PETUALANGAN
FANDY
~Mencari Jejak~
Gunung Lawu mengingatkanku pada seseorang. Suatu ketika, kami berdua
sedang berada di suatu tempat yang tinggi, dan kami bisa melihat pemandangan
yang begitu jernih dari Gunung Lawu. Lawu berdiri di tenggara laksana seorang
ksatria penyendiri; sedangkan di ufuk barat tampak Merapi dan Merbabu seperti
sepasang kekasih yang sedang berduaan.
Ketika itu dia bergumam, “Gunung Lawu pasti cemburu.”
“Kepada siapa?” tanyaku.
“Kepada Merapi dan Merbabu yang mendapatkan takdir sebagai gunung
sejoli,” katanya.
Namun, sorot matanya yang mengawang sepertinya juga menyimpan kalimat
lainnya yang tak diucap. “Bagaimana kalau
kepada kita juga, Fan? Sebab gunung-gunung itu hanya berada di tempat mereka
sepanjang waktu. Sedangkan kita bisa menjalani cinta kita sambil ke mana pun
kita pergi. Dan kita tak perlu hidup selamanya. Kita menjalani cinta dengan
secukupnya. Ketika kita tua dan sudah lelah, kita cukup mati dengan tenang.”
Ah, tapi mungkin sebenarnya dia tak berkata begitu. Itu hanya bisikan di
dalam kepalaku sendiri.
Namun, soal sejoli, kurasa dia benar bahwa alam pun memiliki takdir
masing-masing. Ada yang selibat, ada yang kawin. Hidrogen menjadi gas berbahaya
jika ia menjadi selibat, tetapi kalau kawin dengan Oksida maka dia menjadi
berguna, sebab mereka akan menjadi air—H2O. Sebaliknya Oksida menjadi berbahaya
jika memilih kawin dengan Carbon, sebab mereka bisa menjadi karbon
monoksida—CO, gas mematikan. Sementara itu, ada yang selibat tetapi tetap
bermanfaat dan menyehatkan. Yodium, misalnya.
Ada Merapi-Merbabu, Sumbing-Sindoro—gunung-gunung yang menjadi pasangan.
Ada pula Lawu yang selamanya jomblo. Mungkin itu pun hanyalah buah imajinasi
kami yang mendramatisir alam. Namun, ia tetaplah mengajarkan sesuatu padaku:
memiliki kekasih itu melengkapi setiap kebahagiaan yang kita rasakan. Kecuali
jika ia kekasih yang menyebalkan, maka ia bisa merusak kebahagiaan.
Kalau menyebalkan, apakah berarti perlu diberhentikan sebagai kekasih?
Tergantung. Sebab sikap menyebalkan kadang hanyalah kekhilafan saja. Sesekali,
sampai beberapa kali, itu perlu dimaafkan. Aku masih memaafkan ketika dia tak
mau ikut dalam petualangan ini.
Dia memang agak pemalas dalam aktifitas-aktifitas fisik, dan naik gunung
tentu kedengaran sebagai aktifitas fisik yang sangat melelahkan, tak peduli
bahwa indahnya pemandangan akan menjadi harga yang setimpal. Sayangnya,
petualangan naik gunung yang kuikuti ini memang sebuah acara formal, yaitu
bagian dari rangkaian kegiatan Pramuka. Makin kuatlah alasannya untuk tidak
ikut. Dia tak suka aktifitas fisik, dan dia juga tak suka formalitas. Begitulah
Dimas, cowok yang baru beberapa bulan kuakui sebagai pacar.
Dari balik kaca jendela bus aku menatap ke luar, memandangi alam gunung
yang biasanya hanya kulihat dari kejauhan. Kini aku telah merambat ke tubuh
Lawu; terlihat jelas bukit-bukit yang bersatu menyangganya. Jadi, sebetulnya
tidak tepat juga kalau mengatakan Lawu sebagai gunung yang sendirian, sebab
bukit-bukit kecil di kakinya itu boleh disebut sebagai keluarganya. Atau, jika
Lawu ibarat raja, maka bukit-bukit itu adalah pengawalnya—para jenderal dan
prajurit-prajurit.
Setahuku, Lawu memang kediaman terakhir seorang raja pamungkas dari
Majapahit. Namun, begitulah, dia adalah raja yang tersingkir dari kerajaannya.
Pastilah ia amat kesepian. Tidak sendiri bukan berarti tak mungkin kesepian.
Aku juga hampir menyebut hatiku kesepian. Sebab, meskipun bersama
teman-teman Pramuka, aku tidak bersama dia. Tak bersama Dimas. Eh, tapi aku tak
boleh begitu. Tak boleh menafikan keberadaan teman-temanku. Lagi pula, lain
kali pasti datang juga kesempatan untuk bersama Dimas melakukan petualangan
seperti sekarang, aku tinggal lebih memaksanya saja. Sebetulnya aku tak suka
memaksa-maksa siapa pun, tapi tentu dia sesekali perlu menurut kepada orang
yang dulu dipinangnya dengan penuh keyakinan. Dia boleh anggap itu sebagai
konsekuensi sebuah hubungan.
“Fan,” suara seseorang di sebelahku memecah lamunan.
Aku menengok. “Apa?” tanyaku ke Neki, teman yang duduk di kursi
sebelahku.
“Bukannya hiking-nya ke Tawang
Mangu, ya? Kok kita malah belok, ya? Padahal di papan jalan yang aku lihat
tadi, ke Tawang Mangu harusnya lurus terus?”
“Tawang Mangu 'kan tujuan akhirnya, start-nya
bisa dari tempat lain,” jawabku menduga-duga. “Memangnya sekarang kita belok ke
mana?”
“I dunno. Kayaknya tadi
tulisannya 'candi apa' gitu, deh,” timpal Neki dengan logat Jakarta-nya.
Dia memang pindahan dari Jakarta, sekarang tinggal dan bersekolah di
Solo. Tak hanya cara bicaranya, gaya dandannya juga terkesan seolah-olah dia
mau menunjukkan bagaimana penampilan anak gaul ala Jakarta itu. Kacamata minus trendy berbingkai tebal; gelang tangan
rangkap dengan jenis komplit: logam, karet dan kulit; satu lagi: sebuah cincin
entah dari emas atau kuningan yang melingkari kelingkingnya—ya, di kelingking.
Andai dia tidak sedang memakai pakaian seragam, mungkin gaya pakaiannya tak
akan kalah menyolok dibandingkan aksesorisnya. Bahkan sepertinya dia tak akan
malu untuk memakai kaos ketat dengan warna pink.
Sebenarnya aku tak yakin juga apakah gaya trendy
cowok gaul di Jakarta memang harus seperti itu.
“Adik-adik, sebentar lagi kita akan sampai. Semua perlengkapan dan bawaan
lainnya supaya segera disiapkan, jangan sampai ada yang ketinggalan,” Pembina
Pramuka yang memimpin rombongan ambalan Penegak ini, Kak Hamid, berdiri di
depan sambil memberikan pengumuman. Semua peserta hiking, yaitu siswa-siswa kelas satu, termasuk aku, segera sibuk
bersiap.
Pukul setengah delapan pagi, bus kami berhenti di sebuah lokasi. Kami
semua turun di sebuah pertigaan jalan raya desa yang kelihatan cukup ramai.
Kami berkerumun dan mengamati sekitar dengan antusias. Kubaca tulisan pada
sebuah papan penunjuk jalan, “Candi Sukuh: 1,9 KM”.
Kak Hamid memberi arahan lagi. “Adik-adik, kita akan segera melanjutkan
perjalanan. Segera siapkan semua bekal dan perlengkapan kalian, jangan ada yang
tercecer. Kemudian bentuk barisan sesuai sanggha
masing-masing!”
Sanggha adalah istilah untuk menyebut kelompok atau regu dalam Pramuka
level Penegak—kalau kau aktif di Pramuka pasti tahu istilah-istilah semacam
ini. Pramuka adalah ekstrakurikuler wajib bagi siswa kelas satu di sekolahku.
Artinya, kegiatan ini seharusnya diikuti paling tidak oleh ratusan peserta.
Awalnya memang semua tampak patuh mengikuti Pramuka, tetapi lama-kelamaan satu
per satu mulai rontok juga. Toh tak ada sanksi bagi para pemogok itu.
Sepertinya istilah “ekstrakurikuler wajib” cuma basa-basi kurikulum saja. Dan
sekarang bisa dilihat acara hiking
ini, yang bersedia ikut hanya sekitar empat puluhan anak dari kelas satu,
terbagi menjadi enam sanggha.
Teman-teman di sanggha-ku seharusnya ada sebelas orang, tapi di acara ini
hanya ada tujuh orang yang bisa ikut. Alif adalah Pimpinan Sanggha (Pinsa); dia
berbadan atletis dan cekatan, tapi tak terlalu banyak bicara—di mataku itu
membuatnya tampak berwibawa. Albert adalah anggota yang badannya paling gembul,
jadi bisa dibilang soal kecekatan dia adalah yang paling lamban. Wawan adalah
anggota yang menurutku paling suka memamerkan kemampuan otaknya. Rizal adalah
anggota yang badannya paling bongsor dan kekar, tapi dia suka bicara seenaknya.
Sedangkan Yoga adalah anggota yang paling apatis dan sering memakai kalimat
“pokoknya aku ngikut saja”. Lalu Neki, Wakil Pimpinan Sanggha (Wapinsa); dia
adalah yang cara bicaranya paling menyolok dan penampilannya bisa dibilang
paling lebai, karena dia “anak Jakarta”. Itulah, bermacam-macam karakter dalam
sanggha yang kuhuni. Nama sanggha kami pun lebai: Sanggha Pendobrak. Haha,
bukankah memang banyak hal yang lebai di Pramuka?
Kini kami sedang berbaris di hadapan Kak Hamid dan beberapa kakak kelas.
Para kakak kelas itu berperan membantu Pembina dalam membimbing kami, dan
mereka paling tidak sudah berpangkat Bantara. Bantara adalah pangkat terendah
dalam Penegak. Sedangkan kami yang kelas satu ini baru calon Bantara.
“Salam Pramuka!” seru Kak Hamid dengan wajah bersemangat, khas seorang
aktifis Pramuka.
“Salam!” semua membalas serentak.
“Adik-adik, kita telah tiba di jalur masuk menuju objek wisata Candi
Sukuh. Kita akan memulai hiking dari
sini, menuju finish di Tawang Mangu.
Selanjutnya, sesuai rencana, kita akan menginap semalam di sana, dengan acara
Api Unggun pastinya, dan juga acara-acara seru lainnya. Jadi secapek apa pun
kalian, tetap semangat! Persiapkan diri kalian, sebab kita akan berjalan kaki
menuju Candi Sukuh yang masih cukup jauh di atas sana. Tetap berkoordinasi
dengan sanggha masing-masing, jaga kesopanan, jaga nama baik Pramuka dan
sekolah kita, dan jangan ragu bertanya kalau menemui kesulitan. Siaaaap...?!”
Droookkkkk! Semua tongkat di
genggaman tangan serempak menghentak tanah diiringi suara lantang, “YA,
SIAP...!”
“Pramuka, JALAAAN...!”
Derap kaki pun segera menghentak bersahutan dan beriringan, meniti jalan
menanjak menuju ke Candi Sukuh. Dua kilometer dan bukan jalan yang datar, tapi
semua tampak sangat bersemangat. Ya, khas Pramuka, orang-orang yang dididik
untuk selalu riang ceria dan optimistis, sebagaimana perintah di salah satu
butir panduannya. Pramuka itu harus rajin, terampil dan gembira, begitulah
menurut butir keenam Dasa Dharma. Sepertinya cuma di Pramuka saja sifat
“gembira” menjadi sebuah kode moral. Sebenarnya kadang aku merasa konyol juga
menjadi bagian dari gerombolan prajurit gembira berseragam coklat ini—yang
bertongkat bambu tumpul dan membawa belati yang bahkan tak bisa untuk memotong
tali.
Namun, faktor “Lawu” membuatku tak bisa menahan diri untuk ikut acara ini.
Ini bisa menjadi pelepas kepenatan yang masuk akal daripada hanya bercokol di
kamar kos menghabiskan malam minggu seperti biasanya. Memang, di malam minggu biasanya
Dimas datang untuk menemaniku, tapi sebelum jam sebelas malam dia pasti sudah
harus pulang, sebab Mama-nya selalu titip dibelikan mi Pasar Gede yang harus
sudah tiba di rumah sebelum ketiduran. Bisa juga aku pulang kampung ke Sragen
saja untuk menghabiskan akhir pekan, tapi itu malah lebih ironis, sebab dari
desaku itu Gunung Lawu akan terlihat begitu menggoda, lalu aku hanya bisa
berharap melihat teman-temanku yang berubah lebih kecil dari semut sedang
mendaki lerengnya. Maka kenapa aku tak ikut saja kemari? Lagi pula, meskipun
kadang konyol, kegiatan Pramuka kadang menghibur juga.
Menyanyi adalah salah satu hal menghibur yang dilakukan oleh Pramuka,
atau setidaknya bagi mereka yang ada di sanggha lain. Sanggha Perintis,
misalnya, yang sedang berbaris meniti jalan sambil menyanyi “Di Sini Senang, Di
Sana Senang”. Bagiku, lebih menghibur melihat mereka yang menyanyi itu daripada
ikut bernyanyi. Tak ada satu pun yang menyanyi di Sanggha Pendobrak.
“Kok tidak nyanyi?” lontar Kak Ramon, Bantara yang berjalan mendampingi
sanggha-ku.
“Tidak, Kak. Malu. Di sanggha kami tak ada yang bersuara bagus,” balas
Alif sedikit berkelakar. Sebetulnya tak dibutuhkan suara yang bagus kalau cuma
untuk menyanyi “Di Sini Senang, Di Sana Senang”. Sebagai orang di Sanggha
Pendobrak yang kelihatannya paling antusias mengikuti Pramuka, kurasa Alif
sebetulnya ingin menyanyi, tapi dia malu pada keenam temannya, sebab pasti
hanya dia sendiri yang akan bernyanyi.
“Kelihatannya dari luar bersemangat, padahal malah jadi boros napas.
Cepat lelah jadinya,” sahut Wawan agak terengah-engah.
“Nanti ada sarapan tidak, Kak?” tukas Albert dengan nada mengeluh.
Mukanya yang chubby dan berjerawat
bak roti kismis yang dipanggang sampai hampir pecah. Kak Ramon cuma tersenyum
menanggapinya.
Saat berangkat dari Solo pukul enam pagi tadi, kami cuma diberi snack kentang keju dan telur rebus. Semoga
itu tak dimaksudkan sebagai sarapan kami. Yang benar saja!
“Udah deket belum, nih, Kak?” tanya Neki dengan aksen Jakarta-nya.
“Sudah. Pokoknya jalan sajalah, tak usah dipikir jaraknya. Sambil lihat
pemandangan saja, biar tak terasa capeknya,” timpal Kak Ramon.
Sedari tadi pandanganku sudah meraup panorama sekitar; bukit-bukit
bersembulan, pedesaan tampak merambat di lereng-lerengnya berseling dengan
hijau ladang dan hutan. Sungai dan cabang-cabang jalan tampak meliuk seperti
ular-ular yang sedang terpekur di sarang yang besar. Sedangkan puncak Lawu tak
tampak dari sini; mungkin terhalang oleh bukit yang menggunduk mendekati mata,
atau tersembunyi oleh lingkupan kabut. Kabut membuat udara terasa basah,
berbaur dengan aroma keringat pagi hari yang menguar dari tubuh-tubuh yang
sedang meniti bukit.
Aku jadi teringat ketika di suatu pagi terbangun dengan dia ada di
sampingku; menghidu aroma dari keringat yang didinginkan oleh hawa sepanjang
malam, yang kemudian bersenyawa dengan bau selimut dan baju. Hujan semalam
telah membuatnya tersandera hingga pagi di kamarku. Kami tertawa, karena
semalaman terlewat tanpa melakukan apa-apa selain tidur—bahkan dengan situasi
semenggoda itu kami tetap puas hanya dengan tidur saja sampai pagi. Mi yang
sudah dingin, pesanan Mama-nya, kami makan sebagai sarapan. Sepertinya dia
pulang dengan menyesal, apalagi hingga kini belum ada kesempatan yang sebaik
malam itu. Namun bagiku itu bukan alasan untuk menyesali sesuatu. Mungkin itu
pula yang menambah alasannya untuk tidak menemaniku hari ini: dia ingin
membalas dendam karena dulu aku sudah menolak ajakannya yang nakal ketika
menginap di kamar kosku. Maka, di pagi dan di gunung yang sering kami bicarakan
ini, aku harus puas ditemani aroma orang lain. Dimas sialan!
Setelah kira-kira setengah jam kami berbaris merayapi bukit, kini tibalah
di lokasi perhentian. Ada sebuah pendapa besar di sisi kanan. Sedangkan di kiri
jalan tampak sebuah gapura besar dari batu yang berdiri di atas pekarangan
berpagar, tampak amat kuno. Kurasa inilah Candi Sukuh.
Aku tak sempat lama-lama memperhatikan candi, sebab pemandangan lain
menyitaku—tepatnya menyita perhatian semua peserta hiking. “Selamat datang...!” sambut guru-guru kami; mereka rupanya
sudah menunggu kedatangan kami di sini, dan semuanya berpakaian layaknya
Pembina Pramuka.
Selain guru-guru tampak juga Bantara-Bantara lainnya yang berjumlah cukup
banyak. “Kalau capek bisa istirahat dulu sebentar,” sambut salah satu dari
mereka.
“Sejak kapan mereka tiba di sini? Tadi mereka tidak satu bus dengan kita,
tho?” Alif bertanya-tanya sambil
melepas lelah di tepi pagar candi.
“Mereka bawa kendaraan sendiri,” sahutku, “khusus untuk rombongan guru.”
“Nggak penting! Yang penting itu sekarang ada sarapan nggak?” gerutu
Albert yang tampak kepayahan.
“Sudah, duduk sini saja dulu. Nanti kalau memang ada jatah makan pasti
dipanggil,” cetus Rizal. Dia juga tampak kecapekan.
“Aneh kamu, Zal, badan kuli begitu tapi seperti mau mati saja!” ejek Yoga
ke Rizal. “Harusnya kamu itu yang paling kuat.”
“Bukan jaminan. Mau badan segede apa pun, kalau kebanyakan kolestrol ya
hancur. Rizal makannya gorengan terus. Ngutang di kantin pun dilakoni,” cetus
Wawan ikut mencibir.
“Tidak hanya yang digoreng, yang dibakar juga gencar. Ngerokokmu itu
sudah parah, Zal!” timpal Yoga lagi.
Sementara yang lain sibuk mengomentari Rizal, Neki mengomentariku, “Lu
nggak capek apa, Fan?” Dia bertanya dengan napas ngos-ngosan.
“Iya, Fandy yang kurus begitu malah badak tenaganya!” Albert menyambar.
Sebenarnya aku pun capek, hanya saja tak sampai ngos-ngosan. Dua
kilometer itu lumayan jauh, apalagi ditambah jalan yang menanjak.
“Harusnya Fandy lebih pantas jadi Wapinsa, daripada si Neki,” celetuk
Rizal.
“Kok?” tukas Neki dengan raut sensi.
“Lihat sendiri, cuma Alif sama Fandy yang tak kelihatan capek. Lha kamu, Nek, sudah seperti gorengan
gosong!” ejek Rizal, disambung tawa teman-temanku yang lain.
