Sabtu, 26 Desember 2015

Sebuah spin-off



PETUALANGAN FANDY
~Mencari Jejak~



Gunung Lawu mengingatkanku pada seseorang. Suatu ketika, kami berdua sedang berada di suatu tempat yang tinggi, dan kami bisa melihat pemandangan yang begitu jernih dari Gunung Lawu. Lawu berdiri di tenggara laksana seorang ksatria penyendiri; sedangkan di ufuk barat tampak Merapi dan Merbabu seperti sepasang kekasih yang sedang berduaan.
Ketika itu dia bergumam, “Gunung Lawu pasti cemburu.”
“Kepada siapa?” tanyaku.
“Kepada Merapi dan Merbabu yang mendapatkan takdir sebagai gunung sejoli,” katanya.
Namun, sorot matanya yang mengawang sepertinya juga menyimpan kalimat lainnya yang tak diucap. “Bagaimana kalau kepada kita juga, Fan? Sebab gunung-gunung itu hanya berada di tempat mereka sepanjang waktu. Sedangkan kita bisa menjalani cinta kita sambil ke mana pun kita pergi. Dan kita tak perlu hidup selamanya. Kita menjalani cinta dengan secukupnya. Ketika kita tua dan sudah lelah, kita cukup mati dengan tenang.”
Ah, tapi mungkin sebenarnya dia tak berkata begitu. Itu hanya bisikan di dalam kepalaku sendiri.
Namun, soal sejoli, kurasa dia benar bahwa alam pun memiliki takdir masing-masing. Ada yang selibat, ada yang kawin. Hidrogen menjadi gas berbahaya jika ia menjadi selibat, tetapi kalau kawin dengan Oksida maka dia menjadi berguna, sebab mereka akan menjadi air—H2O. Sebaliknya Oksida menjadi berbahaya jika memilih kawin dengan Carbon, sebab mereka bisa menjadi karbon monoksida—CO, gas mematikan. Sementara itu, ada yang selibat tetapi tetap bermanfaat dan menyehatkan. Yodium, misalnya.
Ada Merapi-Merbabu, Sumbing-Sindoro—gunung-gunung yang menjadi pasangan. Ada pula Lawu yang selamanya jomblo. Mungkin itu pun hanyalah buah imajinasi kami yang mendramatisir alam. Namun, ia tetaplah mengajarkan sesuatu padaku: memiliki kekasih itu melengkapi setiap kebahagiaan yang kita rasakan. Kecuali jika ia kekasih yang menyebalkan, maka ia bisa merusak kebahagiaan.
Kalau menyebalkan, apakah berarti perlu diberhentikan sebagai kekasih? Tergantung. Sebab sikap menyebalkan kadang hanyalah kekhilafan saja. Sesekali, sampai beberapa kali, itu perlu dimaafkan. Aku masih memaafkan ketika dia tak mau ikut dalam petualangan ini.
Dia memang agak pemalas dalam aktifitas-aktifitas fisik, dan naik gunung tentu kedengaran sebagai aktifitas fisik yang sangat melelahkan, tak peduli bahwa indahnya pemandangan akan menjadi harga yang setimpal. Sayangnya, petualangan naik gunung yang kuikuti ini memang sebuah acara formal, yaitu bagian dari rangkaian kegiatan Pramuka. Makin kuatlah alasannya untuk tidak ikut. Dia tak suka aktifitas fisik, dan dia juga tak suka formalitas. Begitulah Dimas, cowok yang baru beberapa bulan kuakui sebagai pacar.
Dari balik kaca jendela bus aku menatap ke luar, memandangi alam gunung yang biasanya hanya kulihat dari kejauhan. Kini aku telah merambat ke tubuh Lawu; terlihat jelas bukit-bukit yang bersatu menyangganya. Jadi, sebetulnya tidak tepat juga kalau mengatakan Lawu sebagai gunung yang sendirian, sebab bukit-bukit kecil di kakinya itu boleh disebut sebagai keluarganya. Atau, jika Lawu ibarat raja, maka bukit-bukit itu adalah pengawalnya—para jenderal dan prajurit-prajurit.
Setahuku, Lawu memang kediaman terakhir seorang raja pamungkas dari Majapahit. Namun, begitulah, dia adalah raja yang tersingkir dari kerajaannya. Pastilah ia amat kesepian. Tidak sendiri bukan berarti tak mungkin kesepian.
Aku juga hampir menyebut hatiku kesepian. Sebab, meskipun bersama teman-teman Pramuka, aku tidak bersama dia. Tak bersama Dimas. Eh, tapi aku tak boleh begitu. Tak boleh menafikan keberadaan teman-temanku. Lagi pula, lain kali pasti datang juga kesempatan untuk bersama Dimas melakukan petualangan seperti sekarang, aku tinggal lebih memaksanya saja. Sebetulnya aku tak suka memaksa-maksa siapa pun, tapi tentu dia sesekali perlu menurut kepada orang yang dulu dipinangnya dengan penuh keyakinan. Dia boleh anggap itu sebagai konsekuensi sebuah hubungan.
“Fan,” suara seseorang di sebelahku memecah lamunan.
Aku menengok. “Apa?” tanyaku ke Neki, teman yang duduk di kursi sebelahku.
“Bukannya hiking-nya ke Tawang Mangu, ya? Kok kita malah belok, ya? Padahal di papan jalan yang aku lihat tadi, ke Tawang Mangu harusnya lurus terus?”
“Tawang Mangu 'kan tujuan akhirnya, start-nya bisa dari tempat lain,” jawabku menduga-duga. “Memangnya sekarang kita belok ke mana?”
“I dunno. Kayaknya tadi tulisannya 'candi apa' gitu, deh,” timpal Neki dengan logat Jakarta-nya.
Dia memang pindahan dari Jakarta, sekarang tinggal dan bersekolah di Solo. Tak hanya cara bicaranya, gaya dandannya juga terkesan seolah-olah dia mau menunjukkan bagaimana penampilan anak gaul ala Jakarta itu. Kacamata minus trendy berbingkai tebal; gelang tangan rangkap dengan jenis komplit: logam, karet dan kulit; satu lagi: sebuah cincin entah dari emas atau kuningan yang melingkari kelingkingnya—ya, di kelingking. Andai dia tidak sedang memakai pakaian seragam, mungkin gaya pakaiannya tak akan kalah menyolok dibandingkan aksesorisnya. Bahkan sepertinya dia tak akan malu untuk memakai kaos ketat dengan warna pink. Sebenarnya aku tak yakin juga apakah gaya trendy cowok gaul di Jakarta memang harus seperti itu.
“Adik-adik, sebentar lagi kita akan sampai. Semua perlengkapan dan bawaan lainnya supaya segera disiapkan, jangan sampai ada yang ketinggalan,” Pembina Pramuka yang memimpin rombongan ambalan Penegak ini, Kak Hamid, berdiri di depan sambil memberikan pengumuman. Semua peserta hiking, yaitu siswa-siswa kelas satu, termasuk aku, segera sibuk bersiap.
Pukul setengah delapan pagi, bus kami berhenti di sebuah lokasi. Kami semua turun di sebuah pertigaan jalan raya desa yang kelihatan cukup ramai. Kami berkerumun dan mengamati sekitar dengan antusias. Kubaca tulisan pada sebuah papan penunjuk jalan, “Candi Sukuh: 1,9 KM”.
Kak Hamid memberi arahan lagi. “Adik-adik, kita akan segera melanjutkan perjalanan. Segera siapkan semua bekal dan perlengkapan kalian, jangan ada yang tercecer. Kemudian bentuk barisan sesuai sanggha masing-masing!”
Sanggha adalah istilah untuk menyebut kelompok atau regu dalam Pramuka level Penegak—kalau kau aktif di Pramuka pasti tahu istilah-istilah semacam ini. Pramuka adalah ekstrakurikuler wajib bagi siswa kelas satu di sekolahku. Artinya, kegiatan ini seharusnya diikuti paling tidak oleh ratusan peserta. Awalnya memang semua tampak patuh mengikuti Pramuka, tetapi lama-kelamaan satu per satu mulai rontok juga. Toh tak ada sanksi bagi para pemogok itu. Sepertinya istilah “ekstrakurikuler wajib” cuma basa-basi kurikulum saja. Dan sekarang bisa dilihat acara hiking ini, yang bersedia ikut hanya sekitar empat puluhan anak dari kelas satu, terbagi menjadi enam sanggha.
Teman-teman di sanggha-ku seharusnya ada sebelas orang, tapi di acara ini hanya ada tujuh orang yang bisa ikut. Alif adalah Pimpinan Sanggha (Pinsa); dia berbadan atletis dan cekatan, tapi tak terlalu banyak bicara—di mataku itu membuatnya tampak berwibawa. Albert adalah anggota yang badannya paling gembul, jadi bisa dibilang soal kecekatan dia adalah yang paling lamban. Wawan adalah anggota yang menurutku paling suka memamerkan kemampuan otaknya. Rizal adalah anggota yang badannya paling bongsor dan kekar, tapi dia suka bicara seenaknya. Sedangkan Yoga adalah anggota yang paling apatis dan sering memakai kalimat “pokoknya aku ngikut saja”. Lalu Neki, Wakil Pimpinan Sanggha (Wapinsa); dia adalah yang cara bicaranya paling menyolok dan penampilannya bisa dibilang paling lebai, karena dia “anak Jakarta”. Itulah, bermacam-macam karakter dalam sanggha yang kuhuni. Nama sanggha kami pun lebai: Sanggha Pendobrak. Haha, bukankah memang banyak hal yang lebai di Pramuka?
Kini kami sedang berbaris di hadapan Kak Hamid dan beberapa kakak kelas. Para kakak kelas itu berperan membantu Pembina dalam membimbing kami, dan mereka paling tidak sudah berpangkat Bantara. Bantara adalah pangkat terendah dalam Penegak. Sedangkan kami yang kelas satu ini baru calon Bantara.
“Salam Pramuka!” seru Kak Hamid dengan wajah bersemangat, khas seorang aktifis Pramuka.
“Salam!” semua membalas serentak.
“Adik-adik, kita telah tiba di jalur masuk menuju objek wisata Candi Sukuh. Kita akan memulai hiking dari sini, menuju finish di Tawang Mangu. Selanjutnya, sesuai rencana, kita akan menginap semalam di sana, dengan acara Api Unggun pastinya, dan juga acara-acara seru lainnya. Jadi secapek apa pun kalian, tetap semangat! Persiapkan diri kalian, sebab kita akan berjalan kaki menuju Candi Sukuh yang masih cukup jauh di atas sana. Tetap berkoordinasi dengan sanggha masing-masing, jaga kesopanan, jaga nama baik Pramuka dan sekolah kita, dan jangan ragu bertanya kalau menemui kesulitan. Siaaaap...?!”
Droookkkkk! Semua tongkat di genggaman tangan serempak menghentak tanah diiringi suara lantang, “YA, SIAP...!”
“Pramuka, JALAAAN...!”
Derap kaki pun segera menghentak bersahutan dan beriringan, meniti jalan menanjak menuju ke Candi Sukuh. Dua kilometer dan bukan jalan yang datar, tapi semua tampak sangat bersemangat. Ya, khas Pramuka, orang-orang yang dididik untuk selalu riang ceria dan optimistis, sebagaimana perintah di salah satu butir panduannya. Pramuka itu harus rajin, terampil dan gembira, begitulah menurut butir keenam Dasa Dharma. Sepertinya cuma di Pramuka saja sifat “gembira” menjadi sebuah kode moral. Sebenarnya kadang aku merasa konyol juga menjadi bagian dari gerombolan prajurit gembira berseragam coklat ini—yang bertongkat bambu tumpul dan membawa belati yang bahkan tak bisa untuk memotong tali.
Namun, faktor “Lawu” membuatku tak bisa menahan diri untuk ikut acara ini. Ini bisa menjadi pelepas kepenatan yang masuk akal daripada hanya bercokol di kamar kos menghabiskan malam minggu seperti biasanya. Memang, di malam minggu biasanya Dimas datang untuk menemaniku, tapi sebelum jam sebelas malam dia pasti sudah harus pulang, sebab Mama-nya selalu titip dibelikan mi Pasar Gede yang harus sudah tiba di rumah sebelum ketiduran. Bisa juga aku pulang kampung ke Sragen saja untuk menghabiskan akhir pekan, tapi itu malah lebih ironis, sebab dari desaku itu Gunung Lawu akan terlihat begitu menggoda, lalu aku hanya bisa berharap melihat teman-temanku yang berubah lebih kecil dari semut sedang mendaki lerengnya. Maka kenapa aku tak ikut saja kemari? Lagi pula, meskipun kadang konyol, kegiatan Pramuka kadang menghibur juga.
Menyanyi adalah salah satu hal menghibur yang dilakukan oleh Pramuka, atau setidaknya bagi mereka yang ada di sanggha lain. Sanggha Perintis, misalnya, yang sedang berbaris meniti jalan sambil menyanyi “Di Sini Senang, Di Sana Senang”. Bagiku, lebih menghibur melihat mereka yang menyanyi itu daripada ikut bernyanyi. Tak ada satu pun yang menyanyi di Sanggha Pendobrak.
“Kok tidak nyanyi?” lontar Kak Ramon, Bantara yang berjalan mendampingi sanggha-ku.
“Tidak, Kak. Malu. Di sanggha kami tak ada yang bersuara bagus,” balas Alif sedikit berkelakar. Sebetulnya tak dibutuhkan suara yang bagus kalau cuma untuk menyanyi “Di Sini Senang, Di Sana Senang”. Sebagai orang di Sanggha Pendobrak yang kelihatannya paling antusias mengikuti Pramuka, kurasa Alif sebetulnya ingin menyanyi, tapi dia malu pada keenam temannya, sebab pasti hanya dia sendiri yang akan bernyanyi.
“Kelihatannya dari luar bersemangat, padahal malah jadi boros napas. Cepat lelah jadinya,” sahut Wawan agak terengah-engah.
“Nanti ada sarapan tidak, Kak?” tukas Albert dengan nada mengeluh. Mukanya yang chubby dan berjerawat bak roti kismis yang dipanggang sampai hampir pecah. Kak Ramon cuma tersenyum menanggapinya.
Saat berangkat dari Solo pukul enam pagi tadi, kami cuma diberi snack kentang keju dan telur rebus. Semoga itu tak dimaksudkan sebagai sarapan kami. Yang benar saja!
“Udah deket belum, nih, Kak?” tanya Neki dengan aksen Jakarta-nya.
“Sudah. Pokoknya jalan sajalah, tak usah dipikir jaraknya. Sambil lihat pemandangan saja, biar tak terasa capeknya,” timpal Kak Ramon.
Sedari tadi pandanganku sudah meraup panorama sekitar; bukit-bukit bersembulan, pedesaan tampak merambat di lereng-lerengnya berseling dengan hijau ladang dan hutan. Sungai dan cabang-cabang jalan tampak meliuk seperti ular-ular yang sedang terpekur di sarang yang besar. Sedangkan puncak Lawu tak tampak dari sini; mungkin terhalang oleh bukit yang menggunduk mendekati mata, atau tersembunyi oleh lingkupan kabut. Kabut membuat udara terasa basah, berbaur dengan aroma keringat pagi hari yang menguar dari tubuh-tubuh yang sedang meniti bukit.
Aku jadi teringat ketika di suatu pagi terbangun dengan dia ada di sampingku; menghidu aroma dari keringat yang didinginkan oleh hawa sepanjang malam, yang kemudian bersenyawa dengan bau selimut dan baju. Hujan semalam telah membuatnya tersandera hingga pagi di kamarku. Kami tertawa, karena semalaman terlewat tanpa melakukan apa-apa selain tidur—bahkan dengan situasi semenggoda itu kami tetap puas hanya dengan tidur saja sampai pagi. Mi yang sudah dingin, pesanan Mama-nya, kami makan sebagai sarapan. Sepertinya dia pulang dengan menyesal, apalagi hingga kini belum ada kesempatan yang sebaik malam itu. Namun bagiku itu bukan alasan untuk menyesali sesuatu. Mungkin itu pula yang menambah alasannya untuk tidak menemaniku hari ini: dia ingin membalas dendam karena dulu aku sudah menolak ajakannya yang nakal ketika menginap di kamar kosku. Maka, di pagi dan di gunung yang sering kami bicarakan ini, aku harus puas ditemani aroma orang lain. Dimas sialan!
Setelah kira-kira setengah jam kami berbaris merayapi bukit, kini tibalah di lokasi perhentian. Ada sebuah pendapa besar di sisi kanan. Sedangkan di kiri jalan tampak sebuah gapura besar dari batu yang berdiri di atas pekarangan berpagar, tampak amat kuno. Kurasa inilah Candi Sukuh.
Aku tak sempat lama-lama memperhatikan candi, sebab pemandangan lain menyitaku—tepatnya menyita perhatian semua peserta hiking. “Selamat datang...!” sambut guru-guru kami; mereka rupanya sudah menunggu kedatangan kami di sini, dan semuanya berpakaian layaknya Pembina Pramuka.
Selain guru-guru tampak juga Bantara-Bantara lainnya yang berjumlah cukup banyak. “Kalau capek bisa istirahat dulu sebentar,” sambut salah satu dari mereka.
“Sejak kapan mereka tiba di sini? Tadi mereka tidak satu bus dengan kita, tho?” Alif bertanya-tanya sambil melepas lelah di tepi pagar candi.
“Mereka bawa kendaraan sendiri,” sahutku, “khusus untuk rombongan guru.”
“Nggak penting! Yang penting itu sekarang ada sarapan nggak?” gerutu Albert yang tampak kepayahan.
“Sudah, duduk sini saja dulu. Nanti kalau memang ada jatah makan pasti dipanggil,” cetus Rizal. Dia juga tampak kecapekan.
“Aneh kamu, Zal, badan kuli begitu tapi seperti mau mati saja!” ejek Yoga ke Rizal. “Harusnya kamu itu yang paling kuat.”
“Bukan jaminan. Mau badan segede apa pun, kalau kebanyakan kolestrol ya hancur. Rizal makannya gorengan terus. Ngutang di kantin pun dilakoni,” cetus Wawan ikut mencibir.
“Tidak hanya yang digoreng, yang dibakar juga gencar. Ngerokokmu itu sudah parah, Zal!” timpal Yoga lagi.
Sementara yang lain sibuk mengomentari Rizal, Neki mengomentariku, “Lu nggak capek apa, Fan?” Dia bertanya dengan napas ngos-ngosan.
“Iya, Fandy yang kurus begitu malah badak tenaganya!” Albert menyambar.
Sebenarnya aku pun capek, hanya saja tak sampai ngos-ngosan. Dua kilometer itu lumayan jauh, apalagi ditambah jalan yang menanjak.
“Harusnya Fandy lebih pantas jadi Wapinsa, daripada si Neki,” celetuk Rizal.
“Kok?” tukas Neki dengan raut sensi.
“Lihat sendiri, cuma Alif sama Fandy yang tak kelihatan capek. Lha kamu, Nek, sudah seperti gorengan gosong!” ejek Rizal, disambung tawa teman-temanku yang lain.
“Nggak usah ngomentarin orang lain. Ngaca dong, lu sendiri badan gede tapi tenaga letoi!” balas Neki sengit.
Sebelum Rizal membalas dan menyulut pertengkaran lebih jauh dengan Neki, Wawan lebih dulu memotong, “Paling yang nanti sukses dilantik jadi Bantara ya cuma Alif sama Fandy. Kita yang  lain ini cuma penggembira saja, naik gunung buat senang-senang.”
“Aku niat kok jadi Bantara, nggak cuma penggembira!” Neki langsung menyambar lagi, kelihatan sangat benci kalau disepelekan.
“Malah aku yang nggak pengin,” cetusku menengahi semuanya. “Memangnya aku kelihatan punya niat jadi Bantara? Aku ikut hiking ini juga cuma senang-senang. Aku tertarik gunungnya, bukan Pramuka-nya.”
“Lho, kenapa, Fan?” Alif yang dari tadi banyak diam kini menanggapiku. “Dengar-dengar kamu itu terolong senior darling, lho. Pasti gampang kalau mau diangkat Bantara.”
“Jelaslah, tampang anak baik-baik begitu?” timpal Rizal.
Aku tertawa. “Nggak tertarik.”
“Sama. Aku juga cuma tertarik sama jalan-jalannya, bukan sama Pramuka-nya,” Albert menyahut. “Dan seharusnya kita tidak dibiarkan kelaparan begini.”
Aku mengabaikan semua temanku, kecuali Alif; kuamati raut mukanya seperti memendam sedikit kecewa. Mungkin karena di sanggha ini ternyata dia sendirian mengejar tujuan untuk dilantik jadi Bantara. Sepertinya dia serius dengan organisasi berseragam coklat ini.
“Tapi mungkin suatu saat pikiranku berubah. Bisa saja aku menjadi tergila-gila pada Pramuka. Siapa tahu?” celetukku, menghibur si ketua sanggha yang dirundung sedih itu. Sekarang kulihat dia mengulum senyumnya—tersenyum saja, tak berkata apa-apa.
Lalu giliran Albert mendapat berita baik—sebetulnya itu berita baik untuk kami semua, tapi kurasa teman kami yang gemuk itu adalah yang paling gembira mendengarnya. “Adik-adik, yang belum apa-apa sudah kecapekan, biar tenaga kalian pulih silakan langsung ambil sarapan kalian di pendapa...!” seru Bu Hana, salah satu guru kami.
“Cocooook...!” Albert langsung bangkit dalam aura kerakusan.
Semua pun berduyun-duyun menuju ke pendapa bagai hama wereng yang mau menggasak ladang. “Tolong makan yang tertib, dan jaga tempat tetap bersih!” imbuh Bu Hana lantang. “Waktu untuk makan cuma satu jam, kalau ada sisa waktu bisa digunakan untuk melihat-lihat candi. Setelah itu kita akan lanjutkan kegiatan!”
“Ayo, Fan!” ajak Alif.
“Ya. Nanti aku nyusul,” balasku.
Aku masih bersantai sementara yang lain mulai mengambil sarapan. Aku lebih tertarik untuk mengamati Candi Sukuh yang menjulang di hadapanku. Selain bentuknya yang unik dan purba, gapura itu terasa memancarkan sesuatu yang membuat hatiku sedikit bergidik. Bukan bergidik karena ngeri, tetapi lebih seperti ketika kau merasa apa yang kaulihat tak sungguh-sungguh seperti yang terlihat. Ada yang lain di balik yang terlihat. Namun itu tak terlalu mengherankan juga, sebab sebuah candi tentu memang bukan sembarang tempat.
“Nggak makan?” sapa seseorang menyela lamunanku.
Aku menoleh, dan mendapati orang yang menyapaku adalah salah satu kakak kelasku. Seorang Bantara. Seorang vokalis band sekolah. Seorang yang menjadi idola di sekolah kami. Dia disukai banyak orang, tapi secara pribadi dia punya masalah denganku—dialah yang menciptakan masalah itu, bukan aku.
“Nanti saja, Kak,” jawabku datar.
“Formal banget pakai 'Kak'?” sahutnya disertai tawa tipis.
“Aturan Pramuka memang begitu. Bahkan Pak Hamid pun juga harus dipanggil 'Kak' oleh orang-orang yang sebaya dengan anaknya.”
“Panggilan itu untuk menunjukkan bahwa junior menghormati senior dalam bahasa keakraban, sebab belum tentu masing-masing sudah akrab secara personal. Tapi itu pun bukan harga mati. Kalau pada dasarnya sudah akrab, ya formalitas itu tak diperlukan lagi.”
Aku tertawa geli, tapi juga singkat saja. “Apakah secara personal kita sudah akrab?” balasku. “Kak Erik akrab dengan Dimas—dulu. Tapi denganku tidak. Jadi lebih tepat kalau aku memakai yang formal saja.”
Dia diam, beberapa waktu. Mungkin aku terlalu menohoknya. Lalu dia masih mengajak bicara lagi, “Kenapa Dimas tidak ikut?”
“Dia 'kan tidak ikut Pramuka. Apalagi jadi Bantara,” jawabku datar, lebih mengutamakan fokusku pada pemandangan candi di balik pagar besi.
“Dia sendiri yang mengaku begitu?” sahutnya, seakan-akan ingin terus mengikatku dengan obrolannya. “Dimas lulus jadi Bantara, kok. Dia ada waktu upacara pelantikan. Cuma setelah itu kelihatannya dia malas meneruskan Pramuka.”
Kali ini dia berhasil mengusikku. Aku tak tertarik membicarakan soal status ke-Bantara-an Dimas dengan bekas teman nge-band-nya ini, tapi aku pasti akan mencari penjelasan langsung ke Dimas sendiri—kalau Dimas ternyata memang bohong padaku, awas saja!
“Dimas tak mau ikut acara ini mungkin karena ada Kak Erik. Mungkin dia memang sudah memaafkanmu, Kak. Tapi bukan berarti dia sudah siap untuk berada jauh dari rumah demi bersama teman-teman yang dulu pernah mengolok-oloknya. Kata maaf tak serta-merta menghilangkan trauma, lho, Kak.”
Kali ini Erik—yang kupanggil dengan 'Kak'—betul-betul terdiam setelah mendapat jawabanku. Kami berdiri bertatap muka; dia tersenyum pahit, mengangguk beberapa kali, lalu pergi. Aku sadar kata-kataku terlalu kejam, tapi setidaknya aku tak mempermalukannya di depan banyak orang, tak seperti yang pernah dia lakukan terhadap Dimas. Aku hanya mempermalukannya di depan diriku sendiri, dan itu demi membuat dia tahu diri saja.
Aku tahu, Dimas tak akan menyetujui sikapku terhadap Erik—orang yang sebetulnya juga sempat kukagumi, dan... bahkan Dimas pun pernah mengejar cintanya.

