ELANG
MUDA, dan GUNUNG YANG BERSERU!
Waktu
tak pernah berhenti, Kawan. Ia sambung-menyambung. Direkam oleh
dongeng-dongeng tua, lukisan-lukisan di gua yang dalam, aksara-aksara
di atas rontal, foto-foto dari yang hitam putih hingga yang kaya
warna, lalu bergerak di layar bioskop, televisi, komputer, dan
sekarang menjelma pada layar kecil di tanganmu. Cerita-cerita
menyeberang ke benak kita, berkecamuk lagi di dalam hati kita, meski
masanya sudah jauh di belakang sana. Begitu pula kali ini, Kawan,
cerita ini hadir dan mengajakmu meloncati waktu.
Tunda
dulu kantuk dan laparmu, marilah bergabung ke tahun-tahun ketika
lumbung-lumbung terbakar hangus oleh kobaran revolusi. Bahkan bantal
dan tikar pun ikut menjadi tajam oleh gigitan kutu pinjal pengisap
darah, juga oleh bau apak keringat perjuangan. Meski demikian,
cita-cita dan untaian doa tetap tak padam—hanya
itu yang bisa dilambungkan tinggi-tinggi, tentu, jauh melampaui
cerobong-cerobong pabrik gula yang telah diduduki serdadu asing. Dua
bulan sebelumnya para serdadu dari negeri bawah laut itu memang telah
menyergap lagi, mencaplok negeri yang tiga setengah tahun sebelumnya
sudah memproklamirkan kemerdekaan. Penjajah tak tahu malu! Mulut
rakusnya telah ketagihan untuk terus mengisap—mengisap
secara lebih keji dan lebih tamak.
Kota
di cerita ini adalah sebuah kota kecil di timur Surakarta: Sragen,
yang jantungnya ikut porak-poranda tatkala pasukan kolonialis Belanda
datang menyerbu. Ya, Belanda telah bangkit kembali setelah sempat
dikebiri oleh Jepang. Hari-hari para pribumi dilalui dalam amarah,
sebab rakyat sudah kenyang oleh pahit-asam tiga setengah abad
penjajahan. Kenyang itu berubah menjadi muak. Namun, tak semua amarah
mampu ditembakkan dalam keberanian. Sebaliknya, tak sedikit yang
terpaksa menyembunyikannya di balik ketundukan; para pribumi bekerja
di kantor-kantor yang sudah dikuasai Belanda, mencelupkan wajah ke
dalam air ludah demi mendapat nafkah. Nyatanya, dijajah memang bukan
hal yang mengejutkan lagi di negeri ini. VOC, Inggris, Jepang, sudah
khatam.
Lagi
pula, orang-orang pribumi—yang
dalam kisah ini diwakili oleh orang-orang Jawa—memang
pandai menghibur diri. Di tengah penindasan pun masih mereka temukan
kesenggangan untuk pergi ke arena judi di pasar; dadu, kartu, sabung
ayam dan sebagainya. Jika uang habis dan tempayan kosong, mereka
masih memiliki pepatah “mangan
ra mangan, kumpul”.
Baiklah,
tentu tak semua pribumi suka berjudi. Ada juga yang lebih suka
mengisi kesenggangan dengan berkumpul di radio umum yang didirikan di
sebuah kampung bernama Cantel, satu kilometer dari pabrik gula yang
ada di pusat kota. Pesawat radio adalah barang mahal pada masa itu,
sehingga hadirnya radio umum itu bisa menghibur rakyat—dengan
siaran dari RRI Solo, entah itu berita, kethoprak,
keroncong, atau klenengan.
Sayangnya, itu adalah beberapa waktu lalu. Sejak serdadu Belanda
menyerang lagi, radio umum pun lumpuh, sebab kota-kota besar yang
memiliki stasiun radio banyak yang jatuh ke tangan Belanda. Kalaupun
ada satu-dua penduduk yang memiliki pesawat radio, kini mereka pun
tak akan berani menyalakannya, sebab suaranya akan memberi tanda
kepada para maling dan garong bahwa ada rumah yang cocok untuk
disatroni.
Kota
telah senyap. Suara-suara hiburan rakyat telah lenyap. Kehidupan
kembali pada suasana angker, seperti yang ada di dalam dongeng
orang-orang tua Jawa: Genderuwo
yang suka menyentil kemaluan orang yang buang hajat sembarangan; Wewe
yang menggondol bocah ke atas pohon; Wedon
yang suka meludahi orang hingga kulit melepuh. Tanah Jawa yang penuh
hantu! Ah, mungkin daerah lain juga begitu.
Namun,
Kawan, sesungguhnya peluru serdadu Belanda adalah kisah yang lebih
mematikan. Mereka menggondol nyawa para pejuang, merenggut masa depan
anak-anak yang menjadi yatim piatu karena perang, dan meludahi harga
diri perempuan-perempuan pribumi yang mereka perkosa. Hanya sebagian
orang yang berani melawan, yaitu para gerilyawan yang bersembunyi di
desa-desa, di hutan-hutan angker di mana jin dan hantu-hantu rupanya
tak lagi menakuti. Sebaliknya, hantu-hantu itu mungkin malah
melindungi, dan mungkin juga bekerja sama untuk mengusir para
penjajah yang sombong itu. Konon, para dedemit lebih suka bersahabat
dengan manusia Jawa yang sopan dan rajin berbagi rejeki lewat
sajen-sajen di bawah pohon besar.
Atau,
mungkin di daerah lain juga begitu?
Di
Sragen yang kecil dan angker ini terdapat beberapa markas gerilyawan.
Salah satunya adalah di sebuah desa di tapak kaki Gunung Lawu bagian
utara, yaitu Desa Guworejo yang jaraknya tiga kilometer dari pusat
kota. Ini adalah markas gerilyawan yang dipimpin oleh Letnan
Priambodo, dan dari sinilah sesungguhnya dongeng ini dimulai.
Siang
itu suasana di markas seketika tegang, karena baru datang sebuah
laporan dari seorang perempuan muda yang sehari-hari menjadi juru
ketik di kantor pabrik gula. Ketahuilah, pabrik gula itu adalah salah
satu pos terbesar tentara Belanda, dan perempuan muda tadi
membocorkan sebuah informasi kepada para gerilyawan.