“Nggak usah ngomentarin orang lain. Ngaca dong, lu sendiri badan gede
tapi tenaga letoi!” balas Neki sengit.
Sebelum Rizal membalas dan menyulut pertengkaran lebih jauh dengan Neki,
Wawan lebih dulu memotong, “Paling yang nanti sukses dilantik jadi Bantara ya
cuma Alif sama Fandy. Kita yang lain ini
cuma penggembira saja, naik gunung buat senang-senang.”
“Aku niat kok jadi Bantara, nggak cuma penggembira!” Neki langsung
menyambar lagi, kelihatan sangat benci kalau disepelekan.
“Malah aku yang nggak pengin,” cetusku menengahi semuanya. “Memangnya aku
kelihatan punya niat jadi Bantara? Aku ikut hiking
ini juga cuma senang-senang. Aku tertarik gunungnya, bukan Pramuka-nya.”
“Lho, kenapa, Fan?” Alif yang dari tadi banyak diam kini menanggapiku.
“Dengar-dengar kamu itu terolong senior
darling, lho. Pasti gampang kalau mau diangkat Bantara.”
“Jelaslah, tampang anak baik-baik begitu?” timpal Rizal.
Aku tertawa. “Nggak tertarik.”
“Sama. Aku juga cuma tertarik sama jalan-jalannya, bukan sama
Pramuka-nya,” Albert menyahut. “Dan seharusnya kita tidak dibiarkan kelaparan
begini.”
Aku mengabaikan semua temanku, kecuali Alif; kuamati raut mukanya seperti
memendam sedikit kecewa. Mungkin karena di sanggha ini ternyata dia sendirian
mengejar tujuan untuk dilantik jadi Bantara. Sepertinya dia serius dengan
organisasi berseragam coklat ini.
“Tapi mungkin suatu saat pikiranku berubah. Bisa saja aku menjadi
tergila-gila pada Pramuka. Siapa tahu?” celetukku, menghibur si ketua sanggha
yang dirundung sedih itu. Sekarang kulihat dia mengulum senyumnya—tersenyum
saja, tak berkata apa-apa.
Lalu giliran Albert mendapat berita baik—sebetulnya itu berita baik untuk
kami semua, tapi kurasa teman kami yang gemuk itu adalah yang paling gembira
mendengarnya. “Adik-adik, yang belum apa-apa sudah kecapekan, biar tenaga
kalian pulih silakan langsung ambil sarapan kalian di pendapa...!” seru Bu
Hana, salah satu guru kami.
“Cocooook...!” Albert langsung bangkit dalam aura kerakusan.
Semua pun berduyun-duyun menuju ke pendapa bagai hama wereng yang mau
menggasak ladang. “Tolong makan yang tertib, dan jaga tempat tetap bersih!”
imbuh Bu Hana lantang. “Waktu untuk makan cuma satu jam, kalau ada sisa waktu
bisa digunakan untuk melihat-lihat candi. Setelah itu kita akan lanjutkan
kegiatan!”
“Ayo, Fan!” ajak Alif.
“Ya. Nanti aku nyusul,” balasku.
Aku masih bersantai sementara yang lain mulai mengambil sarapan. Aku
lebih tertarik untuk mengamati Candi Sukuh yang menjulang di hadapanku. Selain
bentuknya yang unik dan purba, gapura itu terasa memancarkan sesuatu yang
membuat hatiku sedikit bergidik. Bukan bergidik karena ngeri, tetapi lebih
seperti ketika kau merasa apa yang kaulihat tak sungguh-sungguh seperti yang
terlihat. Ada yang lain di balik yang terlihat. Namun itu tak terlalu
mengherankan juga, sebab sebuah candi tentu memang bukan sembarang tempat.
“Nggak makan?” sapa seseorang menyela lamunanku.
Aku menoleh, dan mendapati orang yang menyapaku adalah salah satu kakak
kelasku. Seorang Bantara. Seorang vokalis band sekolah. Seorang yang menjadi
idola di sekolah kami. Dia disukai banyak orang, tapi secara pribadi dia punya
masalah denganku—dialah yang menciptakan masalah itu, bukan aku.
“Nanti saja, Kak,” jawabku datar.
“Formal banget pakai 'Kak'?” sahutnya disertai tawa tipis.
“Aturan Pramuka memang begitu. Bahkan Pak Hamid pun juga harus dipanggil
'Kak' oleh orang-orang yang sebaya dengan anaknya.”
“Panggilan itu untuk menunjukkan bahwa junior menghormati senior dalam
bahasa keakraban, sebab belum tentu masing-masing sudah akrab secara personal.
Tapi itu pun bukan harga mati. Kalau pada dasarnya sudah akrab, ya formalitas
itu tak diperlukan lagi.”
Aku tertawa geli, tapi juga singkat saja. “Apakah secara personal kita
sudah akrab?” balasku. “Kak Erik akrab dengan Dimas—dulu. Tapi denganku tidak.
Jadi lebih tepat kalau aku memakai yang formal saja.”
Dia diam, beberapa waktu. Mungkin aku terlalu menohoknya. Lalu dia masih
mengajak bicara lagi, “Kenapa Dimas tidak ikut?”
“Dia 'kan tidak ikut Pramuka. Apalagi jadi Bantara,” jawabku datar, lebih
mengutamakan fokusku pada pemandangan candi di balik pagar besi.
“Dia sendiri yang mengaku begitu?” sahutnya, seakan-akan ingin terus
mengikatku dengan obrolannya. “Dimas lulus jadi Bantara, kok. Dia ada waktu
upacara pelantikan. Cuma setelah itu kelihatannya dia malas meneruskan
Pramuka.”
Kali ini dia berhasil mengusikku. Aku tak tertarik membicarakan soal
status ke-Bantara-an Dimas dengan bekas teman nge-band-nya ini, tapi aku pasti
akan mencari penjelasan langsung ke Dimas sendiri—kalau Dimas ternyata memang
bohong padaku, awas saja!
“Dimas tak mau ikut acara ini mungkin karena ada Kak Erik. Mungkin dia
memang sudah memaafkanmu, Kak. Tapi bukan berarti dia sudah siap untuk berada
jauh dari rumah demi bersama teman-teman yang dulu pernah mengolok-oloknya.
Kata maaf tak serta-merta menghilangkan trauma, lho, Kak.”
Kali ini Erik—yang kupanggil dengan 'Kak'—betul-betul terdiam setelah
mendapat jawabanku. Kami berdiri bertatap muka; dia tersenyum pahit, mengangguk
beberapa kali, lalu pergi. Aku sadar kata-kataku terlalu kejam, tapi setidaknya
aku tak mempermalukannya di depan banyak orang, tak seperti yang pernah dia lakukan
terhadap Dimas. Aku hanya mempermalukannya di depan diriku sendiri, dan itu
demi membuat dia tahu diri saja.
Aku tahu, Dimas tak akan menyetujui sikapku terhadap Erik—orang yang
sebetulnya juga sempat kukagumi, dan... bahkan Dimas pun pernah mengejar
cintanya.
***
Sebagian peserta sudah menyelesaikan sarapan, termasuk aku, dan masih
tersisa beberapa waktu bagi kami untuk melihat-lihat candi. Aku tak lagi hanya
mengamati dari luar pagar; aku masuk ke dalam dan bagian pertama yang kuamati
adalah gapura bagian depan.
Untuk masuk ke kompleks candi tak bisa melewati gapura utama ini; kondisi
gapura diberi pintu sekat yang dikunci, sehingga tak seorang pun pengunjung
dapat memasukinya. Lorong masuk gapura hanya bisa dilongok dari luar pintu
penyekat, dan sekarang aku bisa menduga mengapa gapura ini tak boleh dilewati
untuk jalan masuk. Rupanya ada relief di lantainya, yang akan rawan rusak
karena terinjak-injak jika gapura ini tidak diblokade. Dan memang akan sungguh
disayangkan kalau relief itu sampai rusak, sebab itu adalah relief yang teramat
unik. Unik karena provokatif!
Relief itu berbentuk penis dan vagina. Aku tak tahu apa maksudnya dibuat
relief dua organ kelamin di lantai gapura sebuah candi yang mestinya dibangun
sebagai tempat suci. Dan pula, dua organ kelamin itu dipahatkan dalam posisi
menempel—kurang provokatif apa lagi?
“Ngaceng, Fan?” tiba-tiba Rizal sudah di sampingku sambil berkata saru. Kurasa dia sendirilah yang seperti
apa yang dia katakan. Dia langsung pergi lagi sambil tertawa-tawa cengengesan.
Aku sendiri juga tak berlama-lama mengamati gapura dan reliefnya
seolah-olah aku belum pernah melihat bentuk kedua organ itu. Setelah
kujelajahi, ternyata Candi Sukuh memiliki banyak bagian yang memang menarik
untuk diamati, tak hanya gapuranya saja. Aku pernah ke Prambanan, Kalasan,
Candi Sewu dan beberapa lagi yang ada di sekitar Jogja; bentuk candi-candi itu
jauh berbeda dari candi yang kulihat sekarang ini. Di Candi Sukuh tak kulihat
ada bentuk stupa ataupun bangunan bersegi yang tinggi mengerucut seperti yang
ada di Prambanan, yang ada justru bangunan berbentuk seperti limas tetapi
tumpul bagian atasnya. Ya, kalau kau bisa membayangkannya, ini menyerupai
piramid suku Maya—atau Aztec, entahlah, aku tak terlalu hapal.
Kebetulankah, ataukah memang ada hubungan antara suku Jawa dan suku-suku
di Amerika Tengah?
Soal budaya dan sejarah biasanya Dimas lebih tahu, tapi akhir pekan ini
dia memilih bersantai saja di rumahnya dan merelakanku pergi bersama pasukan
Pramuka tanpa dirinya. Entah kenapa aku merasa yakin saat ini dia sedang di
kamar menonton foto-foto cowok tampan yang memamerkan penis di internet,
sementara aku menonton penis yang dipahat di candi piramid di lereng Lawu ini.
Aku melihat seonggok arca di dekat candi induk, yang posisinya sedang
mencengkeram penis dengan salah satu tangannya. Penis itu dalam kondisi ereksi
dan tegak ke atas. Ya, kurasa kau bisa membayangkan adegan apa yang diperagakan
arca itu—sebetulnya aku enggan membahas yang seperti ini, tetapi penuhnya candi
ini dengan hal-hal erotis membuatku bingung dan tak tahan untuk
membicarakannya. Entah karena apa, bagian kepala patung itu sudah hilang,
sehingga adegan vulgar itu tak lagi erotis tetapi malah menjadi
menyeramkan—coba kaubayangkan seonggok makhluk gempal tak berkepala sedang
onani!
Untuk mereduksi keseraman, kubayangkan saja Dimas sedang berdiri di
belakang patung itu, lalu menyandarkan dagunya di atas leher patung yang
buntung. Nah, patung itu sekarang berkepala. Mungkin sekarang Dimas memang
sedang melakukannya di kamarnya—semoga Denis tiba-tiba menyelonong masuk dan
menggagalkan hiburan cabul akhir pekannya itu. Sekarang kautahu seperti apa
kesalku saat ini kepada orang yang sudah kuterima sebagai pacar itu.
Di saat aku sibuk mengamati untuk memahami maksud keberadaan arca vulgar
ini, seseorang menghampiri dan menyapaku.
“Suka?” sapanya dengan sebuah pertanyaan. Aku tak kenal orang ini. Dia
laki-laki berusia mungkin 25-an. Penampilannya seperti Indiana Jones versi muda
tapi tanpa topi koboi dan pecut; lelaki lapangan, tapi rambutnya tampak
terawat, bahkan gaul.
“Suka apanya?” aku balas bertanya.
“Arcanya menarik, 'kan? Gimana pendapatmu?” tanyanya sambil menepuk-nepuk
badan arca.
“Sepertinya terlalu vulgar untuk berada di sebuah candi yang bisa
dikunjungi siapa pun. Tapi memang di situlah uniknya,” jawabku, sekadar menjadi
pembalas pertanyaan yang ramah.
“Menurutmu ini porno?”
“Apa maksud adegan seperti ini berada di sini?” aku balik menyodorkan
pertanyaanku sendiri.
“Oke, begini,” dia memperagakan diri layaknya seorang pemandu wisata,
atau guru sejarah, “di sebelah sini kau bertemu penis, di sebelah sana kau akan
bertemu vagina,” dia menunjuk suatu arah, “dan di gerbang depan kau malah bisa
melihat dua-duanya, penis dan vagina, sedang bertempelan.”
Penis, vagina, bertempelan…. “Ini seperti bukan di sebuah candi dan di
acara Pramuka, tapi sebuah laboratorium terbuka dalam rangka pelajaran
biologi,” kataku. “Bab reproduksi,” tambahku.
“Biologi?” sahut orang itu menyunggingkan senyum. Lalu dia menunjuk ke
satu arah lagi—ke lelaki lain yang sedang duduk di salah satu pelataran.
“Temanku itu Sarjana Biologi. Lihat itu, dia duduk di bawah sebuah relief.
Kalau kau mau amati lebih teliti, itu adalah relief vagina yang sangat besar.”
Relief vagina besar? Aku mulai sakit kepala. Betul!
“Penis dan vagina, reproduksi, kau bisa hubungkan itu pada apa?” Indiana
Jones berambut bagus itu melemparkan pertanyaan lagi.
“Nafsu?” jawabku agak asal.
Dia tertawa. “Nafsu tidak harus dengan lawan jenis, lho?” tukasnya,
rasanya seperti menimpuk mukaku dengan batu candi. “Kalau reproduksi, barulah
itu harus melibatkan lawan jenis. Selain jantan-betina, apa lagi yang menurutmu
bisa dihubungkan dengan reproduksi?” Lalu dia buru-buru menambahkan isyarat
dengan menggoyang-goyangkan telunjuk, “Jangan berpikir biologis, cobalah lebih
filosofis!”
Kali ini aku lebih serius. “Kesuburan,” jawabku.
Dia berbinar. “Kau cakep dan pintar!” Lalu dia kembali memberiku seminar
dengan antusias. “Di sini, selain simbol-simbol kesuburan, kau juga bisa
temukan relief-relief yang lain. Ada relief cerita Sudamala yang menceritakan
pengampunan dosa. Tapi yang paling menarik, menurutku, adalah relief cerita
Garuda; ia harus mengalahkan banyak raksasa demi menemukan Air Kehidupan. Lalu
mari kita hubungkan: kesuburan menghadirkan kelahiran, tapi setiap yang lahir
pasti akan dinodai dosa di kemudian hari, oleh karenanya perlu pengampunan.
Pengampunan memurnikan kembali kehidupan, lalu Air Kehidupan memberi keabadian.
Tapi apa gunanya keabadian jika hidup tidak dalam kedamaian? Apa artinya?”
Dia bertanya padaku, maka aku menjawab, “Abadi tidak dalam damai, berarti
keresahan tak berkesudahan.”
Dia berbinar lagi. “Sudah ada cewek yang jadi pacarmu?” Aku tak menjawab
pertanyaan itu. Maka dia meneruskan omongan tingginya tadi, “Sekarang kautahu,
mengapa untuk mendapatkan Air Kehidupan harus dengan mengalahkan para
raksasa—sebab raksasa itu adalah simbol dari ego dalam diri kita.”
“Anda petugas di sini?” tanyaku, setelah beberapa saat merenungkan semua
omongannya.
Dia menggeleng.
“Kenapa bisa tahu banyak?”
Kali ini dia menjawab sambil menunjuk temannya lagi, “Sudah kubilang
kalau temanku itu Sarjana Biologi, 'kan? Nah, aku Sarjana Sejarah.”
Jujur, aku belum sepenuhnya paham yang dia ceritakan tadi, termasuk
tujuannya memberiku seminar filsafat gratis ini. Mungkin aku harus punya gelar
sarjana dulu, baru bisa mengerti omongannya.
“Salam Pramuka!” ucapnya, menepuk pundakku sembari berlalu.
Sarjana Sejarah? Hmm. Beberapa
belas tahun lagi mungkin rambutnya yang gaul itu sudah menjadi botak—betapa
memang tak ada yang abadi. Dan, ngomong-ngomong, ada puluhan anak lainnya
berseragam Pramuka di sini, tapi adakah alasan tertentu yang membuat orang tadi
menjatuhkan pilihannya untuk menyapaku? Jangan-jangan ada hubungannya dengan
beberapa komplimen yang dia tujukan padaku—“cakep”, “pintar”, dan “sudahkah
punya cewek” yang terdengar agak tidak biasa bagiku. Namun sudahlah, sarjana
aneh itu sudah pergi.
Aku mendengar panggilan untuk berkumpul. Artinya waktu untuk bersantai
sudah habis. Kami meninggalkan candi.
***
“Sanggha laki-laki sepertinya sengaja dikasih medan yang lebih sulit!”
gerutu Wawan.
“Ini biasa sajalah, tidak ekstrem. Sama sekali tak ada yang menanjak,”
timpal Rizal. “Cuma, sejak awal masuk kemari, aku merasa kalau hutan ini
angker!”
“Jangan ngaco lu, ya!” Neki langsung menimpal. “Kalian nggak ngebayangin
apa, lima belas kilo tuh jauuh...! Jalan kaki sampai Tawang Mangu itu udah
berat, nggak usah ditambahin pikiran yang aneh-aneh, deh!”
“Bilang saja kamu takut, Nek. Gitu kok katanya mau jadi Bantara?” ledek
Yoga.
Rizal tertawa paling keras. “Sudah penakut, 'melambai' lagi. Mau jadi
Bantara? Ya malah habis dikerjai junior!”
“Eh, jaga mulut lu, ya!” Neki berbalik dan menunjuk tepat ke hidung
Rizal.
“Eh, apa nunjuk-nunjuk?” Rizal berhenti dan berkacak pinggang
membusungkan dada, balas menantang.
“Mentang-mentang badan lu gede bukan berarti bisa seenaknya, ya!”
“Iya, mentang-mentang kamu kerempeng juga nggak berarti aku bakal
kasihan!”
“Woi! Sudah!” Alif turun tangan menengahi. “Zal, kamu kalau ngomong harus
jaga perasaan teman, ya! Nek, kamu juga jangan emosian gitu, dong! Betul
perjalanan kita ini jauh, makanya masalah sepele begini ngapain dibikin gede?”
“Iya, jangan kayak anak kecil dong, ah!” timpal Albert, sambil
garuk-garuk perut.
Aku menonton pertengkaran sepele ini tanpa komentar. Meskipun yang
diucapkan Rizal ada benarnya, maksudku soal hutan ini, aku tak mau menjadikan
diriku tampak berpihak pada salah satu dari mereka. Lagi pula sikap keduanya
sama-sama tak menumbuhkan simpati—urakan ketemu sensitif. Itu bisa jadi ribut
betulan kalau tidak segera dilerai. Karena itu aku senang Alif menunjukkan
kepemimpinannya; dia menghentikan pertengkaran dan membuat kami bisa
melanjutkan perjalanan lagi.
Inilah acara hiking itu,
dikemas dalam konsep “Mencari Jejak”. Dan rute yang harus kami lewati, sebagian
besar, adalah kawasan hutan. Sanggha putra dan sanggha putri dibuatkan rute
terpisah; pada paruh pertama rute tersebut kami harus melewati lima pos, dan di
situ kami akan diuji oleh para senior—para Bantara. Setelah lima pos itu
berhasil dilalui, barulah rute sanggha putra dan sanggha putri bertemu dan
menjadi satu menuju finish di Tawang
Mangu.
