dituntut. Bukankah kau egois berucap seperti itu?"
"Katakanlah aku memang menuntut, tapi bukankah kau juga tahu alasannya?"
"Kau tidak mengerti, Prai."
"Ya, aku belum mengerti, sebab kau belum memberiku penjelasan! Kenapa kau belum merasa juga?" tukas Prai sedikit menajam. Lalu, agar tak mengusik pendengaran orang lain, ia menurunkan suaranya lagi, dan mulai berkeluh kesah. "Berulangkali kuceritakan padamu, Rama, tentang keadaanku sejak pindah dari Phitsanulok ke Bangkok; dari Matthayom kelima hingga lulus, itu adalah masa-masa yang membuatku kesepian. Aku tak pernah menemukan teman sepertimu lagi.... Tiap kali kau mengunjungiku, atau aku mengunjungimu di saat liburan, itu adalah saat-saat yang paling menghiburku. Aku sangat senang ketika mendengar kau mau kuliah di Bangkok—kau menjanjikannya padaku. Aku menunggu dengan penuh mimpi. Tiga tahun, Rama! Tapi kau tak menepati ucapanmu...."
Rama membisu ketika cecaran sekaligus kesedihan Prai kian menggempur; kedua matanya mengernyit rapat seolah begitu tersiksa oleh kata-kata sahabatnya itu—terasa sangat menohoknya! Namun Prai belum mau berhenti menguak masa lalu.
"Perasaanku amat buruk ketika kau memutuskan sesuatu tanpa memberiku penjelasan. Aku rindu masa lalu kita—itu jangan kausangkal juga, Rama! Kautahu semua yang kita jalani bersama di masa-masa itu...."
Akhirnya Rama tak sanggup lagi mempertahankan kebisuannya. "Aku tak menyangkalnya, Prai. Aku menerimanya, sebagai masa lalu. Seperti kau pun menyebutnya begitu: masa lalu. Prai, sebenci itukah dirimu terhadap keputusanku untuk menjadi bikkhu?"
"Yang kubenci adalah saat kau tak menyelesaikan apa yang sudah kaumulai—semua yang sudah kaumulai pada diriku, Rama!"
Rama menghela napas dalam-dalam, dan menerawang jauh ke depan. "Percayalah, Prai, aku tak akan melakukan semua ini tanpa alasan. Karena itulah aku mengajakmu dalam perjalanan ini. Kuharap nanti kau akan mengerti."