“Lokasinya
benar-benar sudah diketahui, Pak,” terang perempuan muda itu. “Saya
mendengarkan percakapan mereka bahwa seorang pengkhianat perjuangan
telah membocorkan lokasi pengungsian Kiai Menda di Jenawi.”
Raut
muka Letnan Priambodo merah padam, geram. “Apa lagi yang kamu
dengar, Sri? Adakah rencana dari Londo-Londo
itu untuk melakukan operasi ke sana?”
Juru
ketik yang juga informan gerilya bernama Sri itu mengangguk. “Berita
baiknya, mereka tidak akan melakukan operasi hari ini. Tapi besok
pagi. Berita buruknya, saya menangkap rencana mereka untuk
berkoordinasi dengan Solo.”
Tangan
Letnan Priambodo menggebrak meja. “Asu!
Kalau benar, nasib markas di Jenawi bisa seperti markas di Tawang
Mangu dulu, dibombardir dari udara! Besok pagi? Besok pagi itu
singkat, Sri!”
“Saya
rasa mereka sudah menyusun rencananya sejak beberapa hari kemarin,
Pak. Tapi baru hari ini saya mengetahuinya,” jelas Sri, dengan raut
menyesal bercampur dongkol karena tak bisa mengetahui situasi itu
lebih dini.
“Tapi
kita masih punya waktu untuk menyelamatkannya, Pak,” timpal Sersan
Joko, di sebelah sang Letnan.
“Masih!
Secepatnya kita utus orang untuk melaporkan situasi ini ke markas
batalion di Karang Pandan,” tandas Letnan Priambodo. “Tapi yang
tak kalah penting, kita juga harus mengabari markas di Jenawi supaya
mereka bisa mempersiapkan diri sedini mungkin. Jika ternyata situasi
semakin gawat, mereka sudah siap untuk menyelamatkan Kiai Menda.”
“Saya
sanggup untuk ke Jenawi, Pak!” seorang laki-laki belia menyahut
lantang. Seorang remaja.
Kerut
dahi Sersan Joko meragu. “Kau baru dari Wonosido kemarin. Kau tak
butuh istirahat, Paksi?”
Remaja
bernama Paksi itu menyahut tanpa keraguan. “Satu malam sudah lebih
dari cukup untuk istirahat, Pak. Saya sudah pernah ke Jenawi, saya
hapal jalannya. Saya bisa ke sana secepatnya.”
Pak
Pri—panggilan
sang Letnan—bangkit berdiri
dan kini sorot matanya tak menampakkan keraguan. Ia mendekat ke
hadapan Paksi, menepuk-nepuk pundak remaja itu. “Kiai Menda adalah
salah satu kunci penting perjuangan kita. Kita juga akan mengabari
markas di Batu Jamus dan Bayanan agar siaga. Tapi, tugas ke markas di
Jenawi kupercayakan kepadamu. Laksanakan tugasmu dengan baik!”
“Siap,
Pak!”
Paksi.
Dialah lakon di dongeng ini. Dia adalah seorang remaja yang bergabung
dengan barisan tentara pelajar; seorang belia bermata sedikit sipit,
tapi sorotnya setajam mata elang. Kulitnya tak mewarisi gelapnya
kulit Jawa, ia sedikit lebih terang. Tidak tinggi, hanya sepundak
rata-rata prajurit Belanda. Dengan perawakannya yang sedang itu, ia
mampu bergerak setangkas seekor rusa. Tak berlama-lama, siang itu
juga Paksi berangkat menjalankan tugasnya, menuju markas gerilyawan
di Jenawi.
Ia
berangkat sendiri mendahului utusan yang lain, karena ingin bisa
sampai ke tujuan secepatnya. Dua puluh kilometer jarak yang harus
dicapainya. Hanya dengan kaki untuk menempuh, kepala untuk menyimpan
pesan, dan mulut untuk menyampaikan kepada yang seharusnya. Pastinya
bukan kepada serdadu Belanda, meski mereka tak pernah segan untuk
menyiksa sampai mati. Paksi tak gentar, walau tanpa senjata. Tugas
seorang kurir memang bukan membunuhi musuh, tetapi tetap bisa
menentukan menang-kalah sebuah peperangan.
Matahari
setinggi kening, Paksi baru menempuh sepertiga jarak perjalanannya.
Jenawi ada di pinggul Lawu, sedangkan dia baru di lututnya. Dia
menempuh rute lewat hutan karet Kedawung, hingga tibalah di sebuah
desa bernama Sambirejo. Di situ dia berhenti untuk beristirahat
sejenak, melepas lelah di regol
sebuah
rumah yang tampak tak berpenghuni.
Regol
adalah gerbang berbentuk pondok kecil dengan serambi di dua sisi
saling berhadapan. Sebuah gerbang di mana selalu diletakkan kendi
berisi air, sebagai perwujudan nyata pepatah Jawa “urip
iku mung mampir ngombe”.
Hidup
adalah singgah untuk minum.
Di situ pula biasanya akan diletakkan air kembang
setaman
pada hari-hari tertentu, sebagai sajian bagi makhluk-makhluk tak
kasat mata, para lelembut.
Sungguh memang terlalu baik orang Jawa itu, membuat nafsu para
penjajah menjadi tak mau cukup hanya mampir,
tetapi
ingin mereguk sebanyak dan selama mungkin apa yang dimiliki si tuan
rumah. Bisa dilihat, kendi di dalam regol
itu kini sudah kering, hanya diisi debu dan menjadi sarang
kalajengking. (Dan, kelak rumah-rumah orang Jawa pun akan melupakan
satu unsur penting dalam arsitekturnya itu: regol.)
Paksi
membawa sendiri minumannya di sebuah botol, dia meneguknya separuh.
Dia melepas kain pengikat pinggangnya untuk mengusap keringat.
Melepas caping, mengipas-ngipaskannya untuk mengusir gerah. Lihatlah
melalui imajinasimu: semua itu adalah atribut pakaian orang desa.
Padahal, sebenarnya dia berasal dari keluarga kota yang berkecukupan
dan dia juga seorang terpelajar. Dia meninggalkan keluarganya: Ibu
yang suka menjahit sendiri baju untuknya, dan juga Eyang Putri yang
dongeng-dongengnya membuat kangen. Dia meninggalkan rumah demi
bergabung dengan laskar gerilya, dan karena tugasnya adalah sebagai
kurir maka dia tak boleh berpenampilan menyolok—tampak
sebagai orang desa biasa saja, itulah yang pas.
