CINTA YANG JATUH DI JALAN
Warga
desa menyebut hantu itu "Si Tua". Siapakah sesungguhnya hantu
itu—apakah dia dulunya orang yang pernah hidup, ataukah sejak awal memang sudah
tercipta sebagai hantu—tak ada riwayat historis yang jelas. Maka ia pun lebih
tepat disebut sebagai dongeng. Dari dongeng, ia pun menjadi mitos. Kau mungkin
tak percaya pada dongeng ataupun mitos, tetapi kautahu bahwa pernah ada masanya
ketika dongeng dan mitos menjadi sebuah kebenaran.
Ia
dijuluki "Si Tua" oleh sebab dalam penampakannya selalu mewujud
sebagai sesosok kakek tua. Ia disebut-sebut suka muncul di pagi buta, dan dalam
kemunculannya itu ia selalu berjalan tergopoh-gopoh di sepanjang jalan yang
menuju ke kali. Tak ada penjelasan mengapa hantu itu tidak terbang saja, sebab
biasanya hantu diceritakan bisa terbang, malah banyak yang percaya bahwa
sebetulnya yang namanya hantu pasti tidak menginjak tanah. Bahkan Si Tua ini
sepertinya bukan hanya satu-satunya hantu yang menginjak tanah, tetapi ia juga
satu-satunya hantu yang sewaktu-waktu bisa menjatuhkan tahi di mana pun di
jalan yang ia lewati—mungkin itulah alasannya mengapa ia lebih baik jalan kaki
saja, tidak terbang, setidaknya tahinya tak akan menjatuhi orang. Gara-gara
tabiat yang aneh itu, beberapa pendongeng lain menyebut hantu itu "Si
Berak Berjalan".
Mitos
berkata—entah siapa yang pertama kali berkata, mungkin saja seorang dukun pada
zaman itu—bahwa siapa pun yang bisa menggendong Si Tua sampai di kali sebelum
tahinya bobol di jalan, maka kelak dia akan berhasil menggapai cita-cita dalam
hidupnya. Orang dewasa mana pun yang berfisik kuat, atas nama kebaikan dan budi
pekerti luhur, semestinya tak akan keberatan menggendong kakek renta yang
kebelet buang hajat ke kali. Namun tentunya selama kakek itu bukan hantu.
Memang itulah masalahnya.
Kautahu
bahwa pagi adalah waktu yang paling baik untuk membuang sampah dalam perut,
atau setidaknya kebanyakan orang berpikir begitu. Orang-orang di desa itu pun
berpikir sama: pagi adalah waktu yang tepat untuk buang hajat. Hanya saja,
mereka tidak ke kali sepagi orang-orang dari desa lain—mereka berbeda desa,
tetapi memberaki kali yang sama. Di desa yang memelihara dongeng tentang Si
Tua, orang-orangnya terpaksa menunggu sampai pagi betul-betul terang, lalu
barulah mereka berbondong-bondong untuk buang hajat ke kali. Alasannya jelas
karena hantu itu. Bertemu saja mereka tak sudi, apalagi menggendong. Lebih
tepatnya: tak berani.
Namun,
dongeng pun mengenal pengecualian, bukan? Semua penghuni desa itu berharap tak
pernah bertemu Si Tua, kecuali satu orang, yaitu pemuda bernama Wahid.
Wahid
adalah seorang pemuda yang menjadi sebatang kara sejak umur 16 tahun, tepatnya
sejak kedua orang tuanya dibantai oleh tentara Nippon; ibunya hendak diculik
segerombolan tentara kate untuk dijadikan Jugun Ianfu, dan si ayah melawan,
maka ujungnya suami-istri itu mendapat nasib yang sama: leher mereka ditebas
dengan katana. Konon itu memang masa
yang penuh krisis; konon dijajah Belanda masih lebih mendingan dibandingkan
dijajah Jepang. Tentara Jepang alias Nippon itu kalau bicara kedengaran seperti
mengejan, dan mereka memperlakukan orang-orang pribumi dengan perlakuan yang
lebih buruk dari kotoran.
Sedemikian
kejamnya tentara Jepang, sehingga, mungkin, banyak orang di masa itu berpikir
bahwa masih dapat hidup saja sudah untung; mereka tak sempat memikirkan soal
cita-cita, jadi untuk apa pula repot-repot mencegat dan menggendong Si Tua?
Sebaliknya, orang-orang yang tetap memiliki optimisme untuk bercita-cita
sebetulnya juga masih ada, hanya saja mereka terlalu terpelajar untuk percaya
bahwa cara untuk menggapainya adalah dengan menggendong hantu yang suka berak.