Tiap sanggha, di masing-masing rute, diberi jeda sepuluh menit untuk
mengambi start. Dan kami, Sanggha
Pendobrak, adalah pengemban urutan terakhir di rute putra. Sanggha Perintis dan
Sanggha Pencoba sudah jalan lebih dulu di depan kami, dan mereka di depan sana
sudah tak kelihatan lagi. Ada satu aturan lagi yang membuat kami menjadi
betul-betul terisolir, dari sanggha lain maupun dari siapa pun di luar acara
ini, yaitu tiap sanggha hanya diperbolehkan membawa satu ponsel aktif, dan hak
itu hanya diberikan kepada Wapinsa. Jadi, di Sanggha Pendobrak cuma Neki yang
membawa ponsel, sedangkan yang lain—termasuk aku—harus menitipkan ponsel ke
Pembina. Kami, tujuh orang ini, menjadi arak-arakan laskar gembira yang harus
siap tersesat, dan bila nanti tersesat betulan kami harus tetap gembira, sebab
Pramuka harus selalu bergembira—kata Dasa Dharma butir enam. Menyedihkan.
Kulihat waktu di jam tanganku menunjukkan pukul sepuluh. Pagi seharusnya
sudah sangat terang. Namun lebatnya pepohonan membuat sinar matahari
seakan-akan menjadi redup. Aura hutan berpadu dalam warna hijau daun dan lumut
yang tumbuh di tubuh pohon-pohon, serta warna coklat dari tanah dan daun-daun
kering. Tentu kami berjalan sambil bercakap-cakap apa saja, hanya saja kadang
ada beberapa saat untuk berhenti bicara. Ketika kami berhenti bicara, suara
langkah kami terdengar lebih jernih. Aku merasakan langkah enam pasang kaki
lainnya, selain suara langkahku sendiri, tetapi kadang terasa seperti ada
pasangan kaki kedelapan, kesembilan, datang dan pergi di belakang kami
sepanjang jalan setapak. Ah, mungkin itu perasaanku saja. Lagi pula, kadang
kami melihat ada tukang kayu melintas di kejauhan; adanya jalan setapak ini pun
sebetulnya sudah menandakan dengan sendirinya bahwa kehidupan manusia masih ada
di sekitar hutan ini, sesepi apa pun kelihatannya.
Kudengar Albert menggumam sendiri. “Positive
thinking. Teman-teman kita di depan, Pembina dan kakak-kakak Bantara juga
berjaga di sana, kalau ada apa-apa tinggal pakai HP-nya Neki, semua aman....”
Positive thinking? Kurasa boleh
dikatakan juga sebagai menghibur diri. Perasaan seram itu pada akhirnya tetap
tak bisa ditutupi. Dan ketika ada kalanya merasa lega, itu pun sebetulnya
menunjukkan betapa tegangnya kami sebelumnya. Beginilah rasanya berjalan di
hutan.
“Itu, lihat!” Alif menunjuk ke depan.
Disusul tawa Albert. “Apa kubilang? Positive
thinking...!”
Semua pun bernapas lega, melihat Pos Satu sudah tampak di depan sana.
Terlihat di kejauhan tiga orang berseragam Pramuka, yang pastinya adalah para
“Kakak Bantara”.
“Makanya, biasa sajalah! Siapa yang takut tadi? Namanya acara sekolah
begini pasti sudah ada yang tanggung jawab, tak mungkin ditelantarkan,” seloroh
Wawan.
“Siapa yang takut?” Neki menimpal agak sengit, merasa tersindir.
“Sudahlah. Semuanya takut. Hanya tak ada yang mengaku saja,” kali ini aku
menyahut, menyindir siapa pun, supaya tak ada yang merasa sebagai satu-satunya
pihak yang dicerca. Dan tak ada yang membantah ucapanku itu.
Mungkin kami sudah menempuh sekitar satu kilometer dari Candi Sukuh.
Sekarang akhirnya kami sudah tiba di Pos Satu. Kami disambut para “Kakak”,
salah satunya adalah “Kakak” yang tak kusukai.
“Capek?” sambut Kak Erik.
Yang dua lainnya adalah Kak Ramon dan Kak Septi. Kak Ramon murah senyum,
Kak Septi berwajah judes.
“Tidak, Kak!” jawab Alif bersemangat.
“Belum!” susul Wawan.
Albert tak mau ketinggalan, “Ada camilan, Kak?”
“Ambil napas dulu,” saran Kak Ramon. “Duduk dulu sebentar. Relaks. Kita
punya banyak waktu.”
“Langsung saja, Kak, tidak terlalu capek, kok,” balas Alif.
“Ya sudah, atur barisan!” cetus Kak Septi.
“Sanggha Pendobrak, siapkan barisan!” komando langsung dilontarkan Alif
kepada enam anggotanya.
Dengan agak malas kami menata diri dalam barisan. Kali ini aku menilai
semangat Alif memang agak berlebihan. Dia lupa, bahwa Pramuka sejati di sanggha
ini hanya dia, sedangkan enam lainnya hanya ingin bersenang-senang (tolong bedakan
dari konteks “gembira” menurut Dasa Dharma—ya, butir enam). Ingin
bersenang-senang artinya tak harus cepat-cepat berbaris di saat masih ada waktu
untuk bersantai.
“Sanggha Pendobrak siap menerima arahan!” seru Alif lantang, sok militer.
“Sebelumnya, selamat, kalian telah sampai di Pos Satu,” Kak Septi bicara
mewakili Bantara lainnya. “Di sini kalian akan diuji dengan satu pertanyaan,
sama seperti sanggha lainnya. Jawaban kalian akan dinilai, dan nanti nilainya
akan diakumulasikan dengan nilai yang kalian dapat di pos-pos berikutnya. Di
akhir 'Mencari Jejak' nanti, sanggha pengumpul skor terbanyak akan dinobatkan
sebagai sanggha terbaik dan akan mendapat hadiah. Jadi, berikan jawaban terbaik
kalian!”
“Pertanyaannya akan diberikan oleh Kak Erik,” Kak Ramon menyambung.
Si Pemberi Pertanyaan lalu maju selangkah ke depan, tepat di depan kami,
lalu menyodorkan pertanyaannya, “Simpel saja: apa pendapat kalian tentang Candi
Sukuh?”
Kami satu sanggha hening, memikirkan jawaban.
“Kalian satu tim, jadi berdiskusilah untuk menyiapkan jawaban kalian,”
cetus Kak Ramon. “Silakan, berdiskusilah! Lima menit.”
“Siap, Kak!” sahut Alif. Lalu dia mengajak kami, para anggota sanggha,
sedikit menjauh agar lebih nyaman berdiskusi. “Bagaimana? Kalian sudah punya
jawaban?” dia membuka diskusi.
“Blank!” dengus Albert. “Wan,
biasanya kamu yang paling suka mikir-mikir?”
Wawan melepas baretnya agar bisa garuk-garuk kepala. “Kalian sadar, 'kan,
kalau di candi itu banyak relief-relief seronok?”
“Iya. Ada patung coli segala,” dengus Rizal. “Jawab saja, 'candi
erotis'!”
“Candi porno!” sahut Neki, kali ini tampaknya pro dengan Rizal.
“'Candi porno', 'candi erotis', 'candi seronok'.... Kupikir,
sanggha-sanggha yang lain pasti juga akan menjawab tak jauh-jauh dari itu,”
cetus Alif menanggapi. “Jadi, kalau kita jawab begitu juga, nilai kita ya sama
saja dengan mereka, tidak lebih. Kalau mau menang, kita harus cetak skor yang
lebih. Jawaban kita harus lebih cerdas!”
“Nah, jawaban yang cerdas itu contohnya apa?” timpal Albert.
“Yog, apa, Yog?” Rizal menanting pendapat dari Yoga.
“Aku ngikut sajalah,” jawab Yoga enteng. Tidak mengagetkan.
“Aku tadi sempat ngobrol dengan seorang pengunjung yang katanya ahli
sejarah gitu,” aku membuka suara. “Dia bilang, segala sesuatu yang terkesan
porno itu cuma tampilan luarnya. Sebetulnya, relief-relief itu adalah gambaran
simbolis. Dalam kehidupan manusia, organ-organ kelamin itu adalah penyalur
benih, 'kan? Itu adalah simbol-simbol kehidupan, kesuburan.... Yang porno
adalah prasangka kita saja.”
Teman-temanku memandangiku. Yang pertama buka suara adalah Rizal, “Betul.
Manuk karo bawuk—simbol kesuburan!
Soalnya penis ketemu mulut nggak bakal bikin hamil. Harus sama vagina. Fandy
betul. Itu kesuburan!”
“Mantap, gan! Ya sudah, itu saja jawabannya! Sudah keren itu!” Albert
merespons dengan antusias.
“Yoi, yoi, bagus itu. Cocok!” cetus Yoga.
“Semua sepakat?” Alif memungut suara.
Wawan mengangguk.
“Kalau gitu biar Fandy aja yang jawab. Yang paling ngerti 'kan dia,”
sahut Neki.
“Oke, cukup. Ayo, kembali ke sini!” seru Kak Ramon, menutup waktu diskusi
kami.
“Kamu yang jawab, Fan!” bisik Alif sembari kami kembali menata barisan di
depan para 'Kakak'.
“Jawaban sudah siap?” tanya Kak Septi.
“Siap, Kak!” sahut Alif lantang.
“Silakan.”
Alif menyikut-nyikut lenganku. Aku sedikit canggung mengurai jawabanku.
“Setahu kami, candi dulunya dibangun sebagai tempat untuk bersembahyang. Orang
berdoa memejamkan mata, jadi, sebagai tempat berdoa, seharusnya candi jangan
dinilai hanya berdasarkan yang terlihat saja; pelajaran-pelajaran yang tersirat
di dalamnya juga harus dipahami. Sekilas, relief-relief berbentuk organ kelamin
memang terkesan vulgar. Tapi kita tahu, jika organ kelamin laki-laki dan
perempuan bertemu, maka akan...” aku mendehem sejenak, “menghasilkan
keturunan—generasi baru. Jadi, pelajaran yang tersirat di Candi Sukuh
sebetulnya adalah tentang kesuburan. Mengapa kesuburan itu disimbolkan pada
sebuah candi—tempat orang-orang zaman dulu bersembahyang? Karena kesuburan
patut disyukuri. Itu intinya.”
Penjelasanku selesai. Tadi, ketika aku mendengarkan dari “Indiana Jones
berambut gaul”, aku masih agak bingung. Namun ketika sekarang aku diminta
menguraikannya sebagai jawaban atas pertanyaan para 'Kakak', tiba-tiba terasa
jelas dan mengalir begitu saja di dalam kepalaku, jadi aku tinggal
menyampaikannya secara verbal ke mereka. Kurasa aku belum menyampaikan
seluruhnya, tapi itu tadi sudah cukup membuat mereka tampak tercengang.
“Emmhhh.... Baik, sangat
impresif,” Kak Erik berkomentar.
“Paling beda!” celetuk Kak Ramon, mengisyaratkan bahwa jawaban Sanggha
Pendobrak paling spesial. Terima kasih
kepada Sarjana Sejarah yang aneh itu.
“Jawaban yang bagus. Tapi kalian baru bisa tahu rincian skor kalian saat
pengumuman 'Sanggha Terbaik' nanti. Pertahankan semangat, ya!” ujar Kak Erik.
“Tambahan, setelah pos ini kalian akan menemui cabang jalan. Agar tidak
menempuh jalur yang keliru, kalian harus mencari tanda petunjuk di sekitarnya.
Kalian sudah belajar tentang sandi-sandi, 'kan? Nah, gunakan kemampuan kalian!
Tidak sulit, tapi kalian harus tetap jeli,” cetus Kak Septi.
“Kalian bukan lagi Pramuka Siaga atau Penggalang. Kalian sudah Penegak,
tantangannya jelas beda, dong!” imbuh Kak Ramon dengan nada gaul.
“Dan ingat, kalian adalah barisan terakhir, sudah tak ada sanggha lainnya
di belakang kalian. Tapi bukan berarti kalian boleh berjalan malas-malasan,
sebab cara kalian memanfaatkan waktu juga akan menjadi bahan penilaian,” tandas
Kak Erik. “Selamat melanjutkan perjalanan. Kami akan menyusul sepuluh menit
setelah kalian, dan akan mengawasi dari belakang.”
“Istilahnya: sweeper!” sambung
Kak Ramon.
“Siap, Kak! Terima kasih untuk arahannya.” Lalu Alif menyerukan
komandonya, “Sanggha Pendobrak, jalaaan...!”
Lucu.
“Sanggha Pendobrak, sanggha terakhir di rute satu sudah jalan,” suara Kak
Ramon bicara dengan ponselnya terdengar olehku. Kurasa dia memberi laporan ke
Pembina yang stand by di suatu
tempat.
“Mantap, Fan, jawabanmu tadi,” sambil jalan Alif melontarkan pujian
padaku.
“Tahu itu dari mana, Fan?” Albert menimbrung.
“Sudah kubilang, aku tadi bertemu orang yang mengaku Sarjana Sejarah
gitu. Mungkin dia sedang melakukan penelitian di Sukuh. Aku ngobrol dengan dia
soal candi itu.”
“Kalau aku tetap mikir yang simpel
wae, lah. Pokoknya candi itu bikin ngaceng!”
Rizal mulai lagi dengan omongan joroknya.
“Matamu yo ngaceng! Nggak bisa
kedip, tho?” tukas Albert.
“Woi, ngomongin yang sopan-sopan saja kenapa, tho?” Alif mulai jengah.
“Nah, diprotes lagi,” Rizal menggerutu. “Ya sudah. Ngerokok saja. Biar
mulut nggak nganggur.”
“Jatah buat aku dong, Zal!” Albert langsung ikut-ikut.
“Hei! Tahan dulu kenapa, sih? Kalau ketahuan bakal dihukum kita!” Alif
melarang.
“Ya jangan sampai ketahuan, tho,”
Rizal ngotot.
“Yang nanggung risiko bukan cuma kamu, Zal, tapi satu sanggha ini bakal
kena semua!” tukas Wawan ikut memprotes Rizal.
Alif menghentikan langkahnya, dan berbalik tepat di hadapan Rizal. “Zal, please, simpan rokokmu,” ucapnya dengan
mimik serius.
“Oke, oke!” Rizal mencopot lagi batang rokok yang sudah tertancap di
mulutnya, lalu memasukkannya ke kantong baju. “Nah, aku anggota yang nurut, tho?”
Alif membalikkan badannya lagi, tanpa berkomentar apa-apa. Kami
meneruskan langkah, dan sebisa mungkin ketegangan tadi kami cecerkan saja di
belakang hingga bisa terlupakan, sebab tujuan bersenang-senang jelas tak akan
tercapai jika terlalu sering terjadi pertengkaran.
Kubayangkan, seandainya perjalanan ini hanya kutempuh berdua saja dengan
Dimas. Kurasa kami pun juga akan sering bertengkar. Namun pertengkaran itu tak
akan pernah menjadi serius. Paling-paling kami hanya mempertengkarkan soal
ide-ide nyeleneh yang sering keluar dari kepalanya. Ketika suatu sore kami
berjalan-jalan di sawah, dia mencetuskan pertanyaan, “Kalau gubuk itu dipakai
untuk ML, berapa persen kemungkinan bakal roboh?” Tentu saja pertanyaan itu
terlalu absurd untuk memiliki jawaban dalam bentuk persentase. Ujung-ujungnya
itu hanya menjadi modus baginya untuk berkata, “Kalau begitu, kita uji saja.”
Aku menolak, dan kami bertengkar. Namun dia tak pernah marah. Sepertinya dia
memang hanya ingin membuang ide-ide aneh itu keluar dari kepalanya, tak
menuntut untuk direalisir. Seperti onani mungkin, hanya ingin melepaskan
sesuatu, bukan bermaksud untuk membuahi/dibuahi. Dia puas ketika sudah
melepaskannya, itu saja.
Jika melihat gubuk di sawah saja sudah membuat pikiran Dimas ke
mana-mana, apalagi kalau kubawa dia ke Candi Sukuh?
“Berhenti dulu!” tiba-tiba suara Alif memecah kesenyapan.
Kami semua berhenti. Kupertajam semua inderaku terhadap sekitar. Sekarang
kusadari, rupanya ada sesuatu yang harus kami hadapi di sini. Sebuah
persimpangan—pertigaan jalan di tengah hutan.
“Ini seperti yang sudah dibilang tadi, bahwa kita bakal bertemu jalan
yang bercabang,” kata Alif. “Coba cari petunjuknya!”
Kami segera sibuk meneliti sekitar, mencari penunjuk jalan yang mungkin
berupa susunan batu yang menunjukkan arah, atau gambar panah, atau sandi yang
lainnya. Kami mencarinya sampai beberapa waktu. Namun….
“Nggak ada, Lif,” dengus Albert.
“Aku juga nggak nemu,” sahut Neki.
“Pasti ada. Ayo, cari lebih teliti!” balas Alif sambil menyibak
semak-semak.
“Kebangetan kalau sandinya dibikin yang susah-susah! Kalau ada ya pasti
yang gampang dilihat. Sengaja biar kita kesasar apa?” gerutu Rizal.
Aku juga tak menemukan apa pun yang tampak sebagai penunjuk jalan. Aneh!
Kami semua mulai resah dan kebingungan.
“Tunggu saja, deh, Lif. Daripada maksa, ntar malah kesasar! Mending
nungguin Kakak-Kakak tadi, 'kan mereka bilang bakal nyusul?” cetus Neki.
“Tapi kesannya kita jadi gagal, Nek. Kita tadi sudah bisa menjawab
pertanyaan dengan bagus, kalau sekarang kita nyerah jadi sayang banget,” balas
Albert, sepertinya itu mewakili pendapat Alif juga.
Kami semua berpikir sembari masih mencoba menemukan sandi penunjuk jalan.
“Nek, ponselmu bisa akses Google Earth?” tiba-tiba terlontar ide dari
Wawan.
“Bisa...,” jawab Neki sedikit ragu.
“Ah, bagus! Coba kita lihat saja lewat Google Earth!” cetus Wawan
bersemangat. “Kita lihat ke arah mana Tawang Mangu dari Candi Sukuh, setelah
itu kita bisa perkirakan manakah dari cabang jalan ini yang arahnya paling
mungkin menuju ke Tawang Mangu!”
Kami semua terdiam saling berpandang-pandangan. Lalu kami kompak
memandang ke Neki.
“Ponselmu bisa, 'kan?” lontar Alif ke Neki, sepertinya setuju untuk
mencoba ide Wawan.
“Ada sinyal nggak, yah?” gumam Neki seraya mengeluarkan ponselnya. “Sip!
Ada sinyal!” cetusnya kemudian dengan wajah girang.
“Kalau begitu kita coba saja!” Alif menjadi kian bersemangat.
Kami semua berkerumun memandangi layar ponsel Neki. Ponselnya cukup canggih,
artinya pasti juga cukup mahal; benda itu terhubung dengan internet dan dapat
mengakses situs Google Earth. Neki memasukkan nama lokasi, lalu kami tinggal
menunggu hasil kerja mesin virtual
itu.
“Ketemu!” seru Neki. “Lihat, kalau dari candi tadi, Tawang Mangu
posisinya ada di sebelah selatan. Emhh,
tepatnya barat daya.”
“Kita tadi dari candi jalan ke arah mana?” tanya Wawan.
“Candi tadi menghadap ke barat. Terus arah awal waktu masuk hutan ini ke arah
timur. Tapi tadi juga ada belokan, jadi... menurut perhitunganku, sekarang kita
mengarah ke selatan,” terang Alif sambil mengingat-ingat.
