Jumat, 04 Desember 2015

Sebuah Cerpen

CINTA YANG JATUH DI JALAN




Warga desa menyebut hantu itu "Si Tua". Siapakah sesungguhnya hantu itu—apakah dia dulunya orang yang pernah hidup, ataukah sejak awal memang sudah tercipta sebagai hantu—tak ada riwayat historis yang jelas. Maka ia pun lebih tepat disebut sebagai dongeng. Dari dongeng, ia pun menjadi mitos. Kau mungkin tak percaya pada dongeng ataupun mitos, tetapi kautahu bahwa pernah ada masanya ketika dongeng dan mitos menjadi sebuah kebenaran.
Ia dijuluki "Si Tua" oleh sebab dalam penampakannya selalu mewujud sebagai sesosok kakek tua. Ia disebut-sebut suka muncul di pagi buta, dan dalam kemunculannya itu ia selalu berjalan tergopoh-gopoh di sepanjang jalan yang menuju ke kali. Tak ada penjelasan mengapa hantu itu tidak terbang saja, sebab biasanya hantu diceritakan bisa terbang, malah banyak yang percaya bahwa sebetulnya yang namanya hantu pasti tidak menginjak tanah. Bahkan Si Tua ini sepertinya bukan hanya satu-satunya hantu yang menginjak tanah, tetapi ia juga satu-satunya hantu yang sewaktu-waktu bisa menjatuhkan tahi di mana pun di jalan yang ia lewati—mungkin itulah alasannya mengapa ia lebih baik jalan kaki saja, tidak terbang, setidaknya tahinya tak akan menjatuhi orang. Gara-gara tabiat yang aneh itu, beberapa pendongeng lain menyebut hantu itu "Si Berak Berjalan".
Mitos berkata—entah siapa yang pertama kali berkata, mungkin saja seorang dukun pada zaman itu—bahwa siapa pun yang bisa menggendong Si Tua sampai di kali sebelum tahinya bobol di jalan, maka kelak dia akan berhasil menggapai cita-cita dalam hidupnya. Orang dewasa mana pun yang berfisik kuat, atas nama kebaikan dan budi pekerti luhur, semestinya tak akan keberatan menggendong kakek renta yang kebelet buang hajat ke kali. Namun tentunya selama kakek itu bukan hantu. Memang itulah masalahnya.
Kautahu bahwa pagi adalah waktu yang paling baik untuk membuang sampah dalam perut, atau setidaknya kebanyakan orang berpikir begitu. Orang-orang di desa itu pun berpikir sama: pagi adalah waktu yang tepat untuk buang hajat. Hanya saja, mereka tidak ke kali sepagi orang-orang dari desa lain—mereka berbeda desa, tetapi memberaki kali yang sama. Di desa yang memelihara dongeng tentang Si Tua, orang-orangnya terpaksa menunggu sampai pagi betul-betul terang, lalu barulah mereka berbondong-bondong untuk buang hajat ke kali. Alasannya jelas karena hantu itu. Bertemu saja mereka tak sudi, apalagi menggendong. Lebih tepatnya: tak berani.
Namun, dongeng pun mengenal pengecualian, bukan? Semua penghuni desa itu berharap tak pernah bertemu Si Tua, kecuali satu orang, yaitu pemuda bernama Wahid.
Wahid adalah seorang pemuda yang menjadi sebatang kara sejak umur 16 tahun, tepatnya sejak kedua orang tuanya dibantai oleh tentara Nippon; ibunya hendak diculik segerombolan tentara kate untuk dijadikan Jugun Ianfu, dan si ayah melawan, maka ujungnya suami-istri itu mendapat nasib yang sama: leher mereka ditebas dengan katana. Konon itu memang masa yang penuh krisis; konon dijajah Belanda masih lebih mendingan dibandingkan dijajah Jepang. Tentara Jepang alias Nippon itu kalau bicara kedengaran seperti mengejan, dan mereka memperlakukan orang-orang pribumi dengan perlakuan yang lebih buruk dari kotoran.