Dari
dalam keteduhan regol, dipandanginya desa yang sepi itu. Ada
kehidupan, tapi tampak mengasing, bersembunyi di dalam rumah-rumah
gubuk yang jarang. Sawah-sawah mau menguning, tapi ladang-ladang
tampak semrawut seperti telah dipanen sebelum waktunya. Di masa yang
sulit itu, alih-alih berpesta untuk panen raya, banyak sawah-ladang
malah menjadi sasaran para penjarah. Tak hanya jadi mangsa Belanda,
tapi juga sesama pribumi yang lebih memilih memakan saudara sendiri
daripada mati kelaparan. Ya, perampok, pengkhianat, kutu pinjal
pribumi; mereka ini lebih buruk dari Genderuwo
yang bahkan masih membayar sate
gagak
yang dijajakan orang. Lebih rendah dari Lelepah,
yang suka makan manusia tapi tidak memakan sesamanya sendiri.
Paksi
merasa sudah cukup dengan istirahatnya. Tatkala baru sepuluh langkah
meninggalkan regol, dia berpapasan dengan seseorang. Orang di hadapan
Paksi itu adalah pria yang jika dilihat dari busananya bukan Jawa
ataupun Cina; dia berpakaian serba putih dengan buntalan bekal di
panggulnya, dan tongkat bambu di genggaman tangan kanan—kelihatannya
seorang pengelana.
Orang itu belum terlalu tua, mungkin baru di awal empat puluhan, tapi
rambut hitamnya digelung ke atas seperti cara berdandan dari
masa-masa yang amat kuno.
“Sampeyan
akan ke atas?” pengelana itu menyapa, seraya menunjuk gunung dengan
tongkatnya. “Sampeyan” adalah bahasa Jawa. Namun dia tak
terdengar Jawa. Cara mengucapnya seperti belum lama mengenal kata
itu.
“Betul.
Sampeyan
sepertinya datang dari jauh? Hendak ke mana?” Paksi melayani
ramah-tamah pengelana itu.
“Saya
dari Bali,” jawab pengelana itu. Sambil menuju regol, dia menunjuk
gunung lagi. “Saya juga akan ke sana, ke gunung itu. Tapi mungkin
perlu istirahat semalam di sini.”
Dari
Bali. Jauh benar. Sosok pengembara itu membuat Paksi tertarik.
“Mendengarkan
barang beberapa menit, aku masih punya segudang waktu untuk sampai di
Jenawi,”
begitu pikir Paksi. Dia pun kembali lagi, ikut ke regol, menuruti
rasa ingin tahunya yang tinggi.
“Ada
tujuan apa jauh-jauh dari Bali kemari?” tanya Paksi, tanpa sungkan
menunjukkan rasa penasarannya.
Ditanya
soal tujuan, pengembara itu mengulas senyum sarat arti. Sebelum
menjawab, dia balik bertanya, “Apakah Sampeyan
suka mendengarkan dongeng?”
Paksi
membalas tersenyum sedikit canggung. “Orang Jawa selalu menyukai
dongeng.”
“Baiklah.
Temani saya duduk di sini,” ujar pengembara itu, mempersilakan
Paksi duduk berhadapan dengannya. Lalu dia mulai bercerita, diawali
dengan menyebutkan namanya, “Nama saya Bagus Kaja. Kaja
artinya adalah ‘arah gunung’. Dan gunung adalah tempat yang
sering menjadi tempat perlindungan. Dahulu, saat peradaban baru
datang mendesak, masyarakat Majapahit yang merasa terancam menjadi
tercerai-berai. Yang tak bisa meninggalkan Tanah Jawa, mencari tempat
yang aman di pegunungan: Bromo, Lawu, dan gunung-gunung lainnya. Yang
berhasil menyeberang ke Bali, menguasai tempat yang baru itu. Maka,
serupa dengan yang terjadi di Jawa, masyarakat asli Bali yang merasa
terancam juga menyingkir ke pegunungan. Saya adalah bagian dari
silsilah yang tercerai itu. Saya mencari jejak moyang yang telah
mokswa
di puncak Lawu.”
Gunung,
tempat berlindung?
“Dan
kini para gerilyawan juga membangun markas-markas di pegunungan,”
batin Paksi menanggapi, merenungkan benang merahnya sendiri atas
penuturan pengembara itu. “Tapi
kami berlindung bukan tanda menyerah, kami berlindung untuk menyusun
perlawanan!”
Bagus
Kaja melanjutkan dongengnya. “Nama asli Lawu adalah Gunung
Mahendra—dari
kata Maha Indra, salah satu Dewa yang kami muliakan: penghulu sorga,
penguasa hujan dan halilintar, dan Dewa Perang Yang Adil. Di kedua
dada Lawu terdapat candi; yang di barat adalah candi lahirnya
manusia, yang di timur adalah kematian. Yang di timur itulah
tersembunyi sebuah jalur purba untuk mencapai puncak Lawu—dongeng
orang Jawa menyebutnya Puncak Arga Dumilah, yaitu Kahyangan tempat
Dewa Kematian bermukim. Tetapi barangsiapa mampu menang dari
kematian, maka ia telah mencapai puncak tertinggi yang sesungguhnya:
mokswa,
berpulang ke sorga. Seperti moyang saya.”
Paksi
tercenung, mencerna baik-baik. Otaknya yang terpelajar membuatnya
bertanya-tanya atas dasar pemikirannya sendiri, “Kematian? Bukankah
timur adalah tempat lahirnya fajar? Dan fajar adalah awal sebuah
hari? Awal kehidupan?”
“Itu
karena bumi yang berpusar di sumbunya, Adi.
Ketika bumi menjemput fajar di satu tempat, di saat yang sama di
tempat lain ia menyambut senja. Begitu juga kematian, tak lain
hanyalah menyambut kehidupan berikutnya. Fajar, senja, siang dan
malam hanyalah selubung, cara manusia menandai waktu. Di dalamnya,
lahir dan mati adalah perputaran.”
Paksi
merenung kian jauh. Ia melihat keadaan negerinya. Isi dadanya mulai
menggugat. “Jika demikian, lantas apakah penjajahan dan perjuangan
hanyalah sandiwara yang tak perlu digulatkan? Apakah kemerdekaan akan
datang dengan sendirinya? Apakah pahlawan mati karena sekadar layak
mati, dan penjajah menjajah karena layak menjajah?”