***

Sebagian peserta sudah menyelesaikan sarapan, termasuk aku, dan masih tersisa beberapa waktu bagi kami untuk melihat-lihat candi. Aku tak lagi hanya mengamati dari luar pagar; aku masuk ke dalam dan bagian pertama yang kuamati adalah gapura bagian depan.
Untuk masuk ke kompleks candi tak bisa melewati gapura utama ini; kondisi gapura diberi pintu sekat yang dikunci, sehingga tak seorang pun pengunjung dapat memasukinya. Lorong masuk gapura hanya bisa dilongok dari luar pintu penyekat, dan sekarang aku bisa menduga mengapa gapura ini tak boleh dilewati untuk jalan masuk. Rupanya ada relief di lantainya, yang akan rawan rusak karena terinjak-injak jika gapura ini tidak diblokade. Dan memang akan sungguh disayangkan kalau relief itu sampai rusak, sebab itu adalah relief yang teramat unik. Unik karena provokatif!
Relief itu berbentuk penis dan vagina. Aku tak tahu apa maksudnya dibuat relief dua organ kelamin di lantai gapura sebuah candi yang mestinya dibangun sebagai tempat suci. Dan pula, dua organ kelamin itu dipahatkan dalam posisi menempel—kurang provokatif apa lagi?
“Ngaceng, Fan?” tiba-tiba Rizal sudah di sampingku sambil berkata saru. Kurasa dia sendirilah yang seperti apa yang dia katakan. Dia langsung pergi lagi sambil tertawa-tawa cengengesan.
Aku sendiri juga tak berlama-lama mengamati gapura dan reliefnya seolah-olah aku belum pernah melihat bentuk kedua organ itu. Setelah kujelajahi, ternyata Candi Sukuh memiliki banyak bagian yang memang menarik untuk diamati, tak hanya gapuranya saja. Aku pernah ke Prambanan, Kalasan, Candi Sewu dan beberapa lagi yang ada di sekitar Jogja; bentuk candi-candi itu jauh berbeda dari candi yang kulihat sekarang ini. Di Candi Sukuh tak kulihat ada bentuk stupa ataupun bangunan bersegi yang tinggi mengerucut seperti yang ada di Prambanan, yang ada justru bangunan berbentuk seperti limas tetapi tumpul bagian atasnya. Ya, kalau kau bisa membayangkannya, ini menyerupai piramid suku Maya—atau Aztec, entahlah, aku tak terlalu hapal.
Kebetulankah, ataukah memang ada hubungan antara suku Jawa dan suku-suku di Amerika Tengah?
Soal budaya dan sejarah biasanya Dimas lebih tahu, tapi akhir pekan ini dia memilih bersantai saja di rumahnya dan merelakanku pergi bersama pasukan Pramuka tanpa dirinya. Entah kenapa aku merasa yakin saat ini dia sedang di kamar menonton foto-foto cowok tampan yang memamerkan penis di internet, sementara aku menonton penis yang dipahat di candi piramid di lereng Lawu ini.
Aku melihat seonggok arca di dekat candi induk, yang posisinya sedang mencengkeram penis dengan salah satu tangannya. Penis itu dalam kondisi ereksi dan tegak ke atas. Ya, kurasa kau bisa membayangkan adegan apa yang diperagakan arca itu—sebetulnya aku enggan membahas yang seperti ini, tetapi penuhnya candi ini dengan hal-hal erotis membuatku bingung dan tak tahan untuk membicarakannya. Entah karena apa, bagian kepala patung itu sudah hilang, sehingga adegan vulgar itu tak lagi erotis tetapi malah menjadi menyeramkan—coba kaubayangkan seonggok makhluk gempal tak berkepala sedang onani!
Untuk mereduksi keseraman, kubayangkan saja Dimas sedang berdiri di belakang patung itu, lalu menyandarkan dagunya di atas leher patung yang buntung. Nah, patung itu sekarang berkepala. Mungkin sekarang Dimas memang sedang melakukannya di kamarnya—semoga Denis tiba-tiba menyelonong masuk dan menggagalkan hiburan cabul akhir pekannya itu. Sekarang kautahu seperti apa kesalku saat ini kepada orang yang sudah kuterima sebagai pacar itu.
Di saat aku sibuk mengamati untuk memahami maksud keberadaan arca vulgar ini, seseorang menghampiri dan menyapaku.
“Suka?” sapanya dengan sebuah pertanyaan. Aku tak kenal orang ini. Dia laki-laki berusia mungkin 25-an. Penampilannya seperti Indiana Jones versi muda tapi tanpa topi koboi dan pecut; lelaki lapangan, tapi rambutnya tampak terawat, bahkan gaul.
“Suka apanya?” aku balas bertanya.
“Arcanya menarik, 'kan? Gimana pendapatmu?” tanyanya sambil menepuk-nepuk badan arca.
“Sepertinya terlalu vulgar untuk berada di sebuah candi yang bisa dikunjungi siapa pun. Tapi memang di situlah uniknya,” jawabku, sekadar menjadi pembalas pertanyaan yang ramah.
“Menurutmu ini porno?”
“Apa maksud adegan seperti ini berada di sini?” aku balik menyodorkan pertanyaanku sendiri.
“Oke, begini,” dia memperagakan diri layaknya seorang pemandu wisata, atau guru sejarah, “di sebelah sini kau bertemu penis, di sebelah sana kau akan bertemu vagina,” dia menunjuk suatu arah, “dan di gerbang depan kau malah bisa melihat dua-duanya, penis dan vagina, sedang bertempelan.”
Penis, vagina, bertempelan…. “Ini seperti bukan di sebuah candi dan di acara Pramuka, tapi sebuah laboratorium terbuka dalam rangka pelajaran biologi,” kataku. “Bab reproduksi,” tambahku.
“Biologi?” sahut orang itu menyunggingkan senyum. Lalu dia menunjuk ke satu arah lagi—ke lelaki lain yang sedang duduk di salah satu pelataran. “Temanku itu Sarjana Biologi. Lihat itu, dia duduk di bawah sebuah relief. Kalau kau mau amati lebih teliti, itu adalah relief vagina yang sangat besar.”
Relief vagina besar? Aku mulai sakit kepala. Betul!
“Penis dan vagina, reproduksi, kau bisa hubungkan itu pada apa?” Indiana Jones berambut bagus itu melemparkan pertanyaan lagi.
“Nafsu?” jawabku agak asal.
Dia tertawa. “Nafsu tidak harus dengan lawan jenis, lho?” tukasnya, rasanya seperti menimpuk mukaku dengan batu candi. “Kalau reproduksi, barulah itu harus melibatkan lawan jenis. Selain jantan-betina, apa lagi yang menurutmu bisa dihubungkan dengan reproduksi?” Lalu dia buru-buru menambahkan isyarat dengan menggoyang-goyangkan telunjuk, “Jangan berpikir biologis, cobalah lebih filosofis!”
Kali ini aku lebih serius. “Kesuburan,” jawabku.
Dia berbinar. “Kau cakep dan pintar!” Lalu dia kembali memberiku seminar dengan antusias. “Di sini, selain simbol-simbol kesuburan, kau juga bisa temukan relief-relief yang lain. Ada relief cerita Sudamala yang menceritakan pengampunan dosa. Tapi yang paling menarik, menurutku, adalah relief cerita Garuda; ia harus mengalahkan banyak raksasa demi menemukan Air Kehidupan. Lalu mari kita hubungkan: kesuburan menghadirkan kelahiran, tapi setiap yang lahir pasti akan dinodai dosa di kemudian hari, oleh karenanya perlu pengampunan. Pengampunan memurnikan kembali kehidupan, lalu Air Kehidupan memberi keabadian. Tapi apa gunanya keabadian jika hidup tidak dalam kedamaian? Apa artinya?”
Dia bertanya padaku, maka aku menjawab, “Abadi tidak dalam damai, berarti keresahan tak berkesudahan.”
Dia berbinar lagi. “Sudah ada cewek yang jadi pacarmu?” Aku tak menjawab pertanyaan itu. Maka dia meneruskan omongan tingginya tadi, “Sekarang kautahu, mengapa untuk mendapatkan Air Kehidupan harus dengan mengalahkan para raksasa—sebab raksasa itu adalah simbol dari ego dalam diri kita.”
“Anda petugas di sini?” tanyaku, setelah beberapa saat merenungkan semua omongannya.
Dia menggeleng.
“Kenapa bisa tahu banyak?”
Kali ini dia menjawab sambil menunjuk temannya lagi, “Sudah kubilang kalau temanku itu Sarjana Biologi, 'kan? Nah, aku Sarjana Sejarah.”
Jujur, aku belum sepenuhnya paham yang dia ceritakan tadi, termasuk tujuannya memberiku seminar filsafat gratis ini. Mungkin aku harus punya gelar sarjana dulu, baru bisa mengerti omongannya.
“Salam Pramuka!” ucapnya, menepuk pundakku sembari berlalu.
Sarjana Sejarah? Hmm. Beberapa belas tahun lagi mungkin rambutnya yang gaul itu sudah menjadi botak—betapa memang tak ada yang abadi. Dan, ngomong-ngomong, ada puluhan anak lainnya berseragam Pramuka di sini, tapi adakah alasan tertentu yang membuat orang tadi menjatuhkan pilihannya untuk menyapaku? Jangan-jangan ada hubungannya dengan beberapa komplimen yang dia tujukan padaku—“cakep”, “pintar”, dan “sudahkah punya cewek” yang terdengar agak tidak biasa bagiku. Namun sudahlah, sarjana aneh itu sudah pergi.
Aku mendengar panggilan untuk berkumpul. Artinya waktu untuk bersantai sudah habis. Kami meninggalkan candi.