“Yakin?”
“Yakin. Selama perjalanan aku selalu mengingat tiap ada belokan. Kalau
berdasarkan ingatanku, dan memperhitungkan arah yang ditampilkan di Google,
menurutku kita sekarang ke selatan,” jelas Alif berusaha meyakinkan. Dia lalu
memandangi kami bergantian, “Ada yang bawa kompas?”
Kami semua menggeleng.
“Sebenarnya ini memalukan, sudah tahu kalau kita bakal masuk gunung tapi
aku malah lupa bawa kompas,” Alif mengeluhkan dirinya sendiri. Sebetulnya dia
tak perlu malu begitu, menurutku. Ini hanya permainan dan tujuannya untuk
bergembira di alam, tak ada soal pertaruhan harga diri. Kenapa malu?
“Perkara kompas tak usah terlalu serius. Kalau kamu memang yakin kita
sedang ke arah selatan, ya sudah pakai saja perhitungan itu,” ujarku,
mengurangi kecemasan yang tengah terjadi.
“Kalau sekarang kita sedang ke selatan, menurutku jalan yang paling
mungkin menuju ke Tawang Mangu yang sebelah kiri!” cetus Wawan seraya menunjuk.
“Sebab jalan yang sebelah kanan kelihatannya cenderung lurus ke barat, kupikir
itu tak mengarah ke Tawang Mangu.”
“Jadi?” Neki melempar pandangan bergantian antara Wawan dan Alif.
“Wawan kalau mikir teliti sekali, jadi aku percaya sajalah,” Yoga
mendukung Wawan.
“Iya, coba sajalah. Nanti kalau kesasar ya tinggal balik lagi kemari,
terus ambil jalan yang satunya,” cetus Albert.
“Gimana, Fan?” Alif meminta pertimbanganku.
“Yang penting tim ini jangan sampai pecah, jadi kalau ada kendala bisa
diatasi bareng-bareng,” jawabku memberikan pendapat. “Coba sajalah pilihan
Wawan.”
“Rizal, Neki?” Alif menanyai tanpa melewatkan satu orang pun.
Keduanya mengangguk.
“Oke, jalan!”
Kami memilih jalan yang kiri, sesuai pertimbangan Wawan yang
perhitungannya berdasarkan ingatan Alif, dan juga petunjuk dari Google Earth.
Albert, sambil jalan, “Eh, Nek, bisa pinjam ponselmu sebentar?”
Neki, dengan mimik menyelidik, “Buat apa?”
“Anu....” Albert garuk-garuk kepala sambil senyum-senyum. “Lagi seru
begini, aku jadi pengin bikin status di FB....”
“Dodol! Sempat-sempatnya?” Neki membalas dengan judes. “Kalau mau ngeksis
jangan numpang, dong!”
“Yeee.... Kalau punyaku nggak disita ya pasti pakai punyaku sendiri!”
kilah Albert.
Albert jadi bahan bully-an
sembari kami menempuh perjalanan mengikuti jalan setapak. Bosan mem-bully yang satu, maka yang lain jadi
sasaran berikutnya. Lumayan, untuk mengusir ketegangan dan perasaan tercekam.
Sebab, makin lama hutan yang kami jelajahi makin pekat saja kelihatannya,
membuat level keseraman merangkak naik secara pelan tapi pasti.
Kecurigaan mulai mengusik ketika lima belas menit sudah terlewat sejak
kami meninggalkan persimpangan tadi, dan kami belum juga mendapati Pos Dua.
Sedangkan kondisi hutan makin ekstrem saja; beberapa kali kondisi jalan
menyempit karena himpitan pohon-pohon dan semak-semak, beberapa kali menjadi
cukup licin karena kondisi yang lembap. Dan sekarang, kami dapati jalan tanah
di depan kami terlapisi lumut tipis; jika jalan ini memang pernah dilalui
sanggha-sanggha pendahulu kami, maka seharusnya ada bekas goresan-goresan
sepatu di situ. Lapisan lumut itu tampak perawan!
“Bukankah ini aneh?” lontar Alif, seraya meraup sedikit lapisan lumut itu
dan menunjukkannya pada kami.
“Iya, aneh! Seingatku juga tak ada satu pun rumah penduduk yang terlihat
sepanjang perjalanan kita kemari,” sahut Albert juga mulai cemas. “Coba
pikirlah, biarpun ini di hutan, bukankah biasanya tetap ada satu atau dua
bangunan penduduk—gubuk atau apalah? Sama sekali nggak ada. Berarti jalan kita
ini menjauh dari permukiman! Jangan-jangan buntu ke jurang ini nanti?”
“Orang lewat selain kita juga tidak ada. Seperti sudah bukan di dunia
manusia kita ini,” Yoga menimpali.
“Petunjuk yang dibilang kakak-kakak senior bahkan juga nggak ada sejak di
persimpangan tadi. Kayaknya kita ambil keputusan yang salah ini!” sahut Neki
terdengar agak panik.
“Tadi kita ambil keputusan menurut pendapat siapa, tho?” singgung Rizal, terasa menyindir seseorang.
Wawan diam.
Alif juga diam, tapi pandangan matanya tidak kosong. Dia tampak tak henti
meneliti keadaan sekitar. Lalu dia melangkah maju ke depan, tapi tak satu pun
ada yang mengikutinya. Setelah sekitar belasan langkah, dia berseru dengan nada
kaget, “Lihat ini!”
Barulah kami buru-buru menghampirinya. Dan tercenganglah kami!
“Damn!” Rizal memaki. “Ini
pertigaan jalan lagi!”
Jalan yang kami lewati menyabang lagi, membuat belahan di antara pekatnya
hutan dengan arah lain yang kami tak tahu akan berujung di mana.
“Kalau jalur ini masih bagian dari permainan, menurutku ini sudah menjadi
permainan yang keterlaluan. Ini terlalu membingungkan!” ucapku, menyampaikan
pendapatku sejujurnya.
“Coba cari dulu petunjuknya!” Alif rupanya masih berusaha optimistis.
Kami mencoba mengikuti komandonya, tapi kali ini dengan kemalasan. Lebih
tepatnya, kurasa semua yang ada di sanggha ini sudah tahu bahwa mencari
petunjuk hanyalah opsi mustahil. Menyisir tanah, menggeledah semak-semak,
meneliti batang-batang pohon, tetap saja tak menemukan petunjuk yang kami cari.
“Nihil!” desah Yoga lesu.
“Aku juga nggak nemu,” sahut Neki terdengar letih.
“Capek aku! Sudah jelas kita ini kesasar, ngapain masih cari petunjuk?
Sudah, kita balik saja! Persetan dengan skor!” gerutu Rizal gusar. Dia
menyatakan lebih baik balik arah, tapi dia sendiri kemudian cuma duduk-duduk
saja. Fisik dan pikiran kami memang sama capeknya.
Akhirnya Alif pun ikut mendudukkan dirinya. “Ya sudahlah. Kalau begitu
tak ada salahnya juga kita istirahat sebentar saja.” Dia mengipasi diri dengan
baretnya, sambil mengusap-usap rambut cepaknya yang terlihat basah oleh
keringat. Dia tampak menyerah.
Kami semua mengikuti, duduk di mana pun tempat yang bisa diduduki dengan
nyaman. Tak ada komentar. Semua diam. Semua lelah. Hingga akhirnya kebungkaman
kami pecah oleh racauan Albert yang menggidikkan....
“Ggg... guyss...!” suaranya
gagu dan parau....
Kami semua menoleh padanya, dan terperanjat. Wajah Albert pucat pasi
ketakutan. Aliran darahku seperti ikut terhenti saat melihat pemandangan
menakutkan yang kudapati pada Albert. Sesuatu yang panjang dan berukuran
melebihi kenormalan, menjalar ke tubuh yang kaku ketakutan itu.
“To...tolooonggg....” suara Albert lirih seperti mengiris di dalam
tenggorokannya, dan matanya tak berani lagi melihat.
“Al, tenang, Al.... Jangan panik!” desis Alif pelan dan tenang, tapi
mimik di wajahnya tetap tak bisa menyembunyikan perasaan ngerinya juga.
Binatang bertubuh panjang itu setebal jempol kaki, hitam kemerahan dan
beruas-ruas, dengan kaki-kaki runcing yang merayap dengan gerakan tenang tapi
mengancam! Binatang itu merambat di kaki Albert, lalu berhenti tepat di bawah
perutnya. Kami semua mematung dalam kengerian, hampir tanpa sanggup bertindak
apa-apa. Lalu binatang itu bergerak lagi, makin menuju ke atas. Sekarang
berhenti di leher Albert.
“Kelabang hutan...,” desis Wawan bergidik.
Kami semua masih terpaku karena bingung harus berbuat apa agar binatang
berbisa itu bisa diatasi tanpa membahayakan Albert. Dan, ohhh... sekarang
kelabang besar itu mulai merambat di wajahnya! Aku tak berani melihat, terlalu
menyeramkan!
“Tenang, Al, binatang itu sepertinya akan terus bergerak ke atas. Tunggu
saja sampai di atas kepalamu, jangan bergerak!” Alif mewejang dengan sabar.
Ketika posisi yang dinanti Alif tiba, dia bergerak cepat ke depan dengan
sebatang kayu kering di tangan, dan.... Bweetttt...!
Dia menyabetkan kayu lentur di tangannya.
“HWAAAAAAA...!” Albert berteriak sekencangnya!
Kelabang besar itu terlontar dari kepala Albert bersama baretnya, jatuh
di tanah, dan….
“Awaaassss...!” pekik Neki.
Kelabang hutan itu merayap dengan cepat menuju ke kaki Alif. Brweeekkk...! Kaki Alif lebih cekatan
menghadang binatang itu—menginjaknya! Tampak ekor binatang itu
menggeliat-geliat di bawah sepatu Alif. Dia lalu menggeruskan sepatunya ke
tanah, tubuh binatang itu pun hancur terlindas...!
Semua masih terpaku membisu beberapa saat. Cuma suara napas gugup Albert
yang terdengar menderu di tengah kesenyapan, seperti suara roda mesin jahit
yang sudah karatan.
“Makasih, Lif...,” ucap Albert masih gagu. Badannya basah oleh keringat.
“Untung kamu belum sampai disengat, Al!” tukas Yoga.
“Kelabang tidak menyengat,” sahutku pelan, masih terbawa perasaan ngeri
yang tadi. “Kelabang menggigit dengan taringnya, lalu menyemprotkan bisa.
Seperti ular!”
“Apa aku bisa mati kalau
digigit...? Binatang itu besar sekali...!” racau Albert sambil berdiri
tertatih. Dia masih kelihatan gemetar.
“Racunnya tak akan membunuhmu. Tapi cukup untuk membuat sekujur badanmu
kedinginan, kesakitan, dan lumpuh semalaman!” tukasku.
“Kalau tak segera dibawa ke rumah sakit, hasilnya tetap bisa fatal,”
timpal Alif. “Kita semua situasinya seperti ini, tersesat di tengah hutan.
Hutan ini siang saja sudah dingin bagi kita yang tidak demam. Bayangkan dirimu
dalam keadaan demam harus di sini karena tersesat. Dan mungkin juga masih ada
kelabang lainnya di semak-semak!”
Omongan Alif membuat beberapa dari kami langsung menjauhi semak-semak.
“Ini gara-gara kamu, Wan. Kamu tadi yang punya ide buat ambil jalan ini,
sekarang bagaimana?” Yoga langsung mengeluhkan Wawan.
Wawan tampak terpojok. “Aku... aku juga bingung sekarang...,” desahnya
kecut.
“Tai!” Rizal memaki. “Makanya jangan sok pintar kalau ujungnya tak bisa
tanggung jawab!”
“Zal, tak perlu mengatai Wawan begitu!” kali ini aku mengkritik Rizal. “Tadi
kamu juga mendukung untuk ambil jalan ini; kita semua sepakat. Jadi nggak adil
kalau sekarang kita menyalahkan dia.”
“Kita dukung dia karena kita pikir dia benar. Sekarang terbukti salah, ya
adil kalau dia disalahkan. Apanya yang nggak adil?” Yoga menyanggahku.
“Terus, maksudnya kamu sendiri nggak perlu ngaca, gitu?” balasku ke Yoga.
“Dari tadi kamu cuma tinggal bilang 'ngikut' dan 'ngikut'! Sekarang kita semua
kesusahan terus kamu tinggal menyalahkan temanmu, gitu? Itu mau kaubilang adil?
Itu bukan cuma adil, Yog. Itu namanya enak banget!”
“Sudahlah, guys.... Aku minta
maaf ke kalian. Memang aku yang salah,” desah Wawan tertekan.
“Nah, itu malah lebih enak lagi. Bikin teman-temannya kesasar, terus
tinggal bilang maaf. Tai!” Rizal masih terus menyudutkan Wawan.
“Sudahlah, Wan. Berani minta maaf itu lebih gentle, kok, daripada yang bisanya cuma maki-maki teman,” ucapku
menenangkan Wawan.
“Eh, maksudnya apa?” Rizal tiba-tiba mendorong dadaku, cukup kuat dan
membuatku hampir saja terpelanting!
“Zal! Stop!” Alif langsung menghadang Rizal dengan suara tajam. “Fandy
benar! Paling enggak Wawan berani menawarkan solusi, dan dia berani minta maaf
saat pendapatnya keliru! Kita satu tim, kita hadapi semua bareng-bareng! Kalau
kamu cuma bisa menyalahkan temanmu, justru kamu yang jadi beban buat kita!”
Kali ini dua anak yang sama-sama imbang badannya saling berhadapan—Alif
dan Rizal. Alif memang sedikit lebih kecil, tapi dia punya wibawa dan pikiran
yang jauh lebih jernih. Sedangkan Rizal cuma pemarah yang nggak jelas.
“Iya. Kita kesasar ini kiamat kecil, tapi kalau sanggha ini pecah itulah
kiamat besar. Masalah jadi lebih mudah kalau diatasi bareng-bareng. Sudah,
jangan berantem terus...!” Albert sekarang bisa berceletuk lagi setelah pulih
dari shock.
“Lagian kita cuma salah ambil jalan, tinggal balik lagi terus pilih jalan
yang satunya. Nggak parah-parah amat, paling cuma boros tenaga sama waktu aja.
Tetap bisa pulang kali! Ngapain digede-gedein?” cetus Neki yang dari tadi cuma
diam.
“Oke. Aku cuma ingin cepat balik. Seterusnya persetan dengan sanggha!
Persetan dengan Pramuka!” dengus Rizal sambil buang muka. Dia mengeluarkan
rokoknya lagi, menyalakannya dan mengisapnya tanpa peduli dengan yang lain.
Lalu berjalan mendahului.
Kami semua berjalan dengan lesu, menyusuri lagi jalur keliru ini ke arah
sebaliknya. Semua terlihat menyimpan rasa dongkol masing-masing. Aku juga
dongkol; tanpa kusangka aku tadi telah terpancing ke dalam pertengkaran. Aku
sudah menempatkan diriku ke salah satu kubu. Ya sudahlah. Sikap Rizal tadi memang
sudah menjengahkan sekali.
“Capek, Fan?” Alif yang berjalan di sampingku mengajakku bicara.
“Kalau badan tak terlalu,” sahutku dengan senyum masam.
“Jadi apa yang paling capek?”
“Pikiran. Tapi kamu pasti lebih capek, Lif, jadi Pinsa yang harus mengatur
sanggha yang nggak akur begini.”
Alif tertawa kecut. “Memangnya kamu yakin sanggha yang lain lebih akur?”
“Paling tidak, mereka tidak salah ambil jalan.”
“Tantangan membuat kita lebih kuat, Fan,” sahut Alif diplomatis.
“Kalaupun gagal, setidaknya kita sudah mencoba sesuatu.”
“Karena itulah kamu lebih pantas jadi pemimpin dibanding yang lain,”
timpalku.
Dia tertawa. “Dan seharusnya kamu yang jadi penasihatku, Fan.”
“Aku tertarik, selama bukan di Pramuka.”
Kami berdua bisa tertawa sejenak, menyegarkan pikiran yang penat ini. Ya,
mengamalkan Dasa Dharma butir keenam—Pramuka harus gembira, biarpun kesasar di
hutan dan hampir digigit kelabang raksasa.
Namun di saat perasaanku sudah mulai sedikit lebih tenang, sesuatu yang
mengagetkan kembali terjadi.
“Astaga!” desis Alif terpaku.
“Ini mustahil!” Albert mengumpat.
Kami terhenti, mendapati sebuah pertigaan jalan lagi di depan kami. Dan
pertigaan ini tak pernah kami lihat sebelumnya!
Di tengah kesenyapan yang mencekam ini, ketika kaki-kaki kami terhenti
dalam kebimbangan, sesuatu dalam diriku menajam lagi. Kudengar lagi suara
pasangan kaki kedelapan, kesembilan, kesepuluh dan seterusnya. Mereka di balik
semak-semak, di belakang. Dan salah satunya sedang tertawa. Namun, sepertinya
cuma aku yang mendengar....
“Memangnya kita tadi ngelewatin pertigaan ini?” pertanyaan terlontar
dengan nada masygul dari mulut Neki. Aku tahu pertanyaan itu pun akan
dilontarkan oleh temanku yang lain andai tak didului oleh Neki.
“Ini jelas bukan pertigaan jalan yang pertama tadi. Tapi aku tidak ingat
kalau kita pernah lewat pertigaan ini,” ucap Alif tergagu. “Kalian ada yang
ingat kita pernah lewat sini?”
Tak ada yang menjawab ataupun sekadar mengangguk—bahkan menggeleng pun
tidak. Cemas dan keraguan melanda kami.
“Kita tersesat makin jauh, sepertinya,” timpal Wawan dengan suara
setengah tersumbat.
“Tapi kupikir kita tak pernah belok ke mana-mana, selain pertigaan yang
pertama tadi, jadi bagaimana kita bisa tersesat makin jauh?” sanggah
Alif—sepanjang perjalanan hiking ini,
baru kali ini aku melihatnya benar-benar tampak bingung.
“Tunggu apa lagi? Sudah, telepon Pembina! Nggak usah gengsi-gengsian
lagi! Telepon, cepat!” omel Rizal berang.
Bergegas dan campur gugup, Neki mengeluarkan ponselnya. Namun sejurus
kemudian dia seperti kehilangan tulang-tulang di kakinya; dia terjongkok di
tanah dengan wajah pucat. “Nggak ada sinyal...,” desahnya lirih.
Aku juga merasa seperti kehilangan tulang-tulangku mendengar hal itu.
Rizal memaki kata-kata kotor; Albert meracau seperti mau menangis; Alif,
Wawan dan Yoga tampak lebih tenang, tapi tetap tak bisa menutupi gurat panik di
wajah mereka. Neki mengayunkan ponselnya ke arah sana-sini, berharap menemukan
sinyal jaringan, bahkan beberapa kali ia sudah mencoba menelepon, tapi tetap
tak ada hasil.
“Blank....” desahnya lesu.
Beberapa saat kami semua hanya sanggup membisu. Alif yang pertama kali
membuka suara. “Mau tak mau, kita coba saja ambil salah satu jalan.”
“Kalau kesasar lagi gimana?” sahut Albert.