Mungkin ada juga yang percaya, tetapi tak berani menempuh cara itu. Sekali
lagi, Wahid menjadi pengecualian. Bukankah tokoh utama sebaiknya memang
istimewa? Wahid memiliki empat hal yang tidak dimiliki kawan-kawannya pada masa
itu: cita-cita, keyakinan, keberanian, dan ketidaknalaran. Namun untuk
menyatukan keempatnya butuh waktu sampai ia berusia 19 tahun.
Ketika
Wahid memasuki umur 19 tahun, tentara Nippon sudah minggat dari bumi Nusantara,
dan "Indonesia" sudah menjadi nama sebuah negara yang mengaku
merdeka. Namun toh tidak serta-merta rakyat yang semula miskin langsung menjadi
lebih makmur. Wahid masih kere, sama seperti kebanyakan orang pada masa itu.
Akan tetapi, seperti yang sudah disinggung di kalimat terakhir paragraf
sebelumnya, Wahid pada saat itu telah menemukan tekad untuk mewujudkan
cita-citanya dan ia bukan penakut seperti orang lain yang ada di desanya. Tiap
pagi buta dia menunggu munculnya si hantu di tempat yang menurutnya paling sepi
di desa itu. Tekadnya, jika hantu itu muncul maka dia akan menggendongnya
sampai ke kali. Itu adalah syarat agar cita-citanya tergapai.
Hantu
itu muncul di hari penantian yang keempat puluh. Bukan saat pagi buta, tapi
pada saat petang remang, ketika Wahid hendak buang hajat di kali—memang, pagi
adalah waktu yang lebih tepat untuk berak, tetapi tak ada larangan juga untuk
melakukannya di sore hari. Wahid awalnya tak mengira bahwa itu adalah hantu
yang selama ini sudah dinantinya sampai bosan. Hantu itu kelihatan seperti
orang tua lumrah saja, tak tampak menakutkan sama sekali sebagai hantu, bahkan
wajahnya mirip dengan salah seorang tetangga sehingga Wahid tak mencurigainya
sebagai hantu. Wahid membantunya turun ke tepi kali, lalu menempatkannya pada
sebuah batu besar yang bisa dijadikan pijakan untuk berak. Pada saat itulah
Wahid menemukan selembar cucian hanyut yang tersangkut pada batu. Dia memungut
kain hanyut itu, dan rupanya itu menjadi kesempatan bagi si kakek untuk
menghilang begitu saja. Seketika itu Wahid baru sadar bahwa kakek tadi adalah
hantu yang telah dinantinya selama 40 hari.
Pakaian
hanyut yang ditemukan Wahid menjadi pengubah nasibnya. Sudah pasti itu baju
milik orang kaya; kainnya bagus, tetapi yang lebih meyakinkan adalah
kancing-kancingnya terbuat dari emas. Dengan girang gembira Wahid mempereteli
kancing-kancing itu, lalu menjualnya ke seorang priyayi di kota. Wahid dapat uang
banyak dari penjualan barang hanyut itu. Lalu dia gunakan uang itu untuk modal
berdagang kain di kota. Awalnya dia hanya menjual beberapa lembar batik secara
keliling. Di tahun berikutnya dia mulai sanggup menyewa lapak, tahun berikutnya
lagi dia mampu membangun kios sendiri. Dalam waktu yang terbilang singkat dia
menjadi makmur.
Begitulah
Wahid memenuhi nubuat mitos Si Berak Berjalan. Ada yang bilang dia seorang
pemberani dan gigih; ada yang bilang dia hanyalah yatim piatu dungu yang
bernasib mujur.
Namun,
apakah menjadi kaya memang tujuan Wahid ketika memburu hantu itu? Tentunya
siapa pun memang akan senang bila menjadi kaya. Namun, bagi Wahid, sesungguhnya
kekayaan adalah cita-cita nomor dua. Baginya, ada hal yang lebih membahagiakan
daripada kekayaan. Sebagian dari kita mungkin juga sepakat dengannya. Yang
sedang kita bicarakan kali ini adalah: cinta.