Bagus
Kaja berdiam sesaat menghadapi tanggapan Paksi. Dia dapat membaca
ucapan Paksi yang terasa memanas itu, meski nadanya tidak tinggi.
“Bukan,
Adi.
Jika dharma-mu
adalah seorang Ksatria, maka di tanganmulah ada panggilan untuk
melawan, untuk memutar roda negeri ini agar lahir kembali sebagai
bangsa yang merdeka.
Sebab,
membebaskan penderitaan, meski hanya di dunia, tetaplah mulia. Itulah
panggilan bagi seorang Ksatria. Yang Brahmana sepertiku, biarlah
menaburkan doa sembari melangkah mencari pulang.”
Mata
hati brahmana itu kiranya sungguh tajam dan mampu membaca segala hal
yang tersirat. Batin Paksi tergugah mendengar tuturnya. Sesunguhnya
Paksi paham apa yang selayaknya dia jalankan, dan serta-merta dia pun
tersadar bahwa di tempat itu sesungguhnya dia telah menunda sebuah
tugas. Tiba-tiba dia merasa malu akan dirinya sendiri.
“Saya
melihat ada beban di pundakmu,” ujar Bagus Kaja, melihat yang tak
kasat. “Bolehkah saya untuk bisa mengingat namamu setelah pergi?”
“Nama
saya Paksi.”
Senyum
yang melintang di wajah brahmana itu melukiskan seolah-olah dia
menyambut secercah ilham. Dia pun mengawali satu dongeng lagi.
“Candi-candi di dada Gunung Lawu mengabadikan satu cerita, yaitu
tentang Garuda
yang perkasa. Sang Garuda dengan gagah berani mengalahkan para Dewa
dan Ashura
demi mendapatkan Air Kehidupan, agar dapat ditukar dengan pembebasan
ibunya dari perbudakan. Karena kegigihannya, Hyang Indra memberikan
hormat kepadanya. Ia laksana para pejuang, yang rela menukar nyawa
demi memerdekakan Ibu Pertiwi. Paksi, ingatlah kisah ini seperti kau
mengingat namamu sendiri. Paksi.
Burung Perkasa. Garuda—Si Elang Jawa.”
Paksi
hampir tak bisa berkata. Remaja itu terpekur. “Andai sekarang saya
tidak sedang menunda tugas, akankah saya pernah mendengar cerita
ini?” ucapnya pelan, dibubuhi perasaan beruntung, tapi juga
sekaligus malu.
“Kalau
begitu, sudah saatnya kaulanjutkan.”
Namun
masih ada satu kecamuk di batin Paksi. “Apakah bagi seorang
brahmana memang tak ada hasrat untuk berada di baris perlawanan? Jika
soal pulang, bukankah kami juga ingin pulang? Jika bisa memilih,
siapa yang akan memilih perang?”
“Kita
tidak memilih perang. Tetapi kita menjawab perang melalui jalan yang
berbeda.” Lalu untuk sesaat sorot mata brahmana itu tampak muram.
“Ketika terjadi puputan
di Badung, saat itu saya lahir dari sebuah rahim yang sekarat. Ketika
terjadi puputan
di desa Marga, saya di sana melantunkan doa untuk
pahlawan-pahlawan
yang gugur. Terlalu banyak darah yang sudah saya lihat, Adi....”
Keduanya
hening. Kini giliran Paksi melihat, bahwa brahmana itu pun memiliki
beban-beban yang pahit dalam hidupnya. Kiranya semua makhluk memang
akan mencari jalan pulang ke Penciptanya. Namun tak semuanya menempuh
jalan yang sama.
“Kiranya,
Hyang Indra akan menurunkan hujan keadilan, sebab darah sudah banyak
ditumpahkan sebagai sesajinya,” ucap brahmana itu seperti lantunan
doa. Dia berdiri, mengulurkan tongkat bambunya kepada Paksi.
“Tujuanku sudah dekat. Bawalah, agar kau ingat bahwa kau pernah
mendengar dongeng dari pengelana yang memberimu ini....”
Paksi
menerima pemberian itu, meski sejujurnya merasa sungkan. Tak elok
jika menampik pemberian yang diulurkan dengan harapan baik. Dia pun
bangkit. “Saya akan selalu mengingat perjumpaan ini, meski mungkin
kita tak akan pernah berjumpa lagi. Terima kasih. Saya harus
meneruskan perjalanan.”
Begitulah,
perjumpaan disudahi. Di persinggahan itu dua penempuh perjalanan
harus berpisah. Satu pesan terakhir dari Sang Brahmana melepas
perginya Paksi, “Meskipun takdir sulit diterka, percayalah
padanya.”
Paksi
menyambung perjalanan mengemban amanat. Dia menyelipkan tongkat bambu
yang kokoh itu di pinggangnya, melintangi punggung seakan-akan
sebanding dengan senapan berpeluru. Langkahnya berlipat lebih gegas,
membayar waktu yang telah terbuang—meski
sebetulnya tak terbuang sia-sia.
Jalan
pegunungan yang tak rata, berbukit dan berjurang, sudah seperti
makanan ringan saja baginya. Matahari memang sudah sepinggang, tak
lagi memanas. Malah sebaliknya, gunung kian mendingin. Napas sang
angin berhinggapan di antara pepohonan penghuni hutan, berbisik-bisik
seperti memedi
yang mengintip mangsa. Namun itu tak mempan untuk menggertak nyali
remaja pembawa berita itu. Paksi tak akan menyurutkan langkah sedikit
pun demi misinya, yaitu menyelamatkan kunci penting perjuangan: Kiai
Menda.
Sebetulnya,
mengapa Kiai Menda menjadi sedemikian penting?
Kawan,
pada masa ketika kita sedang membaca kisah ini, yaitu masa sekarang,
yang orang tahu tentang “kiai” umumnya adalah gelar yang
diberikan kepada para ulama. Namun, ketika kita meloncati waktu dan
mendarat pada masa ketika terjadinya cerita ini, kita berada pada
suatu masa ketika sebutan “kiai” tidak hanya disandang oleh para
ulama. Jika engkau bisa membayangkan betapa jumlah pasukan Belanda
begitu besar dengan persenjataan yang jauh lebih lengkap, maka
perlawanan yang dilakukan oleh laskar pribumi bisa terdengar sebagai
kenekatan yang tak masuk akal. Maka, seharusnya engkau pun tak perlu
heran ketika mendengar bahwa kekuatan para pribumi seringkali datang
dari tempat yang berada di luar akal. Tak perlu kaget, apalagi
tersinggung, jika ketidaknalaran itu kemudian tercermin pada
kenyataan bahwa gelar “kiai” tak hanya diberikan untuk jenis
manusia saja. Tombak
Kiai Plered, Meriam Kiai Amuk, Kereta Kiai Paksi Naga Liman,
dan..., sekali lagi engkau jangan heran: orang Jawa juga memanggil
harimau dengan sebutan “kiai”.