***

“Sanggha laki-laki sepertinya sengaja dikasih medan yang lebih sulit!” gerutu Wawan.
“Ini biasa sajalah, tidak ekstrem. Sama sekali tak ada yang menanjak,” timpal Rizal. “Cuma, sejak awal masuk kemari, aku merasa kalau hutan ini angker!”
“Jangan ngaco lu, ya!” Neki langsung menimpal. “Kalian nggak ngebayangin apa, lima belas kilo tuh jauuh...! Jalan kaki sampai Tawang Mangu itu udah berat, nggak usah ditambahin pikiran yang aneh-aneh, deh!”
“Bilang saja kamu takut, Nek. Gitu kok katanya mau jadi Bantara?” ledek Yoga.
Rizal tertawa paling keras. “Sudah penakut, 'melambai' lagi. Mau jadi Bantara? Ya malah habis dikerjai junior!”
“Eh, jaga mulut lu, ya!” Neki berbalik dan menunjuk tepat ke hidung Rizal.
“Eh, apa nunjuk-nunjuk?” Rizal berhenti dan berkacak pinggang membusungkan dada, balas menantang.
“Mentang-mentang badan lu gede bukan berarti bisa seenaknya, ya!”
“Iya, mentang-mentang kamu kerempeng juga nggak berarti aku bakal kasihan!”
“Woi! Sudah!” Alif turun tangan menengahi. “Zal, kamu kalau ngomong harus jaga perasaan teman, ya! Nek, kamu juga jangan emosian gitu, dong! Betul perjalanan kita ini jauh, makanya masalah sepele begini ngapain dibikin gede?”
“Iya, jangan kayak anak kecil dong, ah!” timpal Albert, sambil garuk-garuk perut.
Aku menonton pertengkaran sepele ini tanpa komentar. Meskipun yang diucapkan Rizal ada benarnya, maksudku soal hutan ini, aku tak mau menjadikan diriku tampak berpihak pada salah satu dari mereka. Lagi pula sikap keduanya sama-sama tak menumbuhkan simpati—urakan ketemu sensitif. Itu bisa jadi ribut betulan kalau tidak segera dilerai. Karena itu aku senang Alif menunjukkan kepemimpinannya; dia menghentikan pertengkaran dan membuat kami bisa melanjutkan perjalanan lagi.
Inilah acara hiking itu, dikemas dalam konsep “Mencari Jejak”. Dan rute yang harus kami lewati, sebagian besar, adalah kawasan hutan. Sanggha putra dan sanggha putri dibuatkan rute terpisah; pada paruh pertama rute tersebut kami harus melewati lima pos, dan di situ kami akan diuji oleh para senior—para Bantara. Setelah lima pos itu berhasil dilalui, barulah rute sanggha putra dan sanggha putri bertemu dan menjadi satu menuju finish di Tawang Mangu.
Tiap sanggha, di masing-masing rute, diberi jeda sepuluh menit untuk mengambi start. Dan kami, Sanggha Pendobrak, adalah pengemban urutan terakhir di rute putra. Sanggha Perintis dan Sanggha Pencoba sudah jalan lebih dulu di depan kami, dan mereka di depan sana sudah tak kelihatan lagi. Ada satu aturan lagi yang membuat kami menjadi betul-betul terisolir, dari sanggha lain maupun dari siapa pun di luar acara ini, yaitu tiap sanggha hanya diperbolehkan membawa satu ponsel aktif, dan hak itu hanya diberikan kepada Wapinsa. Jadi, di Sanggha Pendobrak cuma Neki yang membawa ponsel, sedangkan yang lain—termasuk aku—harus menitipkan ponsel ke Pembina. Kami, tujuh orang ini, menjadi arak-arakan laskar gembira yang harus siap tersesat, dan bila nanti tersesat betulan kami harus tetap gembira, sebab Pramuka harus selalu bergembira—kata Dasa Dharma butir enam. Menyedihkan.
Kulihat waktu di jam tanganku menunjukkan pukul sepuluh. Pagi seharusnya sudah sangat terang. Namun lebatnya pepohonan membuat sinar matahari seakan-akan menjadi redup. Aura hutan berpadu dalam warna hijau daun dan lumut yang tumbuh di tubuh pohon-pohon, serta warna coklat dari tanah dan daun-daun kering. Tentu kami berjalan sambil bercakap-cakap apa saja, hanya saja kadang ada beberapa saat untuk berhenti bicara. Ketika kami berhenti bicara, suara langkah kami terdengar lebih jernih. Aku merasakan langkah enam pasang kaki lainnya, selain suara langkahku sendiri, tetapi kadang terasa seperti ada pasangan kaki kedelapan, kesembilan, datang dan pergi di belakang kami sepanjang jalan setapak. Ah, mungkin itu perasaanku saja. Lagi pula, kadang kami melihat ada tukang kayu melintas di kejauhan; adanya jalan setapak ini pun sebetulnya sudah menandakan dengan sendirinya bahwa kehidupan manusia masih ada di sekitar hutan ini, sesepi apa pun kelihatannya.
Kudengar Albert menggumam sendiri. “Positive thinking. Teman-teman kita di depan, Pembina dan kakak-kakak Bantara juga berjaga di sana, kalau ada apa-apa tinggal pakai HP-nya Neki, semua aman....”
Positive thinking? Kurasa boleh dikatakan juga sebagai menghibur diri. Perasaan seram itu pada akhirnya tetap tak bisa ditutupi. Dan ketika ada kalanya merasa lega, itu pun sebetulnya menunjukkan betapa tegangnya kami sebelumnya. Beginilah rasanya berjalan di hutan.
“Itu, lihat!” Alif menunjuk ke depan.
Disusul tawa Albert. “Apa kubilang? Positive thinking...!”
Semua pun bernapas lega, melihat Pos Satu sudah tampak di depan sana. Terlihat di kejauhan tiga orang berseragam Pramuka, yang pastinya adalah para “Kakak Bantara”.
“Makanya, biasa sajalah! Siapa yang takut tadi? Namanya acara sekolah begini pasti sudah ada yang tanggung jawab, tak mungkin ditelantarkan,” seloroh Wawan.
“Siapa yang takut?” Neki menimpal agak sengit, merasa tersindir.
“Sudahlah. Semuanya takut. Hanya tak ada yang mengaku saja,” kali ini aku menyahut, menyindir siapa pun, supaya tak ada yang merasa sebagai satu-satunya pihak yang dicerca. Dan tak ada yang membantah ucapanku itu.
Mungkin kami sudah menempuh sekitar satu kilometer dari Candi Sukuh. Sekarang akhirnya kami sudah tiba di Pos Satu. Kami disambut para “Kakak”, salah satunya adalah “Kakak” yang tak kusukai.
“Capek?” sambut Kak Erik.
Yang dua lainnya adalah Kak Ramon dan Kak Septi. Kak Ramon murah senyum, Kak Septi berwajah judes.
“Tidak, Kak!” jawab Alif bersemangat.
“Belum!” susul Wawan.
Albert tak mau ketinggalan, “Ada camilan, Kak?”
“Ambil napas dulu,” saran Kak Ramon. “Duduk dulu sebentar. Relaks. Kita punya banyak waktu.”
“Langsung saja, Kak, tidak terlalu capek, kok,” balas Alif.
“Ya sudah, atur barisan!” cetus Kak Septi.
“Sanggha Pendobrak, siapkan barisan!” komando langsung dilontarkan Alif kepada enam anggotanya.
Dengan agak malas kami menata diri dalam barisan. Kali ini aku menilai semangat Alif memang agak berlebihan. Dia lupa, bahwa Pramuka sejati di sanggha ini hanya dia, sedangkan enam lainnya hanya ingin bersenang-senang (tolong bedakan dari konteks “gembira” menurut Dasa Dharma—ya, butir enam). Ingin bersenang-senang artinya tak harus cepat-cepat berbaris di saat masih ada waktu untuk bersantai.
“Sanggha Pendobrak siap menerima arahan!” seru Alif lantang, sok militer.
“Sebelumnya, selamat, kalian telah sampai di Pos Satu,” Kak Septi bicara mewakili Bantara lainnya. “Di sini kalian akan diuji dengan satu pertanyaan, sama seperti sanggha lainnya. Jawaban kalian akan dinilai, dan nanti nilainya akan diakumulasikan dengan nilai yang kalian dapat di pos-pos berikutnya. Di akhir 'Mencari Jejak' nanti, sanggha pengumpul skor terbanyak akan dinobatkan sebagai sanggha terbaik dan akan mendapat hadiah. Jadi, berikan jawaban terbaik kalian!”
“Pertanyaannya akan diberikan oleh Kak Erik,” Kak Ramon menyambung.
Si Pemberi Pertanyaan lalu maju selangkah ke depan, tepat di depan kami, lalu menyodorkan pertanyaannya, “Simpel saja: apa pendapat kalian tentang Candi Sukuh?”
Kami satu sanggha hening, memikirkan jawaban.
“Kalian satu tim, jadi berdiskusilah untuk menyiapkan jawaban kalian,” cetus Kak Ramon. “Silakan, berdiskusilah! Lima menit.”
“Siap, Kak!” sahut Alif. Lalu dia mengajak kami, para anggota sanggha, sedikit menjauh agar lebih nyaman berdiskusi. “Bagaimana? Kalian sudah punya jawaban?” dia membuka diskusi.
“Blank!” dengus Albert. “Wan, biasanya kamu yang paling suka mikir-mikir?”
Wawan melepas baretnya agar bisa garuk-garuk kepala. “Kalian sadar, 'kan, kalau di candi itu banyak relief-relief seronok?”
“Iya. Ada patung coli segala,” dengus Rizal. “Jawab saja, 'candi erotis'!”
“Candi porno!” sahut Neki, kali ini tampaknya pro dengan Rizal.
“'Candi porno', 'candi erotis', 'candi seronok'.... Kupikir, sanggha-sanggha yang lain pasti juga akan menjawab tak jauh-jauh dari itu,” cetus Alif menanggapi. “Jadi, kalau kita jawab begitu juga, nilai kita ya sama saja dengan mereka, tidak lebih. Kalau mau menang, kita harus cetak skor yang lebih. Jawaban kita harus lebih cerdas!”
“Nah, jawaban yang cerdas itu contohnya apa?” timpal Albert.
“Yog, apa, Yog?” Rizal menanting pendapat dari Yoga.
“Aku ngikut sajalah,” jawab Yoga enteng. Tidak mengagetkan.
“Aku tadi sempat ngobrol dengan seorang pengunjung yang katanya ahli sejarah gitu,” aku membuka suara. “Dia bilang, segala sesuatu yang terkesan porno itu cuma tampilan luarnya. Sebetulnya, relief-relief itu adalah gambaran simbolis. Dalam kehidupan manusia, organ-organ kelamin itu adalah penyalur benih, 'kan? Itu adalah simbol-simbol kehidupan, kesuburan.... Yang porno adalah prasangka kita saja.”
Teman-temanku memandangiku. Yang pertama buka suara adalah Rizal, “Betul. Manuk karo bawuk—simbol kesuburan! Soalnya penis ketemu mulut nggak bakal bikin hamil. Harus sama vagina. Fandy betul. Itu kesuburan!”
“Mantap, gan! Ya sudah, itu saja jawabannya! Sudah keren itu!” Albert merespons dengan antusias.
“Yoi, yoi, bagus itu. Cocok!” cetus Yoga.
“Semua sepakat?” Alif memungut suara.
Wawan mengangguk.
“Kalau gitu biar Fandy aja yang jawab. Yang paling ngerti 'kan dia,” sahut Neki.
“Oke, cukup. Ayo, kembali ke sini!” seru Kak Ramon, menutup waktu diskusi kami.
“Kamu yang jawab, Fan!” bisik Alif sembari kami kembali menata barisan di depan para 'Kakak'.
“Jawaban sudah siap?” tanya Kak Septi.
“Siap, Kak!” sahut Alif lantang.
“Silakan.”
Alif menyikut-nyikut lenganku. Aku sedikit canggung mengurai jawabanku. “Setahu kami, candi dulunya dibangun sebagai tempat untuk bersembahyang. Orang berdoa memejamkan mata, jadi, sebagai tempat berdoa, seharusnya candi jangan dinilai hanya berdasarkan yang terlihat saja; pelajaran-pelajaran yang tersirat di dalamnya juga harus dipahami. Sekilas, relief-relief berbentuk organ kelamin memang terkesan vulgar. Tapi kita tahu, jika organ kelamin laki-laki dan perempuan bertemu, maka akan...” aku mendehem sejenak, “menghasilkan keturunan—generasi baru. Jadi, pelajaran yang tersirat di Candi Sukuh sebetulnya adalah tentang kesuburan. Mengapa kesuburan itu disimbolkan pada sebuah candi—tempat orang-orang zaman dulu bersembahyang? Karena kesuburan patut disyukuri. Itu intinya.”
Penjelasanku selesai. Tadi, ketika aku mendengarkan dari “Indiana Jones berambut gaul”, aku masih agak bingung. Namun ketika sekarang aku diminta menguraikannya sebagai jawaban atas pertanyaan para 'Kakak', tiba-tiba terasa jelas dan mengalir begitu saja di dalam kepalaku, jadi aku tinggal menyampaikannya secara verbal ke mereka. Kurasa aku belum menyampaikan seluruhnya, tapi itu tadi sudah cukup membuat mereka tampak tercengang.
“Emmhhh.... Baik, sangat impresif,” Kak Erik berkomentar.
“Paling beda!” celetuk Kak Ramon, mengisyaratkan bahwa jawaban Sanggha Pendobrak paling spesial. Terima kasih kepada Sarjana Sejarah yang aneh itu.
“Jawaban yang bagus. Tapi kalian baru bisa tahu rincian skor kalian saat pengumuman 'Sanggha Terbaik' nanti. Pertahankan semangat, ya!” ujar Kak Erik.
“Tambahan, setelah pos ini kalian akan menemui cabang jalan. Agar tidak menempuh jalur yang keliru, kalian harus mencari tanda petunjuk di sekitarnya. Kalian sudah belajar tentang sandi-sandi, 'kan? Nah, gunakan kemampuan kalian! Tidak sulit, tapi kalian harus tetap jeli,” cetus Kak Septi.
“Kalian bukan lagi Pramuka Siaga atau Penggalang. Kalian sudah Penegak, tantangannya jelas beda, dong!” imbuh Kak Ramon dengan nada gaul.
“Dan ingat, kalian adalah barisan terakhir, sudah tak ada sanggha lainnya di belakang kalian. Tapi bukan berarti kalian boleh berjalan malas-malasan, sebab cara kalian memanfaatkan waktu juga akan menjadi bahan penilaian,” tandas Kak Erik. “Selamat melanjutkan perjalanan. Kami akan menyusul sepuluh menit setelah kalian, dan akan mengawasi dari belakang.”
“Istilahnya: sweeper!” sambung Kak Ramon.
“Siap, Kak! Terima kasih untuk arahannya.” Lalu Alif menyerukan komandonya, “Sanggha Pendobrak, jalaaan...!”
Lucu.
“Sanggha Pendobrak, sanggha terakhir di rute satu sudah jalan,” suara Kak Ramon bicara dengan ponselnya terdengar olehku. Kurasa dia memberi laporan ke Pembina yang stand by di suatu tempat.
“Mantap, Fan, jawabanmu tadi,” sambil jalan Alif melontarkan pujian padaku.
“Tahu itu dari mana, Fan?” Albert menimbrung.
“Sudah kubilang, aku tadi bertemu orang yang mengaku Sarjana Sejarah gitu. Mungkin dia sedang melakukan penelitian di Sukuh. Aku ngobrol dengan dia soal candi itu.”
 “Kalau aku tetap mikir yang simpel wae, lah. Pokoknya candi itu bikin ngaceng!” Rizal mulai lagi dengan omongan joroknya.
“Matamu yo ngaceng! Nggak bisa kedip, tho?” tukas Albert.
“Woi, ngomongin yang sopan-sopan saja kenapa, tho?” Alif mulai jengah.
“Nah, diprotes lagi,” Rizal menggerutu. “Ya sudah. Ngerokok saja. Biar mulut nggak nganggur.”
“Jatah buat aku dong, Zal!” Albert langsung ikut-ikut.
“Hei! Tahan dulu kenapa, sih? Kalau ketahuan bakal dihukum kita!” Alif melarang.
“Ya jangan sampai ketahuan, tho,” Rizal ngotot.
“Yang nanggung risiko bukan cuma kamu, Zal, tapi satu sanggha ini bakal kena semua!” tukas Wawan ikut memprotes Rizal.
Alif menghentikan langkahnya, dan berbalik tepat di hadapan Rizal. “Zal, please, simpan rokokmu,” ucapnya dengan mimik serius.
“Oke, oke!” Rizal mencopot lagi batang rokok yang sudah tertancap di mulutnya, lalu memasukkannya ke kantong baju. “Nah, aku anggota yang nurut, tho?”
Alif membalikkan badannya lagi, tanpa berkomentar apa-apa. Kami meneruskan langkah, dan sebisa mungkin ketegangan tadi kami cecerkan saja di belakang hingga bisa terlupakan, sebab tujuan bersenang-senang jelas tak akan tercapai jika terlalu sering terjadi pertengkaran.
Kubayangkan, seandainya perjalanan ini hanya kutempuh berdua saja dengan Dimas. Kurasa kami pun juga akan sering bertengkar. Namun pertengkaran itu tak akan pernah menjadi serius. Paling-paling kami hanya mempertengkarkan soal ide-ide nyeleneh yang sering keluar dari kepalanya. Ketika suatu sore kami berjalan-jalan di sawah, dia mencetuskan pertanyaan, “Kalau gubuk itu dipakai untuk ML, berapa persen kemungkinan bakal roboh?” Tentu saja pertanyaan itu terlalu absurd untuk memiliki jawaban dalam bentuk persentase. Ujung-ujungnya itu hanya menjadi modus baginya untuk berkata, “Kalau begitu, kita uji saja.” Aku menolak, dan kami bertengkar. Namun dia tak pernah marah. Sepertinya dia memang hanya ingin membuang ide-ide aneh itu keluar dari kepalanya, tak menuntut untuk direalisir. Seperti onani mungkin, hanya ingin melepaskan sesuatu, bukan bermaksud untuk membuahi/dibuahi. Dia puas ketika sudah melepaskannya, itu saja.
Jika melihat gubuk di sawah saja sudah membuat pikiran Dimas ke mana-mana, apalagi kalau kubawa dia ke Candi Sukuh?
“Berhenti dulu!” tiba-tiba suara Alif memecah kesenyapan.
Kami semua berhenti. Kupertajam semua inderaku terhadap sekitar. Sekarang kusadari, rupanya ada sesuatu yang harus kami hadapi di sini. Sebuah persimpangan—pertigaan jalan di tengah hutan.
“Ini seperti yang sudah dibilang tadi, bahwa kita bakal bertemu jalan yang bercabang,” kata Alif. “Coba cari petunjuknya!”
Kami segera sibuk meneliti sekitar, mencari penunjuk jalan yang mungkin berupa susunan batu yang menunjukkan arah, atau gambar panah, atau sandi yang lainnya. Kami mencarinya sampai beberapa waktu. Namun….
“Nggak ada, Lif,” dengus Albert.
“Aku juga nggak nemu,” sahut Neki.
“Pasti ada. Ayo, cari lebih teliti!” balas Alif sambil menyibak semak-semak.
“Kebangetan kalau sandinya dibikin yang susah-susah! Kalau ada ya pasti yang gampang dilihat. Sengaja biar kita kesasar apa?” gerutu Rizal.
Aku juga tak menemukan apa pun yang tampak sebagai penunjuk jalan. Aneh! Kami semua mulai resah dan kebingungan.
“Tunggu saja, deh, Lif. Daripada maksa, ntar malah kesasar! Mending nungguin Kakak-Kakak tadi, 'kan mereka bilang bakal nyusul?” cetus Neki.
“Tapi kesannya kita jadi gagal, Nek. Kita tadi sudah bisa menjawab pertanyaan dengan bagus, kalau sekarang kita nyerah jadi sayang banget,” balas Albert, sepertinya itu mewakili pendapat Alif juga.