Sedemikian kejamnya tentara Jepang, sehingga, mungkin, banyak orang di masa itu berpikir bahwa masih dapat hidup saja sudah untung; mereka tak sempat memikirkan soal cita-cita, jadi untuk apa pula repot-repot mencegat dan menggendong Si Tua? Sebaliknya, orang-orang yang tetap memiliki optimisme untuk bercita-cita sebetulnya juga masih ada, hanya saja mereka terlalu terpelajar untuk percaya bahwa cara untuk menggapainya adalah dengan menggendong hantu yang suka berak. Mungkin ada juga yang percaya, tetapi tak berani menempuh cara itu. Sekali lagi, Wahid menjadi pengecualian. Bukankah tokoh utama sebaiknya memang istimewa? Wahid memiliki empat hal yang tidak dimiliki kawan-kawannya pada masa itu: cita-cita, keyakinan, keberanian, dan ketidaknalaran. Namun untuk menyatukan keempatnya butuh waktu sampai ia berusia 19 tahun.
Ketika Wahid memasuki umur 19 tahun, tentara Nippon sudah minggat dari bumi Nusantara, dan "Indonesia" sudah menjadi nama sebuah negara yang mengaku merdeka. Namun toh tidak serta-merta rakyat yang semula miskin langsung menjadi lebih makmur. Wahid masih kere, sama seperti kebanyakan orang pada masa itu. Akan tetapi, seperti yang sudah disinggung di kalimat terakhir paragraf sebelumnya, Wahid pada saat itu telah menemukan tekad untuk mewujudkan cita-citanya dan ia bukan penakut seperti orang lain yang ada di desanya. Tiap pagi buta dia menunggu munculnya si hantu di tempat yang menurutnya paling sepi di desa itu. Tekadnya, jika hantu itu muncul maka dia akan menggendongnya sampai ke kali. Itu adalah syarat agar cita-citanya tergapai.
Hantu itu muncul di hari penantian yang keempat puluh. Bukan saat pagi buta, tapi pada saat petang remang, ketika Wahid hendak buang hajat di kali—memang, pagi adalah waktu yang lebih tepat untuk berak, tetapi tak ada larangan juga untuk melakukannya di sore hari. Wahid awalnya tak mengira bahwa itu adalah hantu yang selama ini sudah dinantinya sampai bosan. Hantu itu kelihatan seperti orang tua lumrah saja, tak tampak menakutkan sama sekali sebagai hantu, bahkan wajahnya mirip dengan salah seorang tetangga sehingga Wahid tak mencurigainya sebagai hantu. Wahid membantunya turun ke tepi kali, lalu menempatkannya pada sebuah batu besar yang bisa dijadikan pijakan untuk berak. Pada saat itulah Wahid menemukan selembar cucian hanyut yang tersangkut pada batu. Dia memungut kain hanyut itu, dan rupanya itu menjadi kesempatan bagi si kakek untuk menghilang begitu saja. Seketika itu Wahid baru sadar bahwa kakek tadi adalah hantu yang telah dinantinya selama 40 hari.
Pakaian hanyut yang ditemukan Wahid menjadi pengubah nasibnya. Sudah pasti itu baju milik orang kaya; kainnya bagus, tetapi yang lebih meyakinkan adalah kancing-kancingnya terbuat dari emas. Dengan girang gembira Wahid mempereteli kancing-kancing itu, lalu menjualnya ke seorang priyayi di kota. Wahid dapat uang banyak dari penjualan barang hanyut itu. Lalu dia gunakan uang itu untuk modal berdagang kain di kota. Awalnya dia hanya menjual beberapa lembar batik secara keliling. Di tahun berikutnya dia mulai sanggup menyewa lapak, tahun berikutnya lagi dia mampu membangun kios sendiri. Dalam waktu yang terbilang singkat dia menjadi makmur.
Begitulah Wahid memenuhi nubuat mitos Si Berak Berjalan. Ada yang bilang dia seorang pemberani dan gigih; ada yang bilang dia hanyalah yatim piatu dungu yang bernasib mujur.
Namun, apakah menjadi kaya memang tujuan Wahid ketika memburu hantu itu? Tentunya siapa pun memang akan senang bila menjadi kaya. Namun, bagi Wahid, sesungguhnya kekayaan adalah cita-cita nomor dua. Baginya, ada hal yang lebih membahagiakan daripada kekayaan. Sebagian dari kita mungkin juga sepakat dengannya. Yang sedang kita bicarakan kali ini adalah: cinta.