Jadi,
siapakah sesungguhnya Kiai Menda?
Kita
kembali dulu ke perjalanan, yang kita tempuh bersama Paksi. Ketika
dia telah menjangkau separuh perjalanannya, sekonyong-konyong muncul
sesuatu yang mengusiknya, membuatnya gentar, meski tak membuatnya
mundur. Di kejauhan terlihat olehnya dua jeep
patroli Belanda sedang bergerak menuruni tanjakan, menuju ke arahnya.
Itu gawat! Mereka akan berpapasan dalam waktu kurang dari satu menit!
“Celaka!”
batin Paksi mengumpat. Jantungnya berdegup kencang. Namun dia sudah
tahu bagaimana harus bertindak ketika berpapasan patroli musuh:
bersikap saja selayaknya penduduk desa yang habis pulang dari ladang,
jangan tergesa-gesa seperti orang yang menyembunyikan sesuatu. Jangan
mendongak atau memandangi terlalu lama, sebab itu bisa dikira
menantang. Menunduk lebih baik, seperti orang yang takut, sebab
umumnya orang pribumi awam memang takut pada tentara Belanda.
Dua
jeep
patroli itu telah berada sepuluh langkah di depan Paksi. Lebih jelas
terlihat bahwa para penumpangnya membawa senapan. Jelas tentara! Dan
sekarang mereka tepat berpapasan! Paksi seperti rencananya: terus
berjalan, berikan sedikit kesan takut tapi tetap tenang. Dan,
jeep-jeep
itu pun melewatinya begitu saja, seperti melewati orang desa yang
baru pulang dari ladang.
“Syukurlah!”
Paksi lega dalam hati, karena situasi telah berjalan seperti apa yang
diharapkannya.
Namun,
keadaan tiba-tiba berubah hanya dalam waktu lima detik. Deg!
Jantung Paksi menendang keras tatkala didengarnya jeep-jeep
di belakangnya itu berhenti. Dan tanpa dia duga....
Dooorrrr...!
Paksi
merasakan timah panas menusuk keras ke punggungnya, amat sangat kuat
hingga tubuhnya terpelanting ke depan. Tubuh remaja itu jatuh
tertelungkup menimpa tanah, dengan punggung yang basah oleh darah
segar!
Terdengar
suara tawa tentara Belanda di sore yang mencekam itu. Tawa mereka
terumbar lebih menakutkan dari suara momok.
Nadanya busuk dan bengis! Lalu mereka berdebat singkat dalam bahasa
mereka....
“Kaulakukan
hal yang tak penting!”
Si
penembak menyahut kawannya, “Anak itu sangat tenang di depan kita.
Lagi pula ini sudah mau gelap. Bisa saja dia anggota gerilya!”
“Dia
hanya bocah. Harga kepalanya tak ada satu sen. Tapi kau membuang
peluru seharga tiga puluh lima sen!”
Serdadu-serdadu
itu tertawa lagi. Jeep
mereka melaju, berlalu, meninggalkan perhentian yang mematikan itu
seolah-olah barusan mereka hanya membunuh seekor tikus. Suara mesin
menjauh teratur.
Di
atas tanah yang bersimbah darah itu, perlahan Paksi mengangkat
tubuhnya. Nyeri dan perih menyebar ke penjuru saraf. Bukan main
sakitnya! Saat bersusah payah berdiri, seketika itu malah otaknya
lumpuh. Dia pun roboh lagi.
Pingsan.
Ketika
matanya terbuka dan kesadarannya terkumpul lagi, dia sudah berada di
suatu tempat yang lain. Paksi kini sedang terbaring telungkup di atas
dipan. Di sampingnya ada meja dengan lampu teplok,
menerangi rumah gedek
itu dengan cahaya remang. Ada seuntai rangkaian bunga kenanga yang
disampirkan pada dinding gedek,
menebar wangi lembut yang dapat membantu tubuh sakit itu untuk lebih
tenang. Dia menyadari tubuhnya tak berbaju. Dan terasa ada yang
menempel di punggungnya, menyejukkan bagian kulit yang meradang oleh
luka tembak. Ia mencoba bangkit, tapi rupanya saraf-sarafnya masih
terasa sangat nyeri. Dia ambruk lagi seraya mengerang pelan, menahan
ngilu.
“Lukamu
tak terlalu dalam. Tapi sebaiknya jangan dipaksa. Istirahat saja
dulu,” suara seorang laki-laki, muncul dari dapur yang bersebelahan
dengan bilik itu. “Aku sudah keluarkan pelurunya. Kau beruntung,
peluru itu tak sampai menembus dadamu.”
Paksi
sedikit tercengang mengamati laki-laki yang kini duduk di sebelah
dipannya. Dengan cahaya yang temaram dia bisa mengetahui bahwa sosok
penolongnya itu sepantar dengannya. Sama-sama masih belia. Bahkan si
penolong itu terkesan masih terlalu muda untuk mampu memahami cara
mengobati luka tembak.
“Ini
di mana?” Paksi bertanya.
“Di
rumahku. Desa Kluwung, tak jauh dari tempat aku menemukanmu.”
Paksi
menghela napas dengan berat. Lega karena selamat, tapi juga merasa
berontak terhadap nasib:
mengapa
dirinya harus tertembak? Mengapa dia harus cedera sengilu itu hingga
kini kesusahan untuk bangkit? Sekarang bagaimana dia akan melanjutkan
tugasnya? Bisakah...?
“Bukankah
tembakan itu seharusnya mampu membunuhku?”
Si
penolong mengulurkan sesuatu kepadanya. “Ini. Tongkatmu ini
sepertinya menahan peluru itu.”