“Kita tinggalkan tanda di sini—di situlah kecerobohan kita sebelum ini,
kita tak meninggalkan tanda-tanda di jalan yang kita lewati,” jelas Alif. Lalu
dengan cekatan dia langsung mempraktikkan idenya; dia memotong tali miliknya
seutas, lalu mengikatkannya ke salah satu batang pohon. “Ini sebagai tanda kita
pernah berada di pertigaan ini. Sekarang, kita coba ambil jalan sebelah kanan
dulu; kalau kita tadi sudah melewatinya pasti akan ada apa saja yang bisa kita
ingat di jalan itu. Sementara itu, kita tetap akan tinggalkan tali penanda juga
untuk berjaga-jaga semisal ternyata kita harus balik arah lagi. Kita coba jalan
sekitar lima atau sepuluh menit, kalau sepertinya tak ada sesuatu yang bisa
kita ingat dari jalan itu, artinya kita tadi tidak lewat situ, dan kita harus
balik arah menuju kemari lagi.”
“Lalu tinggal ambil cabang jalan yang satunya,” sambung Wawan.
“Betul,” timpal Alif.
“Kenapa tidak dibagi menjadi dua tim saja, Lif? Masing-masing coba jalan
yang berbeda, gitu?” kali ini Yoga mulai ikut berinisiatif.
“Jangan. Lebih baik kita tetap satu tim! Jadi kalau ada apa-apa, kita
bisa atasi bersama, tidak terpecah. Lagian, kita bertujuh, angka ganjil, tak
bisa dibagi dua,” papar Alif.
“Oke. Masuk akal,” gumam Albert.
“Ayolah, kita tak boleh putus asa!” tandas Alif meyakinkan dan
menyemangati teman-temannya.
Aku, “Ya, menurutku itu tindakan paling tepat.”
Neki, “Ya sudah.”
Wawan, “Siap!”
Yoga mengangguk meski raut wajahnya masih kelihatan ragu.
“Terpaksa,” dengus Rizal.
“Sanggha Pendobrak, majuuu...!” seru Albert, mencairkan suasana dengan
kelakarnya. “Masa, sih, kita nggak bisa balik? Yang benar saja.”
Beberapa dari kami mulai tersenyum lagi, semangat kembali bangkit.
Sebetulnya, kalau mau mengambil sisi positifnya, insiden seperti ini bisa
menjadi pengalaman yang mengasah mental kami. Sepulang dari gunung ini—kalau
kami memang berhasil pulang—tentu ini bisa menjadi cerita seru untuk kami
pamerkan ke teman-teman kami yang lain. Alif akan punya cerita bahwa dia pernah
memimpin sebuah tim untuk keluar dari hutan yang membingungkan; Albert bisa
memamerkan pengalamannya digerayangi kelabang besar tanpa tergigit, dan mungkin
dia bisa sedikit mengibul pada beberapa bagian—bahwa dia tak menangis,
misalnya; siapa pun dari kami bertujuh bisa menjadikan ini sebagai cerita yang
seru, asalkan tidak malu dan bersedia memandang dari sisi positif.
Sejujurnya, aku pun menemukan pengalaman khususku sendiri, sesuatu yang
tak kuceritakan kepada teman-temanku karena aku tak ingin mengganggu nyali
mereka. Kalaupun itu tak membuat mereka takut, aku tetap tak ingin ditertawai
karena dianggap menceritakan omong kosong atau takhayul. Tak setiap orang mau
menerima hal-hal yang terdengar musykil atau di luar nalar. Memang tak semua
orang peka terhadap sesuatu yang tak kelihatan. Ya, aku sedang membicarakan
langkah-langkah di belakang kami yang tak pernah tampak itu.
Celetuk Rizal ketika kami baru memasuki hutan ini ada benarnya, bahwa
hutan ini angker. Aku juga merasakan ada yang mengusik di hutan ini; bukan
hanya para pengekor tak terlihat, tetapi cukup banyak lainnya dan ini sulit
untuk kujelaskan—bagaimana mendeskripsikan sesuatu yang tak terlihat tanpa
terdengar mengada-ada?
Namun, kalau kau percaya pada hal-hal yang sering disebut takhayul oleh
orang lain, maka mungkin kau pun sudah maklum bahwa status “angker” sebetulnya
bisa dimiliki oleh banyak tempat yang sehari-hari kita temui. Kita sepertinya
sudah familiar dengan ungkapan seperti: “setan itu ada di mana-mana, bahkan di
hati manusia pun bisa”; atau “makhluk halus itu bisa berada di mana-mana, hanya
saja ada yang terlihat dan ada yang tidak, ada yang bisa melihat dan ada yang
tidak”. Mengingat hal itu, sebetulnya tak ada yang mengejutkan ketika sebuah
hutan memiliki status sebagai “hutan angker”, sebab bisa jadi semua hutan
memang angker adanya, seperti juga tempat-tempat yang bukan hutan pun bisa
angker. Hanya saja, umumnya hutan berjauhan dari permukiman manusia, itulah
masalahnya. Begitulah hutan yang sekarang kujelajahi bersama keenam temanku;
jika terjadi sesuatu yang fatal, maka jelas akan sangat mengkhawatirkan. Kami
selamat dari kelabang, tapi bagaimana dengan ancaman lainnya? Aku tak merasakan
para pengekor tak terlihat itu bersikap mengancam, tapi siapa tahu aku salah?
Aku memikirkannya saja takut, jika kukatakan maka aku menularkan ketakutan itu
ke teman-temanku.
“Di depan sepertinya ada rerimbunan yang...,” gumam Wawan tersendat dan
ragu-ragu, seraya menunjuk ke depan, “kelihatannya ada sesuatu....”
“Ini jelas bukan jalan yang kita lalui tadi, Lif,” ujarku waspada,
mengingatkan.
“Sebentar, kita lihat dulu saja. Aku tertarik dengan tempat rimbun itu,”
cetus Alif.
Tentu saja, yang namanya hutan, sebagian besar adalah tempat yang rimbun.
Namun yang ada di depan kami itu—sekitar 30 meter lagi—memang tampak sebagai
rerimbunan yang berbeda. Tempat itu bahkan terlalu gelap untuk kondisi di siang
hari. Mungkin pikir Alif itu bisa menjadi pilihan yang cocok untuk duduk-duduk
ketika lelah, atau tempat menunggu para junior untuk diplonco. Bisa dijadikan
Pos Dua mungkin, pikirnya. Namun aku tidak yakin.
Maka, ketika yang lain terkejut, aku tak terlalu terkejut, meski
perasaanku tetap bergidik. Rerimbunan yang kami hampiri ini terbukti bukan Pos
Dua. Sebab tak ada satu pun senior yang menunggu kami di sini. Yang menunggu
kami hanyalah batu-batu besar yang tersusun dalam genggaman akar-akar pohon tua.
“Tempat apa ini?” cekat Albert gagu.
“Kuburan?” Neki menyahut agak ragu.
“Tempat setan!” terlontar sahutan yang dingin—suara Rizal, dengan wajah
membesi.
“Hati-hati kalau bicara, Zal...!” timpal Yoga sedikit berbisik—rasa cemas
yang tak terhindarkan.
Jalan yang kami ambil tadi berhenti di sini, tak ada pilihan jalur lagi
selain berbalik. Pohon tua di ujung jalan ini begitu besar dan lebat, dan
bersulur-sulur—aku tak tahu apakah ini beringin ataukah jenis yang lain.
Akar-akarnya merajai tanah di sekitarnya, bahkan mencengkeram batu-batu besar
di bawahnya, bagai jari-jari monster yang sanggup meremas apa saja yang
dipegangnya. Batu-batu di sekitarnya membentuk semacam pola meski kondisinya
sudah tidak rapi dan tidak utuh. Kuteliti pada beberapa bagian, dan kutemukan
pahatan-pahatan yang telah aus—dulunya pasti sebuah relief. Aku juga melihat
beberapa bekas dupa batang dan takir sesaji.
“Ini bukan kuburan. Ini sisa-sisa candi,” kataku.
“Dan aku menemukan ini!” Wawan menunjukkan sebuah papan kayu yang
sepertinya telah tercabut dari tempatnya, dan di situ tampak serangkaian
tulisan abjad.
“SITUS CAGAR BUDAYA”, begitu bunyi tulisan yang paling besar.
“Berarti, setidaknya, kita masih di alam manusia, 'kan?” Alif menanggapi
disertai seselip tawa kecil—perasaan lega dan sedikit sindiran bagi anggota
yang penakut.
“Ini semacam punden. Peninggalan kuno, sama seperti Candi Sukuh, hanya
saja ini lebih kecil dan terbengkalai,” tambahku. Yang tak kukatakan adalah, “Meskipun ini adalah tempat manusia, bukan
berarti tidak angker.”
“Ya sudah, cepat kita balik saja! Ngapain kita lama-lama di tempat
berhala macam ini?!” Rizal menimpal dengan kegusarannya yang masih saja
diumbar, seraya menyepakkan kakinya ke batu-batu di undakan. Dan terjadilah apa
yang tak kukukatakan tadi....
“Zal, awas!” teriak Alif seketika.
Aku melihat dengan jelas Rizal terpelanting, dan....
Dukkkk...!
“Aaaggghhhhh...!” Rizal mengerang keras saat tubuhnya terjembap ke tanah.
Tubuhnya meringkuk dengan kedua tangan memegangi lutut...!
“Zal, kamu nggak apa-apa, Zal...?” seru Yoga yang paling sigap
menghampiri.
Kami semua berkerumun memeriksa kondisi Rizal. Tampak ada yang merembes
dari balik kain celana Rizal. Darah!
“Ya Allah, Zal...! Kakimu...?” Alif terbelalak.
Rizal terus meringis kesakitan, matanya terkatup erat menahan sakit.
“Kamu sembarangan, sih! Kualat kamu!” desis Yoga bergidik.
“Sudah, jangan komentar yang bukan-bukan!” tukas Alif.
“Aku lihat dengan jelas, dia terpeleset tadi. Tempatnya berlumut begini,”
imbuh Wawan. Pikiran rasional memang diperlukan untuk menepis perasaan takut.
Lalu tiba-tiba terdengar suara yang menyayat dan begitu mengagetkan. Kami
spontan menengok; seekor makhluk bersayap berwarna coklat kayu bertengger di
salah batu besar dan terus bersuara dengan suara nyaring, seolah-olah ia tengah
menertawai kami dengan rentetan suaranya itu.
“Hus, hus...!” Albert mengusir burung itu dengan melemparkan ranting
kering, membuatnya terbang menghilang ke pepohonan.
“Angkat celanamu!” kata Neki ke Rizal.
Rizal mengangkat kain celananya ke atas, sehingga lututnya sekarang bisa
terlihat dengan jelas. Memar besar itu mengucurkan darah segar.
“Ada yang bawa perban?” tanya Neki ke semua.
Semua menggeleng.
“Tapi aku bawa cadangan stang leher. Bisa dipakai?” cetus Wawan.
“Udah nggak papa, sini!” tukas Neki.
Wawan mengobok-obok sebentar ke dalam ranselnya, lalu mengeluarkan sebuah
kain agak lebar berwarna merah putih—kain yang biasanya dipakai sebagai “dasi”
Pramuka. Wawan mengulurkannya ke Neki. Neki menerimanya dan segera membalut
lutut Rizal yang terluka dengan kain itu.
“Yang penting darahnya berhenti keluar,” gumam Neki sambil membalut.
Dalam menit yang singkat, balutan itu selesai. Rizal masih mengerang
lirih menahan sakit, tapi kucuran darah di lututnya terlihat sudah berhenti.
Neki mencuci tangannya dengan air mineral dalam botol yang dibawanya,
lalu mengusap tangannya dengan semacam cairan antiseptik. “Makanya, jangan
banyak tingkah!” lontarnya ke Rizal, ketus.
“Jangan asal bicara juga! Kita nggak tahu kita ini sedang di tempat apa,”
imbuh Albert dengan suara dingin.
“Kita ada di bekas candi,” Wawan mencoba meluruskan—usaha yang sebetulnya
tak penting juga.
“Iya, jelas kita memang di bekas candi,” tukas Albert. “Tapi kita nggak
kenal tempat ini. Kita nggak tahu kalau ada apa-apanya yang bisa bikin celaka!”
“Rizal celaka karena kecerobohannya sendiri,” Wawan membalas.
Sementara itu Rizal terus meringis dan mengernyit, mungkin terlalu
kesakitan untuk mendengar dan menggubris teman-temannya. Kami mengaturnya duduk
di tanah bersandar batu undakan, supaya posisinya lebih nyaman dan sakitnya
lebih mudah teratasi.
“Untung Neki hebat,” gumam Yoga.
“Aku ikut PMR waktu SMP,” balas Neki simpul. Dia tampak merasa bangga.
“Terus gimana sekarang? Kamu bisa jalan, Zal?” tanya Alif.
Rizal menggeleng. “Belum bisa kayaknya. Sakit banget...!” erangnya.
“Kayaknya parah itu. Bekasnya sampai biru,” desah Albert terlihat mulai
putus asa lagi.
“Tungguin
saja dulu, Lif. Nanti kalau dia sudah kuat, kita lanjut,” cetus Yoga.
Alif mengangguk. Wajahnya juga tampak sudah terlalu letih. Inilah hari
sialnya sebagai seorang Pimpinan Sanggha; memimpin sanggha yang kesasar,
sedikit-sedikit bertengkar, dan sekarang anggota paling menyebalkan mengalami
kecelakaan karena ulah bodohnya. Lengkap! Tersirat di wajah Alif, seakan-akan
dia juga ingin mengumpat sejadi-jadinya. Namun dia pandai mengendalikan diri.
Alif duduk menyendiri bertopang dagu di salah satu sudut; Wawan berdiri
saja dan sesekali mondar-mandir sendiri; Neki mondar-mandir di bagian yang lain
untuk mencari sinyal ponsel; Albert di sudut lain duduk menggeloso di tanah;
Yoga duduk di dekat Rizal untuk menemaninya. Membisu dan hampir semuanya
memisah sendiri-sendiri.
“Sudah ada sinyal belum, Nek?” tanya Albert tanpa memalingkan wajah
kosongnya.
“Belum,” Neki menjawab tanpa semangat.
Kulihat Wawan mulai sibuk dengan sesuatu; dia berjongkok mengerjakan
sesuatu, seperti sedang mengasah semacam benda kecil di atas ranselnya. Aku tak
ingin tahu. Aku pilih mencari tempat yang lebih tenang saja. Maksudku: tempat
yang bisa menghindarkan mataku dari pemandangan wajah-wajah letih dan tidak
damai itu. Sebetulnya itu pemandangan yang manusiawi juga; siapa pun akan
merasa gundah dan tidak tenang jika berada di situasi kami. Aku sendiri yakin
kami bisa pulang dengan selamat, kecuali kami lebih dulu menyerah kepada luapan
emosi gara-gara harus merawat dan menunggu orang menyebalkan yang kakinya
bengkak! Jujur, aku pun lama-lama bisa emosi sendiri kalau tidak segera mencari
pemandangan lain yang lebih menenangkan.
“Mau ke mana, Fan?” Alif menanyai dari tempat duduknya yang agak jauh.
“Cari tempat yang lebih nyaman buat istirahat,” sahutku.
“Jangan jauh-jauh dari sini,” Alif mewanti-wanti.
Aku mengangguk sambil jalan.
Kudapati sebuah pohon rimbun lainnya; tak sebesar pohon bersulur tadi,
tapi akar-akarnya juga cukup menggila, membentuk celah-celah yang enak untuk
diduduki sambil menyandarkan punggung. Kunyamankan diriku di antara akar-akar
yang kokoh. Sambil bersandar, kupejamkan mata untuk menemukan perasaan yang
lebih relaks.
“Kami bisa pulang, kok,” ucapku
dalam hati, berkali-kali. “Kami pasti
pulang. Pasti.... Pasti....”
Tiba-tiba suara burung yang tadi kembali terdengar, dan lagi-lagi dengan
cara yang mengagetkan. Mataku terbeliak lagi, mendapati burung itu sedang
menjingkat-jingkat di tanah. Binatang itu menatapku, menyadari keberadaanku. Ia
berkicau sepenggal-sepenggal, seperti mencoba berkata-kata padaku. Kami mengadu
mata beberapa saat. Lalu ia terbang lagi. Makhluk itu terbang karena dikejutkan
oleh kedatangan orang kedua.
“Burung itu lagi?” sergah Neki; dia memandang selama beberapa detik ke
arah terbangnya burung tadi, seperti orang sedang memandangi tamu yang
dibencinya dengan tatapan mengusir dan membiarkannya pergi dengan ucapan dalam
hati, “jangan pernah muncul lagi di hadapanku!”
Namun, menurutku kamilah yang “tamu” di sini. Kamilah yang seharusnya
dipandangi dengan “tatapan mengusir”—oleh burung tadi ataupun para pemilik “langkah-langkah
yang tak terlihat”. Sejauh ini aku masih lega, “tatapan mengusir” itu tak
kurasakan. Mungkin cuma Rizal yang mendapat tatapan itu.
“Stres, Fan?” lontar Neki padaku. Dia berdiri saja, sementara aku tetap
duduk di tempatku.
“Semuanya stres. Kamu tidak?” balasku datar.
Neki tertawa pendek. Wajahnya melengos dengan sinis. “Lu tahu nggak, sih,
rasanya pengin kubunuh aja tuh si Rizal!”
Darahku berdesir-desir sesaat. “Jangan sembarangan kalau bicara. Kita
semua menanggung beban di sini. Semuanya juga kesal, tapi bisa menahan diri,” ujarku.
Neki tertawa mendengus. “Kalau aku nggak sadar itu, ya pasti beneran
sudah kubunuh dia. Bikin susah terus!”
Sekarang Neki juga menjadi orang yang membuatku kesal dengan omongannya
yang tak perlu. “Padahal aku sudah terkesan waktu kamu menolongnya. Kalau begitu,
kenapa kamu tolong dia?”
“Sengaja. Biar dia malu! Dia bisanya cuma ngomong, maki-maki. Sekarang,
ketahuan siapa yang lebih baik.”
Aku tercenung. “Oh. Jadi sebetulnya itu tadi soal gengsi, ya? Bukan soal
solidaritas?” Lalu aku tertawa sendiri.
Neki diam. Namun sorot matanya tak berhenti berbangga diri. “Padahal, sebetulnya
dia seksi juga. Iya, 'kan?” tiba-tiba dia malah berceletuk dalam kalimat yang
terdengar ganjil.
“Seksi?” aku mengulang, agak tak mengerti.
“Rizal. Badannya bagus, berotot. Seksi, 'kan?” Neki menatapku beberapa
detik, lalu dia tertawa sambil melengos. “Ah, mungkin lu lebih fokus ke tampang
daripada ke badan, ya, Fan? Kalau gitu, pasti Alif lebih menarik buat lu,
'kan?”
Aku memandangi Neki dan berusaha memahami apa yang sebetulnya ingin dia
bahas denganku. “Aku nggak ngerti pembicaraan ini sebetulnya mau ke mana,”
gumamku mencoba cuek.
“Udah deh, Fan, nggak usah pura-pura. Aku tahu kok kalau lu 'sakit'.”
Kali ini aku betul-betul terganggu. “'Sakit'? Maksudmu apa, tho?” tukasku.
Dia tertawa lagi. “Ya ilah... kita ini sama, Fan! Aku tahu kok, anak
'sakit' kelas dua yang namanya Dimas itu pacar lu, 'kan? Semua orang di sekolah
juga udah pada tahu kalau dia 'sakit'. Aku pernah beberapa kali lihat kalian
berdua. Jadi gampang disimpulkan, lah. Aneh aja kalau lu normal tapi mau
deket-deket sama dia. Radarku nggak jelek, ya, Fan!”