Dengan menjadi makmur, Wahid tak hanya menolong dirinya sendiri, tetapi juga menolong orang yang selama ini dicintainya. Orang itu adalah Sahid, seorang pemuda dari desa tetangga yang kondisi hidupnya tak jauh beda dari Wahid. Sahid juga anak tunggal. Bedanya, Sahid masih memiliki ibu, sedangkan ayahnya mati saat menjadi Romusha—betul, oleh perlakuan penjajah yang suka mengejan itu. Mereka berdua kenal di pasar; ketika itu Wahid masih menjadi kuli panggul, sedangkan Sahid adalah penjual sayur ala kadar. Setelah sukses menjadi pedagang kain, Wahid menawari Sahid untuk bekerja padanya. Wahid meyakinkan bahwa upah bekerja di tempatnya akan lebih baik dibandingkan laba menjual sayur. Pada masa itu orang-orang masih gemar menanam sayuran dan tetanaman lainnya di pekarangan sendiri, sehingga tak terlalu bergantung pada pedagang sayur. Sedangkan para priyayi dan pejabat pribumi—di negara yang baru merdeka itu—sedang menemukan semangat baru dalam berbudaya, termasuk dalam berpenampilan, dan mereka menggemari batik. Dengan pertimbangan itu, Sahid pun setuju, demi nasib yang akan sedikit lebih baik.
Dari Wahid, Sahid mendapatkan gaji yang sama dengan pekerja lainnya, dan jika dihitung memang jumlahnya lebih banyak dibanding laba menjual sayur. Namun, lama-lama dan diam-diam, Wahid menambahkan uang lainnya untuk Sahid—bukan gaji, bukan utang, tetapi pemberian cuma-cuma atas dasar kasih sayangnya.
"Ini untuk beli obat ibumu yang sakit-sakitan," kata Wahid di satu kesempatan. Di kesempatan yang lain dia memberi lagi, "Ini, belilah pakaian yang lebih layak, untukmu dan ibumu."
Lalu pada waktu yang dianggap tepat, Wahid secara terbuka mengungkapkan isi hatinya kepada Sahid. "Aku mencintaimu dengan cinta yang tulus dan setara jika dibandingkan cinta para gadis kepadamu. Apakah kau bisa menerima itu?"
Sahid menjawab setelah menghabiskan waktu setengah hari untuk berpikir. "Aku menghargainya karena kebaikanmu selama ini. Tapi, jika itu ibarat sebuah cangkir, aku tak mungkin bisa membuatnya penuh. Sama seperti semua kebaikanmu, tak mungkin aku akan bisa membalasnya sampai impas. Dengan cinta sekalipun."
Pengakuan itu terjadi ketika usia Wahid 25 tahun, dan Sahid 24 tahun. Wahid amat sedih mendengar cintanya ditolak, tetapi dia bisa mengerti sikap orang yang dicintainya itu. Wahid mengerti bahwa Sahid ingin membahagiakan ibunya, memberi cucu, dengan demikian perlu menikah dengan seorang perempuan. Dan Sahid memang tertarik pada perempuan, seperti umumnya laki-laki.
"Baiklah," kata Wahid suatu ketika, "katakanlah jika kau sudah memiliki perempuan idaman untuk kaukawini. Biar aku yang membiayai perkawinan kalian. Tapi kalian tetaplah tinggal tak jauh-jauh dari rumahku. Supaya kelak anakmu juga bisa kuanggap sebagai anakku. Dengan begitu aku tak akan takut menjadi tua."
Di umur 25 tahun, Sahid menikahi Suminten, seorang gadis buruh tani yang tinggal sedesa dengannya. Wahid menepati janji, membuatkan pesta perkawinan paling meriah yang pernah diadakan di desa itu. Siapa pun boleh datang meski hanya untuk makan, dari yang kaya sampai kere-kere penghuni pasar. Sebagai balas budi, Sahid pun memenuhi permintaan Wahid untuk tinggal tak jauh darinya.
Meskipun punya toko di kota, Wahid tak pernah tidur selain di rumahnya yang ada di desa; rumah yang semula hanya onggokan bambu itu telah dibangunnya menjadi megah, lalu tak jauh dari situ Sahid membangun rumah barunya pula. Di mata orang-orang, Wahid dan Sahid adalah saudara meski mereka tak sekandung, tak sedarah, tak sedaging dan tak sesilsilah—kecuali bahwa mereka sama-sama keturunan Nabi Adam. Hanyalah keduanya saja yang tahu bahwa hubungan itu pernah hampir lebih dari saudara. Andai Sahid tak memahami bahwa cinta tak boleh dicampur aduk dengan balas budi, bisa jadi dia sudah kumpul kebo dengan sahabat sekaligus majikannya itu, sekalipun itu bertentangan dengan kata hatinya.