Paksi
ternganga, meraih tongkat pemberian Bagus Kaja itu. Tongkat dari
bambu itu memang lebih kokoh dari bambu lainnya. Namun, tetaplah
sukar untuk dipercaya jika sebatang bambu bisa menahan lesatan sebuah
peluru! Tongkat itu patah, tapi tidak tanggal. Sebagian dari batang
itu tampak melesak, terlihat serat-seratnya yang sebagian tercerabut
dan sebagian lagi masih tertaut. Bekas itulah yang meredam laju
peluru, sehingga timah panas itu tak terlalu dalam bersarang di
punggung Paksi. Bambu yang lebarnya hanya tiga senti, berhasil
menjaring peluru yang ditembakkan oleh seorang serdadu yang tentunya
terlatih dalam menembak. Betapa kecil kemungkinannya? Bagaimana bisa
pas? Ajaib.
“Memang
sudah takdirmu selamat,” ucap penolong itu.
“Takdir
sulit diterka, tapi percayalah padanya...,”
kata-kata Bagus Kaja terngiang lagi di telinga Paksi.
Bagaimanapun,
Paksi bersyukur atas nyawanya. Berkatalah dia kepada penolongnya itu,
“Terima kasih. Bagaimanapun kau adalah bagian dari takdir yang
menyelamatkanku. Namaku Paksi. Siapa namamu?”
“Gendhis.”
“Obat
apa yang kaugunakan ini?”
“Daun
‘singkong Genderuwo’. Biar lukamu tidak menanah.”
‘Singkong
Genderuwo’ adalah jenis singkong yang pahit untuk dimakan. Maka
dijuluki dengan nama ‘genderuwo’, karena mungkin hanya makhluk
itu yang doyan memakannya. Namun Paksi baru tahu bahwa daunnya
ternyata bisa dijadikan obat.
“Dari
mana kau mempelajarinya? Dengan siapa kau menolongku?”
“Pengetahuan
turun-temurun. Aku tahu dari bapakku,” cerita Gendhis. Di tengah
keremangan itu, tampak wajahnya menerawang. “Bapak dan ibuku sudah
meninggal. Sudah dua tahun aku tinggal sendiri di sini.”
Artinya,
dia sendirian menolong Paksi.
Paksi
merasa terenyuh. “Orang tuamu meninggal dua tahun lalu?”
“Ibu
meninggal saat melahirkanku. Bapak meninggal dua tahun lalu. Kata
Tuan Wilhelm, karena terkena malaria.”
“Tuan
Wilhelm?”
“Dokter
dari Belanda. Beliau suka meneliti tanaman, dan selama beberapa tahun
tinggal di komplek pabrik teh Kemuning. Beliau baik. Tapi tak mampu
menolong Bapak, karena persediaan obat kina sedang habis.”
Paksi
menyimak. Sesaat kemudian dia menjadi sedikit sinis. “Memang, tidak
semua orang Belanda jahat. Tapi, bagaimanapun, yang menembakku adalah
Belanda. Yang menembak mati bapakku adalah Jepang. Tak ada penjajah
yang baik.”
Gendhis
tersenyum samar. “Bagaimana dengan Cina?”
Paksi
mendengus masam oleh sahutan Gendhis yang blak-blakan itu.
“Maaf,
aku hanya gojek,”
sambung Gendhis seraya tertawa pahit. “Toh, orang Jawa pun banyak
yang menjadi tentara KNIL, dan banyak yang masih setia kepada Londo.
Mereka menyebut gerilyawan sebagai pemberontak, padahal sama-sama
pribumi. Tak semua orang yang dijajah merasa dijajah. Maaf..., aku
berkata begini bukan bermaksud tak menghormati bapakmu yang ditembak
penjajah.”
Paksi
turut tertawa pahit. “Kau sendiri termasuk orang yang tak merasa
dijajah?”
Gendhis
menggeleng seraya melempar mukanya ke arah lain. “Aku tidak tahu.
Aku hanya merasa bahwa tanah kelahiranku sudah lama terjajah sejak
sebelum aku lahir.”
“Dan
nyatanya, tak semua orang Belanda adalah jahat,”
batin Paksi, kali ini menahan kesinisannya. Ia tersenyum miris.
Getir. Namun, di samping itu ia juga kagum, karena sepertinya Gendhis
bukan orang desa yang bodoh. Tutur halusnya terdengar pintar, meski
bukan berarti sikapnya bisa disetujui.
Paksi
memaksa diri untuk bangkit. Menolak dijajah rasa sakit! Gendhis
membantunya dengan sabar. Paksi meraih kain ikat pinggangnya yang ia
temukan di atas meja.
“Tolong
bebatkan kain ini untuk membalut obatmu. Aku harus melanjutkan
perjalanan malam ini juga. Di mana bajuku?”
Gendhis
tampak keberatan melihat Paksi yang tergesa-gesa. “Kau akan nekat
pergi?”
“Harus!”
Akan
tetapi, saat Paksi melihat raut wajah penolongnya itu, samar-samar
mulai tersadari olehnya, bahwa rasa keberatan Gendhis tampaknya bukan
semata-mata mencemaskan lukanya. Oleh cahaya yang temaram, Paksi
melihat raut wajah seorang remaja yang sepi hidupnya. Ia melihat ada
jiwa yang gersang di balik sosok penolong yang sebatang kara itu.
Gendhis
menuju ke lemari kayu di sudut ruangan. Lalu kembali lagi bersama
selembar baju, diulurkan kepada Paksi. “Bajumu kotor oleh tanah dan
darah. Kau bisa pakai ini.”
Paksi
menerima baju pemberian Gendhis. Remang ruangan menyamarkan warna dan
rupa baju itu, tapi tangan Paksi bisa meraba kainnya yang halus.
Paling tidak, pasti kain kelas menengah. Bisa jadi itu adalah baju
terbaik yang dimiliki Gendhis, anak desa yang yatim piatu itu. Paksi
terharu. Ia memakainya, baju dengan aroma loro
setu
yang wanginya alami, bersahaja tapi tak kalah wibawa dari
parfum-parfum ramuan industri Barat.
Gendhis
menyiapkan sekadar minuman—jamu yang diramu dari beras dan rempah.
Paksi minum hingga gelas tanah itu kosong. Oleh sebab kebaikan itu,
Paksi menjadi tak sampai hati untuk cepat-cepat pergi, meski dia
punya kewajiban yang masih tertunda dan harus segera dituntaskan.
Kata “terima kasih” tidaklah cukup lagi.
“Bagaimana
caramu hidup seorang diri di sini?” dia bertanya, ingin mengenal
lebih dekat penolongnya itu.