Kami semua berpikir sembari masih mencoba menemukan sandi penunjuk jalan.
“Nek, ponselmu bisa akses Google Earth?” tiba-tiba terlontar ide dari Wawan.
“Bisa...,” jawab Neki sedikit ragu.
“Ah, bagus! Coba kita lihat saja lewat Google Earth!” cetus Wawan bersemangat. “Kita lihat ke arah mana Tawang Mangu dari Candi Sukuh, setelah itu kita bisa perkirakan manakah dari cabang jalan ini yang arahnya paling mungkin menuju ke Tawang Mangu!”
Kami semua terdiam saling berpandang-pandangan. Lalu kami kompak memandang ke Neki.
“Ponselmu bisa, 'kan?” lontar Alif ke Neki, sepertinya setuju untuk mencoba ide Wawan.
“Ada sinyal nggak, yah?” gumam Neki seraya mengeluarkan ponselnya. “Sip! Ada sinyal!” cetusnya kemudian dengan wajah girang.
“Kalau begitu kita coba saja!” Alif menjadi kian bersemangat.
Kami semua berkerumun memandangi layar ponsel Neki. Ponselnya cukup canggih, artinya pasti juga cukup mahal; benda itu terhubung dengan internet dan dapat mengakses situs Google Earth. Neki memasukkan nama lokasi, lalu kami tinggal menunggu hasil kerja mesin virtual itu.
“Ketemu!” seru Neki. “Lihat, kalau dari candi tadi, Tawang Mangu posisinya ada di sebelah selatan. Emhh, tepatnya barat daya.”
“Kita tadi dari candi jalan ke arah mana?” tanya Wawan.
“Candi tadi menghadap ke barat. Terus arah awal waktu masuk hutan ini ke arah timur. Tapi tadi juga ada belokan, jadi... menurut perhitunganku, sekarang kita mengarah ke selatan,” terang Alif sambil mengingat-ingat.
“Yakin?”
“Yakin. Selama perjalanan aku selalu mengingat tiap ada belokan. Kalau berdasarkan ingatanku, dan memperhitungkan arah yang ditampilkan di Google, menurutku kita sekarang ke selatan,” jelas Alif berusaha meyakinkan. Dia lalu memandangi kami bergantian, “Ada yang bawa kompas?”
Kami semua menggeleng.
“Sebenarnya ini memalukan, sudah tahu kalau kita bakal masuk gunung tapi aku malah lupa bawa kompas,” Alif mengeluhkan dirinya sendiri. Sebetulnya dia tak perlu malu begitu, menurutku. Ini hanya permainan dan tujuannya untuk bergembira di alam, tak ada soal pertaruhan harga diri. Kenapa malu?
“Perkara kompas tak usah terlalu serius. Kalau kamu memang yakin kita sedang ke arah selatan, ya sudah pakai saja perhitungan itu,” ujarku, mengurangi kecemasan yang tengah terjadi.
“Kalau sekarang kita sedang ke selatan, menurutku jalan yang paling mungkin menuju ke Tawang Mangu yang sebelah kiri!” cetus Wawan seraya menunjuk. “Sebab jalan yang sebelah kanan kelihatannya cenderung lurus ke barat, kupikir itu tak mengarah ke Tawang Mangu.”
“Jadi?” Neki melempar pandangan bergantian antara Wawan dan Alif.
“Wawan kalau mikir teliti sekali, jadi aku percaya sajalah,” Yoga mendukung Wawan.
“Iya, coba sajalah. Nanti kalau kesasar ya tinggal balik lagi kemari, terus ambil jalan yang satunya,” cetus Albert.
“Gimana, Fan?” Alif meminta pertimbanganku.
“Yang penting tim ini jangan sampai pecah, jadi kalau ada kendala bisa diatasi bareng-bareng,” jawabku memberikan pendapat. “Coba sajalah pilihan Wawan.”
“Rizal, Neki?” Alif menanyai tanpa melewatkan satu orang pun.
Keduanya mengangguk.
“Oke, jalan!”
Kami memilih jalan yang kiri, sesuai pertimbangan Wawan yang perhitungannya berdasarkan ingatan Alif, dan juga petunjuk dari Google Earth.
Albert, sambil jalan, “Eh, Nek, bisa pinjam ponselmu sebentar?”
Neki, dengan mimik menyelidik, “Buat apa?”
“Anu....” Albert garuk-garuk kepala sambil senyum-senyum. “Lagi seru begini, aku jadi pengin bikin status di FB....”
“Dodol! Sempat-sempatnya?” Neki membalas dengan judes. “Kalau mau ngeksis jangan numpang, dong!”
“Yeee.... Kalau punyaku nggak disita ya pasti pakai punyaku sendiri!” kilah Albert.
Albert jadi bahan bully-an sembari kami menempuh perjalanan mengikuti jalan setapak. Bosan mem-bully yang satu, maka yang lain jadi sasaran berikutnya. Lumayan, untuk mengusir ketegangan dan perasaan tercekam. Sebab, makin lama hutan yang kami jelajahi makin pekat saja kelihatannya, membuat level keseraman merangkak naik secara pelan tapi pasti.
Kecurigaan mulai mengusik ketika lima belas menit sudah terlewat sejak kami meninggalkan persimpangan tadi, dan kami belum juga mendapati Pos Dua. Sedangkan kondisi hutan makin ekstrem saja; beberapa kali kondisi jalan menyempit karena himpitan pohon-pohon dan semak-semak, beberapa kali menjadi cukup licin karena kondisi yang lembap. Dan sekarang, kami dapati jalan tanah di depan kami terlapisi lumut tipis; jika jalan ini memang pernah dilalui sanggha-sanggha pendahulu kami, maka seharusnya ada bekas goresan-goresan sepatu di situ. Lapisan lumut itu tampak perawan!
“Bukankah ini aneh?” lontar Alif, seraya meraup sedikit lapisan lumut itu dan menunjukkannya pada kami.
“Iya, aneh! Seingatku juga tak ada satu pun rumah penduduk yang terlihat sepanjang perjalanan kita kemari,” sahut Albert juga mulai cemas. “Coba pikirlah, biarpun ini di hutan, bukankah biasanya tetap ada satu atau dua bangunan penduduk—gubuk atau apalah? Sama sekali nggak ada. Berarti jalan kita ini menjauh dari permukiman! Jangan-jangan buntu ke jurang ini nanti?”
“Orang lewat selain kita juga tidak ada. Seperti sudah bukan di dunia manusia kita ini,” Yoga menimpali.
“Petunjuk yang dibilang kakak-kakak senior bahkan juga nggak ada sejak di persimpangan tadi. Kayaknya kita ambil keputusan yang salah ini!” sahut Neki terdengar agak panik.
“Tadi kita ambil keputusan menurut pendapat siapa, tho?” singgung Rizal, terasa menyindir seseorang.
Wawan diam.
Alif juga diam, tapi pandangan matanya tidak kosong. Dia tampak tak henti meneliti keadaan sekitar. Lalu dia melangkah maju ke depan, tapi tak satu pun ada yang mengikutinya. Setelah sekitar belasan langkah, dia berseru dengan nada kaget, “Lihat ini!”
Barulah kami buru-buru menghampirinya. Dan tercenganglah kami!
“Damn!” Rizal memaki. “Ini pertigaan jalan lagi!”
Jalan yang kami lewati menyabang lagi, membuat belahan di antara pekatnya hutan dengan arah lain yang kami tak tahu akan berujung di mana.
“Kalau jalur ini masih bagian dari permainan, menurutku ini sudah menjadi permainan yang keterlaluan. Ini terlalu membingungkan!” ucapku, menyampaikan pendapatku sejujurnya.
“Coba cari dulu petunjuknya!” Alif rupanya masih berusaha optimistis.
Kami mencoba mengikuti komandonya, tapi kali ini dengan kemalasan. Lebih tepatnya, kurasa semua yang ada di sanggha ini sudah tahu bahwa mencari petunjuk hanyalah opsi mustahil. Menyisir tanah, menggeledah semak-semak, meneliti batang-batang pohon, tetap saja tak menemukan petunjuk yang kami cari.
“Nihil!” desah Yoga lesu.
“Aku juga nggak nemu,” sahut Neki terdengar letih.
“Capek aku! Sudah jelas kita ini kesasar, ngapain masih cari petunjuk? Sudah, kita balik saja! Persetan dengan skor!” gerutu Rizal gusar. Dia menyatakan lebih baik balik arah, tapi dia sendiri kemudian cuma duduk-duduk saja. Fisik dan pikiran kami memang sama capeknya.
Akhirnya Alif pun ikut mendudukkan dirinya. “Ya sudahlah. Kalau begitu tak ada salahnya juga kita istirahat sebentar saja.” Dia mengipasi diri dengan baretnya, sambil mengusap-usap rambut cepaknya yang terlihat basah oleh keringat. Dia tampak menyerah.
Kami semua mengikuti, duduk di mana pun tempat yang bisa diduduki dengan nyaman. Tak ada komentar. Semua diam. Semua lelah. Hingga akhirnya kebungkaman kami pecah oleh racauan Albert yang menggidikkan....
“Ggg... guyss...!” suaranya gagu dan parau....
Kami semua menoleh padanya, dan terperanjat. Wajah Albert pucat pasi ketakutan. Aliran darahku seperti ikut terhenti saat melihat pemandangan menakutkan yang kudapati pada Albert. Sesuatu yang panjang dan berukuran melebihi kenormalan, menjalar ke tubuh yang kaku ketakutan itu.
“To...tolooonggg....” suara Albert lirih seperti mengiris di dalam tenggorokannya, dan matanya tak berani lagi melihat.
“Al, tenang, Al.... Jangan panik!” desis Alif pelan dan tenang, tapi mimik di wajahnya tetap tak bisa menyembunyikan perasaan ngerinya juga.
Binatang bertubuh panjang itu setebal jempol kaki, hitam kemerahan dan beruas-ruas, dengan kaki-kaki runcing yang merayap dengan gerakan tenang tapi mengancam! Binatang itu merambat di kaki Albert, lalu berhenti tepat di bawah perutnya. Kami semua mematung dalam kengerian, hampir tanpa sanggup bertindak apa-apa. Lalu binatang itu bergerak lagi, makin menuju ke atas. Sekarang berhenti di leher Albert.
“Kelabang hutan...,” desis Wawan bergidik.
Kami semua masih terpaku karena bingung harus berbuat apa agar binatang berbisa itu bisa diatasi tanpa membahayakan Albert. Dan, ohhh... sekarang kelabang besar itu mulai merambat di wajahnya! Aku tak berani melihat, terlalu menyeramkan!
“Tenang, Al, binatang itu sepertinya akan terus bergerak ke atas. Tunggu saja sampai di atas kepalamu, jangan bergerak!” Alif mewejang dengan sabar.
Ketika posisi yang dinanti Alif tiba, dia bergerak cepat ke depan dengan sebatang kayu kering di tangan, dan.... Bweetttt...! Dia menyabetkan kayu lentur di tangannya.
“HWAAAAAAA...!” Albert berteriak sekencangnya!
Kelabang besar itu terlontar dari kepala Albert bersama baretnya, jatuh di tanah, dan….
“Awaaassss...!” pekik Neki.
Kelabang hutan itu merayap dengan cepat menuju ke kaki Alif. Brweeekkk...! Kaki Alif lebih cekatan menghadang binatang itu—menginjaknya! Tampak ekor binatang itu menggeliat-geliat di bawah sepatu Alif. Dia lalu menggeruskan sepatunya ke tanah, tubuh binatang itu pun hancur terlindas...!
Semua masih terpaku membisu beberapa saat. Cuma suara napas gugup Albert yang terdengar menderu di tengah kesenyapan, seperti suara roda mesin jahit yang sudah karatan.
“Makasih, Lif...,” ucap Albert masih gagu. Badannya basah oleh keringat.
“Untung kamu belum sampai disengat, Al!” tukas Yoga.
“Kelabang tidak menyengat,” sahutku pelan, masih terbawa perasaan ngeri yang tadi. “Kelabang menggigit dengan taringnya, lalu menyemprotkan bisa. Seperti ular!”
 “Apa aku bisa mati kalau digigit...? Binatang itu besar sekali...!” racau Albert sambil berdiri tertatih. Dia masih kelihatan gemetar.
“Racunnya tak akan membunuhmu. Tapi cukup untuk membuat sekujur badanmu kedinginan, kesakitan, dan lumpuh semalaman!” tukasku.
“Kalau tak segera dibawa ke rumah sakit, hasilnya tetap bisa fatal,” timpal Alif. “Kita semua situasinya seperti ini, tersesat di tengah hutan. Hutan ini siang saja sudah dingin bagi kita yang tidak demam. Bayangkan dirimu dalam keadaan demam harus di sini karena tersesat. Dan mungkin juga masih ada kelabang lainnya di semak-semak!”
Omongan Alif membuat beberapa dari kami langsung menjauhi semak-semak.
“Ini gara-gara kamu, Wan. Kamu tadi yang punya ide buat ambil jalan ini, sekarang bagaimana?” Yoga langsung mengeluhkan Wawan.
Wawan tampak terpojok. “Aku... aku juga bingung sekarang...,” desahnya kecut.
“Tai!” Rizal memaki. “Makanya jangan sok pintar kalau ujungnya tak bisa tanggung jawab!”
“Zal, tak perlu mengatai Wawan begitu!” kali ini aku mengkritik Rizal. “Tadi kamu juga mendukung untuk ambil jalan ini; kita semua sepakat. Jadi nggak adil kalau sekarang kita menyalahkan dia.”
“Kita dukung dia karena kita pikir dia benar. Sekarang terbukti salah, ya adil kalau dia disalahkan. Apanya yang nggak adil?” Yoga menyanggahku.
“Terus, maksudnya kamu sendiri nggak perlu ngaca, gitu?” balasku ke Yoga. “Dari tadi kamu cuma tinggal bilang 'ngikut' dan 'ngikut'! Sekarang kita semua kesusahan terus kamu tinggal menyalahkan temanmu, gitu? Itu mau kaubilang adil? Itu bukan cuma adil, Yog. Itu namanya enak banget!”
“Sudahlah, guys.... Aku minta maaf ke kalian. Memang aku yang salah,” desah Wawan tertekan.
“Nah, itu malah lebih enak lagi. Bikin teman-temannya kesasar, terus tinggal bilang maaf. Tai!” Rizal masih terus menyudutkan Wawan.
“Sudahlah, Wan. Berani minta maaf itu lebih gentle, kok, daripada yang bisanya cuma maki-maki teman,” ucapku menenangkan Wawan.
“Eh, maksudnya apa?” Rizal tiba-tiba mendorong dadaku, cukup kuat dan membuatku hampir saja terpelanting!
“Zal! Stop!” Alif langsung menghadang Rizal dengan suara tajam. “Fandy benar! Paling enggak Wawan berani menawarkan solusi, dan dia berani minta maaf saat pendapatnya keliru! Kita satu tim, kita hadapi semua bareng-bareng! Kalau kamu cuma bisa menyalahkan temanmu, justru kamu yang jadi beban buat kita!”
Kali ini dua anak yang sama-sama imbang badannya saling berhadapan—Alif dan Rizal. Alif memang sedikit lebih kecil, tapi dia punya wibawa dan pikiran yang jauh lebih jernih. Sedangkan Rizal cuma pemarah yang nggak jelas.
“Iya. Kita kesasar ini kiamat kecil, tapi kalau sanggha ini pecah itulah kiamat besar. Masalah jadi lebih mudah kalau diatasi bareng-bareng. Sudah, jangan berantem terus...!” Albert sekarang bisa berceletuk lagi setelah pulih dari shock.
“Lagian kita cuma salah ambil jalan, tinggal balik lagi terus pilih jalan yang satunya. Nggak parah-parah amat, paling cuma boros tenaga sama waktu aja. Tetap bisa pulang kali! Ngapain digede-gedein?” cetus Neki yang dari tadi cuma diam.
“Oke. Aku cuma ingin cepat balik. Seterusnya persetan dengan sanggha! Persetan dengan Pramuka!” dengus Rizal sambil buang muka. Dia mengeluarkan rokoknya lagi, menyalakannya dan mengisapnya tanpa peduli dengan yang lain. Lalu berjalan mendahului.
Kami semua berjalan dengan lesu, menyusuri lagi jalur keliru ini ke arah sebaliknya. Semua terlihat menyimpan rasa dongkol masing-masing. Aku juga dongkol; tanpa kusangka aku tadi telah terpancing ke dalam pertengkaran. Aku sudah menempatkan diriku ke salah satu kubu. Ya sudahlah. Sikap Rizal tadi memang sudah menjengahkan sekali.
“Capek, Fan?” Alif yang berjalan di sampingku mengajakku bicara.
“Kalau badan tak terlalu,” sahutku dengan senyum masam.
“Jadi apa yang paling capek?”
“Pikiran. Tapi kamu pasti lebih capek, Lif, jadi Pinsa yang harus mengatur sanggha yang nggak akur begini.”
Alif tertawa kecut. “Memangnya kamu yakin sanggha yang lain lebih akur?”
“Paling tidak, mereka tidak salah ambil jalan.”
“Tantangan membuat kita lebih kuat, Fan,” sahut Alif diplomatis. “Kalaupun gagal, setidaknya kita sudah mencoba sesuatu.”
“Karena itulah kamu lebih pantas jadi pemimpin dibanding yang lain,” timpalku.
Dia tertawa. “Dan seharusnya kamu yang jadi penasihatku, Fan.”
“Aku tertarik, selama bukan di Pramuka.”
Kami berdua bisa tertawa sejenak, menyegarkan pikiran yang penat ini. Ya, mengamalkan Dasa Dharma butir keenam—Pramuka harus gembira, biarpun kesasar di hutan dan hampir digigit kelabang raksasa.
Namun di saat perasaanku sudah mulai sedikit lebih tenang, sesuatu yang mengagetkan kembali terjadi.
“Astaga!” desis Alif terpaku.
“Ini mustahil!” Albert mengumpat.
Kami terhenti, mendapati sebuah pertigaan jalan lagi di depan kami. Dan pertigaan ini tak pernah kami lihat sebelumnya!
Di tengah kesenyapan yang mencekam ini, ketika kaki-kaki kami terhenti dalam kebimbangan, sesuatu dalam diriku menajam lagi. Kudengar lagi suara pasangan kaki kedelapan, kesembilan, kesepuluh dan seterusnya. Mereka di balik semak-semak, di belakang. Dan salah satunya sedang tertawa. Namun, sepertinya cuma aku yang mendengar....
“Memangnya kita tadi ngelewatin pertigaan ini?” pertanyaan terlontar dengan nada masygul dari mulut Neki. Aku tahu pertanyaan itu pun akan dilontarkan oleh temanku yang lain andai tak didului oleh Neki.
“Ini jelas bukan pertigaan jalan yang pertama tadi. Tapi aku tidak ingat kalau kita pernah lewat pertigaan ini,” ucap Alif tergagu. “Kalian ada yang ingat kita pernah lewat sini?”
Tak ada yang menjawab ataupun sekadar mengangguk—bahkan menggeleng pun tidak. Cemas dan keraguan melanda kami.
“Kita tersesat makin jauh, sepertinya,” timpal Wawan dengan suara setengah tersumbat.
“Tapi kupikir kita tak pernah belok ke mana-mana, selain pertigaan yang pertama tadi, jadi bagaimana kita bisa tersesat makin jauh?” sanggah Alif—sepanjang perjalanan hiking ini, baru kali ini aku melihatnya benar-benar tampak bingung.
“Tunggu apa lagi? Sudah, telepon Pembina! Nggak usah gengsi-gengsian lagi! Telepon, cepat!” omel Rizal berang.
Bergegas dan campur gugup, Neki mengeluarkan ponselnya. Namun sejurus kemudian dia seperti kehilangan tulang-tulang di kakinya; dia terjongkok di tanah dengan wajah pucat. “Nggak ada sinyal...,” desahnya lirih.