***

Perahu berhenti di dermaga Desa Tham. Rama dan Prai turun dari perahu, bersiap melanjutkan perjalanan mereka. Rama mengulurkan payungnya kepada Prai. "Matahari cukup terik," ujar Rama. "Aku tahu kau tak boleh terlalu kepayahan. Aku masih ingat..."
"Tapi aku sudah punya payung di kepalaku," Prai langsung memotong disertai senyum sedikit mengejek, sambil mengusap-usap rambutnya. "Kepalamu lebih membutuhkan payung."
Rama tak menggubris dengan serius tingkah Prai. Ia mengembangkan payungnya, menudungi dirinya sendiri. Mereka melanjutkan perjalanan.
Tham adalah sebuah desa di tepi Sungai Yom yang subur; masih di distrik Si Satchanalai, Sukhothai. Di siang yang agak terik itu, keduanya berjalan kaki menyusuri jalan setapak, membelah perladangan luas yang ditunggui para petani di dangau mereka. Rumah-rumah kayu milik penduduk desa tampak berkerumun di sisi yang agak jauh.
"Tempat apa yang akan kau ziarahi?" tanya Prai.
"Nanti kau akan tahu sendiri. Tidak jauh lagi."
Mereka memasuki areal kebun yang amat luas dan tampak tak terawat. Pohon-pohon besar tampak berkuasa, menimbuni tanah dengan daun-daun gugurnya yang terendap menjadi humus berbau pekat. Sinar matahari tersangkut di cabang-cabang rimbun, memicu keteduhan yang terasa suram. Rama berhenti, diikuti oleh Prai, menghadapi sebuah bangunan tua yang menjulang angker di depan mereka. Itu sebuah chedi tua yang tak begitu besar, berdiri di atas pondasi bata yang sudah banyak terserak. Lumut dan rumput-rumput liar menyembul di mana-mana. Sebuah bangunan tua yang tampaknya sudah tak ada lagi yang mengenangnya, selain...
"Inilah tempatnya," ucap Rama, memecah kesenyapan.
"Di sini? Kelihatannya tempat ini tak pernah diziarahi? Tempat apa ini? Siapa yang diperabukan di sini?" Prai bertanya-tanya.
Selagi Prai sibuk dengan keheranannya, Rama lebih menghiraukan hal yang lain; bikkhu itu mengeluarkan sapu kecil dari dalam tas kainnya, lalu mulai membersihkan lantai bangunan itu dari debu dan daun-daun kering.
Prai geleng-geleng kepala melihat sahabat yang mengabaikannya itu, serba salah untuk melampiaskan ketidaksabarannya. Akhirnya, dengan perangai seperti anak kecil yang ngambek, ia mencabuti rambatan-rambatan liar yang menjalari bangunan itu. "Akhirnya menjadi bikkhu membuatmu serba salah juga, bukan? Kau pasti ingin makam ini tampak bersih, tapi sulit bagimu mencabuti tanaman-tanaman liar yang bernyawa ini!" gerutu Prai bersungut-sungut.
Di saat Prai beralih sibuk dengan perkerjaan yang dibuatnya sendiri, Rama kini malah duduk-duduk saja sambil memandangi. Prai sadar, dan langsung berkacak pinggang memelototi bikkhu itu.
"Semoga kau masih sabar untuk menungguku, Prai," ujar Rama dengan tersenyum-senyum—sekarang dialah yang seperti anak kecil. Ia cepat-cepat sibuk dengan hal lain lagi; melipat kakinya di lantai, duduk dalam sikap khidmat. Dengan cepat ia larut dalam doa.
Wajah Prai tak bisa menyembunyikan emosinya yang mau meletus. Namun kendalanya masih sama: tak mungkin baginya memarahi seorang bikkhu, apalagi yang sedang berdoa. Namun rona merah padam di wajahnya itu lama-lama luntur juga, berangsur-angsur menjadi lebih tenang ketika mendengar Rama melantunkan sutta—doa-doa berbahasa Pali. Mata Prai diam terpaku pada sosok sahabatnya itu, merenungkan perubahan pada diri Rama yang masih sulit untuk ia pahami sampai detik itu.
Rama menyelesaikan doanya. "Aku tahu sesungguhnya kau seorang penyabar," ujarnya seraya bangkit berdiri.
"Bersyukurlah!" dengus Prai kesal.
"Prai, kau percaya pada karma?" Tiba-tiba pembicaraan yang dicetuskan Rama agak berubah—mengenai sesuatu yang amat fundamental.
"Kalau aku tak percaya, aku sudah memukuli seorang bikkhu hari ini. Dan aku juga percaya bahwa karma tidak memandang status seseorang. Seorang bikkhu sekalipun, kalau suka membuat kesal orang lain maka dia juga tak akan lepas dari karma."
Rama tertawa kecut mendengar gerutu Prai, menyadari betapa keras sahabatnya itu telah menahan emosi. Ia lalu duduk di atas tumpukan bata dari dinding yang sudah runtuh, tampak mengatur napas sejenak, lalu semacam tanda kegelisahan mulai menebal pada raut wajahnya—kegelisahan yang selama ini disembunyikannya dari Prai.
"Siapa yang bisa lari dari karma, Prai?" Rama melontarkan pertanyaan seraya menengadah ke langit, menerawang dengan sorot mata yang memancarkan kepahitan.
"Ke mana arah bicaramu?" tukas Prai tak mengerti.
Rama kini mengarahkan pandangannya pada chedi itu. Ia menunjuknya, "Ke sana."
Prai memandangi Rama dan chedi itu bergantian. Wajahnya tampak semakin bingung.
"Ada cerita yang aku ingin kau mendengarnya," tutur Rama setengah menerawang. "Ini cerita tentang seorang putra bangsawan di Sukhothai. Kejadiannya sudah amat lama, di masa-masa awal dinasti yang sekarang..."
"Ada hubungannya dengan kita?" dengus Prai memotong—bukan sungguh-sungguh pertanyaan, tapi lebih sebagai ungkapan ketidakmengertian bercampur kekesalan.
Daripada menanggapi kesinisan Prai, Rama memilih melanjutkan ceritanya. "Sebagaimana umumnya keluarga penguasa, putra bangsawan itu memiliki banyak budak yang bekerja padanya. Tetapi ada satu budak yang amat diistimewakan olehnya; seorang budak laki-laki yang diperlakukan secara khusus, begitu juga dengan tugasnya—melayani di kamar tuannya."