Gendhis
bercerita, “Aku menjadi buruh di pabrik karet, selain mengurus
ladangku sendiri yang tak seberapa, peninggalan Bapak.”
“Apakah
kau sekolah?”
Gendhis
mengangguk. “Aku sempat ingin meneruskan ke SMP. Tapi bagaimana
mungkin dengan situasi seperti ini? Baru-baru ini aku mendengar
sekolah-sekolah sudah ditutup. Sekarang aku berpikir, bersekolah toh
tidak membuat orang lepas dari masalah. Jadi, pentingkah untuk orang
sepertiku?”
Paksi
tersenyum pahit. Ia pun turut berkisah. “Sejak Belanda kembali
menduduki kota, sekolah-sekolah terpaksa ditutup. Beberapa guru dan
pelajar bergabung dengan gerilyawan. Termasuk aku. Padahal seharusnya
tahun ini aku sudah lulus dari SMP. Tapi aku tak menyesalinya.
Berjuang bukan hal yang harus disesali.”
Gendhis
memperlihatkan senyum seolah-olah dia sempat menebak sesuatu, dan
kini tebakannya benar. “Saat menemukanmu, aku sudah yakin bahwa kau
anggota gerilya. Jika tidak, untuk apa Belanda menembakmu?”
“Kau
agak keliru. Kadang tentara Belanda sengaja menembak siapa saja, agar
orang-orang takut dan tunduk, dan tidak coba-coba membantu
gerilyawan,” tutur Paksi, meluruskan. Sekarang ia jadi menyadari
kebodohannya sendiri—seharusnya dia bersembunyi saat berjumpa
dengan jeep-jeep
Belanda itu. Rakyat biasa saja bisa ditembak, apalagi jika dicurigai
sebagai gerilyawan?
“Lalu
mengapa kau mengaku padaku, bahwa kau gerilyawan? Aku bisa saja
menjual informasi kepada Belanda, demi sedikit tambahan uang?”
“Aku
tak mencurigai orang yang telah berani menolongku. Lagi pula,
bagaimanapun kau juga bisa menyimpulkan sendiri bahwa aku anggota
gerilya. Untuk apa kututupi lagi?”
Hening.
Suara binatang malam di luar rumah mengiringi pertautan antara Paksi
dan Gendhis, yang baru sekali itu bertemu tetapi mendapati
kisah-kisah yang bisa mereka bagi. Kisah-kisah yang sekilas tak
sejalan, tetapi sesungguhnya membuat masing-masing merasa dilengkapi.
“Kaubilang,
kau akan melanjutkan perjalanan?” Gendhis mengingatkan, meski
rautnya tampak masih berat hati. Ia meraih sebuah benda kotak dari
atas lemari. Ia bawa mendekat ke lampu teplok.
Itu sebuah jam berbingkai kayu yang sudah tampak usang, tapi jarumnya
masih bergerak.
Sudah
pukul tujuh malam, dan amanat belum tiba di tujuan. Paksi tak mengira
bahwa akhirnya ia akan merasakan hati yang amat berat untuk berpisah.
Bahkan seakan-akan sakitnya luka tembak menjadi tak seberapa ketika
ia merasa telah menemukan seorang kawan.
“Kenapa
orang tuamu memberi nama ‘Gendhis’?”
“Aku
lahir di pasaran
Legi. Orang tua lainnya mungkin akan menamaiku ‘Legi’. Tapi
bapakku tidak.”
“Bapakmu
memberimu nama yang lebih berderajat. Legi—manis.
Gendhis—gula.
Di saat bapakmu kehilangan ibumu, lalu memberimu nama itu, tentu ada
cita-cita yang dia tanamkan untukmu, bukan?”
Gendhis
menjawab dengan wajah merenung. “Tentu agar aku bisa menyandang
nama itu selama mungkin, sebab orang yang dicintainya tinggal
aku—anak satu-satunya....”
“Itukah
yang membuatmu tidak ingin bergabung dengan barisan pejuang—sebab
seorang pejuang harus berani mati setiap saat?”
Gendhis
mencerna kata-kata itu, dan menahan diri untuk tidak tersinggung. “Di
saat aku tak punya siapa-siapa lagi, di saat aku tak punya cita-cita
setinggi langit, di saat masa sulit datang silih berganti..., aku
tidak mencari mati. Aku berani untuk tetap hidup, dengan segala ala
kadar yang kupunya.”
“Berani
mati bukan berarti memilih mati. Berani mati adalah hidup dengan
lebih gigih.”
Gendhis
membisu mendengar ucapan itu. Paksi menepuk-nepuk pundaknya, seperti
seorang saudara yang mengulurkan rasa tenang.
“Maaf,
aku tidak sedang memaksamu. Juga tidak bermaksud membuatmu
tersinggung.”
Gendhis
mengulas senyum tipis. “Jika kau memang masih ada waktu di sini,
bisakah kau ceritakan tentang namamu? Atau keluargamu—jika kau tak
keberatan...?”
Paksi
tak keberatan. “Mata sipitku ini dari Bapak. Kulit gelapku dari
Ibu. Tapi Eyang Putri selalu bilang, aku tak terlalu sipit, juga tak
terlalu hitam. Ibuku selalu membantu Eyang berdagang kain, seringkali
ke Solo untuk mengambil barang. Bapakku adalah Cina perantauan,
bekerja sebagai juru tulis di Gereja Katolik Purbayan. Di lokasi yang
sekarang menjadi kantor RRI Solo, di depannya ada sebuah warung, di
situ kedua orang tuaku berkenalan. Setahun kemudian menikah.”
“Kau
Katolik?”
“Bapakku
Katolik. Ibuku seperti umumnya orang Jawa. Aku mungkin keduanya.”
Lalu Paksi meraih kembali tongkat bambunya. Ia memandang ke lantai
tanah yang pekat, lalu menggoreskan dua aksara dengan tongkatnya,
bukan Latin ataupun Jawa. “Pei
Shih,
nama yang diberikan Bapak kepadaku. Oleh lidah Ibu, menjadi: Paksi.”
Gendhis
tertarik menyimaknya. “Apakah arti nama yang diberikan bapakmu
itu?”
Paksi
kini termenung mengamati tongkat bambunya. Ia menjawab, “Artinya,
Rakit
Bambu Yang Kuat....”
Kembali
hening.
“Sekarang
sudah waktunya,”
kata Paksi dalam hati. Ia bangkit berdiri, mengabaikan pedihnya luka
tembak di punggung.