Aku juga merasa seperti kehilangan tulang-tulangku mendengar hal itu.
Rizal memaki kata-kata kotor; Albert meracau seperti mau menangis; Alif, Wawan dan Yoga tampak lebih tenang, tapi tetap tak bisa menutupi gurat panik di wajah mereka. Neki mengayunkan ponselnya ke arah sana-sini, berharap menemukan sinyal jaringan, bahkan beberapa kali ia sudah mencoba menelepon, tapi tetap tak ada hasil.
“Blank....” desahnya lesu.
Beberapa saat kami semua hanya sanggup membisu. Alif yang pertama kali membuka suara. “Mau tak mau, kita coba saja ambil salah satu jalan.”
“Kalau kesasar lagi gimana?” sahut Albert.
“Kita tinggalkan tanda di sini—di situlah kecerobohan kita sebelum ini, kita tak meninggalkan tanda-tanda di jalan yang kita lewati,” jelas Alif. Lalu dengan cekatan dia langsung mempraktikkan idenya; dia memotong tali miliknya seutas, lalu mengikatkannya ke salah satu batang pohon. “Ini sebagai tanda kita pernah berada di pertigaan ini. Sekarang, kita coba ambil jalan sebelah kanan dulu; kalau kita tadi sudah melewatinya pasti akan ada apa saja yang bisa kita ingat di jalan itu. Sementara itu, kita tetap akan tinggalkan tali penanda juga untuk berjaga-jaga semisal ternyata kita harus balik arah lagi. Kita coba jalan sekitar lima atau sepuluh menit, kalau sepertinya tak ada sesuatu yang bisa kita ingat dari jalan itu, artinya kita tadi tidak lewat situ, dan kita harus balik arah menuju kemari lagi.”
“Lalu tinggal ambil cabang jalan yang satunya,” sambung Wawan.
“Betul,” timpal Alif.
“Kenapa tidak dibagi menjadi dua tim saja, Lif? Masing-masing coba jalan yang berbeda, gitu?” kali ini Yoga mulai ikut berinisiatif.
“Jangan. Lebih baik kita tetap satu tim! Jadi kalau ada apa-apa, kita bisa atasi bersama, tidak terpecah. Lagian, kita bertujuh, angka ganjil, tak bisa dibagi dua,” papar Alif.
“Oke. Masuk akal,” gumam Albert.
“Ayolah, kita tak boleh putus asa!” tandas Alif meyakinkan dan menyemangati teman-temannya.
Aku, “Ya, menurutku itu tindakan paling tepat.”
Neki, “Ya sudah.”
Wawan, “Siap!”
Yoga mengangguk meski raut wajahnya masih kelihatan ragu.
“Terpaksa,” dengus Rizal.
“Sanggha Pendobrak, majuuu...!” seru Albert, mencairkan suasana dengan kelakarnya. “Masa, sih, kita nggak bisa balik? Yang benar saja.”
Beberapa dari kami mulai tersenyum lagi, semangat kembali bangkit. Sebetulnya, kalau mau mengambil sisi positifnya, insiden seperti ini bisa menjadi pengalaman yang mengasah mental kami. Sepulang dari gunung ini—kalau kami memang berhasil pulang—tentu ini bisa menjadi cerita seru untuk kami pamerkan ke teman-teman kami yang lain. Alif akan punya cerita bahwa dia pernah memimpin sebuah tim untuk keluar dari hutan yang membingungkan; Albert bisa memamerkan pengalamannya digerayangi kelabang besar tanpa tergigit, dan mungkin dia bisa sedikit mengibul pada beberapa bagian—bahwa dia tak menangis, misalnya; siapa pun dari kami bertujuh bisa menjadikan ini sebagai cerita yang seru, asalkan tidak malu dan bersedia memandang dari sisi positif.
Sejujurnya, aku pun menemukan pengalaman khususku sendiri, sesuatu yang tak kuceritakan kepada teman-temanku karena aku tak ingin mengganggu nyali mereka. Kalaupun itu tak membuat mereka takut, aku tetap tak ingin ditertawai karena dianggap menceritakan omong kosong atau takhayul. Tak setiap orang mau menerima hal-hal yang terdengar musykil atau di luar nalar. Memang tak semua orang peka terhadap sesuatu yang tak kelihatan. Ya, aku sedang membicarakan langkah-langkah di belakang kami yang tak pernah tampak itu.
Celetuk Rizal ketika kami baru memasuki hutan ini ada benarnya, bahwa hutan ini angker. Aku juga merasakan ada yang mengusik di hutan ini; bukan hanya para pengekor tak terlihat, tetapi cukup banyak lainnya dan ini sulit untuk kujelaskan—bagaimana mendeskripsikan sesuatu yang tak terlihat tanpa terdengar mengada-ada?
Namun, kalau kau percaya pada hal-hal yang sering disebut takhayul oleh orang lain, maka mungkin kau pun sudah maklum bahwa status “angker” sebetulnya bisa dimiliki oleh banyak tempat yang sehari-hari kita temui. Kita sepertinya sudah familiar dengan ungkapan seperti: “setan itu ada di mana-mana, bahkan di hati manusia pun bisa”; atau “makhluk halus itu bisa berada di mana-mana, hanya saja ada yang terlihat dan ada yang tidak, ada yang bisa melihat dan ada yang tidak”. Mengingat hal itu, sebetulnya tak ada yang mengejutkan ketika sebuah hutan memiliki status sebagai “hutan angker”, sebab bisa jadi semua hutan memang angker adanya, seperti juga tempat-tempat yang bukan hutan pun bisa angker. Hanya saja, umumnya hutan berjauhan dari permukiman manusia, itulah masalahnya. Begitulah hutan yang sekarang kujelajahi bersama keenam temanku; jika terjadi sesuatu yang fatal, maka jelas akan sangat mengkhawatirkan. Kami selamat dari kelabang, tapi bagaimana dengan ancaman lainnya? Aku tak merasakan para pengekor tak terlihat itu bersikap mengancam, tapi siapa tahu aku salah? Aku memikirkannya saja takut, jika kukatakan maka aku menularkan ketakutan itu ke teman-temanku.
“Di depan sepertinya ada rerimbunan yang...,” gumam Wawan tersendat dan ragu-ragu, seraya menunjuk ke depan, “kelihatannya ada sesuatu....”
“Ini jelas bukan jalan yang kita lalui tadi, Lif,” ujarku waspada, mengingatkan.
“Sebentar, kita lihat dulu saja. Aku tertarik dengan tempat rimbun itu,” cetus Alif.
Tentu saja, yang namanya hutan, sebagian besar adalah tempat yang rimbun. Namun yang ada di depan kami itu—sekitar 30 meter lagi—memang tampak sebagai rerimbunan yang berbeda. Tempat itu bahkan terlalu gelap untuk kondisi di siang hari. Mungkin pikir Alif itu bisa menjadi pilihan yang cocok untuk duduk-duduk ketika lelah, atau tempat menunggu para junior untuk diplonco. Bisa dijadikan Pos Dua mungkin, pikirnya. Namun aku tidak yakin.
Maka, ketika yang lain terkejut, aku tak terlalu terkejut, meski perasaanku tetap bergidik. Rerimbunan yang kami hampiri ini terbukti bukan Pos Dua. Sebab tak ada satu pun senior yang menunggu kami di sini. Yang menunggu kami hanyalah batu-batu besar yang tersusun dalam genggaman akar-akar pohon tua.
“Tempat apa ini?” cekat Albert gagu.
“Kuburan?” Neki menyahut agak ragu.
“Tempat setan!” terlontar sahutan yang dingin—suara Rizal, dengan wajah membesi.
“Hati-hati kalau bicara, Zal...!” timpal Yoga sedikit berbisik—rasa cemas yang tak terhindarkan.
Jalan yang kami ambil tadi berhenti di sini, tak ada pilihan jalur lagi selain berbalik. Pohon tua di ujung jalan ini begitu besar dan lebat, dan bersulur-sulur—aku tak tahu apakah ini beringin ataukah jenis yang lain. Akar-akarnya merajai tanah di sekitarnya, bahkan mencengkeram batu-batu besar di bawahnya, bagai jari-jari monster yang sanggup meremas apa saja yang dipegangnya. Batu-batu di sekitarnya membentuk semacam pola meski kondisinya sudah tidak rapi dan tidak utuh. Kuteliti pada beberapa bagian, dan kutemukan pahatan-pahatan yang telah aus—dulunya pasti sebuah relief. Aku juga melihat beberapa bekas dupa batang dan takir sesaji.
“Ini bukan kuburan. Ini sisa-sisa candi,” kataku.
“Dan aku menemukan ini!” Wawan menunjukkan sebuah papan kayu yang sepertinya telah tercabut dari tempatnya, dan di situ tampak serangkaian tulisan abjad.
“SITUS CAGAR BUDAYA”, begitu bunyi tulisan yang paling besar.
“Berarti, setidaknya, kita masih di alam manusia, 'kan?” Alif menanggapi disertai seselip tawa kecil—perasaan lega dan sedikit sindiran bagi anggota yang penakut.
“Ini semacam punden. Peninggalan kuno, sama seperti Candi Sukuh, hanya saja ini lebih kecil dan terbengkalai,” tambahku. Yang tak kukatakan adalah, “Meskipun ini adalah tempat manusia, bukan berarti tidak angker.”
“Ya sudah, cepat kita balik saja! Ngapain kita lama-lama di tempat berhala macam ini?!” Rizal menimpal dengan kegusarannya yang masih saja diumbar, seraya menyepakkan kakinya ke batu-batu di undakan. Dan terjadilah apa yang tak kukukatakan tadi....
“Zal, awas!” teriak Alif seketika.
Aku melihat dengan jelas Rizal terpelanting, dan....
Dukkkk...!
“Aaaggghhhhh...!” Rizal mengerang keras saat tubuhnya terjembap ke tanah. Tubuhnya meringkuk dengan kedua tangan memegangi lutut...!
“Zal, kamu nggak apa-apa, Zal...?” seru Yoga yang paling sigap menghampiri.
Kami semua berkerumun memeriksa kondisi Rizal. Tampak ada yang merembes dari balik kain celana Rizal. Darah!
“Ya Allah, Zal...! Kakimu...?” Alif terbelalak.
Rizal terus meringis kesakitan, matanya terkatup erat menahan sakit.
“Kamu sembarangan, sih! Kualat kamu!” desis Yoga bergidik.
“Sudah, jangan komentar yang bukan-bukan!” tukas Alif.
“Aku lihat dengan jelas, dia terpeleset tadi. Tempatnya berlumut begini,” imbuh Wawan. Pikiran rasional memang diperlukan untuk menepis perasaan takut.
Lalu tiba-tiba terdengar suara yang menyayat dan begitu mengagetkan. Kami spontan menengok; seekor makhluk bersayap berwarna coklat kayu bertengger di salah batu besar dan terus bersuara dengan suara nyaring, seolah-olah ia tengah menertawai kami dengan rentetan suaranya itu.
“Hus, hus...!” Albert mengusir burung itu dengan melemparkan ranting kering, membuatnya terbang menghilang ke pepohonan.
“Angkat celanamu!” kata Neki ke Rizal.
Rizal mengangkat kain celananya ke atas, sehingga lututnya sekarang bisa terlihat dengan jelas. Memar besar itu mengucurkan darah segar.
“Ada yang bawa perban?” tanya Neki ke semua.
Semua menggeleng.
“Tapi aku bawa cadangan stang leher. Bisa dipakai?” cetus Wawan.
“Udah nggak papa, sini!” tukas Neki.
Wawan mengobok-obok sebentar ke dalam ranselnya, lalu mengeluarkan sebuah kain agak lebar berwarna merah putih—kain yang biasanya dipakai sebagai “dasi” Pramuka. Wawan mengulurkannya ke Neki. Neki menerimanya dan segera membalut lutut Rizal yang terluka dengan kain itu.
“Yang penting darahnya berhenti keluar,” gumam Neki sambil membalut.
Dalam menit yang singkat, balutan itu selesai. Rizal masih mengerang lirih menahan sakit, tapi kucuran darah di lututnya terlihat sudah berhenti.
Neki mencuci tangannya dengan air mineral dalam botol yang dibawanya, lalu mengusap tangannya dengan semacam cairan antiseptik. “Makanya, jangan banyak tingkah!” lontarnya ke Rizal, ketus.
“Jangan asal bicara juga! Kita nggak tahu kita ini sedang di tempat apa,” imbuh Albert dengan suara dingin.
“Kita ada di bekas candi,” Wawan mencoba meluruskan—usaha yang sebetulnya tak penting juga.
“Iya, jelas kita memang di bekas candi,” tukas Albert. “Tapi kita nggak kenal tempat ini. Kita nggak tahu kalau ada apa-apanya yang bisa bikin celaka!”
“Rizal celaka karena kecerobohannya sendiri,” Wawan membalas.
Sementara itu Rizal terus meringis dan mengernyit, mungkin terlalu kesakitan untuk mendengar dan menggubris teman-temannya. Kami mengaturnya duduk di tanah bersandar batu undakan, supaya posisinya lebih nyaman dan sakitnya lebih mudah teratasi.
“Untung Neki hebat,” gumam Yoga.
“Aku ikut PMR waktu SMP,” balas Neki simpul. Dia tampak merasa bangga.
“Terus gimana sekarang? Kamu bisa jalan, Zal?” tanya Alif.
Rizal menggeleng. “Belum bisa kayaknya. Sakit banget...!” erangnya.
“Kayaknya parah itu. Bekasnya sampai biru,” desah Albert terlihat mulai putus asa lagi.
“Tungguin saja dulu, Lif. Nanti kalau dia sudah kuat, kita lanjut,” cetus Yoga.                  
Alif mengangguk. Wajahnya juga tampak sudah terlalu letih. Inilah hari sialnya sebagai seorang Pimpinan Sanggha; memimpin sanggha yang kesasar, sedikit-sedikit bertengkar, dan sekarang anggota paling menyebalkan mengalami kecelakaan karena ulah bodohnya. Lengkap! Tersirat di wajah Alif, seakan-akan dia juga ingin mengumpat sejadi-jadinya. Namun dia pandai mengendalikan diri.
Alif duduk menyendiri bertopang dagu di salah satu sudut; Wawan berdiri saja dan sesekali mondar-mandir sendiri; Neki mondar-mandir di bagian yang lain untuk mencari sinyal ponsel; Albert di sudut lain duduk menggeloso di tanah; Yoga duduk di dekat Rizal untuk menemaninya. Membisu dan hampir semuanya memisah sendiri-sendiri.
“Sudah ada sinyal belum, Nek?” tanya Albert tanpa memalingkan wajah kosongnya.
“Belum,” Neki menjawab tanpa semangat.
Kulihat Wawan mulai sibuk dengan sesuatu; dia berjongkok mengerjakan sesuatu, seperti sedang mengasah semacam benda kecil di atas ranselnya. Aku tak ingin tahu. Aku pilih mencari tempat yang lebih tenang saja. Maksudku: tempat yang bisa menghindarkan mataku dari pemandangan wajah-wajah letih dan tidak damai itu. Sebetulnya itu pemandangan yang manusiawi juga; siapa pun akan merasa gundah dan tidak tenang jika berada di situasi kami. Aku sendiri yakin kami bisa pulang dengan selamat, kecuali kami lebih dulu menyerah kepada luapan emosi gara-gara harus merawat dan menunggu orang menyebalkan yang kakinya bengkak! Jujur, aku pun lama-lama bisa emosi sendiri kalau tidak segera mencari pemandangan lain yang lebih menenangkan.
“Mau ke mana, Fan?” Alif menanyai dari tempat duduknya yang agak jauh.
“Cari tempat yang lebih nyaman buat istirahat,” sahutku.
“Jangan jauh-jauh dari sini,” Alif mewanti-wanti.
Aku mengangguk sambil jalan.
Kudapati sebuah pohon rimbun lainnya; tak sebesar pohon bersulur tadi, tapi akar-akarnya juga cukup menggila, membentuk celah-celah yang enak untuk diduduki sambil menyandarkan punggung. Kunyamankan diriku di antara akar-akar yang kokoh. Sambil bersandar, kupejamkan mata untuk menemukan perasaan yang lebih relaks.
“Kami bisa pulang, kok,” ucapku dalam hati, berkali-kali. “Kami pasti pulang. Pasti.... Pasti....”
Tiba-tiba suara burung yang tadi kembali terdengar, dan lagi-lagi dengan cara yang mengagetkan. Mataku terbeliak lagi, mendapati burung itu sedang menjingkat-jingkat di tanah. Binatang itu menatapku, menyadari keberadaanku. Ia berkicau sepenggal-sepenggal, seperti mencoba berkata-kata padaku. Kami mengadu mata beberapa saat. Lalu ia terbang lagi. Makhluk itu terbang karena dikejutkan oleh kedatangan orang kedua.
“Burung itu lagi?” sergah Neki; dia memandang selama beberapa detik ke arah terbangnya burung tadi, seperti orang sedang memandangi tamu yang dibencinya dengan tatapan mengusir dan membiarkannya pergi dengan ucapan dalam hati, “jangan pernah muncul lagi di hadapanku!”
Namun, menurutku kamilah yang “tamu” di sini. Kamilah yang seharusnya dipandangi dengan “tatapan mengusir”—oleh burung tadi ataupun para pemilik “langkah-langkah yang tak terlihat”. Sejauh ini aku masih lega, “tatapan mengusir” itu tak kurasakan. Mungkin cuma Rizal yang mendapat tatapan itu.
“Stres, Fan?” lontar Neki padaku. Dia berdiri saja, sementara aku tetap duduk di tempatku.
“Semuanya stres. Kamu tidak?” balasku datar.
Neki tertawa pendek. Wajahnya melengos dengan sinis. “Lu tahu nggak, sih, rasanya pengin kubunuh aja tuh si Rizal!”
Darahku berdesir-desir sesaat. “Jangan sembarangan kalau bicara. Kita semua menanggung beban di sini. Semuanya juga kesal, tapi bisa menahan diri,” ujarku.
Neki tertawa mendengus. “Kalau aku nggak sadar itu, ya pasti beneran sudah kubunuh dia. Bikin susah terus!”
Sekarang Neki juga menjadi orang yang membuatku kesal dengan omongannya yang tak perlu. “Padahal aku sudah terkesan waktu kamu menolongnya. Kalau begitu, kenapa kamu tolong dia?”
“Sengaja. Biar dia malu! Dia bisanya cuma ngomong, maki-maki. Sekarang, ketahuan siapa yang lebih baik.”
Aku tercenung. “Oh. Jadi sebetulnya itu tadi soal gengsi, ya? Bukan soal solidaritas?” Lalu aku tertawa sendiri.
Neki diam. Namun sorot matanya tak berhenti berbangga diri. “Padahal, sebetulnya dia seksi juga. Iya, 'kan?” tiba-tiba dia malah berceletuk dalam kalimat yang terdengar ganjil.
“Seksi?” aku mengulang, agak tak mengerti.
“Rizal. Badannya bagus, berotot. Seksi, 'kan?” Neki menatapku beberapa detik, lalu dia tertawa sambil melengos. “Ah, mungkin lu lebih fokus ke tampang daripada ke badan, ya, Fan? Kalau gitu, pasti Alif lebih menarik buat lu, 'kan?”
Aku memandangi Neki dan berusaha memahami apa yang sebetulnya ingin dia bahas denganku. “Aku nggak ngerti pembicaraan ini sebetulnya mau ke mana,” gumamku mencoba cuek.
“Udah deh, Fan, nggak usah pura-pura. Aku tahu kok kalau lu 'sakit'.”
Kali ini aku betul-betul terganggu. “'Sakit'? Maksudmu apa, tho?” tukasku.