"Bangsawan itu menyukai sesama lelaki?" sela Prai, mulai memberi sedikit perhatian pada cerita itu.
Rama tersenyum semu, mengiyakan tanpa harus dengan berucap. "Anak bangsawan itu memberi banyak janji kepada budaknya; ia akan melindunginya, menjamin hidupnya, dan tak akan menyia-nyiakannya. Si budak juga berjanji setia kepada tuannya, sebab bagi budak seperti dirinya adalah sebuah keberuntungan bisa memperoleh kasih sayang dari sang tuan. Secara diam-diam, hubungan mereka pun semakin jauh." Sejenak Rama menghentikan ceritanya. Raut wajahnya menyiratkan seolah-olah kelanjutan cerita itu berat untuk dia tuturkan. "Suatu ketika, hubungan mereka mulai tercium. Dan keluarga besar bangsawan itu benar-benar marah. Mereka berdua disidang. Karena takut dan malu, anak bangsawan itu mengingkari janjinya. Dia menyangkal hubungan gelapnya."
"Oh, cerita pengkhianatan rupanya?" dengus Prai, seolah-olah tak begitu terkejut dan mulai meremehkan lagi cerita Rama.
"Di lain pihak, demi menyelamatkan tuannya dari cecaran, si budak berdalih bahwa dialah yang menyalahartikan kebaikan tuannya. Bahwa itu bukan salah tuannya." Wajah Rama kian murung mengurai ceritanya. "Pada jaman itu hukum terhadap budak sangat keras. Budak itu dianggap bersalah karena berani mencintai tuannya dan menodai nama baik keluarga itu. Dia dihukum, disiksa dengan amat keji. Dia mati dalam keadaan menderita."
Suasana hening setelah Rama menyelesaikan ceritanya. Prai menghela napas lesu berulang kali, dan kembali tersenyum jengah kepada Rama. "Aku masih tak tahu di manakah hubungannya dengan kita. Lagipula cerita seperti itu sangat banyak, Rama. Tuan yang kejam, pelayan yang naif. Aku bersimpati jika cerita itu memang terjadi, tapi bukan berarti itulah yang ingin kudengar setelah perjalanan yang jauh ini."
"Tetapi bahwa cinta harus berani berkorban, kau setuju, bukan?"
Prai membuang pandangan ke arah tak tentu. Masih tak dia pahami apa sangkut paut cerita tadi dengan dirinya, ataupun Rama.
Rupanya masih ada yang belum disampaikan oleh Rama tentang akhir ceritanya. "Setelah kematian budak yang dicintainya, tuan muda itu menyesali pengingkarannya. Keluarganya juga telanjur menjadi tak senang padanya. Akhirnya dia memilih pergi, hidup menyepi di tempat terpencil hingga akhir hidupnya. Di sinilah abunya disimpan. Tempat inilah jejak riwayatnya yang masih tersisa."
Kali ini Prai terpana, memandangi chedi tua itu. Hatinya masih merasakan tarik ulur—haruskah dia mempercayai cerita itu?
"Siapa yang bisa lari dari karma, Prai?"
Setelah lama termenung, Prai kembali tertawa sinis. "Jadi inikah yang kautakutkan? Takut hubungan kita akan membawa karma yang buruk?" Prai meremas rambutnya seolah ingin membuang sesuatu yang keruh di kepalanya. "Semoga semua makhluk berbahagia, itulah doa yang biasa kita ucap; apakah yang membuatmu berpikir bahwa kita berdua tak layak bahagia?"
"Prai, tentu kita layak bahagia jika tindakan kita benar!"
"Oh! Jadi itu pendapatmu sekarang?" Prai berkata dengan nada tinggi. Telunjuknya gemetar menunjuk bibir. "Dulu, di telaga kecil yang penuh bunga teratai... kau masih ingat? Siapa yang telah memberiku ciuman pertama waktu itu? Siapa orang itu, Rama?!"
"Prai, tolong..."
"Kau meracuniku, Rama!"
Rama tertunduk lesu.
"Kaulah yang mengenalkanku pada perasaan ini. Tapi sekarang kau menganggapnya salah!" tuding Prai dengan wajah merah gusar. "Sekarang haruskah aku bercinta dengan seorang bikkhu?! Kau mencari jalan terang dengan meninggalkanku di tempat gelap! Kau menyesatkanku, Rama!"
"Ini demi kebaikan kita...." Rama gemetar mengucapnya.
"Demi menghindarkan kita dari karma? Aku seperti mau gila membayangkan kau begitu terpengaruh oleh cerita kuno itu! Mengapa karma harus menghukum perasaan yang tulus, Rama? Tapi... ya, tentu saja sekarang tak ada yang tulus! Kau sudah merusaknya!" Kata-kata Prai pecah dalam marah serapah yang tak dapat ia tahan lagi.
Mulut Rama terkunci di tengah gundahnya. Hatinya terhantam, tersayat-sayat! Sedangkan Prai yang telah meluapkan amarah kini tak mampu membuncahkan apa-apa lagi dari mulutnya, dan hatinya tetap berujung pada kebingungan. Tak ada pencerahan di tempat itu.
Rama mengendapkan resahnya. Ia bangkit dari duduknya, menengadahkan kepala ke langit. Dengan mata sayunya ia melihat tanda hari yang mulai melewati pertengahan siang. "Hidup ini seperti rantai yang memutar roda—mata rantai haruslah tersambung. Aku tahu belum semuanya dapat terjelaskan untukmu, Prai," tuturnya lirih. "Kumohon, ikutlah ke satu tempat lagi. Di sana nanti barulah aku bisa menjelaskan semuanya."
Prai tak tahu pilihan lain yang ia miliki. Dia kembali mengikuti Rama, meninggalkan reruntuhan tua itu untuk menuju ke tempat berikutnya yang ia juga belum tahu. Dia tak ingin berharap tinggi-tinggi. Mungkin nanti semua masih akan tak jelas baginya. Namun setidaknya dia bisa tetap bersama Rama—sahabat yang telah membuatnya diliputi amarah sekian lama, di saat yang sama tetap menghadirkan kerinduan juga.
Perjalanan ziarah itu akan berujung ke mana, sebagian dari jiwa Prai tak mau memikirkannya lagi.