Tujuanku mencari ketenangan di sini gagal. Rasanya aku ingin bangkit lalu
menonjok mulut Neki sekarang juga! Namun itu hanya akan menambah keonaran di
sanggha yang sedari tadi sudah bersusah payah mengatasi nasib sial ini.
“Jadi kamu suka menyebut dirimu sendiri 'sakit', ya?” aku membalas
omongan Neki. Aku bangkit untuk berhadapan sama tinggi dengannya. “Nggak ada
yang sakit, Nek. Tapi kalau orang-orang yang secara tak sadar merendahkan diri
sendiri, sepertinya banyak. Kalau kamu menganggap dirimu itu sakit, yang harus
kaulakukan cuma satu: cepat-cepat berobat saja. Kecuali kalau kamu memang
bangga menyandang status 'orang sakit'. Kalau aku, sorry, aku tidak merasa sakit.”
“Lu gay, 'kan? Kenapa marah? Kita memang sakit, nggak normal. Kalau kita
normal ya mestinya nggak suka sesama cowok, dong? Terima sajalah. Nggak usah
munafik. Dan aku juga nggak ngarep kamu khotbah!” Suaranya pelan, tapi membuat
gatal telinga.
“Ya, aku marah, bercampur geli. Tapi aku nggak khotbah. Aku cuma menjawab
cara berpikirmu yang tiba-tiba kaubawa kemari,” balasku dengan mencoba tidak
tegang. “Tebakanmu soal aku dan Dimas tidak salah, kok. Tapi, kaupikir aku baru
tahu sekarang kalau kamu juga gay? Sudah dari dulu!” Sekarang ganti aku
tertawa. “Tapi kautahu, aku nggak pernah ungkit-ungkit itu, sebab menurutku
identitasmu itu ya urusanmu sendiri. Bahkan sebetulnya terserah kamu juga kalau
mau menyebut dirimu 'sakit'. Tapi jangan sebut aku dengan istilah itu. Aku
nggak sakit.”
Sorot mata Neki menajam padaku—seperti sorot mata ketika dia membicarakan
Rizal yang dibencinya. “Lu mau nganggap diri lu waras, gitu? Tapi kalau orang
lain lebih suka nyebut lu 'sakit', terus mau apa?”
Aku membalik, “Lha kamu sendiri
gimana? Mau terima begitu saja?”
Dia terlihat mulai ragu. “Di dunia ini lebih banyak orang yang membenci
kita,” balasnya—sepertinya itu tak menjawab pertanyaanku.
Aku menghela napas. “Kamu tahu, kenapa banyak orang belum bisa menghargai
gay? Karena banyak gay yang belum bisa menghargai dirinya sendiri. Bahkan gay
sendiri masih banyak yang menganggap dirinya 'sakit'.”
“Memangnya kalau kita bilang kita 'sehat', terus otomatis mereka nggak bully kita lagi?”
Aku tertawa. “Dan kalau kita sepakat dengan istilah yang mereka bikin
bahwa kita ini 'orang-orang sakit', memangnya mereka jadi berhenti bully kita juga? Nggak, 'kan? Pada
dasarnya, entah mereka itu mau bully
kita atau tidak, kenapa kita harus memakai label yang tidak mencerminkan diri
kita? Tapi, kembali ke pribadi masing-masing, sih. Kalau kamu memang merasa
sakit, ya itu hakmu untuk menyebut diri 'sakit'.”
“Memangnya lu bener-bener ngerasa nggak ada yang salah dengan diri lu?
Cowok 'kan harusnya suka sama cewek? Kodratnya 'kan gitu? Kita ini nggak
normal. That's it!”
“Mungkin memang nggak normal. Tapi apakah nggak normal itu berarti sakit?
Kidal itu juga nggak normal, tapi apakah itu bisa disebut sakit? Nggak normal
itu berbeda dari kondisi pada umumnya, itu saja.”
“Kidal itu bawaan. Homo itu
pilihan.”
“Kalau begitu kenapa kamu tidak pilih 'sembuh' saja? Daripada
terus-menerus mengeksploitasi kondisimu yang 'sakit', lebih baik kamu usaha
yang serius untuk cari obatnya, 'kan? Cari cewek, atau sekadar ngomongin cewek,
siapa tahu itu bisa jadi obatnya. Bukan malah datang-datang kemari ngomongin
seksinya si Rizal.”
Dia diam. Bibirnya digigit-gigit sendiri, tangan bersilang di dada dan
pinggang terangkat sebelah. Aku mau tertawa. Ini sungguh percakapan yang amat
melenceng dari situasi, tidak relevan dengan keadaan. Seharusnya kami
membicarakan bagaimana caranya keluar dari hutan ini, bukan malah membicarakan
“sakit-tidaknya” homoseksual—tapi setidaknya sekarang aku jadi tahu bahwa topik
yang berbobot ternyata bisa menjadi konyol karena dibicarakan di momen yang
salah.
“Lu nggak belajar dari pacar lu, ya?” kali ini tiba-tiba dia menggumamkan
kalimat yang terdengar lebih sinis dari sebelumnya. “Lu nggak belajar dari
kasus si Dimas waktu dia dikeroyok rame-rame karena dia gay? Kenapa mereka bisa
sebenci itu ke orang-orang seperti kita? Mungkin lu bener, gay itu bukan sakit.
Tapi orang-orang tetap menganggap kita ini 'penyakit', Fan.”
Emosiku hampir saja terpancing karena dia lagi-lagi mengungkit Dimas.
“Memang ada yang benci, kok. Tapi tidak semua orang. Dimas punya teman-teman straight yang tetap bisa terima dia apa
adanya. Dan teman-temannya itu juga bisa menerimaku. Nggak semua straight itu sejahat yang kaubilang.”
Dia melengos padaku dan melempar senyum sinis lagi—andai aku adalah Denis,
jelas sudah kubikin babak belur dia. “Asyik, ya, punya temen-temen straight yang bisa nerima lu apa adanya?”
cibirnya, makin menguji pengendalian emosiku. “Saat ini lu memang masih di
posisi aman aja, Fan. Paling-paling temen straight
yang lu punya, yang lu bilang bisa nerima lu apa adanya itu, ya kembarannya si
Dimas itu, ‘kan? Saat semua orang bener-bener udah tahu kalau lu tuh gay, lu
yakin yang jadi temen lu bakal lebih banyak dibanding yang benci lu?”
“Ngapain semua orang harus tahu aku pacaran sama cowok atau cewek?
Memangnya aku superstar yang segitu pentingnya diketahui semua orang?” Aku
tertawa sebentar, lalu kembali serius. “Dan jangan sok tahu soal Dimas ataupun
saudaranya. Sorry, ya, ini bukan
karena salah satu dari mereka adalah pacarku, tapi karena aku memang kenal
mereka berdua, dan menurutku cara berpikirmu belum level untuk mengomentari mereka.”
Melihat sorot mata Neki, aku tahu dia tak akan bisa melupakan kata-kataku
untuk waktu yang amat lama. Meskipun itu berarti aku telah menyakiti harga
dirinya, aku tak peduli. Dia yang cari masalah.
“Jadi lu pikir aku bodoh banget, ya?” Dia tertawa sengau. “Oke.
Bodoh-bodoh begini, aku bisa kok buktiin omonganku tadi—saat semua orang tahu
kalau lu gay, lu baru akan ngerti seperti apa 'sakitnya' jadi nggak normal!”
Sekarang aku merasakan nada yang mengancam. “Maksudnya apa kata-katamu
itu?” sergahku dingin.
“Ya pikir aja sendiri!” tukasnya disertai sungging mengejek. Kami saling
memandangi dengan tatapan yang tak akan menyenangkan bagi siapa pun yang
melihatnya; sungguh, aku ingin sekali menonjoknya!
Namun, perasaan jengkelku perlahan berubah menjadi kasihan. “Punya teman straight yang toleran itu memang asyik. Satu,
dua, atau tiga teman baik itu sudah cukup bagiku, tak perlu semua orang di
dunia ini harus menerimaku dan jadi temanku. Sayangnya, sepertinya satu saja kamu
nggak punya, ya? Mungkin karena prasangkamu terlalu buruk dan menyamaratakan
mereka. Siapa pun tak akan tertarik berteman dengan orang yang punya sifat
seperti itu. Entah gay ataupun straight.”
Dia buang muka dan mendengus. “Masih sok bijak aja lu? Ya udah, lihat aja
nanti!”
“Oke, kita lihat saja, kalau kau memang bermaksud mengancamku. Kau tak
bisa menyebarkan hal-hal tentangku yang menurutmu bisa menghancurkanku, tanpa
membuat dirimu sendiri tampak lebih buruk.” Lalu kembali tawaku tak mampu
kututupi, kuurai rendah-rendah. “Aku tak mengira hatimu seburuk itu, Nek.
Betul. Aku tak pernah mengira.”
Dia itu sudah bukan sensi lagi, tapi beneran 'SAKIT'!
“Jadi lu lebih baik, ya?”
“Bagiku tak penting apakah aku ini lebih baik dari siapa. Tapi kalau
menurutmu kau lebih baik, okelah, kutunggu buktinya!” balasku, pergi
meninggalkannya. Ngapain meladeni orang yang ngotot menyebut diri 'sakit'?
Lama-lama aku bisa ketularan sakit jiwa!
Aku kembali lagi ke tempat teman-temanku berkumpul. Kulihat Albert masih
duduk menggeloso di tempatnya yang tadi. Yoga masih menemani Rizal. Wawan
sedikit bergeser dari tempatnya yang tadi, tapi dia masih melakukan semacam
kesibukan yang tak bisa dijelaskan kalau tidak mengamatinya dari dekat, dan bersamaan
dengan kembaliku dia berseru ke kami semua.
“Teman-teman, ini aneh...! Cepat, lihat kemari!”
Aku dan Albert menghampiri secara bersamaan. Alif menyusul. Sedangkan
Yoga acuh tak acuh di tempatnya bersama Rizal.
“Apa itu, Wan?” tanya Alif.
Ada sebuah gerabah usang teronggok di tanah yang menggunduk, itulah yang
sedang diamati Wawan, dan dia telah membuat keempat temannya ini turut
mengamati pula. Tepatnya bukan gerabah itu yang menjadi pusat perhatian, tetapi
sesuatu yang ada di dalamnya. Gerabah itu berisi air, dan di atas permukaan air
itu ada kotak kertas bekas bungkus korek api yang mengapung, dan di dalam kotak
itu terdapat potongan cutter. Kotak
kertas itu berputar pelan, terus berputar....
“Kompas?” Alif menebak jawaban dari pertanyaannya tadi.
“Betul. Potongan cutter
ini punya daya magnet. Dengan landasan kertas yang mengapung, seharusnya cutter ini berputar dan berhenti dengan
ujung yang menunjuk ke kutub selatan dan utara,” jelas Wawan.
“Wow...! Kok cutter-nya
bisa jadi magnet?” decak Albert.
“Kugosok dengan bandul magnet ini,” Wawan menunjukkan bandul
di resleting ranselnya. Kurasa itulah yang dikerjakannya ketika terlihat sibuk
dengan ‘sesuatu’ tadi—mengasah cutter
dengan magnet.
“Oke. Brilian!” puji Alif kagum. “Terus, pertanyaannya, kenapa kertas dan
cutter-nya tak berhenti berputar?
Kalau begitu mana selatan dan utaranya?”
“Itulah yang aneh,” desah Wawan dengan raut kecut. “Sepertinya ada medan
magnet lain di sekitar sini, sehingga kompasnya jadi kacau. Medan magnet
yang... lebih besar... mungkin.”
“Medan magnet? Di tempat kayak gini...?!” cekat Albert dengan wajah heran.
Dia menarik tubuhnya beringsut ke belakang, lalu memandang seputaran dengan
raut bergidik. “Katanya, kalau ada medan magnet yang terjadi secara misterius, itu
tandanya... ada sesuatu yang gaib?”
Kami semua berpandang-pandangan sesaat. Lalu Alif menukas, “Kata siapa?”
“Ya... kata orang-orang!” balas Albert kikuk. “Itu seperti fenomena di
Segitiga Bermuda, kalian tahu...?”
“Atau Jabal Magnet di Arab. Dan itu ilmiah, bukan ghoib,” tandas Wawan.
“Kalau bukan gaib, terus kenapa wajahmu juga ikut tegang gitu? Hayo?”
tuding Albert. “Kalau ilmiah, terus gimana jelasinnya kenapa bisa ada medan
magnet di sini? Yang di Arab mungkin ilmiah, tapi yang di sini gimana? Aku
bukannya anti-ilmiah, ya, tapi selama ada penjelasannya aku baru bisa percaya.”
Wawan tidak bisa menjawab. Alif juga terdiam.
“Ilmiah atau gaib, keduanya sah-sah saja,” kataku, menengahi. “Cuma,
tanpa mengurangi respek untuk ide brilian Wawan, sebetulnya kita tak perlu lagi
bergantung pada arah mata angin. Pakai Google Earth yang lebih canggih saja
kita tetap salah ambil jalan, kok? Kalau menurutku, kita tinggal balik saja ke
pertigaan sebelumnya, lalu ambil jalan yang satunya, itu tak mungkin keliru
lagi. Sesederhana itu.”
Ketiga temanku mengangguk setelah berpikir beberapa saat.
“Sebetulnya aku juga cuma iseng saja, sih, daripada bengong. Tak tahunya
sekarang malah tambah bingung,” desah Wawan kalut. “Jujur saja, menurutku
tempat ini memang aneh. Kompas terus berputar, ini jelas gejala aneh!”
Kami berempat kembali menunduk ke arah yang sama: kompas dari kotak
kertas dan potongan pisau yang terus berputar di atas permukaan air dalam
gerabah tua. Lalu Albert berceletuk, “Dan kita nggak nyadar, ya, kalau di sini lama-lama
makin gelap...?”
Kami menengadah. “Mendung,” desis Alif.
Kemudian, suatu suara yang begitu nyaring menyela dan mengagetkan kami lagi.
Burung itu datang lagi! Kicaunya merentet dan terasa mendorong detak jantung
menjadi lebih kencang!
Albert yang paling tampak paranoid, “Sudah, tunggu apa lagi? Cepat kita
pergi dari sini! Tempat ini nggak bener!” Dia membalikkan badan dan angkat kaki
mendahului kami.
“Hei, terus Rizal gimana?” sergah Wawan.
Albert berhenti dan menengok lagi. “Percuma nungguin dia sembuh! Sebulan
juga baru kempes bengkaknya!” serunya.
“Terus ditinggalin saja, begitu?” cecar Wawan.
“Pikiranmu di mana, sih, Wan?! Kamu bikin kompas dari silet saja bisa!
Apa gunanya bawa tongkat sama tali? Kita bikin tandu, kita gotong si Rizal!
Gimana sih kalian, ah?!” tukas Albert dengan nada seperti emak-emak gendut yang
mengomel, lalu menggeloyor lagi.
Wawan melongo. Begitu juga Alif. Aku juga sama. “Sekarang kita tahu,
otaknya tak selalu berada di perut,” gumam Wawan.
Alif, “Aku merasa khilaf.”
“Kenapa?” tanyaku.
“Sebetulnya aku sudah memikirkan ide itu sejak awal. Masalahnya, Rizal
terlalu menyebalkan untuk ditandu seperti raja. Rasanya kurang rela kalau harus
melakukannya.”
Wawan tertawa menimpali omongan Alif, “Iya. Dia raja yang terpeleset
gara-gara menendangi batu candi. Kurang bodoh apa lagi?”
“Saat menandunya, kalian tak harus memikirkan seorang raja,” kataku.
“Yang digotong itu tak selalu seorang raja. Bayangkanlah yang lain.”
Apakah yang biasanya digotong?
Bayangkanlah!
“Imajinasimu sepertinya terlalu kejam juga, Fan,” kritik Wawan.
“Dan menyeramkan!” sambung Alif.
“Aku membayangkan seekor celeng,” kataku.
“Itu tetap kejam,” tukas Alif. “Ayo, kita bikin tandunya!”
Kami mulai menjalankan opsi itu. Yoga yang tak ikut dalam pembicaraan,
setuju juga dengan ide itu setelah melihat kami mulai membuat tandu. Dua buah
tongkat dan segulung tali sudah cukup untuk menjadikannya alat penggotong. Alif
membuat semua simpulnya secara pakem, sesuai tips yang bisa dibaca di salah satu buku panduan tali-temali. Menurutku,
sebetulnya bisa memakai simpul apa saja selama dibuat secara kukuh. Namun dia telanjur
mengingat versi buku di luar kepala, jadi aku tak menginterupsi. Sepuluh menit,
jadilah!
Dan, “Guys, lihat...!” suara
Neki memekik, di saat kami baru tersenyum-senyum mengagumi tandu darurat yang
telah rampung dengan rapi. Kami menengok, melemparkan pandangan searah dengan
telunjuk Neki yang menuding ke kejauhan.
“Oohhh...! Thank God...!”
Albert berseru keras-keras, disahut oleh Alif secara hampir bersamaan, “Alhamdulillah....”
Ucapan-ucapan puji syukur yang lainnya sahut-menyahut dengan dilengkapi
raut-raut lega luar biasa, manakala kami melihat beberapa orang berdatangan
menuju ke arah kami. Dua di antaranya berseragam Pramuka: Kak Ramon dan Erik;
sedangkan dua lainnya bukan dari rombongan Pramuka, tetapi aku juga
mengenalinya. Mereka telah menemukan kami. Aku pun tak bisa menutupi
kelegaanku, sama seperti teman-temanku.
“Kenapa kalian bisa sampai sini?” Erik yang pertama kali menginterogasi
kami. Teman-temanku bergantian menjabat tangannya dan juga tangan Kak Ramon—aku
hanya menjabat tangan Kak Ramon.
“Salam Pramuka!” celetuk salah satu orang yang datang bersama para
‘Kakak’; dia adalah si Sarjana Sejarah, bersama kawannya yang katanya juga
sarjana—Sarjana Biologi kalau tak salah.
“Kami tersesat, salah ambil jalan,” jelas Alif dengan wajah kuyu, malu.
“Tapi kalian nggak apa-apa, ‘kan?” tanya Kak Ramon. Tapi kemudian dia
menyadari ada salah satu anggota sanggha yang teronggok di tanah dan sedang
menahan sakit—sebuah pemandangan yang tak bisa ditutupi. “Ya ampun, kenapa
dia?” seru Kak Ramon, seraya menghambur bersama Erik, menilik kondisi Rizal.
“Dia butuh bantuan, Kak,” jelas Alif sambil mengikuti di belakang para 'Kakak'.
“Dia terpeleset tadi. Kakinya luka agak parah.”
Rizal masih terlihat pucat dan kesakitan, tapi kali ini dia mencoba untuk
mulai tersenyum. “Aku lagi apes,” ucapnya, membuang muka, tampak malu.
Selagi teman-temanku dan para Bantara mengurusi kondisi Rizal, aku
mengurusi para sarjana. “Ketemu lagi, ya,” sapa si Sarjana Sejarah padaku. Lalu
dia menyindir, “Kalian sengaja mau bikin para Pembina pusing, atau bagaimana?”
“Jalan-jalan ini terlalu membosankan. Jadi kami main petak umpet,”
sahutku.
“Kalian main petak umpet di tempat yang salah. Kamu pasti tidak tahu, ada
jenis-jenis hantu yang suka ikut main petak umpet untuk mencari anak yang
sembunyi di tempat yang salah, lalu anak itu dibuat sembunyi selamanya. Atau,
kalau agak beruntung, cuma disembunyikan selama beberapa hari, lalu
dikembalikan dalam keadaan linglung.”