Dia tertawa lagi. “Ya ilah... kita ini sama, Fan! Aku tahu kok, anak 'sakit' kelas dua yang namanya Dimas itu pacar lu, 'kan? Semua orang di sekolah juga udah pada tahu kalau dia 'sakit'. Aku pernah beberapa kali lihat kalian berdua. Jadi gampang disimpulkan, lah. Aneh aja kalau lu normal tapi mau deket-deket sama dia. Radarku nggak jelek, ya, Fan!”
Tujuanku mencari ketenangan di sini gagal. Rasanya aku ingin bangkit lalu menonjok mulut Neki sekarang juga! Namun itu hanya akan menambah keonaran di sanggha yang sedari tadi sudah bersusah payah mengatasi nasib sial ini.
“Jadi kamu suka menyebut dirimu sendiri 'sakit', ya?” aku membalas omongan Neki. Aku bangkit untuk berhadapan sama tinggi dengannya. “Nggak ada yang sakit, Nek. Tapi kalau orang-orang yang secara tak sadar merendahkan diri sendiri, sepertinya banyak. Kalau kamu menganggap dirimu itu sakit, yang harus kaulakukan cuma satu: cepat-cepat berobat saja. Kecuali kalau kamu memang bangga menyandang status 'orang sakit'. Kalau aku, sorry, aku tidak merasa sakit.”
“Lu gay, 'kan? Kenapa marah? Kita memang sakit, nggak normal. Kalau kita normal ya mestinya nggak suka sesama cowok, dong? Terima sajalah. Nggak usah munafik. Dan aku juga nggak ngarep kamu khotbah!” Suaranya pelan, tapi membuat gatal telinga.
“Ya, aku marah, bercampur geli. Tapi aku nggak khotbah. Aku cuma menjawab cara berpikirmu yang tiba-tiba kaubawa kemari,” balasku dengan mencoba tidak tegang. “Tebakanmu soal aku dan Dimas tidak salah, kok. Tapi, kaupikir aku baru tahu sekarang kalau kamu juga gay? Sudah dari dulu!” Sekarang ganti aku tertawa. “Tapi kautahu, aku nggak pernah ungkit-ungkit itu, sebab menurutku identitasmu itu ya urusanmu sendiri. Bahkan sebetulnya terserah kamu juga kalau mau menyebut dirimu 'sakit'. Tapi jangan sebut aku dengan istilah itu. Aku nggak sakit.”
Sorot mata Neki menajam padaku—seperti sorot mata ketika dia membicarakan Rizal yang dibencinya. “Lu mau nganggap diri lu waras, gitu? Tapi kalau orang lain lebih suka nyebut lu 'sakit', terus mau apa?”
Aku membalik, “Lha kamu sendiri gimana? Mau terima begitu saja?”
Dia terlihat mulai ragu. “Di dunia ini lebih banyak orang yang membenci kita,” balasnya—sepertinya itu tak menjawab pertanyaanku.
Aku menghela napas. “Kamu tahu, kenapa banyak orang belum bisa menghargai gay? Karena banyak gay yang belum bisa menghargai dirinya sendiri. Bahkan gay sendiri masih banyak yang menganggap dirinya 'sakit'.”
“Memangnya kalau kita bilang kita 'sehat', terus otomatis mereka nggak bully kita lagi?”
Aku tertawa. “Dan kalau kita sepakat dengan istilah yang mereka bikin bahwa kita ini 'orang-orang sakit', memangnya mereka jadi berhenti bully kita juga? Nggak, 'kan? Pada dasarnya, entah mereka itu mau bully kita atau tidak, kenapa kita harus memakai label yang tidak mencerminkan diri kita? Tapi, kembali ke pribadi masing-masing, sih. Kalau kamu memang merasa sakit, ya itu hakmu untuk menyebut diri 'sakit'.”
“Memangnya lu bener-bener ngerasa nggak ada yang salah dengan diri lu? Cowok 'kan harusnya suka sama cewek? Kodratnya 'kan gitu? Kita ini nggak normal. That's it!”
“Mungkin memang nggak normal. Tapi apakah nggak normal itu berarti sakit? Kidal itu juga nggak normal, tapi apakah itu bisa disebut sakit? Nggak normal itu berbeda dari kondisi pada umumnya, itu saja.”
“Kidal itu bawaan. Homo itu pilihan.”
“Kalau begitu kenapa kamu tidak pilih 'sembuh' saja? Daripada terus-menerus mengeksploitasi kondisimu yang 'sakit', lebih baik kamu usaha yang serius untuk cari obatnya, 'kan? Cari cewek, atau sekadar ngomongin cewek, siapa tahu itu bisa jadi obatnya. Bukan malah datang-datang kemari ngomongin seksinya si Rizal.”
Dia diam. Bibirnya digigit-gigit sendiri, tangan bersilang di dada dan pinggang terangkat sebelah. Aku mau tertawa. Ini sungguh percakapan yang amat melenceng dari situasi, tidak relevan dengan keadaan. Seharusnya kami membicarakan bagaimana caranya keluar dari hutan ini, bukan malah membicarakan “sakit-tidaknya” homoseksual—tapi setidaknya sekarang aku jadi tahu bahwa topik yang berbobot ternyata bisa menjadi konyol karena dibicarakan di momen yang salah.
“Lu nggak belajar dari pacar lu, ya?” kali ini tiba-tiba dia menggumamkan kalimat yang terdengar lebih sinis dari sebelumnya. “Lu nggak belajar dari kasus si Dimas waktu dia dikeroyok rame-rame karena dia gay? Kenapa mereka bisa sebenci itu ke orang-orang seperti kita? Mungkin lu bener, gay itu bukan sakit. Tapi orang-orang tetap menganggap kita ini 'penyakit', Fan.”
Emosiku hampir saja terpancing karena dia lagi-lagi mengungkit Dimas. “Memang ada yang benci, kok. Tapi tidak semua orang. Dimas punya teman-teman straight yang tetap bisa terima dia apa adanya. Dan teman-temannya itu juga bisa menerimaku. Nggak semua straight itu sejahat yang kaubilang.”
Dia melengos padaku dan melempar senyum sinis lagi—andai aku adalah Denis, jelas sudah kubikin babak belur dia. “Asyik, ya, punya temen-temen straight yang bisa nerima lu apa adanya?” cibirnya, makin menguji pengendalian emosiku. “Saat ini lu memang masih di posisi aman aja, Fan. Paling-paling temen straight yang lu punya, yang lu bilang bisa nerima lu apa adanya itu, ya kembarannya si Dimas itu, ‘kan? Saat semua orang bener-bener udah tahu kalau lu tuh gay, lu yakin yang jadi temen lu bakal lebih banyak dibanding yang benci lu?”
“Ngapain semua orang harus tahu aku pacaran sama cowok atau cewek? Memangnya aku superstar yang segitu pentingnya diketahui semua orang?” Aku tertawa sebentar, lalu kembali serius. “Dan jangan sok tahu soal Dimas ataupun saudaranya. Sorry, ya, ini bukan karena salah satu dari mereka adalah pacarku, tapi karena aku memang kenal mereka berdua, dan menurutku cara berpikirmu belum level untuk mengomentari mereka.”
Melihat sorot mata Neki, aku tahu dia tak akan bisa melupakan kata-kataku untuk waktu yang amat lama. Meskipun itu berarti aku telah menyakiti harga dirinya, aku tak peduli. Dia yang cari masalah.
“Jadi lu pikir aku bodoh banget, ya?” Dia tertawa sengau. “Oke. Bodoh-bodoh begini, aku bisa kok buktiin omonganku tadi—saat semua orang tahu kalau lu gay, lu baru akan ngerti seperti apa 'sakitnya' jadi nggak normal!”
Sekarang aku merasakan nada yang mengancam. “Maksudnya apa kata-katamu itu?” sergahku dingin.
“Ya pikir aja sendiri!” tukasnya disertai sungging mengejek. Kami saling memandangi dengan tatapan yang tak akan menyenangkan bagi siapa pun yang melihatnya; sungguh, aku ingin sekali menonjoknya!
Namun, perasaan jengkelku perlahan berubah menjadi kasihan. “Punya teman straight yang toleran itu memang asyik. Satu, dua, atau tiga teman baik itu sudah cukup bagiku, tak perlu semua orang di dunia ini harus menerimaku dan jadi temanku. Sayangnya, sepertinya satu saja kamu nggak punya, ya? Mungkin karena prasangkamu terlalu buruk dan menyamaratakan mereka. Siapa pun tak akan tertarik berteman dengan orang yang punya sifat seperti itu. Entah gay ataupun straight.”
Dia buang muka dan mendengus. “Masih sok bijak aja lu? Ya udah, lihat aja nanti!”
“Oke, kita lihat saja, kalau kau memang bermaksud mengancamku. Kau tak bisa menyebarkan hal-hal tentangku yang menurutmu bisa menghancurkanku, tanpa membuat dirimu sendiri tampak lebih buruk.” Lalu kembali tawaku tak mampu kututupi, kuurai rendah-rendah. “Aku tak mengira hatimu seburuk itu, Nek. Betul. Aku tak pernah mengira.”
Dia itu sudah bukan sensi lagi, tapi beneran 'SAKIT'!
“Jadi lu lebih baik, ya?”
“Bagiku tak penting apakah aku ini lebih baik dari siapa. Tapi kalau menurutmu kau lebih baik, okelah, kutunggu buktinya!” balasku, pergi meninggalkannya. Ngapain meladeni orang yang ngotot menyebut diri 'sakit'? Lama-lama aku bisa ketularan sakit jiwa!
Aku kembali lagi ke tempat teman-temanku berkumpul. Kulihat Albert masih duduk menggeloso di tempatnya yang tadi. Yoga masih menemani Rizal. Wawan sedikit bergeser dari tempatnya yang tadi, tapi dia masih melakukan semacam kesibukan yang tak bisa dijelaskan kalau tidak mengamatinya dari dekat, dan bersamaan dengan kembaliku dia berseru ke kami semua.
“Teman-teman, ini aneh...! Cepat, lihat kemari!”
Aku dan Albert menghampiri secara bersamaan. Alif menyusul. Sedangkan Yoga acuh tak acuh di tempatnya bersama Rizal.
“Apa itu, Wan?” tanya Alif.
Ada sebuah gerabah usang teronggok di tanah yang menggunduk, itulah yang sedang diamati Wawan, dan dia telah membuat keempat temannya ini turut mengamati pula. Tepatnya bukan gerabah itu yang menjadi pusat perhatian, tetapi sesuatu yang ada di dalamnya. Gerabah itu berisi air, dan di atas permukaan air itu ada kotak kertas bekas bungkus korek api yang mengapung, dan di dalam kotak itu terdapat potongan cutter. Kotak kertas itu berputar pelan, terus berputar....
“Kompas?” Alif menebak jawaban dari pertanyaannya tadi.
“Betul. Potongan cutter ini punya daya magnet. Dengan landasan kertas yang mengapung, seharusnya cutter ini berputar dan berhenti dengan ujung yang menunjuk ke kutub selatan dan utara,” jelas Wawan.
“Wow...! Kok cutter-nya bisa jadi magnet?” decak Albert.
“Kugosok dengan bandul magnet ini,” Wawan menunjukkan bandul di resleting ranselnya. Kurasa itulah yang dikerjakannya ketika terlihat sibuk dengan ‘sesuatu’ tadi—mengasah cutter dengan magnet.
“Oke. Brilian!” puji Alif kagum. “Terus, pertanyaannya, kenapa kertas dan cutter-nya tak berhenti berputar? Kalau begitu mana selatan dan utaranya?”
“Itulah yang aneh,” desah Wawan dengan raut kecut. “Sepertinya ada medan magnet lain di sekitar sini, sehingga kompasnya jadi kacau. Medan magnet yang... lebih besar... mungkin.”
“Medan magnet? Di tempat kayak gini...?!” cekat Albert dengan wajah heran. Dia menarik tubuhnya beringsut ke belakang, lalu memandang seputaran dengan raut bergidik. “Katanya, kalau ada medan magnet yang terjadi secara misterius, itu tandanya... ada sesuatu yang gaib?”
Kami semua berpandang-pandangan sesaat. Lalu Alif menukas, “Kata siapa?”
“Ya... kata orang-orang!” balas Albert kikuk. “Itu seperti fenomena di Segitiga Bermuda, kalian tahu...?”
“Atau Jabal Magnet di Arab. Dan itu ilmiah, bukan ghoib,” tandas Wawan.
“Kalau bukan gaib, terus kenapa wajahmu juga ikut tegang gitu? Hayo?” tuding Albert. “Kalau ilmiah, terus gimana jelasinnya kenapa bisa ada medan magnet di sini? Yang di Arab mungkin ilmiah, tapi yang di sini gimana? Aku bukannya anti-ilmiah, ya, tapi selama ada penjelasannya aku baru bisa percaya.”
Wawan tidak bisa menjawab. Alif juga terdiam.
“Ilmiah atau gaib, keduanya sah-sah saja,” kataku, menengahi. “Cuma, tanpa mengurangi respek untuk ide brilian Wawan, sebetulnya kita tak perlu lagi bergantung pada arah mata angin. Pakai Google Earth yang lebih canggih saja kita tetap salah ambil jalan, kok? Kalau menurutku, kita tinggal balik saja ke pertigaan sebelumnya, lalu ambil jalan yang satunya, itu tak mungkin keliru lagi. Sesederhana itu.”
Ketiga temanku mengangguk setelah berpikir beberapa saat.
“Sebetulnya aku juga cuma iseng saja, sih, daripada bengong. Tak tahunya sekarang malah tambah bingung,” desah Wawan kalut. “Jujur saja, menurutku tempat ini memang aneh. Kompas terus berputar, ini jelas gejala aneh!”
Kami berempat kembali menunduk ke arah yang sama: kompas dari kotak kertas dan potongan pisau yang terus berputar di atas permukaan air dalam gerabah tua. Lalu Albert berceletuk, “Dan kita nggak nyadar, ya, kalau di sini lama-lama makin gelap...?”
Kami menengadah. “Mendung,” desis Alif.
Kemudian, suatu suara yang begitu nyaring menyela dan mengagetkan kami lagi. Burung itu datang lagi! Kicaunya merentet dan terasa mendorong detak jantung menjadi lebih kencang!
Albert yang paling tampak paranoid, “Sudah, tunggu apa lagi? Cepat kita pergi dari sini! Tempat ini nggak bener!” Dia membalikkan badan dan angkat kaki mendahului kami.
“Hei, terus Rizal gimana?” sergah Wawan.
Albert berhenti dan menengok lagi. “Percuma nungguin dia sembuh! Sebulan juga baru kempes bengkaknya!” serunya.
“Terus ditinggalin saja, begitu?” cecar Wawan.
“Pikiranmu di mana, sih, Wan?! Kamu bikin kompas dari silet saja bisa! Apa gunanya bawa tongkat sama tali? Kita bikin tandu, kita gotong si Rizal! Gimana sih kalian, ah?!” tukas Albert dengan nada seperti emak-emak gendut yang mengomel, lalu menggeloyor lagi.
Wawan melongo. Begitu juga Alif. Aku juga sama. “Sekarang kita tahu, otaknya tak selalu berada di perut,” gumam Wawan.
Alif, “Aku merasa khilaf.”
“Kenapa?” tanyaku.
“Sebetulnya aku sudah memikirkan ide itu sejak awal. Masalahnya, Rizal terlalu menyebalkan untuk ditandu seperti raja. Rasanya kurang rela kalau harus melakukannya.”
Wawan tertawa menimpali omongan Alif, “Iya. Dia raja yang terpeleset gara-gara menendangi batu candi. Kurang bodoh apa lagi?”
“Saat menandunya, kalian tak harus memikirkan seorang raja,” kataku. “Yang digotong itu tak selalu seorang raja. Bayangkanlah yang lain.”
Apakah yang biasanya digotong? Bayangkanlah!
“Imajinasimu sepertinya terlalu kejam juga, Fan,” kritik Wawan.
“Dan menyeramkan!” sambung Alif.
“Aku membayangkan seekor celeng,” kataku.
“Itu tetap kejam,” tukas Alif. “Ayo, kita bikin tandunya!”
Kami mulai menjalankan opsi itu. Yoga yang tak ikut dalam pembicaraan, setuju juga dengan ide itu setelah melihat kami mulai membuat tandu. Dua buah tongkat dan segulung tali sudah cukup untuk menjadikannya alat penggotong. Alif membuat semua simpulnya secara pakem, sesuai tips yang bisa dibaca di salah satu buku panduan tali-temali. Menurutku, sebetulnya bisa memakai simpul apa saja selama dibuat secara kukuh. Namun dia telanjur mengingat versi buku di luar kepala, jadi aku tak menginterupsi. Sepuluh menit, jadilah!
Dan, “Guys, lihat...!” suara Neki memekik, di saat kami baru tersenyum-senyum mengagumi tandu darurat yang telah rampung dengan rapi. Kami menengok, melemparkan pandangan searah dengan telunjuk Neki yang menuding ke kejauhan.
“Oohhh...! Thank God...!” Albert berseru keras-keras, disahut oleh Alif secara hampir bersamaan, “Alhamdulillah....”
Ucapan-ucapan puji syukur yang lainnya sahut-menyahut dengan dilengkapi raut-raut lega luar biasa, manakala kami melihat beberapa orang berdatangan menuju ke arah kami. Dua di antaranya berseragam Pramuka: Kak Ramon dan Erik; sedangkan dua lainnya bukan dari rombongan Pramuka, tetapi aku juga mengenalinya. Mereka telah menemukan kami. Aku pun tak bisa menutupi kelegaanku, sama seperti teman-temanku.
“Kenapa kalian bisa sampai sini?” Erik yang pertama kali menginterogasi kami. Teman-temanku bergantian menjabat tangannya dan juga tangan Kak Ramon—aku hanya menjabat tangan Kak Ramon.
“Salam Pramuka!” celetuk salah satu orang yang datang bersama para ‘Kakak’; dia adalah si Sarjana Sejarah, bersama kawannya yang katanya juga sarjana—Sarjana Biologi kalau tak salah.
“Kami tersesat, salah ambil jalan,” jelas Alif dengan wajah kuyu, malu.
“Tapi kalian nggak apa-apa, ‘kan?” tanya Kak Ramon. Tapi kemudian dia menyadari ada salah satu anggota sanggha yang teronggok di tanah dan sedang menahan sakit—sebuah pemandangan yang tak bisa ditutupi. “Ya ampun, kenapa dia?” seru Kak Ramon, seraya menghambur bersama Erik, menilik kondisi Rizal.
“Dia butuh bantuan, Kak,” jelas Alif sambil mengikuti di belakang para 'Kakak'. “Dia terpeleset tadi. Kakinya luka agak parah.”
Rizal masih terlihat pucat dan kesakitan, tapi kali ini dia mencoba untuk mulai tersenyum. “Aku lagi apes,” ucapnya, membuang muka, tampak malu.
Selagi teman-temanku dan para Bantara mengurusi kondisi Rizal, aku mengurusi para sarjana. “Ketemu lagi, ya,” sapa si Sarjana Sejarah padaku. Lalu dia menyindir, “Kalian sengaja mau bikin para Pembina pusing, atau bagaimana?”
“Jalan-jalan ini terlalu membosankan. Jadi kami main petak umpet,” sahutku.
“Kalian main petak umpet di tempat yang salah. Kamu pasti tidak tahu, ada jenis-jenis hantu yang suka ikut main petak umpet untuk mencari anak yang sembunyi di tempat yang salah, lalu anak itu dibuat sembunyi selamanya. Atau, kalau agak beruntung, cuma disembunyikan selama beberapa hari, lalu dikembalikan dalam keadaan linglung.”
“Aku tahu, kok,” balasku.
Sarjana yang semula berniat bergurau denganku itu sekarang mengubah ekspresinya; alisnya meliuk sebelah dan senyumnya miring. “Kamu tahu?”