***

Kehidupan di jantung Desa Tham lebih ramai dibandingkan desa-desa tetangganya. Pasar di desa itu menjadi tempat para petani dan nelayan sungai menjual hasil pencahariannya; tak hanya pedagang dari Desa Tham, yang dari desa-desa tetangga juga melimpah di tempat itu. Beberapa tahun sebelumnya, Desa Nok lebih ramai dari Desa Tham. Desa Nok sudah lama memiliki jembatan untuk menyeberangi Sungai Yom, tetapi kini jembatan itu sudah usang. Sedangkan jembatan di Desa Tham masih baru dan lebih besar; hilir mudik manusia menjadi semakin ramai di desa ini, menggeser keramaian Desa Nok.
Dari pasar Tham, Rama mengajak Prai menuju ke Nok. Untuk itu mereka harus memakai jasa tuktuk, mobil trasportasi rakyat yang tarifnya terjangkau. Mereka tak bisa menggunakan jasa perahu, sebab sudah tak ada perahu penumpang yang menuju ke Nok sejak lama. Dibangunnya jembatan di desa Nok telah menggerus aktivitas dermaga-dermaganya, tukang perahu pun banyak yang beralih pekerjaan menjadi sopir tuktuk. Sedangkan Tham jembatannya masih baru, dermaga di beberapa titik masih dipakai untuk naik-turun pengguna jasa perahu—dalam beberapa tahun ke depan mungkin juga akan bernasib sama seperti dermaga-dermaga di Nok.
"Ke jembatan lama," kata Rama, menyebutkan tujuannya kepada sopir tuktuk. Kendaraan itu pun melaju dengan mesin berisiknya. Dapat di lihat di kanan-kiri jalan, padi-padi seperti selendang hijau yang menghias wajah desa dengan permai. Di beberapa titik, chedi-chedi tua menjulang; saksi jaman, saksi kejayaan Sukhothai, saksi kehidupan yang terus berputar dalam pergulatan takdir.
"Kalian mau menyeberang lewat jembatan lama?" sopir tuktuk membuka sekadar percakapan. "Jembatan itu sudah usang, sudah tidak aman lagi."
"Kami tak hendak menyeberang. Hanya singgah saja," jelas Rama.
Sopir tuktuk memanggut paham. Beberapa menit kemudian kendaraan itu menepi, berhenti di mulut sebuah pertigaan jalan. "Hanya bisa sampai di sini saja. Untuk ke jembatan itu jalannya sudah cukup rusak, kasihan mesinku," kata sopir tuktuk.
Rama dan Prai turun. Prai menyodorkan uangnya lebih dulu kepada sopir tuktuk seraya mengucap, "Terima kasih." Lalu dia beralih menatap Rama, sekilas saja seraya menyindir, "Bikkhu tidak banyak uang, bukan?"
"Terima kasih," balas Rama singkat, dan segera meneruskan perjalanan—jalan kaki lagi.
Mereka melewati perkampungan yang tampak lengang siang itu; sebuah permukiman yang didominasi rumah-rumah kayu khas desa. Lalu mereka tiba di bagian ujung dari jalan itu, diapit areal ladang yang berbatasan dengan sungai. Sebuah jembatan tua dari kayu terbentang di sana, di atas Sungai Yom.
Rama menghentikan langkahnya di mulut jembatan. Kali ini, dia benar-benar akan menjelaskan semuanya. Prai di hadapannya, akan mendengar apa pun yang diceritakan Rama, terlepas itu akan membuatnya puas ataupun tidak.
"Begitu lulus dari Matthayom, orang tuaku menganjurkanku untuk mengikuti ordinasi di biara," Rama memulai ceritanya. "Begitulah tradisi kita; setidaknya satu kali dalam hidup, kita pernah menjalani hidup di biara untuk mengharap berbagai kebaikan. Demi sekadar mengikuti tradisi, mulanya aku bermaksud tinggal di biara hanya untuk sementara. Setelah masa ordinasi berakhir, aku berencana akan memenuhi janjiku padamu, yaitu menyusul ke Bangkok dan kuliah di sana."
Prai sedikit bisa menebak kelanjutannya, maka dia mendului dengan satu kata: "Tapi...?"
"Aku mengalami banyak kejadian selama di biara, Prai," sambung Rama. "Aku memilih Biara Maha Paritta setelah membaca sejarahnya yang panjang, dan entah mengapa aku sangat tertarik dengannya. Padahal itu jauh dari rumah. Kurasa, takdir memang telah menarikku."
"Kejadian apa yang membuatmu jadi sedemikian yakin?"
"Di biara itu, aku mendapatkan banyak visi tentang masa lalu, Prai."
"Visi?"
"Salah satunya tentang chedi yang kita ziarahi. Dalam beberapa kali meditasi, penglihatan itu selalu muncul, seperti merasukiku dan membuatku ikut merasakan penderitaan mereka," tutur Rama dengan wajah miris, seolah rasa sakit yang ia ceritakan memang betul terasa seketika itu. "Aku juga mengalami penglihatan yang lain. Di biara itu, dulu pernah hidup seorang bikkhu muda—sama sepertiku. Kulihat, bikkhu itu juga sedang menjalankan meditasi sepertiku, tetapi tempatnya di sebuah hutan, di tepi sungai.
"Lalu tiba-tiba datang seorang pemuda yang terluka parah, dan minta perlindungan padanya. Pemuda yang terluka itu adalah anak dari keluarga miskin yang menjadi pencuri, dan ketika itu dia baru lolos dari kejaran. Bikkhu itu menolongnya, merawatnya.
"Suatu hari, beberapa bikkhu lain datang menjenguk karena merasa kawan mereka telah tinggal terlalu lama di dalam hutan. Mereka terkejut ketika mendapati bikkhu muda itu tampak begitu akrab dengan seorang pemuda. Mereka curiga, dan melaporkannya kepada sangha."
"Tunggu, kisah bikkhu itu sepertinya akan mirip dengan ceritamu tentang anak bangsawan?" Prai menyela.
"Kau akan tahu lebih dari itu," jawab Rama. Lalu kisahnya berlanjut, "Di sidang sangha, bikkhu muda itu berdalih bahwa dia hanya bermaksud menolong orang yang terluka. Dengan alasan itu, sangha memaafkannya. Tapi, di malam berikutnya bikkhu itu diam-diam meninggalkan biara, dan menuju ke sebuah dermaga di Sungai Yom untuk bertemu dengan pencuri yang pernah ditolongnya. Sayang, beberapa orang biara memergokinya. Bikkhu itu disidang untuk kedua kalinya. Kali ini dia tak bisa mengelak lagi. Dia mengaku, menyadari, bahwa ternyata dirinya hanyalah manusia biasa yang tidak kebal oleh ketertarikan terhadap seseorang. Dia memutuskan untuk berhenti dari ke-bikkhu-annya.
"Sangha di biara dapat berbesar hati. Tapi sayangnya, keluarganya tidak. Ayahnya adalah ketua desa; perkara itu membuat keluarganya marah dan merasa malu. Ayahnya kalap. Bikkhu itu tewas di tangan ayahnya yang lupa diri dalam kemarahan. Abunya disimpan di biara itu. Sebagian ditebar di Sungai Yom.