Puluhan tahun dilewati Sahid dan Suminten sebagai pasangan yang bahagia. Pertengkaran kecil-kecilan tentu sesekali terjadi, tetapi pada akhirnya mereka tetap bersama sampai salah satu dari keduanya meninggal. Sayang memang, umur Suminten tak terlalu panjang; ia meninggal di umur 45 tahun, setahun setelah memberi Sahid anak yang kelima. Umur Sahid 50 tahun ketika istrinya meninggal. Si bungsu yang hanya setahun merasakan asuhan sang ibu dibesarkan dalam kelemahlembutan yang diberikan sang ayah.
Sedangkan bagi Wahid yang tak beristri, anak-anak Sahid adalah anak-anaknya juga. Maka tak heran ketika beberapa dari anak itu telah dewasa, Wahid mulai membagikan toko-toko yang ia miliki kepada mereka. Lagi pula anak-anak Sahid memang terdidik sebagai orang-orang yang tekun dan giat dalam bekerja, kecuali si bungsu yang dibesarkan oleh sang ayah dalam kemanjaan. Wahid juga memanjakan si bungsu, hanya saja masih terlalu muda untuk diberi sebuah toko kain. Sarman, nama si bungsu itu.
Sarman berumur 19 tahun ketika ayahnya meninggal—Sahid menutup usianya di angka 69, umur yang tak terlalu pendek tapi juga tak cukup panjang. Sejak itu Sarman menjadi penjaga rumah peninggalan ayahnya. Kakak-kakaknya sepertinya tak punya niat sedikit pun untuk berbagi usaha dengan Sarman, sebab meragukan kecakapan Sarman dalam bekerja.
Wahid masih hidup hingga beberapa tahun setelah kematian Sahid. Tubuhnya pun begitu cepat menyusut sejak itu; kurus membungkuk, matanya mulai rabun, kakinya menggoyah, dia seperti kembali menjadi seorang bayi yang baru belajar berjalan dan bisa tersungkur sewaktu-waktu. Di masa senjanya itu, dia lebih banyak duduk-duduk saja di beranda rumah sambil memandangi desanya yang sudah jauh berubah.
Wahid suka terkenang akan masa-masa yang sudah lalu, ketika desa itu masih dipenuhi pohon-pohon besar sehingga cerita-cerita hantu pun menjadi subur. Namun, sekarang dongeng tentang Si Tua sudah kian terkubur, tanpa terasa ia seperti lenyap begitu saja ditelan zaman. Dalam dongeng, dulu Si Tua suka keluyuran di jalan desa yang masih berbatu-batu, ketika sungai pun masih menjadi kakus bersama. Di manakah Si Tua itu sekarang? Apakah sudah menemukan kakus baru—kali besar yang masih asri mungkin, yang airnya masih sehat untuk cebok dan tidak membuat dubur iritasi?
Ketika mengenang masa lalu, tak pelak Wahid pun akan teringat masa mudanya bersama Sahid. Bila sudah letih setelah memanggul apa saja demi beberapa receh, Wahid suka duduk-duduk di sebelah Sahid yang menjual beberapa gelundung kangkung. Mereka bercerita apa saja, sampai pasar sepi karena sore. Mereka kadang pulang berbarengan; ketika tentara kate lewat, mereka mencari tempat sembunyi; sambil sembunyi mereka bisa mencari apa saja yang bisa dijadikan makanan: bekicot-bekicot di pohon pisang, atau larva kumbang kelapa untuk dibakar dan dijadikan lauk, sedangkan nasinya diganti dengan ubi. Sesulit apa pun masa itu, rasanya jiwa raga selalu tegar menjalaninya hari demi hari, dan selalu ada ruang bagi romansa-romansa yang menyelinap masuk begitu saja. Namun, ketika masa telah senja dan orang tercinta telah lebih dulu pergi, sungguh tak ada yang lebih menyakitkan bagi seseorang selain kesepian.
Mahabesar Tuhan! Sarman memang tak cakap bekerja, tetapi ia memiliki hati yang lebih penyayang dibanding kakak-kakaknya. Sarman-lah yang merawat masa tua Wahid di desa yang penuh kenangan itu. Dialah yang mengantar Wahid ke tukang pijit jika kecapekan, membelikan obat jika encok si pakde kambuh, dan menyiapkan makan tiga kali sehari tanpa pernah terlambat—meski yang termakan dari ketiganya hanyalah separuhnya. Ketika Wahid semakin pikun dan maunya kian aneh-aneh, Sarman-lah yang setia mengantar tubuh renta itu ke mana-mana di atas kursi roda. Ketika di tahun terakhir hidupnya Wahid hanya mau buang air besar di kali, Sarman adalah satu-satunya orang yang sudi menggendongnya turun ke tepian lalu dengan hati-hati menempatkannya di pijakan yang nyaman.