“Kok Anda ikut kemari?” tanyaku, mengalihkan pembicaraan.
 “Ah, iya... kami ketemu senior-seniormu itu di jalan. Mereka bertanya apakah kami melihat kalian. Sebab mestinya kalian sudah tiba di semacam pos perhentian, tapi kalian belum tiba juga,” jelasnya runtut. “Kami sendiri sedang jalan-jalan, dan tak merasa pernah bertemu kalian di perjalanan. Jadi, kami bantu mereka mencari.”
“Anda, dan teman Anda, jalan-jalan di sini? Di hutan?” selidikku agak heran.
“Aku sering kemari. Ada banyak situs arkeologis berserakan di gunung ini, dan tentu saja itu menarik bagi orang sepertiku. Bahkan, diam-diam para peneliti dari luar pun penasaran sekali dengan situs-situs di gunung ini. Kamu tahu, Candi Sukuh itu bentuknya menyerupai piramid suku Maya, 'kan?” terangnya lebar, disertai gesture tangan yang meyakinkan. Lalu dia menunjuk temannya yang sedang jalan-jalan sendiri mengitari situs, “Dan dia itu orang Biologi; dia suka mengamati tumbuh-tumbuhan, tapi belakangan dia juga suka burung. Dia dengar, entah dari mana, bahwa gunung ini masih menyimpan habitat Elang Jawa. Kamu harus tahu, Elang Jawa itu burung yang paling mendekati gambaran Garuda—burung mitologis yang menjadi lambang negara kita. Dan kita tahu, di Candi Sukuh yang mirip piramid itu juga terdapat beberapa arca dan relief Garuda. Seperti itulah misteriusnya gunung ini.”
Aku tercenung mendengarkan omongan sarjana itu. Lalu aku ganti membagikan pengalamanku, “Aku melihat burung yang lain. Bukan Elang. Sudah beberapa kali menampakkan diri di sekitar kami. Dan aku yakin itu individu yang sama, bukan burung lain yang kebetulan satu spesies.”
Alis sarjana itu meliuk lagi, tapi kali ini senyumnya tidak miring. “Burung temanmu?”
Aku menatapnya agak serius.
“Kadang, anak-anak seusia kalian suka kencing berjajar, lalu melirik 'punya' teman,” celetuknya cengengesan. Setelah beberapa detik melihat bahwa aku serius, dia menambah, “Tapi sepertinya kau bukan remaja yang seperti itu.” Lalu dia tertawa sendiri. “Jadi burung apa yang kaulihat?”
“Sepertinya sejenis Prenjak,” kataku.
“Hmm. Bukankah itu pertanda baik?”
Aku mengangguk. “Jadi Anda juga tahu mitos itu?”
“Well. Jadi begini, ya; ilmu Sejarah dekat dengan ilmu-ilmu tentang budaya dan masyarakat. 'Orang Sejarah' yang baik pasti juga paham soal mitos, dongeng, legenda dan sebagainya itu. Takhayul dan rasionalitas itu seperti tetangga yang belum saling memahami satu sama lain, itu saja.”
“Jadi, Anda percaya takhayul?”
“Tergantung. Bahwa burung Prenjak adalah pembawa tanda baik? Lalu kenapa temanmu celaka?”
Aku tertawa rendah. “Dia celaka karena ulahnya sendiri.”
Dia memandangiku agak lama, disertai senyumnya yang kadang terasa agak jahil. Kadang senyumnya itu juga terasa merayu. Tapi aku tak tertarik pada laki-laki yang usianya jauh di atasku—ya, silakan sebut aku besar kepala. Lagi pula aku sudah punya kekasih.
“Bertemu hal aneh lainnya di sini?” lontarnya—dia berhenti memandangiku dan mulai mengamati sekeliling.
“Kompas tidak berfungsi di sini. Anda tahu kenapa?” tanyaku.
Dia tertegun. “Kompas tidak berfungsi?”
Aku mengajaknya untuk mengamati kompas buatan Wawan. Dia sempat meragukan potongan cutter itu sebagai kompas, tapi aku meyakinkannya bahwa kompas darurat itu dibuat dengan prosedur yang semestinya dan seharusnya bisa bekerja sebagaimana kompas tulen.
“Kenapa kompas ini terus berputar? Bukankah ini aneh?” tanyaku.
Lalu dia memanggil kawannya, si Sarjana Biologi, untuk turut mengamati. “Kau bisa jelaskan, kenapa kompas ini jadi begini?”
Sarjana Biologi itu tampak tenang. Raut mukanya tampak penasaran, tetapi tidak menjurus ke panik ataupun takut. Dia mengetuk-ngetuk gundukan tanah yang menonjol di bawah gerabah. Dia terpekur. Lalu perlahan-lahan dia tersenyum—senyum takjub. “Aku boleh menggali di sini?” gumamnya, bertanya.
“Tolong, apakah aku boleh mengukir namaku di bunga Raflesia? Ini cagar budaya dan sejarah, kau tak bisa seenaknya tanpa izin resmi.”
“Oke. Kalau begitu aku hanya bisa membuat perkiraan. Gundukan ini adalah rumah rayap. Sepertinya ada koloni yang cukup besar di bawah sana.”
Aku tercengang mendengar omongan Sarjana Biologi itu.
“Rayap adalah binatang yang memiliki organ berelemen magnet. Fungsi magnet adalah untuk mengenali arah di dalam sarang mereka, sebab sarang mereka bisa memiliki lorong-lorong yang sangat kompleks. Jika koloninya cukup besar, maka unsur magnetnya bisa cukup kuat pula untuk mempengaruhi benda-benda di sekitarnya, terutama benda yang bekerja dalam sistem magnet,” paparnya meyakinkan. “Aku pernah meniliti rumah rayap seperti ini di tempat lain, tapi sepertinya yang ini lebih besar.”
Sekarang Indiana Jones memandangiku dengan senyum kuda. “Jelas?”
Aku mengangguk, masih sedikit tercengang. Jadi ini bukan fenomena gaib seperti yang dicemaskan Albert.
“Fan, kumpul!” seru Alif memanggilku, memecah benakku yang masih sibuk berpikir soal teori rumah rayap.
Aku bergabung dengan teman-temanku lagi—Sanggha Pendobrak yang penuh keapesan. Kami duduk membentuk lingkaran, dan para 'Kakak' menjadi fokus perhatian kami.
“Ada yang mengambil penanda jalan,” jelas Erik pada kami. “Seharusnya, di persimpangan pertama yang kalian temui setelah meninggalkan pos satu, ada pita kuning yang terikat di salah satu pohon sebelah kanan. Artinya, seharusnya kalian ambil jalan sebelah kanan. Warna kuning adalah warna Pramuka Penegak, jadi seharusnya tidak sulit untuk dikenali sebagai sandi. Entah siapa yang mengambil pita itu, kita belum tahu.”
“Apakah mungkin ulah anak sanggha lain?” lontar Yoga.
“Kalian tak perlu menuduh. Tapi yang pasti kami akan tetap selidiki,” tandas Erik.
“Kami tak pernah bermaksud membuat permainan ini menjadi sedemikian berisiko. Yang kalian alami betul-betul kecelakaan yang tak pernah kita harapkan,” tambah Kak Ramon. “Dan satu lagi yang di luar perkiraan: kondisi sinyal di tempat ini ternyata tidak stabil. Pada waktu observasi dulu, sinyalnya baik, tidak seperti sekarang. Seharusnya sekarang kami perlu berkomunikasi dengan para Pembina, untuk melaporkan bahwa kalian sudah ditemukan. Tapi ternyata kondisi tidak mendukung.”
“Tapi it’s ok, yang penting kalian sudah ditemukan dalam kondisi yang siap untuk kembali,” sambung Erik.
“Kembali ke jalan yang benar,” Kak Ramon menimpali.
Kami tertawa. Ada kehangatan menyelinap di tengah situasi yang tak membanggakan ini.
“Kesasar bukanlah prestasi, tapi kalian tahu apa yang membuat kami salut?” Kak Ramon melontarkan apresiasinya. “Solidaritas kalian! Melihat kalian menyiapkan tandu untuk kawan kalian, itu mengharukan.”
Kami semua tertawa lagi dengan malu-malu. Sekali lagi kugarisbawahi: mengharukan, bukan membanggakan. Tapi, karena sejak semula Pramuka bukanlah hal yang penting bagiku, maka aku tak terlalu terusik oleh predikat itu. Mungkin hanya Alif yang tidurnya akan terganggu selama beberapa malam: Ketua Sanggha yang memimpin pasukan ke jalan yang sesat! Namun itu bukan salahnya seorang. Itu adalah salah kami semua.
Kami sepakat untuk mengakhiri “persinggahan” kami di situs tua ini. Alif dan Yoga memandu Rizal untuk menempatkan diri di dalam tandu. Tak banyak kesulitan, sebab Rizal kali ini juga cukup sadar untuk membantu dirinya sendiri.
“Sorry, aku ngerepotin kalian...,” bisik Rizal parau.
“Sudahlah. Kita berangkat sama-sama, pulang juga harus sama-sama,” ucap Alif.
Sebelum berangkat, kami tak lupa untuk berterima kasih kepada dua sarjana pelancong yang telah ikut mencari kami. Mereka memutuskan untuk masih tinggal, tidak kembali bersama kami.
“Beneran, Mas nggak balik bareng kita?” Kak Ramon meyakinkan sekali lagi.
“Motivasi kita berbeda. Kalian kesasar, sedangkan kami bertamasya,” jawab Indiana Jones, lagi-lagi terdengar nyeleneh. “Kami belum puas di sini. Kami masih ingin lihat-lihat.”
“Tapi mendungnya serius, lho?” ujarku.
Dia tertawa. “Tak usah khawatir, kami sudah terbiasa dengan gunung. Kami ini orang-orang lapangan.”
“Baiklah kalau begitu. Terima kasih atas bantuannya,” ucap Erik seraya mengulurkan tangannya.
Kami semua bergantian menjabat tangan mereka. Aku yang paling terakhir menjabat tangannya—si Sarjana Sejarah itu. Dan itu menjadi kesempatanku untuk mengatakan sesuatu padanya. “Maaf, feeling-ku hanya bisa percaya 50% soal teori rumah rayap.”
Keningnya mengerut. “Kau meragukan teori temanku? Dia lulus cum laude di universitas yang bagus! Lalu bagaimana dengan yang 50% lainnya?”
“Aku yakin akan lama kalau kujelaskan. Kami sudah mau pulang,” kataku. Aku tersenyum. “Aku cuma bisa pesan: sebaiknya tak usah lama-lama di sini.”
Dia terkekeh. “Baiklah. Kalau begitu jelaskan saja di YM, atau Facebook, oke?” Dengan gesit dia membuat catatan di sobekan kertas—karcis masuk candi Sukuh—lalu diserahkannya padaku. Dia masih berkelakar pula, “Sebetulnya aku tersinggung kau tak menanyakan namaku.”
Kubaca tulisannya. Sekarang aku tahu namanya, beserta alamat email-nya. “Saya sudah mencurigai Anda sejak semula,” bisikku berkelakar pula. “Terima kasih untuk pengetahuan gratisnya.”
“Dan pesanku: sekali-sekali lihatlah kawan di sebelahmu, saat kalian kencing.”
Aku tak menanggapinya lagi. Kami betul-betul berpisah.
“Sanggha Pendobrak, majuuu...!” seru Alif lantang.
Aku, Alif, Wawan dan Yoga, kompak memanggul tandu. Albert, Neki dan dua 'Kakak' Bantara akan menggantikan kalau pemanggul tandu ada yang lelah. Rizal tinggal berbaring dengan enak. Kami tidak lagi gelisah dan cemas, tanpa mengurangi kewaspadaan akan jalur yang beberapa kali cukup terjal, beberapa kali cukup licin. Jika ada satu saja pemanggul tandu yang tergelincir, maka yang celaka bisa lebih dari satu, dan yang kesusahan adalah semua yang ada di rombongan ini—Rizal sudah membuktikannya.
Kami pun tiba kembali di persimpangan tempat kami tadi menaruh tanda. Sejenak kami berhenti; dengan hati-hati kami meletakkan tandu. Kami ingin menelaah kembali, sebetulnya apa yang telah menyesatkan kami. Kuamati betul-betul posisi pertigaan ini. Dan rupanya Wawan memiliki pemikiran yang sama denganku. “Kupikir inilah penyebabnya: antara jalur dari mana kita berangkat, dengan jalur yang menuju punden, sudut pertemuannya cukup kecil. Pohon-pohon di titik ini juga sangat rimbun,” ulasnya dengan percaya diri. “Sepertinya itu telah mempengaruhi pandangan kita saat pertama kali melewatinya, membuat kita tidak sadar bahwa ada jalur lain yang mencabang di titik ini.”
“Aku juga berpikir begitu,” ujarku,  menyahut gagasan Wawan. Kuambil langkah ke depan beberapa meter, ke jalur dari mana kami pertama kali berangkat. Lalu kuarahkan pandanganku pada teman-temanku yang berdiri di tengah pertigaan. “Dari arah ini memang tak kelihatan kalau di depan ada pertigaan jalan. Yang terlihat cuma jalan lurus.”
“Optical illusion,” Alif menimpal. Itulah kesimpulannya.
“Jadi, kita tersesat bukan karena faktor... gaib,” imbuh Wawan, menegaskan.
“Kalian tersesat karena lengah terhadap medan,” cetus Kak Ramon.
Ilusi optik, lengah, teledor, apa pun penjelasan ilmiah lainnya, aku percaya. Tapi aku juga percaya hal lainnya, yang tidak mungkin kuceritakan di perjalanan ini. Tidak tepat. Mungkin nanti saja, ketika aku sudah sampai di rumah, saat aku berbaring melepas lelah di kamarku dan Dimas menemaniku sampai sebelum tengah malam. Akan kuceritakan padanya, dan akan kulihat apakah dia berani pulang.
Kami bersiap melanjutkan perjalanan. Namun, belum sampai tandu diangkat lagi, sesuatu tiba-tiba datang mengejutkan kami. Burung itu, yang tadi juga kami lihat beberapa kali di punden. Binatang itu mendarat dan berkicau di tengah jalan yang hendak kami lewati.
“Burung itu lagi!” seru Albert. Dia memungut batu, hendak melempari makhluk itu.
“Jangan!” cegahku.
“Kenapa?” tukas Albert. “Itu burung pembawa sial!”
“Tahu dari mana?” tukasku.
Albert tak menjawab, kikuk. Kupandangi teman-temanku yang lain, semua juga diam.
“Itu burung Prenjak,” kataku. “Aku tinggal di desa, dan orang desa banyak yang masih memelihara mitos-mitos lama. Dan kalau kalian juga percaya pada mitos, maka kalian salah jika mengira burung itu pembawa sial. Burung Prenjak justru pembawa tanda baik.”
“Tanda baik? Si Rizal kena sial, itu baik?” tukas Albert.
Aku menghadapi pertanyaan yang sama dengan yang ditanyakan 'Indiana Jones' padaku.
“Jika burung Prenjak muncul dan berkicau di tempat yang sedang kita datangi, itu tandanya kita disambut sebagai tamu,” kataku. “Kita diperbolehkan masuk ke rumahnya. Tapi, tamu yang tidak sopan tentu saja perlu diberi sedikit pelajaran, sekali-sekali.”
Semua melongo. Lalu kompak melihat Rizal.
“Aku mengaku salah,” ucap Rizal mengangkat tangan.
Lalu semuanya tertawa.
“Kalian boleh tak percaya,” kataku. “Tapi, kenapa juga kita harus menyerang makhluk yang tidak berbahaya? Ini hutan, guys, apa yang salah kalau ada burung berkicau? Apakah kita juga melempari burung yang berkicau di kebun kita? Menembakinya?”
Mereka semua menatapku.
“Fandy, kamu lulus jadi Bantara!” seru Kak Ramon sambil mengepalkan tangannya ke atas. “Itu rekomendasi dariku! Sah!”
Semua tertawa, meledekku. Oke, itu memang berita yang kedengaran baik. Tapi bukan berita baik yang kusukai.
Kami melanjutkan perjalanan. Burung Prenjak itu masih terus berada di sekitar kami, melompat-lompat, terbang rendah, mendarat dan berkicau, lalu terbang lagi. Bagi orang yang pikirannya teracuni rasa takut, sesungguhnya kicauan semerdu apa pun memang akan terdengar menakutkan. Seperti halnya temanmu yang sedang ketakutan bisa menjadi senewen hanya karena kau melantukan tembang Jawa kesukaanmu. Aku bukannya tak memiliki rasa takut, tetapi, jika yang kudengar adalah kicau yang merdu dari burung pegunungan, kenapa aku harus takut? Ia adalah makhluk yang diberkati Tuhan dengan kicau merdu, seperti halnya manusia diberkati dengan akal yang tinggi.
“Mau hujan...?” seru Rizal di atas tandu. “Ada air yang jatuh ke mukaku.”
“Iya. Gerimis,” sahut Kak Ramon, menadah beberapa rintik air dengan tangannya.
“Cepat, cepat...!” seru Alif.
“Gantian dulu bisa, nggak? Aku capek,” Yoga mengeluh.
“Biar aku gantiin,” Albert mengajukan dirinya.
Pergantian dilakukan.
“Biar aku gantiin Fandy,” tiba-tiba Neki juga ikut mengajukan tenaganya. “Aku nggak mau jadi anggota yang nganggur sendiri!”
“Alif sama Wawan juga istirahat saja. Aku sama Erik yang gantiin kalian,” Kak Ramon pun menawarkan diri.
 “Oke. Thanks, Kak,” sahut Alif, menghela napas lega.
Perjalanan berlanjut. Di tengah gerimis kecil, burung Prenjak tadi masih setia menyertai kami. Sesekali ia menghilang di balik pohon, kemudian muncul lagi di depan kami. Pakaian seragam kami mulai basah dan terasa dingin, tapi tak ada yang kami cemaskan.
Dan akhirnya, “Ini persimpangan pertama tadi. Mulai dari sinilah kita tersesat,” ulas Alif, mengatupkan senyum pahitnya.
Di sini kami kembali berhenti sejenak. Tandu diletakkan. “Kita telah kembali ke jalan yang benar,” celetukku.
“Kali ini pasti kita bisa sampai ke Pos Dua,” timpal Wawan.
“Pos Dua sudah bubar. Kalian kelamaan,” cetus Erik disertai tawa masam. “Tapi itu tak penting lagi. Kalian bisa pulang dengan selamat, itu lebih penting.”
“Tapi, sekarang baru terasa, bahwa selama tersesat tadi sebetulnya adalah petualangan yang menyenangkan!” ulas Alif pelan.
“Seperti improvisasi saat bernyanyi?” sahut Erik.
Alif menanggapi dengan tawa masam. “Tapi, kalau kita tak bisa melanjutkan ke pos berikutnya, berarti ini lagu yang nggak selesai.”
Tandu diangkat lagi. Mereka bersiap melangkah lagi, sambil terus bercakap-cakap dan saling menyahut. Aku masih ingin diam berdiri di tempatku untuk sejenak waktu. Kupandangi burung Prenjak yang masih bertengger di dahan yang agak rendah. Kurasakan ia pun sedang menatapku. Ia mengibaskan bulu-bulunya, menepis air gerimis di tubuhnya. Ia mengeluarkan beberapa patah kicauan. Aku membalas dengan siulan. Burung itu pun membalasku. Aku membalasnya lagi.
“Fan, ayo...!” seru Alif yang sudah melangkah agak jauh di depan.
Kulihat burung itu mengepakkan sayapnya, membumbung ke udara, terbang menembus gerimis di atas jalan setapak. Menghilang di balik pepohonan. Di sini kami berpisah darinya.
Selamat tinggal, simpang jalan.