"Sedangkan si pencuri, dia menunggu di dermaga tanpa tahu apa yang terjadi pada orang yang dinantinya. Dia menunggu hingga pagi, membuat jejaknya diketahui. Orang-orang mengejarnya. Berpikir untuk menyelamatkan diri, dia menjatuhkan diri ke sungai. Tapi arus sungai lebih kuat darinya. Dia pun tak pernah kembali lagi."
Prai termangu mendengar akhir cerita itu. "Semua yang kauceritakan adalah kisah tragis yang berujung sama. Tapi, sesungguhnya apa yang kauharapkan ketika menceritakannya padaku?"
"Setiap orang memiliki masa lalu, Prai," ucap Rama lirih, seraya menatap Prai dalam-dalam. "Itu adalah masa lalu kita."
"Masa lalu kita?" Prai tercekat.
Rama tersenyum getir. "Itu adalah kehidupan kita di masa lalu. Dan karma masih terus mengejar kita, Prai...."
"Kau berpikir... bahwa kau adalah bikkhu itu?" Prai kian terusik dan mencoba melawan apa yang Rama harapkan darinya. "Kau benar-benar menyuruhku untuk mempercayai semua itu?!"
"Prai, aku adalah tuan yang telah melupakan janjinya—orang yang telah memperbudak kesetiaanmu. Aku bukan bikkhu yang menolong pencuri. Aku adalah pencuri itu—orang yang telah mencuri keteguhanmu. Dua kali kehidupan, aku hanya membawa penderitaan untukmu, Prai!"
"Rama, aku kenal dirimu! Kau tidak bodoh! Mengapa cerita seperti itu sampai mempengaruhimu?"
"Aku percaya reinkarnasi, Prai. Apakah kau tidak?" Rama menantang keyakinan Prai.
Prai terhenyak, tak mampu membantahnya.
"Aku harus menebus masa laluku. Jika tidak, aku hanya akan mencelakaimu lagi," ucap Rama getir. Butir-butir bening mulai tergelincir dari matanya. "Demi kebaikanmu, selama ini aku berharap kau bisa melupakanku."
Hati Prai hancur. Tangannya gemetar ingin merengkuh tubuh Rama, tapi ia tak kuasa—tangannya seolah tak mampu menggapai. Bikkhu itu tak tercegah, menapakkan kakinya dan mulai meniti jembatan itu.
"Dulu, di sinilah dermaga itu—zaman berubah, jembatan ini menggantikannya. Di sinilah dulu aku menantimu," ucap Rama. Tangannya menengadah, seolah bisa menangkap kilasan masa lalu. "Bahkan aku masih bisa merasakannya, Prai...."
Bikkhu itu melipat kakinya di lantai jembatan, dan kembali melantunkan doa. Setelahnya, ia mengeluarkan setadah bunga dari tas kain, menaburkan bunga-bunga itu kepada debur sungai yang mendayu di bawah jembatan. Dalam sekejap bunga-bunga itu lenyap ditelan air, seperti tubuhnya di masa lalu yang hanyut dan tak pernah kembali. Prai hanya bisa membisu dalam kebimbangan, mendampingi Rama tanpa sepatah kata pun.
"Aku membawamu kepada saksi-saksi masa lalu kita. Apakah kau masih meragukannya, Prai?"
"Kau yang melihatnya. Aku tidak, Rama!"
"Prai, aku tak akan menjadi bikkhu jika hanya demi kebohongan. Masihkah kau tidak mengerti itu?"
Prai termangu. Matanya perlahan mulai memerah, seperti luka yang terbuka. "Jika memang itu masa lalu kita, mengapa takdir begitu keras, Rama?" ucapnya terbata.
"Mulanya aku pun berpikir sepertimu, menganggap takdir begitu kejam. Tapi kemudian aku sadar; seperti halnya perbuatan jahat selalu dihitung, demikian pula perbuatan baik pasti tak akan sia-sia. Hanya saja, kadang buahnya baru bisa kita petik di kehidupan lain, Prai...."
Sejenak semilir angin bertiup sejuk di tengah terik siang itu, menyambangi dua pemuda belia itu dan sedikit mengeringkan bekas air mata di pelupuk mereka—serupa jamahan lembut untuk menghibur jiwa-jiwa yang pahit dan resah.
"Sepahit apa pun takdir itu, aku ingin memeluknya, menyambutnya dan bersahabat dengannya. Itulah yang akan kulakukan di kehidupan ini, Prai."
"Tapi di manakah kesalahan perasaanku? Mengapa aku harus menanggung bagian yang akan membuat jiwaku haus, Rama?" bisik Prai mengiba.
"Prai, kau mengira aku melupakan hari-hari kita dulu?" Rama menatap Prai dengan senyum kebesaran jiwa. "Aku pun merindukannya, Prai. Selalu. Ketika kita bercengkrama, ketika kita tertawa, ketika kita bersedih dan saling menghibur... ketika aku mendekapmu dan memberi kecupan pertama, lalu kau memberikan yang kedua—kau mengira aku tak ingin mengulangnya? Kalaupun kau pernah mengatakannya sebagai racun, hingga sejuta kali pun aku akan meminumnya. Bagiku tak ada yang salah dengan perasaan kita, hanya dunialah yang kadang begitu keras dan membuat kita lari dari hati kita. Itulah yang pernah kulakukan di masa lalu. Aku ingin menebusnya di kehidupan ini, Prai...."
Mata Prai memerah, mengucur bagai luka yang terbuka. "Dan meninggalkanku lagi?!"
"Akan semakin buruk jika aku tetap bersamamu!" sergah Rama, memegang bahu Prai erat-erat. "Dengan penebusan ini, semoga kemurahan takdir memberi kita kesempatan di kehidupan yang lain. Kehidupan yang lebih sempurna."
Prai masih berkeras hati. "Aku ingin tetap bersamamu!"
"Hidupmu sangat berharga, dan aku tak mau merusaknya lagi, Prai!"
Prai mengecup erat tangan Rama di genggamannya, tak tahu lagi bagaimana harus menguraikan permohonannya. Ia tak sanggup menahannya lagi. Direngkuhnya, dan didekapnya tubuh Rama erat-erat. Menangis keras bagaikan di perpisahan yang terakhir.
Rama menepuk-nepuk pundak kekasih hatinya itu. "Aku mohon, Prai. Relakan aku...."
Dua hati yang hancur itu berusaha mengais segala kemungkinan. Namun, bagaimanapun takdir memiliki kisahnya sendiri. Kraaakkk...! Jembatan tua itu tiba-tiba goncang dan lantai lapuk itu pecah. Lubang besar menganga bagai mulut raksasa yang tertawa, dan melahap keduanya!
Satu tangan Prai masih sempat bertaut ke penggalang jembatan. "Rama, pegang tanganku! Jangan lepaskan!" Prai berusaha keras menahan tubuh Rama dengan satu tangannya. Tubuh Rama bergelayut di bawah lubang lantai yang pecah itu, ia memegang tangan Prai erat-erat.
Maka rasa takut itu terbongkar—tak seorang pun dari mereka ingin kehilangan satu sama lain. Mereka ingin selamanya bersatu. Namun beginilah takdir menulis ceritanya, bahwa sebuah tragedi harus terjadi. Sungai Yom menyambut tubuh mereka ketika jembatan tua itu akhirnya benar-benar terberai dari rangkaiannya. Bersama batang-batang jembatan yang berjatuhan, keduanya saling merengkuh. Lalu disongsong dalam letupan air yang bergema dalam keperkasaannya!
Jiwa-jiwa yang resah, jatuh ke dalam pelukan Sang Takdir. Tangan mereka tetap tak terlepaskan.