Dengan
menjadi makmur, Wahid tak hanya menolong dirinya sendiri, tetapi juga menolong
orang yang selama ini dicintainya. Orang itu adalah Sahid, seorang pemuda dari
desa tetangga yang kondisi hidupnya tak jauh beda dari Wahid. Sahid juga anak
tunggal. Bedanya, Sahid masih memiliki ibu, sedangkan ayahnya mati saat menjadi
Romusha—betul, oleh perlakuan penjajah yang suka mengejan itu. Mereka berdua
kenal di pasar; ketika itu Wahid masih menjadi kuli panggul, sedangkan Sahid
adalah penjual sayur ala kadar. Setelah sukses menjadi pedagang kain, Wahid
menawari Sahid untuk bekerja padanya. Wahid meyakinkan bahwa upah bekerja di
tempatnya akan lebih baik dibandingkan laba menjual sayur. Pada masa itu
orang-orang masih gemar menanam sayuran dan tetanaman lainnya di pekarangan sendiri,
sehingga tak terlalu bergantung pada pedagang sayur. Sedangkan para priyayi dan
pejabat pribumi—di negara yang baru merdeka itu—sedang menemukan semangat baru
dalam berbudaya, termasuk dalam berpenampilan, dan mereka menggemari batik.
Dengan pertimbangan itu, Sahid pun setuju, demi nasib yang akan sedikit lebih
baik.
Dari
Wahid, Sahid mendapatkan gaji yang sama dengan pekerja lainnya, dan jika
dihitung memang jumlahnya lebih banyak dibanding laba menjual sayur. Namun,
lama-lama dan diam-diam, Wahid menambahkan uang lainnya untuk Sahid—bukan gaji,
bukan utang, tetapi pemberian cuma-cuma atas dasar kasih sayangnya.
"Ini
untuk beli obat ibumu yang sakit-sakitan," kata Wahid di satu kesempatan.
Di kesempatan yang lain dia memberi lagi, "Ini, belilah pakaian yang lebih
layak, untukmu dan ibumu."
Lalu
pada waktu yang dianggap tepat, Wahid secara terbuka mengungkapkan isi hatinya
kepada Sahid. "Aku mencintaimu dengan cinta yang tulus dan setara jika
dibandingkan cinta para gadis kepadamu. Apakah kau bisa menerima itu?"
Sahid
menjawab setelah menghabiskan waktu setengah hari untuk berpikir. "Aku
menghargainya karena kebaikanmu selama ini. Tapi, jika itu ibarat sebuah
cangkir, aku tak mungkin bisa membuatnya penuh. Sama seperti semua kebaikanmu,
tak mungkin aku akan bisa membalasnya sampai impas. Dengan cinta sekalipun."
Pengakuan
itu terjadi ketika usia Wahid 25 tahun, dan Sahid 24 tahun. Wahid amat sedih
mendengar cintanya ditolak, tetapi dia bisa mengerti sikap orang yang
dicintainya itu. Wahid mengerti bahwa Sahid ingin membahagiakan ibunya, memberi
cucu, dengan demikian perlu menikah dengan seorang perempuan. Dan Sahid memang
tertarik pada perempuan, seperti umumnya laki-laki.
"Baiklah,"
kata Wahid suatu ketika, "katakanlah jika kau sudah memiliki perempuan
idaman untuk kaukawini. Biar aku yang membiayai perkawinan kalian. Tapi kalian
tetaplah tinggal tak jauh-jauh dari rumahku. Supaya kelak anakmu juga bisa
kuanggap sebagai anakku. Dengan begitu aku tak akan takut menjadi tua."
Di
umur 25 tahun, Sahid menikahi Suminten, seorang gadis buruh tani yang tinggal
sedesa dengannya. Wahid menepati janji, membuatkan pesta perkawinan paling
meriah yang pernah diadakan di desa itu. Siapa pun boleh datang meski hanya
untuk makan, dari yang kaya sampai kere-kere penghuni pasar. Sebagai balas
budi, Sahid pun memenuhi permintaan Wahid untuk tinggal tak jauh darinya.
Meskipun
punya toko di kota, Wahid tak pernah tidur selain di rumahnya yang ada di desa;
rumah yang semula hanya onggokan bambu itu telah dibangunnya menjadi megah,
lalu tak jauh dari situ Sahid membangun rumah barunya pula. Di mata
orang-orang, Wahid dan Sahid adalah saudara meski mereka tak sekandung, tak
sedarah, tak sedaging dan tak sesilsilah—kecuali bahwa mereka sama-sama
keturunan Nabi Adam. Hanyalah keduanya saja yang tahu bahwa hubungan itu pernah
hampir lebih dari saudara. Andai Sahid tak memahami bahwa cinta tak boleh
dicampur aduk dengan balas budi, bisa jadi dia sudah kumpul kebo dengan sahabat
sekaligus majikannya itu, sekalipun itu bertentangan dengan kata hatinya.