Sarman menikah di umur 22 tahun, dia mendapatkan istri tamatan SMA yang tekun dan sederhana. Lalu tiga bulan kemudian Wahid mati di umur 73 tahun. Wahid mewariskan rumahnya kepada Sarman berikut harta benda yang dimilikinya, termasuk sebiji kancing emas—satu-satunya yang sengaja disisakan oleh Wahid sebagai kenang-kenangan ketika dulu dia menjual kancing-kancing yang lain. Wahid dimakamkan di sebelah kanan pusara Sahid—sedangkan pusara Suminten ada di kiri sang suami.
Demikianlah, cerita ini ada karena Sarman tak hanya mewarisi harta benda, tetapi juga mewarisi kisah yang dituturkan sendiri oleh Wahid kepadanya. Dengan demikian Sarman menjadi orang ketiga yang tahu, bahwa ada kisah antara ayah dan pakdenya yang selama ini selalu dirahasiakan baik-baik selama puluhan tahun. 15 tahun kemudian sejak meninggalnya Wahid, Sarman menceritakan dongeng itu kepadaku.
Sarman adalah ayahku; dia menjadikanku orang keempat yang tahu kisah ini, lalu aku menjadikan kalian orang kelima dan seterusnya. Bukan karena aku sedang dituntut menyediakan cerpen untuk mading di sekolah, bukan pula karena akhir-akhir ini aku sangat tergerak oleh cerpen-cerpen AS Laksana di buku 'Murjangkung', tetapi karena aku sungguh ingin menyampaikan sebuah pesan kepadamu:
Cinta sungguhlah sebuah getaran yang mampu menembus batas waktu. Bahkan ia mampu mengaburkan realitas, lalu mengejawantahkan dongeng-dongeng.
Getaran itu menjamahku di tengah keluh kesahku kepada Bapak. "Pak, ada seorang laki-laki mencintaiku."
Balas Bapak padaku, "Lalu, apakah kau menerimanya?"
"Pak, dia laki-laki dan aku juga laki-laki. Apakah menurutmu itu tidak aneh?" tanyaku.
Itulah awal mula diceritakannya kisah Wahid dan Sahid kepadaku. Di akhir dongengnya, Bapak berpesan kepadaku, "Tak perlu menganggapnya aneh. Cinta memang bisa menyentuh siapa saja. Sebab ia memang milik siapa saja."
Bapak tidak tahu bahwa sebetulnya aku berbohong. Bukan seorang laki-laki yang sedang mencintaiku, tetapi akulah yang sedang mencintai seorang laki-laki. Fendi, nama laki-laki pujaanku itu. Dia adalah anak penjual pizza kaki lima di depan sekolahku; dia juga satu sekolah denganku; dia juga mengerjakan mading bersamaku. Kami juga sama-sama anggota klub penekun matematika di sekolah. Tapi aku sedih, sebab mulai besok dia tak akan masuk lagi ke sekolah yang sama denganku. Dia akan pindah bersama keluarganya, ke kota yang jauhnya dua malam dari desaku jika ditempuh dengan roda empat.
Aku lega mendengar dongeng dari Bapak. Tapi akhirnya aku tetap sedih karena Fendi sudah pergi. Kubagi semua perasaan itu bersama senja yang menguning di beranda rumah, sebelum akhirnya kutuliskan menjadi kisah ini. Esok pagi, akan kubagikan pula perasaan ini kepada subuh yang merekah. Setiap hari. Kuharapkan hantu Si Tua akan muncul dari alam misterinya, lalu aku akan menggendongnya ke kali sebelum tahinya jatuh di jalan.
Dan kautahu, cita-citaku saat ini bukanlah ingin kaya.






Sabtu, 1 Agustus 2015—Hari ketika Fendi meninggalkan Sragen, dan aku menjadi sedih.





1 komentar:

Anonim mengatakan...

Rindu tulisan2 mas noel.. mkasih buat 1"cerita" ini
Ps. Sy tdk akan bosan mnunggu krya mas noel:)