***

Di sebuah ruangan yang tak begitu besar, dua orang tampak sedang terhanyut dalam sebuah cerita. Seorang bikkhu yang sudah lanjut usia sedang menuturkan sesuatu. Di hadapannya, seorang samanera terpekur merenungkan cerita yang barusan didengar.
"Anda membuat apa yang saya lihat menjadi semakin jelas," ucap remaja itu takjub. "Tapi Bikkhu Kepala, ada sesuatu yang masih membuat saya bingung."
"Apa yang membuatmu bingung?" tanya bikkhu lanjut usia itu, Bikkhu Kepala.
"Mengapa Rama begitu yakin bahwa dia akan mencelakai Prai? Saya percaya pada karma, tapi bukankah kita juga harus optimis dalam menjalani kehidupan?"
Bikkhu Kepala mendehem pelan. "Sesungguhnya ada rahasia yang disimpan Rama, yang tidak ia sampaikan kepada Prai. Sebab rahasia ini sebuah kenyataan yang sangat berat baginya." Bikkhu Kepala mencondongkan wajahnya sedikit ke depan. "Ada penyakit berbahaya yang terus menggerogoti tubuhnya. Dan itu juga berbahaya bagi orang lain."
Remaja dengan jubah bikkhu itu tercenung sedikit bergidik. "Penyakit yang bagaimanakah itu?"
Bikkhu Kepala mengatur napas sebentar, menyiapkan penjelasan yang sesimpatik mungkin. "Setelah ordinasi sementaranya usai, Rama mengikuti sebuah program pendonoran darah. Dari situlah darahnya diketahui telah terjangkit penyakit itu. Dia sangat terpukul dan sempat mengalami depresi. Akhirnya, dia sadar bahwa sakit yang dideritanya—dan semua visi yang dialaminya—mendorong dirinya untuk berani membuat sebuah keputusan besar: dia kembali ke biara ini, untuk menjadi bikkhu sepenuhnya."
Remaja itu tercengang mendengarnya. "Tapi, bagaimana dia bisa terjangkit penyakit itu?" selidiknya.
"Kepadaku, Rama mengaku tak pernah berhubungan seksual dengan siapa pun—meski dia memiliki kekasih. Kemungkinan besar penyakit itu disebabkan oleh infeksi jarum yang tidak steril saat dia berobat. Atau, bisa juga oleh penyebab lainnya yang kita tidak tahu."
"Dengan kondisi itu, dia tetap diterima di biara ini?"
Bikkhu Kepala terkekeh. "Nen, yang sakit adalah tubuhnya. Kita tak boleh menolak jiwa yang ingin mencari pencerahan."
"Meskipun sebenarnya itu hanyalah pelarian?" timpal remaja itu meragukan.
Bikkhu Kepala menggeleng, disertai senyum memperingatkan bahwa tidaklah baik berburuk sangka. "Latar belakang Rama memasuki biara ini sesungguhnya adalah persoalan pribadinya. Tetapi itu bisa menjadi sarana bagi proses kesadarannya, keyakinannya, dan penebusannya. Bisa jadi juga menjadi proses pencerahannya. Tak ada yang bisa menebak takdir seseorang—kita tak berhak menghakimi ataupun menghalangi."
Remaja itu merenungkan baik-baik pelajaran yang didengarnya. "Lalu, mengapa dia tak mengatakan saja kepada Prai soal penyakitnya itu?"
Bikkhu Kepala mengenang dengan wajah haru. "Itu berat dan rumit bagi Rama. Keluarganya ingin soal penyakitnya itu dirahasiakan dari siapa pun. Rama sendiri awalnya berharap Prai bisa melupakan dirinya. Tapi rupanya Prai tak bisa dicegah. Rama tak mengungkapkan soal penyakitnya, sebab dia tak ingin Prai menilai jalan ke-bikkhu-annya berdasarkan prasangka yang keliru. Rama memang merasa sudah 'kotor', tapi ia menjadi bikkhu bukan semata-mata untuk pelarian, melainkan untuk tujuan yang lebih besar. Rama yakin tentang karma masa lalunya, dan tak ada tempat untuk berlari darinya. Satu-satunya jalan hanyalah menebusnya. Itulah yang ingin dia tandaskan ketika mengajak Prai menziarahi jejak-jejak masa lalunya.
"Rama meninggal dalam kecelakaan di jembatan itu. Kepalanya terluka parah. Meskipun keadaan Prai juga cukup parah, dia selamat. Akulah yang menjelaskan padanya tentang penyakit yang diderita Rama. Barulah Prai betul-betul mengerti bahwa Rama melakukan semua itu benar-benar demi kebaikan keduanya. Setelah memahami semua itu, Prai memutuskan untuk masuk biara, mengikuti jejak Rama.
"Tetapi, ternyata Prai juga mengindap sesuatu. Organ otaknya sangat rentan. Dia juga terlalu sedih sejak kehilangan Rama. Suatu ketika otaknya mengalami pendarahan hebat. Dia meninggal di tahun ketiga sejak tinggal di biara ini."
"Saya sedih mengetahuinya," ucap remaja itu, tertunduk haru. "Sekaligus saya kagum, sebab dia meninggal dengan mewariskan perbuatan baik."
"Banyak bikkhu mendonorkan organ mereka setelah meninggal, sebagai bagian dari perbuatan menolong sesama," sahut Bikkhu Kepala, menegaskan apa yang disinggung anak didiknya itu. "Tapi Prai melakukannya bukan semata-mata untuk dirinya. Dia mendedikasikan perbuatan baiknya untuk membantu penebusan Rama, dengan harapan kehidupan yang akan datang lebih murni dan terbebas dari karma masa lalu."
Remaja itu mengangguk. Ruangan sesaat senyap. Mereka hanyut dalam perenungan masing-masing; dua dari generasi berbeda, pertemuan antara pembawa nasihat dan pencari hikmat.
"Bikkhu Kepala, sekarang bisakah Anda memberi tahu saya," bikkhu remaja itu mengakhiri keheningan dengan pertanyaan, "apakah cinta mereka salah?"
Bikkhu Kepala tercenung sesaat, memandangi bikkhu yang jauh lebih muda di hadapannya itu. Lalu tertawa landai. Sepasang matanya yang telah kelabu seolah tak kesulitan untuk memahami gejolak anak remaja itu—ia sendiri juga pernah seusianya. "Nen, seorang pencinta sesama jenis tetaplah manusia yang bisa melakukan perbuatan baik, bukan? Perbuatan baik itulah yang akan menolong jiwanya untuk menemukan kehidupan yang baik ketika kelak dilahirkan kembali. Demikian pula sebaliknya, perbuatan buruk membawa kehidupan yang buruk. Begitulah karma."
Remaja itu mengangguk. Ada senyum lega di wajahnya.
"Tapi ingatlah, Nen, bahwa tujuan yang lebih tinggi dari itu adalah melepaskan diri dari segala ikatan. Yaitu ketika kita tak dibayangi lagi oleh karma. Ketika kita tak dibayangi kelahiran yang terus terulang. Ketika mata rantai saling terlepas dan roda berhenti di Nibbana!"
Senyum di wajah remaja itu berubah sedikit kecut. Namun juga tersisa sorot nakal di matanya, seakan-akan sebagian dari jiwanya tetap memiliki kekokohan untuk tidak tunduk pada aturan-aturan. "Saya mengerti itu, Bikkhu Kepala," sahutnya tenang. "Hanya saja, kadang itu juga terasa sebagai tujuan yang terlalu tinggi bagi saya. Sebab bagaimanapun, dilahirkan kembali ke dunia dalam keadaan yang lebih baik adalah takdir yang tak terlalu buruk juga. Nibbana bisa menanti."
Bikkhu Kepala hanya tertawa pelan, memaklumi jiwa-jiwa muda seperti anak didiknya itu. "Setelah ordinasimu selesai, kau ingin melanjutkan hidupmu seperti apa?"