***

Menjelang sore, hujan di luar cukup deras. Kami berada di salah satu ruangan dari rumah berdinding anyaman bambu, duduk melingkar tak jauh dari tungku yang sedang membara dan menebarkan hawa hangat. Aku, Alif, Wawan, Albert, Neki, Yoga dan Rizal, ditambah Kak Ramon, Kak Hamid, Kak Septi dan Erik. Ditambah satu orang lagi: Mbah Ramelan, beliau adalah pemilik rumah yang kami pakai untuk singgah dan berteduh ini. Kebetulan rute perjalanan kami melewati rumah beliau ini.
Mbah Ramelan sibuk mengatur kayu bakar di tungku yang sedang dipakai untuk memasak air, sementara kami—para Pramuka—berbincang-bincang soal pengalaman kami di hutan tadi.
“Kalian menyesal?” lontar Kak Hamid, setelah menyimak uraian pengalaman kami.
Kami tak menjawab. Alif mengajukan pertanyaannya sendiri, “Kami beneran didiskualifikasi, Kak?”
Kak Hamid mendesah disertai senyum masam. “Bagaimana lagi? Kalian cuma berpartisipasi sampai di Pos Satu, setelah itu kalian tersesat sangat lama. Kalian kehilangan waktu untuk mengejar pos-pos berikutnya. Jadi, ya begitulah konsekuensinya.”
Alif terlihat kecewa.
“Otomatis pupus juga segala kemungkinan buat jadi juara,” desah Wawan—itu hanya membuat Alif semakin sedih saja.
“Itu sebuah pelajaran,” ujar Kak Hamid. “Ada dua hal yang menjadi tujuan orang ketika dia belajar. Yang pertama adalah untuk mengejar nilai. Yang kedua adalah untuk mengejar ilmu. Nah, yang manakah tujuan kalian?”
Kami semua berpikir-pikir, sambil saling melempar pandangan satu sama lain.
Albert yang pertama berceletuk. “Tergantung. Mengejar ilmu itu bagus, sih. Tapi kalau juara satu hadiahnya gede, ya kami tetap kecewa karena gagal meraihnya. Kita sih realistis, Kak.”
Semua tertawa menyambut jawaban Albert, termasuk Kak Hamid.
Perhatian tersita ketika Rizal yang angkat bicara. “Saya menyesal, Kak. Saya menyesal karena kaki saya jadi sakit begini. Bengkak parah! Tapi saya juga bersyukur, karena punya teman-teman yang setia kawan. Saya sadar kalau saya sudah ngerepotin. Tapi mereka nggak ninggalin....” Lalu, tiba-tiba dia mengumpat, “Anjrittt...!” Dan dia mengusap ujung matanya.
Kami menertawainya. Meledek kecengengannya. Setelah puas mem-bully, barulah kami menasihatinya baik-baik, seperti layaknya teman.
“Sudah, Zal, nggak usah nangis! Kalau semisal yang sakit aku, memangnya kamu bakal tega ninggalin? Nggak juga, 'kan?” ujar Yoga menghibur Rizal.
“Kalau kamu sih nggak terlalu nyebelin, Yog!” sahut Albert. Semua tertawa lagi. Rizal juga ikut tertawa.
“Setiap orang pasti pengin jadi juara, Kak. Kalau dibilang sedih, ya sedih. Tapi, kami bisa bilang kalau sebetulnya kami sudah membuat hadiah untuk kami sendiri. Yaitu pengalaman. Pengalaman kami lebih seru dibanding yang lain!” ucap Alif sedikit terbata-bata. Akhirnya dia tak terlihat kecewa lagi seperti tadi.
“Kami belajar jadi tim yang baik. Belajar setia kawan dalam kondisi yang sulit. Belajar sabar,” urai Wawan.
“Satu lagi!” Erik menyahut. “Sebenarnya, di Pos Satu, sanggha yang memberikan jawaban terbaik adalah kalian.”
Kak Ramon menambah, “Karena itu, kami memberikan hadiah kepada kalian, yaitu regu penolong saat kalian tersesat—kami sendiri.”
Kami membalas dengan “huuuuu” untuk hadiah itu, selayaknya sebuah rombongan celaka yang tak tahu diri. Namun, kautahu, kami hanya bercanda. Dan setelah menyambut para 'Kakak' dengan “huuuu”, teman-temanku menjadikanku sasaran ekspresi jahil mereka, sehubungan dengan jawabanku ketika kami ditanyai di Pos Satu. Kautahu, kejahilan sekalipun kadang bisa ditujukan sebagai pujian.
You can lose the game, but don’t lose the lessons!
“Saya sudah mengontak para Pembina yang lain, termasuk guru-guru kalian,” ujar Kak Hamid. “Mereka sudah sampai di Tawang Mangu, dan menunggu kita di sana. Tapi kalian tidak perlu meneruskan jalan kaki ke Tawang Mangu, karena kondisinya sudah tidak memungkinkan. Ada hal yang lebih penting sekarang, yaitu mencari klinik terdekat buat teman kalian, supaya kakinya bisa lekas diobati. Ada mobil yang bisa kita pakai,  hanya saja tidak bisa masuk sampai kemari karena jalannya sempit. Jadi kita tunggu sampai hujannya agak reda dulu, lalu kita jalan kaki sampai batas desa. Mobilnya menunggu di sana.”
“Menunggu sambil minum teh,” timpal Kak Septi sambil membagikan teh yang dibuatkan Mbah Ramelan. “Kata Mbah Ramelan, ini hasil petikan sendiri, asli dari Gunung Lawu.”
Kami menyambut suguhan dengan senang hati.
“Monggo, diunjuk,” Mbah Ramelan yang jenggotnya sudah memutih itu menyilakan kami.
“Matur nuwun, Mbah,” sambut Kak Hamid seraya menerima cangkir tehnya.
Air di cangkir masih terlalu panas untuk diminum. Namun aromanya terasa sudah cukup untuk menenangkan saraf-sarafku, memberikan perasaan relaks. Perlahan aku bangkit berdiri, melangkah menuju pintu belakang. Kudapati teras belakang rumah yang dilengkapi bangku panjang dari kayu. Di depan teras terbentang petak ladang yang berterusan dengan hutan, tampak sunyi dan kabur oleh balutan hujan.
Aku duduk menyendiri di teras ini, terpekur dengan cangkir di tangan sambil menghirup aroma teh yang berbaur dengan udara gunung yang basah. Samar-samar kudengar bunyi nyanyian, “Nampaknya, tiada lagi yang diresahkan. Dan juga tuk digelisahkan. Kecuali dihayati, secara syahdu bersama....” Lalu lagu itu berhenti, disahut suara orang menyapa. Suaranya terdengar tak jauh dari balik dinding bambu.
“Halo?”
...
“Oh, iya. Mereka sudah ketemu. Semuanya baik-baik saja, kok.”
...
“Ya, dia ada di sini. Oke. Sebentar, ya....”
...
Lalu, “Fan...?” Erik sudah muncul di sampingku, dan menyodorkan ponselnya padaku. “Dia mau bicara denganmu,” ucapnya.
“Siapa?” selidikku sedikit heran.
Dia tersenyum tipis. “Kamu pasti juga pengin ngomong sama dia.”
Dengan agak ragu, kuterima ponsel yang disodorkan padaku. Erik kembali ke dalam rumah, meninggalkanku sendiri untuk bicara dengan seseorang yang telah menghubungi ponselnya.
“Halo?” sapaku.
“Fan?” suara di sana. “Kamu baik-baik saja, tho?”
Aku tak bisa menggambarkan perasaanku. “Aku nggak apa-apa. Semua baik-baik saja, kok.”
“Aku telepon nomormu, tapi masih nggak bisa.”
“Semua ponsel masih dibawa Pembina, mereka sudah sampai Tawang Mangu. Aku masih di sekitar Candi Sukuh bersama teman-teman, menunggu hujan reda.”
“Ooo....”
Aku tersenyum. “Kenapa? Kangen? Salah sendiri nggak mau ikut!”
“Aku bukan kangen. Aku cemas! Di Facebook ada teman yang bikin status, katanya ada peserta hiking yang tersesat. Aku telepon ke nomormu nggak aktif, jadi aku tanya ke Erik. Ternyata kamu di rombongan yang tersesat itu.”
Aku tertawa. “Aku senang kamu masih mau mencemaskanku. Artinya kamu nggak cuek.”
“Kapan sih aku cuek?” Dia mulai sewot.
“Buktinya, diajak ikut jalan-jalan ke gunung yang bagus saja nggak mau. Malah kamu juga bohong segala, ngaku bukan Bantara.”
“Lho, aku memang bukan Bantara, kok....”
“Berarti Erik yang bohong?”
“Lho...? Yang ngomong Erik? Kamu sudah baikan sama dia? Cieee....”
“Sudah, nggak usah ngeles! Kamu pilih jujur, atau kita putus?”
“Ya ilah....”
Aku diam.
 “Fan, gini, lho... selama ini kita selalu jaga hubungan kita biar nggak menyolok di mata orang lain. Kalau kita ke gunung sama-sama, kamu yakin bisa tahan nggak dekat-dekat aku?”
“Eh, jangan ge'er, ya!”
“Lha terus, ngapain kamu ngambek sampai segitunya? Toh nggak harus dekat aku, 'kan?”
“Aku bisa mikir jugalah, Mas. Aku juga nggak bermaksud nempel terus sama kamu selama di sini. Tapi, aku mau setidaknya aku bisa lihat ada kamu di sini, di tempat yang dulu pernah kita bicarakan. Kamu tahu, 'kan, itu memorable banget buatku...?”
“Iya, buat aku juga.”
“So...?”
“So... aku nggak mau kita merealisasikannya di saat kamu masih membebani hatimu dengan pengalamanku di masa lalu.”
Aku bingung mencernanya. “Maksudnya?”
“Di situ ada Erik, 'kan?”
Aku mendehem.
“Aku ingin kamu maafin dia dulu.”
Itu mengejutkanku. Sedikit.
“Ternyata, ujung-ujungnya kamu ngomongin itu lagi, ya?” desahku—kesal, capek. Berusaha memahami. “Itu penting banget, ya, sampai harus jadi alasan kamu nggak ikut acara ini?”
“Penting. Sebab aku ingin pacarku bukan cuma cakep, tapi juga orang yang pemaaf, berjiwa besar, berhati mulia, dan sebagainya. Bukan supaya dia masuk surga, tapi... punya pacar pendendam itu serem, tahu...?”
Kali ini, dia berhasil membuatku tak bisa membendung tawa. Dia berhasil membuat ngambekku mental. “Lebih menakutkan mana: pacar pendendam, atau pacar yang bisa lihat hantu?” cibirku.
“Hmmm. Iya, ledek saja terus sampai puas!”
Aku tertawa lebih keras. “By the way, tak bisa memaafkan itu bukan berarti sama dengan pendendam.”
“Oke, terus...?”
“Pendendam itu adalah orang yang tak bisa memaafkan, lalu ingin melampiaskannya melalui pembalasan yang setimpal atau lebih. Aku tak punya niat membalas Erik. Aku cuma belum bisa memaafkannya, itu saja.”
“Sampai sekarang masih belum? Ayolah....”
Aku tercenung.
“Dia sudah minta maaf padaku, Fan.”
Aku mereka-reka. “Kamu masih punya perasaan ke dia?”
Dia terdiam sesaat.
“Mungkin. Sisa-sisa yang dulu. Tapi perasaanku ke kamu lebih besar, kok.”
Aku tersenyum. Hampir tertawa lagi. “Gombal!”
“Aku juga pernah 'tersesat', Fan. Aku pernah jatuh cinta ke orang yang keliru. Karena itulah, aku jadi mengerti betapa berharganya ketika memiliki orang yang tepat untuk dicintai. Kamu.”
Kuhirup aroma teh di cangkirku. Kuminum satu sesapan. “Hawa di sini mendukung untuk mendengarkan ceritamu. Teruskan.”
“Seandainya aku nggak pernah jatuh cinta ke Erik, andai dia nggak pernah nolak aku, andai dia nggak bilang ke teman-temannya, mungkin aku juga nggak akan seperti sekarang—jadi lebih kuat. Seandainya Erik tak memberiku pengalaman sakit hati itu, mungkin aku juga nggak akan belajar mencintai orang lain. Bagiku semua itu proses, Fan, untuk menemukan sesuatu yang lebih baik untuk diri kita.”
Aku tercenung agak lama. “Oke. Karena kamu jujur, dan ceritamu bagus, aku akan ikuti nasihatmu.”
Hampir semenit kami sama-sama terdiam.
“Sekarang aku mulai kangen kamu....”
“Peluk Denis saja dulu.”
“Homo-homoan sama saudara kembar, dosa.”
“Kalau sama aku nggak dosa, gitu?”
“Nggak tahu. Yang aku tahu cuma: aku bahagia sama kamu.”
“Gombal!” Aku tertawa lagi. Dimas juga tertawa.
“Fan, lu ngomong apa ke Dimas barusan?”
Aku kaget. Kudengar ada suara berebut telepon di sana. “Lho, ada Denis di situ?”
“Cuma lewat,” jawab Dimas.
“Mamaaa..., Dimas pacaran pakai telepon rumah...!” suara Denis berseru di kejauhan. “Fan, bawain oleh-oleh, ya!” suaranya mendekat lagi.
“Ya sudah, Fan. Aku lega kamu nggak kenapa-napa. Kabari kalau sudah pulang, ya!” pesan Dimas padaku.
“Oke.”
“Suatu saat nanti, aku pasti akan temani ke gunung. Berdua saja.”
“Kuanggap itu janji.”
“Kutunggu kamu menagihnya.”
“Sip.”
“I love you.”
“Terserah.”
Dia menutup telepon.
Aku menuju ke muka pintu. Kulihat Erik duduk di dalam. Dia juga melihatku. Lalu menghampiriku.
“Sudah?” tanyanya.
Aku mengangguk. Kuulurkan ponselnya. Dia menerimanya kembali, dan segera membalikkan badan lagi.
“Kak,” aku memanggilnya, menahannya sejenak. Dia berhenti dan menoleh. “Makasih. Dapat salam dari Dimas,” ucapku.
Dia tersenyum dan mengangguk. Lalu kembali ke tempat duduknya di dalam, bergabung lagi dengan yang lain.
Aku masih berdiri di teras, kembali menatap hujan yang mengaburkan warna sore di tepian hutan ini.
“Kok menyendiri di sini?” Alif menyapaku, bergabung denganku di teras.
Aku mengurai sekadar tawa untuk menyambutnya. “Rasanya berat mengakhiri petualangan ini,” ulasku.
“Iya. Beda dengan saat kita masih tersesat di dalam hutan sana; marah, putus asa, ingin cepat-cepat pulang. Sekarang, rasanya berubah jadi nggak rela untuk mengakhirinya,” timpal Alif.
Kami terpekur di teras. Dari berdiri, kemudian berpindah ke bangku kayu. Cuma diam memandangi ladang dan hutan di depan kami. Lama-lama, diam berdua seperti ini mulai terasa canggung.
“Oh, iya, Fan... sebelumnya aku minta maaf, ya...,” Alif kembali membuka suara dengan kalimat yang membuat kecanggungan malah menjadi kentara. Kulihat gerak matanya menyapu, melewatiku beberapa kali—enggan untuk berhenti sedikit lebih lama saja padaku. “Ketika kita berada di punden tadi...,” dia terbata-bata, “aku tak sengaja mendengar pembicaraanmu dengan Neki.”
Aku terkejut, tapi tak memperlihatkannya. Aku menggeser pandanganku, tak lagi kepada Alif. Sekarang tiba-tiba aku menjadi segan. Namun, aku tak menyangka, dia menepuk-nepuk pundakku.
“Nggak usah khawatir, Fan. Menurutku kamu nggak kelihatan 'sakit', kok. Dan kamu anggota sanggha terbaik. Biarpun kamu bilang nggak tertarik, aku tetap tunggu di pelantikan Bantara. Nggak keren kalau di sanggha terhebat ini yang jadi Bantara cuma aku,” ucap Alif padaku.
Aku berani lagi menatapnya. Dia membalas, sambil menyesap tehnya. Dia tersenyum. Aku tertawa agak malu.
“Thanks, Lif...,” ucapku singkat.
Teh hangat—asli racikan dari pemetiknya sendiri, diseduh dengan air yang dididihkan menggunakan tungku tanah dan kayu hutan Lawu—mengisi cangkir-cangkir di tangan kami. Teh bisa bermacam-macam rasanya; konon, lain gunung maka lain pula rasanya. Yang mana yang enak, siapa pun menilai berdasarkan selera masing-masing. Apa pun rasanya, yang penting asli—tidak diakali oleh gengsi ataupun komersialisasi. Silakan dengan sugestimu sendiri, tapi jangan sugesti orang lain. Asli. Jujur. Itu kurasakan di titik ini.
Aku tidak tersesat di petualangan ini.
Haruskah kukatakan bahwa diriku tersesat, jika yang kutemukan di sini adalah pelajaran hidup, kawan yang menjabatku erat, dan cinta yang menginginkanku pulang dengan selamat?
Pada tumpukan kayu bakar, kulihat sebongkok kecil kayu kering yang diikat dengan seutas kain. Kain kuning, yang setelah kuteliti, berlogo tunas kelapa. Sandi yang hilang. Dan dari kedalaman hutan sana, kicauan yang kukenal kembali terdengar, bagai tawa ringan yang menembus keheningan alam. Hujan sudah reda.











.......
PARA SARJANA


“Tyo, kemarilah!”
“Van, ayolah, ini sudah sore. Saatnya kita pulang.”
“Lihat dulu ini!”
“Mau kauapakan gerabah itu?”
“Aku cuma ingin membuktikan teorimu. Kaubilang kompas ini berputar-putar karena pengaruh rumah rayap. Sekarang aku sudah memindahkannya jauh-jauh, dan lihatlah hasilnya!”
“Oh... kenapa masih berputar begitu?”
“Berarti ada faktor lain selain teorimu itu.”
“Dan... putarannya makin cepat, Van....”
“My God. Ayo, kita pulang.”


--- end ---

2 komentar:

Idhaam287@gmail.com mengatakan...

Bang, gue terhura bang..... Berkarya lagi yah... Susunan ceritanya rapi Bender...

Anonim mengatakan...

Waaaaah baru bisa baca setelah beberapa tahun. Mantap mas Noel. Gila parah ceritanya. Bagus banget ini pantas di filmkan.