“Aku tahu, kok,” balasku.
Sarjana yang semula berniat bergurau denganku itu sekarang mengubah
ekspresinya; alisnya meliuk sebelah dan senyumnya miring. “Kamu tahu?”
“Kok Anda ikut kemari?” tanyaku, mengalihkan pembicaraan.
“Ah, iya... kami ketemu
senior-seniormu itu di jalan. Mereka bertanya apakah kami melihat kalian. Sebab
mestinya kalian sudah tiba di semacam pos perhentian, tapi kalian belum tiba
juga,” jelasnya runtut. “Kami sendiri sedang jalan-jalan, dan tak merasa pernah
bertemu kalian di perjalanan. Jadi, kami bantu mereka mencari.”
“Anda, dan teman Anda, jalan-jalan di sini? Di hutan?” selidikku agak
heran.
“Aku sering kemari. Ada banyak situs arkeologis berserakan di gunung ini,
dan tentu saja itu menarik bagi orang sepertiku. Bahkan, diam-diam para
peneliti dari luar pun penasaran sekali dengan situs-situs di gunung ini. Kamu
tahu, Candi Sukuh itu bentuknya menyerupai piramid suku Maya, 'kan?” terangnya
lebar, disertai gesture tangan yang
meyakinkan. Lalu dia menunjuk temannya yang sedang jalan-jalan sendiri
mengitari situs, “Dan dia itu orang Biologi; dia suka mengamati
tumbuh-tumbuhan, tapi belakangan dia juga suka burung. Dia dengar, entah dari
mana, bahwa gunung ini masih menyimpan habitat Elang Jawa. Kamu harus tahu,
Elang Jawa itu burung yang paling mendekati gambaran Garuda—burung mitologis
yang menjadi lambang negara kita. Dan kita tahu, di Candi Sukuh yang mirip
piramid itu juga terdapat beberapa arca dan relief Garuda. Seperti itulah
misteriusnya gunung ini.”
Aku tercenung mendengarkan omongan sarjana itu. Lalu aku ganti membagikan
pengalamanku, “Aku melihat burung yang lain. Bukan Elang. Sudah beberapa kali
menampakkan diri di sekitar kami. Dan aku yakin itu individu yang sama, bukan
burung lain yang kebetulan satu spesies.”
Alis sarjana itu meliuk lagi, tapi kali ini senyumnya tidak miring.
“Burung temanmu?”
Aku menatapnya agak serius.
“Kadang, anak-anak seusia kalian suka kencing berjajar, lalu melirik 'punya'
teman,” celetuknya cengengesan. Setelah beberapa detik melihat bahwa aku
serius, dia menambah, “Tapi sepertinya kau bukan remaja yang seperti itu.” Lalu
dia tertawa sendiri. “Jadi burung apa yang kaulihat?”
“Sepertinya sejenis Prenjak,” kataku.
“Hmm. Bukankah itu pertanda
baik?”
Aku mengangguk. “Jadi Anda juga tahu mitos itu?”
“Well. Jadi begini, ya; ilmu
Sejarah dekat dengan ilmu-ilmu tentang budaya dan masyarakat. 'Orang Sejarah'
yang baik pasti juga paham soal mitos, dongeng, legenda dan sebagainya itu.
Takhayul dan rasionalitas itu seperti tetangga yang belum saling memahami satu
sama lain, itu saja.”
“Jadi, Anda percaya takhayul?”
“Tergantung. Bahwa burung Prenjak adalah pembawa tanda baik? Lalu kenapa
temanmu celaka?”
Aku tertawa rendah. “Dia celaka karena ulahnya sendiri.”
Dia memandangiku agak lama, disertai senyumnya yang kadang terasa agak
jahil. Kadang senyumnya itu juga terasa merayu. Tapi aku tak tertarik pada
laki-laki yang usianya jauh di atasku—ya, silakan sebut aku besar kepala. Lagi
pula aku sudah punya kekasih.
“Bertemu hal aneh lainnya di sini?” lontarnya—dia berhenti memandangiku
dan mulai mengamati sekeliling.
“Kompas tidak berfungsi di sini. Anda tahu kenapa?” tanyaku.
Dia tertegun. “Kompas tidak berfungsi?”
Aku mengajaknya untuk mengamati kompas buatan Wawan. Dia sempat meragukan
potongan cutter itu sebagai kompas,
tapi aku meyakinkannya bahwa kompas darurat itu dibuat dengan prosedur yang
semestinya dan seharusnya bisa bekerja sebagaimana kompas tulen.
“Kenapa kompas ini terus berputar? Bukankah ini aneh?” tanyaku.
Lalu dia memanggil kawannya, si Sarjana Biologi, untuk turut mengamati.
“Kau bisa jelaskan, kenapa kompas ini jadi begini?”
Sarjana Biologi itu tampak tenang. Raut mukanya tampak penasaran, tetapi
tidak menjurus ke panik ataupun takut. Dia mengetuk-ngetuk gundukan tanah yang
menonjol di bawah gerabah. Dia terpekur. Lalu perlahan-lahan dia
tersenyum—senyum takjub. “Aku boleh menggali di sini?” gumamnya, bertanya.
“Tolong, apakah aku boleh mengukir namaku di bunga Raflesia? Ini cagar
budaya dan sejarah, kau tak bisa seenaknya tanpa izin resmi.”
“Oke. Kalau begitu aku hanya bisa membuat perkiraan. Gundukan ini adalah
rumah rayap. Sepertinya ada koloni yang cukup besar di bawah sana.”
Aku tercengang mendengar omongan Sarjana Biologi itu.
“Rayap adalah binatang yang memiliki organ berelemen magnet. Fungsi
magnet adalah untuk mengenali arah di dalam sarang mereka, sebab sarang mereka
bisa memiliki lorong-lorong yang sangat kompleks. Jika koloninya cukup besar, maka
unsur magnetnya bisa cukup kuat pula untuk mempengaruhi benda-benda di sekitarnya,
terutama benda yang bekerja dalam sistem magnet,” paparnya meyakinkan. “Aku
pernah meniliti rumah rayap seperti ini di tempat lain, tapi sepertinya yang
ini lebih besar.”
Sekarang Indiana Jones memandangiku dengan senyum kuda. “Jelas?”
Aku mengangguk, masih sedikit tercengang. Jadi ini bukan fenomena gaib
seperti yang dicemaskan Albert.
“Fan, kumpul!” seru Alif memanggilku, memecah benakku yang masih sibuk
berpikir soal teori rumah rayap.
Aku bergabung dengan teman-temanku lagi—Sanggha Pendobrak yang penuh
keapesan. Kami duduk membentuk lingkaran, dan para 'Kakak' menjadi fokus
perhatian kami.
“Ada yang mengambil penanda jalan,” jelas Erik pada kami. “Seharusnya, di
persimpangan pertama yang kalian temui setelah meninggalkan pos satu, ada pita
kuning yang terikat di salah satu pohon sebelah kanan. Artinya, seharusnya
kalian ambil jalan sebelah kanan. Warna kuning adalah warna Pramuka Penegak, jadi
seharusnya tidak sulit untuk dikenali sebagai sandi. Entah siapa yang mengambil
pita itu, kita belum tahu.”
“Apakah mungkin ulah anak sanggha lain?” lontar Yoga.
“Kalian tak perlu menuduh. Tapi yang pasti kami akan tetap selidiki,” tandas
Erik.
“Kami tak pernah bermaksud membuat permainan ini menjadi sedemikian
berisiko. Yang kalian alami betul-betul kecelakaan yang tak pernah kita
harapkan,” tambah Kak Ramon. “Dan satu lagi yang di luar perkiraan: kondisi
sinyal di tempat ini ternyata tidak stabil. Pada waktu observasi dulu,
sinyalnya baik, tidak seperti sekarang. Seharusnya sekarang kami perlu
berkomunikasi dengan para Pembina, untuk melaporkan bahwa kalian sudah
ditemukan. Tapi ternyata kondisi tidak mendukung.”
“Tapi it’s ok, yang penting
kalian sudah ditemukan dalam kondisi yang siap untuk kembali,” sambung Erik.
“Kembali ke jalan yang benar,” Kak Ramon menimpali.
Kami tertawa. Ada kehangatan menyelinap di tengah situasi yang tak
membanggakan ini.
“Kesasar bukanlah prestasi, tapi kalian tahu apa yang membuat kami
salut?” Kak Ramon melontarkan apresiasinya. “Solidaritas kalian! Melihat kalian
menyiapkan tandu untuk kawan kalian, itu mengharukan.”
Kami semua tertawa lagi dengan malu-malu. Sekali lagi kugarisbawahi: mengharukan,
bukan membanggakan. Tapi, karena sejak semula Pramuka bukanlah hal yang
penting bagiku, maka aku tak terlalu terusik oleh predikat itu. Mungkin hanya
Alif yang tidurnya akan terganggu selama beberapa malam: Ketua Sanggha yang
memimpin pasukan ke jalan yang sesat! Namun itu bukan salahnya seorang. Itu
adalah salah kami semua.
Kami sepakat untuk mengakhiri “persinggahan” kami di situs tua ini. Alif
dan Yoga memandu Rizal untuk menempatkan diri di dalam tandu. Tak banyak
kesulitan, sebab Rizal kali ini juga cukup sadar untuk membantu dirinya
sendiri.
“Sorry, aku ngerepotin kalian...,”
bisik Rizal parau.
“Sudahlah. Kita berangkat sama-sama, pulang juga harus sama-sama,” ucap
Alif.
Sebelum berangkat, kami tak lupa untuk berterima kasih kepada dua sarjana
pelancong yang telah ikut mencari kami. Mereka memutuskan untuk masih tinggal,
tidak kembali bersama kami.
“Beneran, Mas nggak balik bareng kita?” Kak Ramon meyakinkan sekali lagi.
“Motivasi kita berbeda. Kalian kesasar, sedangkan kami bertamasya,” jawab
Indiana Jones, lagi-lagi terdengar nyeleneh. “Kami belum puas di sini. Kami
masih ingin lihat-lihat.”
“Tapi mendungnya serius, lho?” ujarku.
Dia tertawa. “Tak usah khawatir, kami sudah terbiasa dengan gunung. Kami
ini orang-orang lapangan.”
“Baiklah kalau begitu. Terima kasih atas bantuannya,” ucap Erik seraya
mengulurkan tangannya.
Kami semua bergantian menjabat tangan mereka. Aku yang paling terakhir
menjabat tangannya—si Sarjana Sejarah itu. Dan itu menjadi kesempatanku untuk
mengatakan sesuatu padanya. “Maaf, feeling-ku
hanya bisa percaya 50% soal teori rumah rayap.”
Keningnya mengerut. “Kau meragukan teori temanku? Dia lulus cum laude di universitas yang bagus! Lalu
bagaimana dengan yang 50% lainnya?”
“Aku yakin akan lama kalau kujelaskan. Kami sudah mau pulang,” kataku.
Aku tersenyum. “Aku cuma bisa pesan: sebaiknya tak usah lama-lama di sini.”
Dia terkekeh. “Baiklah. Kalau begitu jelaskan saja di YM, atau Facebook,
oke?” Dengan gesit dia membuat catatan di sobekan kertas—karcis masuk candi
Sukuh—lalu diserahkannya padaku. Dia masih berkelakar pula, “Sebetulnya aku
tersinggung kau tak menanyakan namaku.”
Kubaca tulisannya. Sekarang aku tahu namanya, beserta alamat email-nya. “Saya sudah mencurigai Anda
sejak semula,” bisikku berkelakar pula. “Terima kasih untuk pengetahuan
gratisnya.”
“Dan pesanku: sekali-sekali lihatlah kawan di sebelahmu, saat kalian
kencing.”
Aku tak menanggapinya lagi. Kami betul-betul berpisah.
“Sanggha Pendobrak, majuuu...!” seru Alif lantang.
Aku, Alif, Wawan dan Yoga, kompak memanggul tandu. Albert, Neki dan dua 'Kakak'
Bantara akan menggantikan kalau pemanggul tandu ada yang lelah. Rizal tinggal berbaring
dengan enak. Kami tidak lagi gelisah dan cemas, tanpa mengurangi kewaspadaan
akan jalur yang beberapa kali cukup terjal, beberapa kali cukup licin. Jika ada
satu saja pemanggul tandu yang tergelincir, maka yang celaka bisa lebih dari
satu, dan yang kesusahan adalah semua yang ada di rombongan ini—Rizal sudah
membuktikannya.
Kami pun tiba kembali di persimpangan tempat kami tadi menaruh tanda.
Sejenak kami berhenti; dengan hati-hati kami meletakkan tandu. Kami ingin
menelaah kembali, sebetulnya apa yang telah menyesatkan kami. Kuamati betul-betul
posisi pertigaan ini. Dan rupanya Wawan memiliki pemikiran yang sama denganku. “Kupikir
inilah penyebabnya: antara jalur dari mana kita berangkat, dengan jalur yang
menuju punden, sudut pertemuannya cukup kecil. Pohon-pohon di titik ini juga
sangat rimbun,” ulasnya dengan percaya diri. “Sepertinya itu telah mempengaruhi
pandangan kita saat pertama kali melewatinya, membuat kita tidak sadar bahwa ada
jalur lain yang mencabang di titik ini.”
“Aku juga berpikir begitu,” ujarku, menyahut gagasan Wawan. Kuambil langkah ke
depan beberapa meter, ke jalur dari mana kami pertama kali berangkat. Lalu
kuarahkan pandanganku pada teman-temanku yang berdiri di tengah pertigaan. “Dari
arah ini memang tak kelihatan kalau di depan ada pertigaan jalan. Yang terlihat
cuma jalan lurus.”
“Optical illusion,” Alif menimpal.
Itulah kesimpulannya.
“Jadi, kita tersesat bukan karena faktor... gaib,” imbuh Wawan,
menegaskan.
“Kalian tersesat karena lengah terhadap medan,” cetus Kak Ramon.
Ilusi optik, lengah, teledor, apa pun penjelasan ilmiah lainnya, aku
percaya. Tapi aku juga percaya hal lainnya, yang tidak mungkin kuceritakan di
perjalanan ini. Tidak tepat. Mungkin nanti saja, ketika aku sudah sampai di
rumah, saat aku berbaring melepas lelah di kamarku dan Dimas menemaniku sampai
sebelum tengah malam. Akan kuceritakan padanya, dan akan kulihat apakah dia
berani pulang.
Kami bersiap melanjutkan perjalanan. Namun, belum sampai tandu diangkat
lagi, sesuatu tiba-tiba datang mengejutkan kami. Burung itu, yang tadi juga kami
lihat beberapa kali di punden. Binatang itu mendarat dan berkicau di tengah
jalan yang hendak kami lewati.
“Burung itu lagi!” seru Albert. Dia memungut batu, hendak melempari
makhluk itu.
“Jangan!” cegahku.
“Kenapa?” tukas Albert. “Itu burung pembawa sial!”
“Tahu dari mana?” tukasku.
Albert tak menjawab, kikuk. Kupandangi teman-temanku yang lain, semua
juga diam.
“Itu burung Prenjak,” kataku. “Aku tinggal di desa, dan orang desa banyak
yang masih memelihara mitos-mitos lama. Dan kalau kalian juga percaya pada
mitos, maka kalian salah jika mengira burung itu pembawa sial. Burung Prenjak justru
pembawa tanda baik.”
“Tanda baik? Si Rizal kena sial, itu baik?” tukas Albert.
Aku menghadapi pertanyaan yang sama dengan yang ditanyakan 'Indiana Jones'
padaku.
“Jika burung Prenjak muncul dan berkicau di tempat yang sedang kita
datangi, itu tandanya kita disambut sebagai tamu,” kataku. “Kita diperbolehkan
masuk ke rumahnya. Tapi, tamu yang tidak sopan tentu saja perlu diberi sedikit
pelajaran, sekali-sekali.”
Semua melongo. Lalu kompak melihat Rizal.
“Aku mengaku salah,” ucap Rizal mengangkat tangan.
Lalu semuanya tertawa.
“Kalian boleh tak percaya,” kataku. “Tapi, kenapa juga kita harus
menyerang makhluk yang tidak berbahaya? Ini hutan, guys, apa yang salah kalau ada burung berkicau? Apakah kita juga
melempari burung yang berkicau di kebun kita? Menembakinya?”
Mereka semua menatapku.
“Fandy, kamu lulus jadi Bantara!” seru Kak Ramon sambil mengepalkan
tangannya ke atas. “Itu rekomendasi dariku! Sah!”
Semua tertawa, meledekku. Oke, itu memang berita yang kedengaran baik.
Tapi bukan berita baik yang kusukai.
Kami melanjutkan perjalanan. Burung Prenjak itu masih terus berada di sekitar
kami, melompat-lompat, terbang rendah, mendarat dan berkicau, lalu terbang lagi.
Bagi orang yang pikirannya teracuni rasa takut, sesungguhnya kicauan semerdu
apa pun memang akan terdengar menakutkan. Seperti halnya temanmu yang sedang
ketakutan bisa menjadi senewen hanya karena kau melantukan tembang Jawa
kesukaanmu. Aku bukannya tak memiliki rasa takut, tetapi, jika yang kudengar
adalah kicau yang merdu dari burung pegunungan, kenapa aku harus takut? Ia
adalah makhluk yang diberkati Tuhan dengan kicau merdu, seperti halnya manusia
diberkati dengan akal yang tinggi.
“Mau hujan...?” seru Rizal di atas tandu. “Ada air yang jatuh ke mukaku.”
“Iya. Gerimis,” sahut Kak Ramon, menadah beberapa rintik air dengan
tangannya.
“Cepat, cepat...!” seru Alif.
“Gantian dulu bisa, nggak? Aku capek,” Yoga mengeluh.
“Biar aku gantiin,” Albert mengajukan dirinya.
Pergantian dilakukan.
“Biar aku gantiin Fandy,” tiba-tiba Neki juga ikut mengajukan tenaganya.
“Aku nggak mau jadi anggota yang nganggur sendiri!”
“Alif sama Wawan juga istirahat saja. Aku sama Erik yang gantiin kalian,”
Kak Ramon pun menawarkan diri.
“Oke. Thanks, Kak,” sahut Alif, menghela napas lega.
Perjalanan berlanjut. Di tengah gerimis kecil, burung Prenjak tadi masih
setia menyertai kami. Sesekali ia menghilang di balik pohon, kemudian muncul
lagi di depan kami. Pakaian seragam kami mulai basah dan terasa dingin, tapi
tak ada yang kami cemaskan.
Dan akhirnya, “Ini persimpangan pertama tadi. Mulai dari sinilah kita
tersesat,” ulas Alif, mengatupkan senyum pahitnya.
Di sini kami kembali berhenti sejenak. Tandu diletakkan. “Kita telah
kembali ke jalan yang benar,” celetukku.
“Kali ini pasti kita bisa sampai ke Pos Dua,” timpal Wawan.
“Pos Dua sudah bubar. Kalian kelamaan,” cetus Erik disertai tawa masam.
“Tapi itu tak penting lagi. Kalian bisa pulang dengan selamat, itu lebih
penting.”
“Tapi, sekarang baru terasa, bahwa selama tersesat tadi sebetulnya adalah
petualangan yang menyenangkan!” ulas Alif pelan.
“Seperti improvisasi saat bernyanyi?” sahut Erik.
Alif menanggapi dengan tawa masam. “Tapi, kalau kita tak bisa melanjutkan
ke pos berikutnya, berarti ini lagu yang nggak selesai.”