Remaja itu merenung beberapa waktu sebelum menjawab. Saat itu seekor burung murai datang menyela, singgah dan berkicau riuh di jendela. Remaja itu tersenyum mengerling, dan sedikit bersipu. "Dia datang mendahului keluarga yang akan menjemput saya. Dia sedang menunggu saya di taman. Saya ingin segera menemuinya." Dia memilih jawaban sederhana itu, lepas dari pemikiran-pemikiran yang terlalu rumit bagi jiwa remaja sepertinya.
Bikkhu Kepala sekali lagi tak menuntut jawaban yang diharapkannya. "Kau sudah mengemasi barang-barangmu, Nen?" tanyanya hangat.
"Saya sudah mengemasinya. Dan saya harus segera bersiap untuk upacara penutupan," jawab remaja itu bersemangat. Lalu menangkupkan kedua telapak tangannya di dada, dan membungkuk. "Terima kasih, Bikkhu Kepala, sudah menjelaskan arti dari semua penglihatan yang saya alami selama di biara ini. Sekarang semua sudah jelas."
Bikkhu Kepala terkekeh. Dia memberikan doa berkatnya, "Semoga semua makhluk berbahagia."
Remaja itu meninggalkan ruangan Bikkhu Kepala. Dia berjalan keluar dengan langkah tenang. Di muka pintu angin pagi menyambut, mengibaskan jubah kuning yang sebentar lagi akan ditanggalkan itu. Dia melewati bikkhu-bikkhu yang berlalu-lalang di beranda, juga para samanera lainnya. Itu memang pagi yang sibuk bagi Biara Maha Paritta, sebab semua sedang menyiapkan upacara penutupan ordinasi di akhir masa liburan itu.
Tak hanya angin pagi dan kicau beburung liar, seseorang juga telah menunggu di taman biara; ia juga seorang remaja belia, sedang bersabar dalam penantiannya di tepi kolam yang penuh bunga teratai. Maka wajahnya pun berbinar-binar ketika orang yang dinantinya telah muncul. "Anand...!" panggilnya.
"Mark!" si bikkhu balas menyambut.
Mereka saling menghampiri, bertatap muka satu sama lain. Ada raut rindu, seolah-olah sudah tahunan tak bertemu. Padahal masa ordinasi yang dijalani Anand hanyalah dua minggu. "Aku tak bosan memandangi rambutmu yang sekarang. Sebaiknya kau tetap gundul saja!" gurau Mark, si penanti itu, sambil mengusap kepala Anand. Dia sendiri lalu pura-pura menyesal. "Harusnya aku juga ikut ordinasi ini. Bodohnya aku!"
"Giliranmu pasti tiba!" timpal Anand. "Sebentar lagi upacara penutupan akan dimulai, tapi kita masih ada waktu untuk..." Ia terhenti beberapa saat.
"Apa?" desak Mark.
"Sudahlah. Ayo ikut aku!" Anand membalikkan badan seraya menggamit Mark, mengajaknya ke suatu tempat.
Mereka berjalan melewati jalan setapak di samping biara, menembus kebun bambu yang lembab di musim hujan itu. Lalu sampailah mereka di sebuah bangunan lain yang tak begitu besar di belakang biara. Sebuah kuil kecil yang lengang. Mereka masuk dengan tenang. Di dalam kuil kecil itu terdapat ruang yang agak terbuka; ada patung Buddha agak besar berbalut selendang berwarna emas, dengan relung-relung bernaung di bawah lapiknya. Dengan sikap khidmat, Anand duduk di lantai dalam posisi berdoa. Mark mengikuti.
"Mark, kautahu mengapa aku memilih biara ini?" Anand melontarkan pertanyaan setelah doanya selesai.
"Kenapa?"
"Kautahu bahwa ayahku meninggal ketika umurku masih tiga bulan di dalam kandungan," tutur Anand dengan wajah merenung. "Ayahku memiliki kelainan jantung. Suatu ketika dia harus menjalani transplantasi. Dengan jantung baru itu ayahku bertahan selama tiga tahun, sampai akhirnya meninggal—hasil transplantasi itu memang tak terlalu bagus. Tapi seandainya transplantasi itu tak pernah dilakukan, sudah pasti ayahku akan meninggal lebih awal, dan... aku tak pernah dilahirkan."
"Ya, aku masih ingat tentang ayahmu," sahut Mark.
"Kautahu? Jantung yang dicangkokkan itu adalah donor dari seorang bikkhu bernama Prai. Dia berasal dari biara ini. Karenanya aku memilih biara ini untuk menghormatinya. Abunya disimpan di kuil ini, bersama abu kekasihnya yang lebih dulu menjadi bikkhu, bernama Rama."
Mark termangu menyimak cerita itu. Anand menatapnya, tersenyum sayu ketika menyadari kebingungan di wajah Mark.
"Mungkin sulit untuk kaupercaya, Mark. Tapi selama aku di sini, banyak kejadian yang kualami. Aku mengalami penglihatan-penglihatan yang membuatku seakan-akan masuk ke masa lampau, dan merasakan kehidupan mereka sekitar dua puluh lima tahun yang lalu. Keyakinanku terasa digerakkan, bahwa semua yang kulihat itu adalah kehidupanku di masa lalu...."
"Kehidupanmu di masa lalu? Yang mana?" Mark masih ragu dan bingung.
Anand menghela napas. "Terus terang, sebetulnya aku juga sempat takut untuk terlalu meyakininya. Sebab, sebenarnya yang lebih penting adalah bagaimana menjalani kehidupan kita saat ini. Masa lalu itu seperti bisikan saja, yang memberi tahu kita supaya berusaha menjalani hidup dengan lebih baik." Anand bangkit dari duduknya, mengulurkan tangannya kepada Mark, menantingnya berdiri. "Kau mau tahu apa yang ia bisikan padaku, Mark?"
"Apa?"
"Bahwa aku harus menepati janjiku padamu. Kau jadi kuliah di Bangkok, bukan?"
Mark menjawab bersemangat, "Ya. Tentu saja."
Anand tersenyum lebar. "Jadi, kapan kita akan berangkat ke sana?"
Mark membalas dengan senyum yang lebih nakal. "Bisa kita bicarakan setelah jubahmu itu kautanggalkan. Saat aku boleh menciummu lagi...."
Anand meraih tangan Mark, menggenggamnya erat, seolah-olah sudah tak sabar lagi untuk berbuat lebih banyak. Namun, itu bukan untuk menampik sebuah keyakinan yang kini mulai mengakar dalam hati Anand, bahwa ada tujuan yang lebih tinggi dari sekadar kesenangan-kesenangan masa muda.
Anand tak hendak melanggar sesuatu. Dia hanya ingin menerima bahwa cintanya memang kepada Mark. Bahwa hasrat masa muda tak harus selalu dikekang; sesekali ia perlu dibawa ke tempat yang semestinya, dengan begitu jiwa-jiwa dengan segala kebutuhannya akan mendapatkan keadilan—tindakan yang salah membuatnya belajar, tindakan yang benar membagikan kebahagiaan. Mungkin beberapa orang akan terluka ketika mengetahuinya, tetapi itulah harga sebuah tujuan. Siapakah yang tak memiliki tujuan? Dan siapakah yang boleh mengekang orang lain?
Ruang di kuil kecil itu kini hening, membagikan ketenangan bagi kehidupan yang pernah dimiliki kumpulan abu yang tersimpan di sana. Sebagian telah dilahirkan kembali, oleh sentuhan takdir yang selalu menyisakan misteri. Misteri-misteri itu bersemayam di dalam relung-relung penyimpan abu; terselip di balik selendang emas Sang Buddha; tertutup bayang-bayang chedi tua; tersirat di lembaran teratai di atas kolam.
Atas-bawah selalu bergantian pada sebuah roda ataupun rantai yang memutarnya. Namun takdir sekalipun tak akan memerintahkan pedati untuk melaju mundur. Masa depan tetap ada di depan. Dua remaja itu menuju ke sana.