Puluhan
tahun dilewati Sahid dan Suminten sebagai pasangan yang bahagia. Pertengkaran
kecil-kecilan tentu sesekali terjadi, tetapi pada akhirnya mereka tetap bersama
sampai salah satu dari keduanya meninggal. Sayang memang, umur Suminten tak
terlalu panjang; ia meninggal di umur 45 tahun, setahun setelah memberi Sahid
anak yang kelima. Umur Sahid 50 tahun ketika istrinya meninggal. Si bungsu yang
hanya setahun merasakan asuhan sang ibu dibesarkan dalam kelemahlembutan yang
diberikan sang ayah.
Sedangkan
bagi Wahid yang tak beristri, anak-anak Sahid adalah anak-anaknya juga. Maka
tak heran ketika beberapa dari anak itu telah dewasa, Wahid mulai membagikan
toko-toko yang ia miliki kepada mereka. Lagi pula anak-anak Sahid memang
terdidik sebagai orang-orang yang tekun dan giat dalam bekerja, kecuali si
bungsu yang dibesarkan oleh sang ayah dalam kemanjaan. Wahid juga memanjakan si
bungsu, hanya saja masih terlalu muda untuk diberi sebuah toko kain. Sarman,
nama si bungsu itu.
Sarman
berumur 19 tahun ketika ayahnya meninggal—Sahid menutup usianya di angka 69,
umur yang tak terlalu pendek tapi juga tak cukup panjang. Sejak itu Sarman
menjadi penjaga rumah peninggalan ayahnya. Kakak-kakaknya sepertinya tak punya
niat sedikit pun untuk berbagi usaha dengan Sarman, sebab meragukan kecakapan
Sarman dalam bekerja.
Wahid
masih hidup hingga beberapa tahun setelah kematian Sahid. Tubuhnya pun begitu
cepat menyusut sejak itu; kurus membungkuk, matanya mulai rabun, kakinya
menggoyah, dia seperti kembali menjadi seorang bayi yang baru belajar berjalan
dan bisa tersungkur sewaktu-waktu. Di masa senjanya itu, dia lebih banyak
duduk-duduk saja di beranda rumah sambil memandangi desanya yang sudah jauh
berubah.
Wahid
suka terkenang akan masa-masa yang sudah lalu, ketika desa itu masih dipenuhi
pohon-pohon besar sehingga cerita-cerita hantu pun menjadi subur. Namun,
sekarang dongeng tentang Si Tua sudah kian terkubur, tanpa terasa ia seperti
lenyap begitu saja ditelan zaman. Dalam dongeng, dulu Si Tua suka keluyuran di
jalan desa yang masih berbatu-batu, ketika sungai pun masih menjadi kakus
bersama. Di manakah Si Tua itu sekarang? Apakah sudah menemukan kakus baru—kali
besar yang masih asri mungkin, yang airnya masih sehat untuk cebok dan tidak
membuat dubur iritasi?
Ketika
mengenang masa lalu, tak pelak Wahid pun akan teringat masa mudanya bersama
Sahid. Bila sudah letih setelah memanggul apa saja demi beberapa receh, Wahid
suka duduk-duduk di sebelah Sahid yang menjual beberapa gelundung kangkung.
Mereka bercerita apa saja, sampai pasar sepi karena sore. Mereka kadang pulang
berbarengan; ketika tentara kate lewat, mereka mencari tempat sembunyi; sambil
sembunyi mereka bisa mencari apa saja yang bisa dijadikan makanan:
bekicot-bekicot di pohon pisang, atau larva kumbang kelapa untuk dibakar dan
dijadikan lauk, sedangkan nasinya diganti dengan ubi. Sesulit apa pun masa itu,
rasanya jiwa raga selalu tegar menjalaninya hari demi hari, dan selalu ada
ruang bagi romansa-romansa yang menyelinap masuk begitu saja. Namun, ketika
masa telah senja dan orang tercinta telah lebih dulu pergi, sungguh tak ada
yang lebih menyakitkan bagi seseorang selain kesepian.
Mahabesar
Tuhan! Sarman memang tak cakap bekerja, tetapi ia memiliki hati yang lebih
penyayang dibanding kakak-kakaknya. Sarman-lah yang merawat masa tua Wahid di
desa yang penuh kenangan itu. Dialah yang mengantar Wahid ke tukang pijit jika
kecapekan, membelikan obat jika encok si pakde kambuh, dan menyiapkan makan
tiga kali sehari tanpa pernah terlambat—meski yang termakan dari ketiganya
hanyalah separuhnya. Ketika Wahid semakin pikun dan maunya kian aneh-aneh,
Sarman-lah yang setia mengantar tubuh renta itu ke mana-mana di atas kursi
roda. Ketika di tahun terakhir hidupnya Wahid hanya mau buang air besar di
kali, Sarman adalah satu-satunya orang yang sudi menggendongnya turun ke tepian
lalu dengan hati-hati menempatkannya di pijakan yang nyaman.