Tandu diangkat lagi. Mereka bersiap melangkah lagi, sambil terus
bercakap-cakap dan saling menyahut. Aku masih ingin diam berdiri di tempatku
untuk sejenak waktu. Kupandangi burung Prenjak yang masih bertengger di dahan
yang agak rendah. Kurasakan ia pun sedang menatapku. Ia mengibaskan
bulu-bulunya, menepis air gerimis di tubuhnya. Ia mengeluarkan beberapa patah
kicauan. Aku membalas dengan siulan. Burung itu pun membalasku. Aku membalasnya
lagi.
“Fan, ayo...!” seru Alif yang sudah melangkah agak jauh di depan.
Kulihat burung itu mengepakkan sayapnya, membumbung ke udara, terbang
menembus gerimis di atas jalan setapak. Menghilang di balik pepohonan. Di sini
kami berpisah darinya.
Selamat tinggal, simpang jalan.
***
Menjelang sore, hujan di luar cukup deras. Kami berada di salah satu
ruangan dari rumah berdinding anyaman bambu, duduk melingkar tak jauh dari
tungku yang sedang membara dan menebarkan hawa hangat. Aku, Alif, Wawan,
Albert, Neki, Yoga dan Rizal, ditambah Kak Ramon, Kak Hamid, Kak Septi dan Erik.
Ditambah satu orang lagi: Mbah Ramelan, beliau adalah pemilik rumah yang kami
pakai untuk singgah dan berteduh ini. Kebetulan rute perjalanan kami melewati
rumah beliau ini.
Mbah Ramelan sibuk mengatur kayu bakar di tungku yang sedang dipakai
untuk memasak air, sementara kami—para Pramuka—berbincang-bincang soal
pengalaman kami di hutan tadi.
“Kalian menyesal?” lontar Kak Hamid, setelah menyimak uraian pengalaman
kami.
Kami tak menjawab. Alif mengajukan pertanyaannya sendiri, “Kami beneran
didiskualifikasi, Kak?”
Kak Hamid mendesah disertai senyum masam. “Bagaimana lagi? Kalian cuma
berpartisipasi sampai di Pos Satu, setelah itu kalian tersesat sangat lama.
Kalian kehilangan waktu untuk mengejar pos-pos berikutnya. Jadi, ya begitulah
konsekuensinya.”
Alif terlihat kecewa.
“Otomatis pupus juga segala kemungkinan buat jadi juara,” desah Wawan—itu
hanya membuat Alif semakin sedih saja.
“Itu sebuah pelajaran,” ujar Kak Hamid. “Ada dua hal yang menjadi tujuan
orang ketika dia belajar. Yang pertama adalah untuk mengejar nilai. Yang kedua
adalah untuk mengejar ilmu. Nah, yang manakah tujuan kalian?”
Kami semua berpikir-pikir, sambil saling melempar pandangan satu sama
lain.
Albert yang pertama berceletuk. “Tergantung. Mengejar ilmu itu bagus,
sih. Tapi kalau juara satu hadiahnya gede, ya kami tetap kecewa karena gagal
meraihnya. Kita sih realistis, Kak.”
Semua tertawa menyambut jawaban Albert, termasuk Kak Hamid.
Perhatian tersita ketika Rizal yang angkat bicara. “Saya menyesal, Kak. Saya
menyesal karena kaki saya jadi sakit begini. Bengkak parah! Tapi saya juga
bersyukur, karena punya teman-teman yang setia kawan. Saya sadar kalau saya sudah
ngerepotin. Tapi mereka nggak ninggalin....” Lalu, tiba-tiba dia mengumpat,
“Anjrittt...!” Dan dia mengusap ujung matanya.
Kami menertawainya. Meledek kecengengannya. Setelah puas mem-bully, barulah kami menasihatinya
baik-baik, seperti layaknya teman.
“Sudah, Zal, nggak usah nangis! Kalau semisal yang sakit aku, memangnya
kamu bakal tega ninggalin? Nggak juga, 'kan?” ujar Yoga menghibur Rizal.
“Kalau kamu sih nggak terlalu nyebelin, Yog!” sahut Albert. Semua tertawa
lagi. Rizal juga ikut tertawa.
“Setiap orang pasti pengin jadi juara, Kak. Kalau dibilang sedih, ya sedih.
Tapi, kami bisa bilang kalau sebetulnya kami sudah membuat hadiah untuk kami
sendiri. Yaitu pengalaman. Pengalaman kami lebih seru dibanding yang lain!”
ucap Alif sedikit terbata-bata. Akhirnya dia tak terlihat kecewa lagi seperti
tadi.
“Kami belajar jadi tim yang baik. Belajar setia kawan dalam kondisi yang
sulit. Belajar sabar,” urai Wawan.
“Satu lagi!” Erik menyahut. “Sebenarnya, di Pos Satu, sanggha yang memberikan
jawaban terbaik adalah kalian.”
Kak Ramon menambah, “Karena itu, kami memberikan hadiah kepada kalian,
yaitu regu penolong saat kalian tersesat—kami sendiri.”
Kami membalas dengan “huuuuu” untuk hadiah itu, selayaknya sebuah
rombongan celaka yang tak tahu diri. Namun, kautahu, kami hanya bercanda. Dan
setelah menyambut para 'Kakak' dengan “huuuu”, teman-temanku menjadikanku
sasaran ekspresi jahil mereka, sehubungan dengan jawabanku ketika kami ditanyai
di Pos Satu. Kautahu, kejahilan sekalipun kadang bisa ditujukan sebagai pujian.
You can lose the game, but don’t
lose the lessons!
“Saya sudah mengontak para Pembina yang lain, termasuk guru-guru kalian,”
ujar Kak Hamid. “Mereka sudah sampai di Tawang Mangu, dan menunggu kita di sana.
Tapi kalian tidak perlu meneruskan jalan kaki ke Tawang Mangu, karena
kondisinya sudah tidak memungkinkan. Ada hal yang lebih penting sekarang, yaitu
mencari klinik terdekat buat teman kalian, supaya kakinya bisa lekas diobati.
Ada mobil yang bisa kita pakai, hanya
saja tidak bisa masuk sampai kemari karena jalannya sempit. Jadi kita tunggu
sampai hujannya agak reda dulu, lalu kita jalan kaki sampai batas desa.
Mobilnya menunggu di sana.”
“Menunggu sambil minum teh,” timpal Kak Septi sambil membagikan teh yang
dibuatkan Mbah Ramelan. “Kata Mbah Ramelan, ini hasil petikan sendiri, asli
dari Gunung Lawu.”
Kami menyambut suguhan dengan senang hati.
“Monggo, diunjuk,” Mbah Ramelan
yang jenggotnya sudah memutih itu menyilakan kami.
“Matur nuwun, Mbah,” sambut Kak
Hamid seraya menerima cangkir tehnya.
Air di cangkir masih terlalu panas untuk diminum. Namun aromanya terasa
sudah cukup untuk menenangkan saraf-sarafku, memberikan perasaan relaks. Perlahan
aku bangkit berdiri, melangkah menuju pintu belakang. Kudapati teras belakang
rumah yang dilengkapi bangku panjang dari kayu. Di depan teras terbentang petak
ladang yang berterusan dengan hutan, tampak sunyi dan kabur oleh balutan hujan.
Aku duduk menyendiri di teras ini, terpekur dengan cangkir di tangan
sambil menghirup aroma teh yang berbaur dengan udara gunung yang basah. Samar-samar
kudengar bunyi nyanyian, “Nampaknya,
tiada lagi yang diresahkan. Dan juga tuk digelisahkan. Kecuali dihayati, secara
syahdu bersama....” Lalu lagu itu berhenti, disahut suara orang menyapa.
Suaranya terdengar tak jauh dari balik dinding bambu.
“Halo?”
...
“Oh, iya. Mereka sudah ketemu.
Semuanya baik-baik saja, kok.”
...
“Ya, dia ada di sini. Oke.
Sebentar, ya....”
...
Lalu, “Fan...?” Erik sudah muncul di sampingku, dan
menyodorkan ponselnya padaku. “Dia mau bicara denganmu,” ucapnya.
“Siapa?” selidikku sedikit heran.
Dia tersenyum tipis. “Kamu pasti juga pengin ngomong sama dia.”
Dengan agak ragu, kuterima ponsel yang disodorkan padaku. Erik kembali ke
dalam rumah, meninggalkanku sendiri untuk bicara dengan seseorang yang telah
menghubungi ponselnya.
“Halo?” sapaku.
“Fan?” suara di sana. “Kamu baik-baik saja, tho?”
Aku tak bisa menggambarkan perasaanku. “Aku nggak apa-apa. Semua baik-baik
saja, kok.”
“Aku telepon nomormu, tapi masih
nggak bisa.”
“Semua ponsel masih dibawa Pembina, mereka sudah sampai Tawang Mangu. Aku
masih di sekitar Candi Sukuh bersama teman-teman, menunggu hujan reda.”
“Ooo....”
Aku tersenyum. “Kenapa? Kangen? Salah sendiri nggak mau ikut!”
“Aku bukan kangen. Aku cemas! Di
Facebook ada teman yang bikin status, katanya ada peserta hiking yang tersesat. Aku telepon ke nomormu nggak
aktif, jadi aku tanya ke Erik. Ternyata kamu di rombongan yang tersesat itu.”
Aku tertawa. “Aku senang kamu masih mau mencemaskanku. Artinya kamu nggak
cuek.”
“Kapan sih aku cuek?” Dia mulai
sewot.
“Buktinya, diajak ikut jalan-jalan ke gunung yang bagus saja nggak mau.
Malah kamu juga bohong segala, ngaku bukan Bantara.”
“Lho, aku memang bukan Bantara,
kok....”
“Berarti Erik yang bohong?”
“Lho...? Yang ngomong Erik? Kamu
sudah baikan sama dia? Cieee....”
“Sudah, nggak usah ngeles! Kamu pilih jujur, atau kita putus?”
“Ya ilah....”
Aku diam.
“Fan, gini, lho... selama ini kita selalu jaga
hubungan kita biar nggak menyolok di mata orang lain. Kalau kita ke gunung
sama-sama, kamu yakin bisa tahan nggak dekat-dekat aku?”
“Eh, jangan ge'er, ya!”
“Lha terus, ngapain kamu ngambek
sampai segitunya? Toh nggak harus dekat aku, 'kan?”
“Aku bisa mikir jugalah, Mas. Aku juga nggak bermaksud nempel terus sama
kamu selama di sini. Tapi, aku mau setidaknya aku bisa lihat ada kamu di sini,
di tempat yang dulu pernah kita bicarakan. Kamu tahu, 'kan, itu memorable banget buatku...?”
“Iya, buat aku juga.”
“So...?”
“So... aku nggak mau kita merealisasikannya di saat kamu masih membebani
hatimu dengan pengalamanku di masa lalu.”
Aku bingung mencernanya. “Maksudnya?”
“Di situ ada Erik, 'kan?”
Aku mendehem.
“Aku ingin kamu maafin dia dulu.”
Itu mengejutkanku. Sedikit.
“Ternyata, ujung-ujungnya kamu ngomongin itu lagi, ya?” desahku—kesal,
capek. Berusaha memahami. “Itu penting banget, ya, sampai harus jadi alasan
kamu nggak ikut acara ini?”
“Penting. Sebab aku ingin pacarku bukan
cuma cakep, tapi juga orang yang pemaaf, berjiwa besar, berhati mulia, dan
sebagainya. Bukan supaya dia masuk surga, tapi... punya pacar pendendam itu
serem, tahu...?”
Kali ini, dia berhasil membuatku tak bisa membendung tawa. Dia berhasil
membuat ngambekku mental. “Lebih menakutkan mana: pacar pendendam, atau pacar
yang bisa lihat hantu?” cibirku.
“Hmmm. Iya, ledek saja terus sampai
puas!”
Aku tertawa lebih keras. “By the
way, tak bisa memaafkan itu bukan berarti sama dengan pendendam.”
“Oke, terus...?”
“Pendendam itu adalah orang yang tak bisa memaafkan, lalu ingin
melampiaskannya melalui pembalasan yang setimpal atau lebih. Aku tak punya niat
membalas Erik. Aku cuma belum bisa memaafkannya, itu saja.”
“Sampai sekarang masih belum?
Ayolah....”
Aku tercenung.
“Dia sudah minta maaf padaku, Fan.”
Aku mereka-reka. “Kamu masih punya perasaan ke dia?”
Dia terdiam sesaat.
“Mungkin. Sisa-sisa yang dulu. Tapi
perasaanku ke kamu lebih besar, kok.”
Aku tersenyum. Hampir tertawa lagi. “Gombal!”
“Aku juga pernah 'tersesat', Fan.
Aku pernah jatuh cinta ke orang yang keliru. Karena itulah, aku jadi mengerti
betapa berharganya ketika memiliki orang yang tepat untuk dicintai. Kamu.”
Kuhirup aroma teh di cangkirku. Kuminum satu sesapan. “Hawa di sini
mendukung untuk mendengarkan ceritamu. Teruskan.”
“Seandainya aku nggak pernah jatuh
cinta ke Erik, andai dia nggak pernah nolak aku, andai dia nggak bilang ke teman-temannya,
mungkin aku juga nggak akan seperti sekarang—jadi lebih kuat. Seandainya Erik tak
memberiku pengalaman sakit hati itu, mungkin aku juga nggak akan belajar mencintai
orang lain. Bagiku semua itu proses, Fan, untuk menemukan sesuatu yang lebih
baik untuk diri kita.”
Aku tercenung agak lama. “Oke. Karena kamu jujur, dan ceritamu bagus, aku
akan ikuti nasihatmu.”
Hampir semenit kami sama-sama terdiam.
“Sekarang aku mulai kangen
kamu....”
“Peluk Denis saja dulu.”
“Homo-homoan sama saudara kembar,
dosa.”
“Kalau sama aku nggak dosa, gitu?”
“Nggak tahu. Yang aku tahu cuma:
aku bahagia sama kamu.”
“Gombal!” Aku tertawa lagi. Dimas juga tertawa.
“Fan, lu ngomong apa ke Dimas
barusan?”
Aku kaget. Kudengar ada suara berebut telepon di sana. “Lho, ada Denis di
situ?”
“Cuma lewat,” jawab Dimas.
“Mamaaa..., Dimas pacaran pakai
telepon rumah...!” suara Denis berseru di kejauhan. “Fan, bawain oleh-oleh, ya!” suaranya mendekat lagi.
“Ya sudah, Fan. Aku lega kamu nggak
kenapa-napa. Kabari kalau sudah pulang, ya!” pesan Dimas padaku.
“Oke.”
“Suatu saat nanti, aku pasti akan
temani ke gunung. Berdua saja.”
“Kuanggap itu janji.”
“Kutunggu kamu menagihnya.”
“Sip.”
“I love you.”
“Terserah.”
Dia menutup telepon.
Aku menuju ke muka pintu. Kulihat Erik duduk di dalam. Dia juga
melihatku. Lalu menghampiriku.
“Sudah?” tanyanya.
Aku mengangguk. Kuulurkan ponselnya. Dia menerimanya kembali, dan segera
membalikkan badan lagi.
“Kak,” aku memanggilnya, menahannya sejenak. Dia berhenti dan menoleh.
“Makasih. Dapat salam dari Dimas,” ucapku.
Dia tersenyum dan mengangguk. Lalu kembali ke tempat duduknya di dalam,
bergabung lagi dengan yang lain.
Aku masih berdiri di teras, kembali menatap hujan yang mengaburkan warna
sore di tepian hutan ini.
“Kok menyendiri di sini?” Alif menyapaku, bergabung denganku di teras.
Aku mengurai sekadar tawa untuk menyambutnya. “Rasanya berat mengakhiri
petualangan ini,” ulasku.
“Iya. Beda dengan saat kita masih tersesat di dalam hutan sana; marah,
putus asa, ingin cepat-cepat pulang. Sekarang, rasanya berubah jadi nggak rela
untuk mengakhirinya,” timpal Alif.
Kami terpekur di teras. Dari berdiri, kemudian berpindah ke bangku kayu.
Cuma diam memandangi ladang dan hutan di depan kami. Lama-lama, diam berdua
seperti ini mulai terasa canggung.
“Oh, iya, Fan... sebelumnya aku minta maaf, ya...,” Alif kembali membuka
suara dengan kalimat yang membuat kecanggungan malah menjadi kentara. Kulihat
gerak matanya menyapu, melewatiku beberapa kali—enggan untuk berhenti sedikit
lebih lama saja padaku. “Ketika kita berada di punden tadi...,” dia
terbata-bata, “aku tak sengaja mendengar pembicaraanmu dengan Neki.”
Aku terkejut, tapi tak memperlihatkannya. Aku menggeser pandanganku, tak
lagi kepada Alif. Sekarang tiba-tiba aku menjadi segan. Namun, aku tak
menyangka, dia menepuk-nepuk pundakku.
“Nggak usah khawatir, Fan. Menurutku kamu nggak kelihatan 'sakit', kok. Dan
kamu anggota sanggha terbaik. Biarpun kamu bilang nggak tertarik, aku tetap
tunggu di pelantikan Bantara. Nggak keren kalau di sanggha terhebat ini yang
jadi Bantara cuma aku,” ucap Alif padaku.
Aku berani lagi menatapnya. Dia membalas, sambil menyesap tehnya. Dia
tersenyum. Aku tertawa agak malu.
“Thanks, Lif...,” ucapku singkat.
Teh hangat—asli racikan dari pemetiknya sendiri, diseduh dengan air yang
dididihkan menggunakan tungku tanah dan kayu hutan Lawu—mengisi cangkir-cangkir
di tangan kami. Teh bisa bermacam-macam rasanya; konon, lain gunung maka lain
pula rasanya. Yang mana yang enak, siapa pun menilai berdasarkan selera
masing-masing. Apa pun rasanya, yang penting asli—tidak diakali oleh gengsi
ataupun komersialisasi. Silakan dengan sugestimu sendiri, tapi jangan sugesti
orang lain. Asli. Jujur. Itu kurasakan di titik ini.
Aku tidak tersesat di petualangan ini.
Haruskah kukatakan bahwa diriku tersesat, jika yang kutemukan di sini adalah
pelajaran hidup, kawan yang menjabatku erat, dan cinta yang menginginkanku pulang
dengan selamat?
Pada tumpukan kayu bakar, kulihat sebongkok kecil kayu kering yang diikat
dengan seutas kain. Kain kuning, yang setelah kuteliti, berlogo tunas kelapa.
Sandi yang hilang. Dan dari kedalaman hutan sana, kicauan yang kukenal kembali
terdengar, bagai tawa ringan yang menembus keheningan alam. Hujan sudah reda.
.......
PARA SARJANA
“Tyo, kemarilah!”
“Van, ayolah, ini sudah sore. Saatnya kita pulang.”
“Lihat dulu ini!”
“Mau kauapakan gerabah itu?”
“Aku cuma ingin membuktikan teorimu. Kaubilang kompas ini berputar-putar
karena pengaruh rumah rayap. Sekarang aku sudah memindahkannya jauh-jauh, dan
lihatlah hasilnya!”
“Oh... kenapa masih berputar begitu?”
“Berarti ada faktor lain selain teorimu itu.”
“Dan... putarannya makin cepat, Van....”
“My God. Ayo, kita pulang.”
---
end ---
2 komentar:
Bang, gue terhura bang..... Berkarya lagi yah... Susunan ceritanya rapi Bender...
Waaaaah baru bisa baca setelah beberapa tahun. Mantap mas Noel. Gila parah ceritanya. Bagus banget ini pantas di filmkan.
Posting Komentar