19 Oktober 2011, 04:33 WIB



Catatan: 

1.      Chedi bangunan stupa yang merupakan ciri arsitektur khas Buddhist; bisa dijumpai di kompleks istana ataupun tempat-tempat keagamaan milik masyarakat lapisan bawah. Di Thailand, chedi mencapai ribuan jumlahnya dan tersebar di banyak tempat, sehingga bisa disebut sebagai pemandangan yang biasa di negeri itu. 

2.      Lao Duang Duan adalah lagu kuno yang diciptakan oleh Pangeran Benbadhanabopngse, putra Raja Chulalongkorn—raja yang menghapuskan perbudakan di Thailand. Lagu ini berkisah tentang kerinduan sang pangeran kepada seorang puteri dari Laos yang gagal dinikahinya. Lagu ini kemudian meninggalkan mitos kultural pada masyarakat Thailand; konon para perempuan Thailand hingga kini selalu merasa cemburu pada perempuan Laos, sebab pangeran mereka telah jatuh cinta kepada seorang puteri Laos, dan tak ada seorang pun puteri dari Thailand yang mampu menggantikannya. 

3.      Matthayom adalah nama institusi pendidikan di Thailand yang setara dengan Sekolah Menengah di Indonesia; Matthayom 1-3 setara dengan SMP, Matthayom 4-6 setara dengan SMA. Klasifikasi usia untuk jenjang pendidikan ini tidak jauh berbeda antara Thailand dan Indonesia. 

4.      Nen adalah panggilan yang umumnya digunakan oleh bikkhu dewasa kepada bikkhu yang lebih muda. Nen juga biasa digunakan sebagai panggilan langsung kepada samanera. 

5.      Ordinasi adalah istilah untuk pentahbisan seseorang soal statusnya di biara. Dalam tradisi Buddhist di Thailand, seseorang boleh memilih untuk hidup sebagai bikkhu secara sementara saja. Ini juga berlaku untuk usia remaja—dengan demikian akan berstatus sebagai samanera—dengan kurun waktu yang ditentukan. Ordinasi yang bersifat sementara ini bertujuan agar setiap orang (di Thailand) setidaknya sekali dalam seumur hidupnya pernah memfokuskan diri menyelami ajaran Buddha. 

Menurut kultur masyarakat Thailand, laki-laki yang pernah hidup di biara dipandang lebih berkualitas untuk dijadikan calon suami/kepala rumah tangga/pemimpin yang ideal. Selain itu, ordinasi sementara ini juga bisa ditujukan untuk mendoakan keluarga—biasanya sebagai wujud balas budi kepada orang tua. Ordinasi sementara ini biasanya dilakukan pada musim hujan, yaitu ketika para lelaki sedang tidak terlalu sibuk dengan pekerjaan di luar rumah. Atau di masa liburan sekolah. Masa berlangsungnya bisa bervariasi, dari yang hanya seminggu hingga beberapa bulan. 

6.      Phitsanulok dulunya adalah ibukota Kerajaan Ayutthaya—kerajaan penerus Sukhothai. Sakarang, Phitsanulok menjadi salah satu provinsi di Thailand dan letaknya berdekatan dengan Provinsi Sukhothai. Prai dan Rama berasal dari Phitsanulok. 

7.      Samanera, secara kaprah bisa diartikan sebagai "bikkhu muda". Dalam aturan kebiaraan, seseorang baru bisa diordinasikan/ditahbiskan sebagai bikkhu bila telah mencapai usia minimal 20 tahun. Apabila usia masih di bawah 20 tahun, seseorang tetap diperbolehkan hidup membiara tapi dengan status samanera. Samanera belum diharuskan mengikuti aturan hidup membiara secara penuh, hanya perlu mengikuti sebagian peraturan saja. Apabila sudah ditahbiskan sebagai bikkhu sepenuhnya, barulah dikenakan seluruh peraturan hidup sebagai bikkhu yang disebut Vinaya, dan secara resmi telah masuk sebagai anggota perkumpulan yang disebut Sangha. 

8.      Sukhothai merupakan kerajaan kuno yang dipercaya sebagai cikal bakal Kerajaan Thailand. Dewasa ini, nama Sukhothai tetap dipakai untuk merujuk wilayah pusat kerajaan tersebut dahulu kala. Thailand saat ini berada di bawah Dinasti Rattanakosin yang memerintah sejak abad 18, dan Sukhothai menjadi salah satu provinsinya. Kisah "PILGRIM" mengambil tempat di Si Satchanalai, salah satu distrik di provinsi Sukhothai. 

9.      Theravada merupakan aliran dalam Buddhisme yang meneruskan tradisi serta ajaran mula-mula dari Siddharta Gautama. Buddha Theravada merupakan yang paling banyak dianut di Thailand. Aliran ini umumnya menggunakan bahasa Pali sebagai bahasa utama dalam ritus keagamaannya, yang memberi lafal berbeda dari bahasa Sanskerta (yang umumnya dipakai oleh aliran Mahayana). Nibbana merupakan bahasa Pali dari Nirwana (Sanskerta); bikkhu adalah bahasa Pali dari biksu (Sanskerta); sutta adalah bahasa Pali dari sutra (Sanskerta).





3 komentar:

azura mengatakan...

Membaca cerita ini, untuk kesekian kalinya, masih saja memberikan pencerahan ke pada saya. Tentang sejarah masa lalu saya, hidup saya di masa kini maupun arah yang saya tuju di masa depan.

Terima kasih mas Noel, sudah memberi pencerahan lewat tulisanmu.


Selamat Hari Waisak (buat yang merayakannya).

Salam.

Anonim mengatakan...

Selalu rindu dgn tulisan2 k' noel yg bukan skdar "cerita":)

Unknown mengatakan...

Ada penulusan kata yg sedikit salah bang noel