Sarman
menikah di umur 22 tahun, dia mendapatkan istri tamatan SMA yang tekun dan
sederhana. Lalu tiga bulan kemudian Wahid mati di umur 73 tahun. Wahid
mewariskan rumahnya kepada Sarman berikut harta benda yang dimilikinya,
termasuk sebiji kancing emas—satu-satunya yang sengaja disisakan oleh Wahid
sebagai kenang-kenangan ketika dulu dia menjual kancing-kancing yang lain.
Wahid dimakamkan di sebelah kanan pusara Sahid—sedangkan pusara Suminten ada di
kiri sang suami.
Demikianlah,
cerita ini ada karena Sarman tak hanya mewarisi harta benda, tetapi juga
mewarisi kisah yang dituturkan sendiri oleh Wahid kepadanya. Dengan demikian
Sarman menjadi orang ketiga yang tahu, bahwa ada kisah antara ayah dan pakdenya
yang selama ini selalu dirahasiakan baik-baik selama puluhan tahun. 15 tahun
kemudian sejak meninggalnya Wahid, Sarman menceritakan dongeng itu kepadaku.
Sarman
adalah ayahku; dia menjadikanku orang keempat yang tahu kisah ini, lalu aku
menjadikan kalian orang kelima dan seterusnya. Bukan karena aku sedang dituntut
menyediakan cerpen untuk mading di sekolah, bukan pula karena akhir-akhir ini
aku sangat tergerak oleh cerpen-cerpen AS Laksana di buku 'Murjangkung', tetapi
karena aku sungguh ingin menyampaikan sebuah pesan kepadamu:
Cinta
sungguhlah sebuah getaran yang mampu menembus batas waktu. Bahkan ia mampu
mengaburkan realitas, lalu mengejawantahkan dongeng-dongeng.
Getaran
itu menjamahku di tengah keluh kesahku kepada Bapak. "Pak, ada seorang
laki-laki mencintaiku."
Balas
Bapak padaku, "Lalu, apakah kau menerimanya?"
"Pak,
dia laki-laki dan aku juga laki-laki. Apakah menurutmu itu tidak aneh?"
tanyaku.
Itulah
awal mula diceritakannya kisah Wahid dan Sahid kepadaku. Di akhir dongengnya,
Bapak berpesan kepadaku, "Tak perlu menganggapnya aneh. Cinta memang bisa
menyentuh siapa saja. Sebab ia memang milik siapa saja."
Bapak
tidak tahu bahwa sebetulnya aku berbohong. Bukan seorang laki-laki yang sedang
mencintaiku, tetapi akulah yang sedang mencintai seorang laki-laki. Fendi, nama
laki-laki pujaanku itu. Dia adalah anak penjual pizza kaki lima di depan sekolahku; dia juga satu sekolah denganku;
dia juga mengerjakan mading bersamaku. Kami juga sama-sama anggota klub penekun
matematika di sekolah. Tapi aku sedih, sebab mulai besok dia tak akan masuk
lagi ke sekolah yang sama denganku. Dia akan pindah bersama keluarganya, ke
kota yang jauhnya dua malam dari desaku jika ditempuh dengan roda empat.
Aku
lega mendengar dongeng dari Bapak. Tapi akhirnya aku tetap sedih karena Fendi sudah
pergi. Kubagi semua perasaan itu bersama senja yang menguning di beranda rumah,
sebelum akhirnya kutuliskan menjadi kisah ini. Esok pagi, akan kubagikan pula
perasaan ini kepada subuh yang merekah. Setiap hari. Kuharapkan hantu Si Tua
akan muncul dari alam misterinya, lalu aku akan menggendongnya ke kali sebelum
tahinya jatuh di jalan.
Dan
kautahu, cita-citaku saat ini bukanlah ingin kaya.
Sabtu,
1 Agustus 2015—Hari ketika Fendi meninggalkan Sragen, dan aku menjadi sedih.
1 komentar:
Rindu tulisan2 mas noel.. mkasih buat 1"cerita" ini
Ps. Sy tdk akan bosan mnunggu krya mas noel:)
Posting Komentar