“Ke
mana tujuanmu?” Gendhis bertanya, tanpa bermaksud mencegah lagi.
“Jenawi.
Aku tak bisa menunda lagi, Gendhis.”
Gendhis
tidak kaget dengan tujuan Paksi. Ia tak ingin membebani tamunya lagi.
Paksi menerima botol airnya yang telah diisi penuh. Juga sebatang
obor untuk penerang jalan. Dan..., sebonggol singkong rebus untuk
bekal, yang diberikan Gendhis dalam keadaannya yang pas-pasan.
“Biarpun
‘Rakit Bambu’ hanya untuk sungai yang datar, kau masih punya nama
dari ibumu, untuk mencapai tempat yang kautuju. Sebab, kautahu, kau
menuju ke tempat yang tinggi,” ujar Gendhis di muka pintu.
“Lagi
pula, muara sudah dikuasai musuh. Yogyakarta, ibukota negara, sudah
jatuh. Gunung-gunung menjadi tempat para pejuang untuk berlindung.
Tapi nama pemberian bapakku tetap mengajariku satu keyakinan: bambu
menjadi rakit karena disatukan. Disatukan dan menjadi kuat!”
Gendhis
mengantar hingga pertigaan, di muka jalan utama yang menuju ke
Jenawi. Sekali lagi Paksi mengulurkan harapannya.
“Bergabunglah...?”
Gendhis
tak sanggup mengangguk. “Semoga kau selamat. Dan suatu saat kita
kembali berjumpa.” Hanya doa itu yang bisa ia jadikan jawaban.
Paksi
menjadi sedih. “Besok pagi, Belanda akan melakukan serangan. Jalur
ini mungkin akan mereka lewati. Jaga dirimu baik-baik.”
Kali
ini Gendhis mengangguk.
Paksi
memberikan tongkat bambunya. “Simpanlah. Jika aku selamat, aku akan
ingat bahwa aku memberikan ini kepada orang yang telah menolongku.
Terima kasih atas kebaikanmu.”
Dua
remaja itu berpisah. Sosok-sosok belia yang mekar di tengah revolusi,
seperti bunga-bunga yang mekar melawan semak-semak. Selalu ada bunga
yang menyembul, selalu ada juga yang tersembunyi. Yang tersembunyi,
mungkin tak akan dikenal dan dicatat oleh sejarah. Namun, yang
menyembul mahkotanya, harus siap dipetik kapan saja oleh
tangan-tangan peperangan. Keduanya mungkin akan sama-sama dilupakan.
Akan tetapi, hati yang suci memang tak pernah menuntut untuk
dirayakan, meski jerih payah telah meruah bersama nyawa-nyawa yang
melayang.
Malam
menjadi kawan perjalanan. Malam memang penuntun para
gerilyawan—pejuang-pejuang yang tak kenal takut mementangkan jejak
di antara bukit-bukit suram dan jejurang kelam. Terang berada di hati
mereka karena semangat yang tak pernah padam itu. Itulah yang
bergetar di dada Paksi, mengabaikan rasa sakit dan dingin yang
menggigit tubuhnya.
Cahaya
obor adalah sekadar pemandu agar kakinya tak terantuk batu. Tak perlu
takut diketahui Belanda, sebab mereka tak akan berani keluar malam di
tengah gunung. Yang melihat cahaya obor itu hanyalah penduduk desa di
balik jendela-jendela. Mereka akan mengira nyala api itu adalah
Banaspati
atau Kemamang,
dan mereka pun akan segera menutup jendela lalu memilih cepat tidur
berkerudung selimut. Memang, hanya yang tangguh yang berani berjalan
di garis para pejuang. Bekas peluru di punggung, akan menjadi kisah
yang bisa diceritakan dengan bangga kepada anak cucu.
Konon,
darah seorang pemberani akan tercium dengan mudah ketika ia berjalan
menembus malam. Makhluk-makhluk tak kasat mata menghirup aromanya,
lalu mereka akan keluar dari sarang. Mereka tak mau kalah. Mereka
akan memamerkan kemampuan mereka, menjadikan medan gerilya sebagai
sirkus astral yang tidak semua mata mampu melihat. Raksasa
Kala Rahu
akan menunda melahap rembulan, agar jalan-jalan tetap terang di saat
malam. Wedon
akan menyaru sebagai kabut putih yang membumbung dari dasar jurang,
agar dapat ditengarai bahwa di situ ada sebuah jurang dan tak ada
yang terperosok. Wewe
Putih
yang bermukim di pohon-pohon akan menjatuhkan buah yang dapat
dimakan; orang sering mengira tawanya hanyalah suara burung malam.
Genderuwo
akan membuat perapian kecil untuk memanggang makanannya, dengan
begitu jalanan akan bersih dari ular karena ular-ular menghangatkan
diri di dekat perapian. Akan ada syukur di hati pejuang yang menempuh
perjalanannya bersama malam. Namun, hanya mata ketiga yang bisa
melihat, ada apa di balik tanda-tanda Sang Malam.
Dan
malam telah hinggap di pukul sepuluh. Paksi tiba di Desa Balong,
sebuah desa yang memiliki pendamping berupa bukit-bukit sebesar
raksasa
Kala Mercu.
Desa itu adalah pusat wilayah Jenawi. Paksi tiba dengan selamat di
tempat tujuannya. Namun, berkurangnya darah akibat luka tembak
membuatnya melemah. Napasnya kepayahan. Meski demikian, ia tak hilang
semangat untuk melambaikan obornya. Berayun, api menari membentuk
pertanda di pekat malam. Terbaca oleh orang-orang penghuni bukit.
Harapan Paksi terjadilah. Tiga orang turun dari bukit, menyambutnya.
“Saya
Paksi, membawa berita dari markas Guworejo....”
Lalu,
remaja pemberani itu roboh. Tubuhnya ditahan oleh para gerilyawan
yang menyongsongnya. Dipapah, digendong menuju markas di atas bukit.
Di
sebuah dipan, di rumah kayu yang diterangi tiga buah blencong,
Paksi siuman. Ia dikerumuni tentara gerilya yang merasa terkejut oleh
kedatangannya. Bagaimana tidak, ia tiba hampir tengah malam dan dalam
kondisi mengalami luka tembak. Paksi menceritakan kisahnya kepada
mereka. Pemuda bernama Gendhis turut menjadi bagian dari cerita yang
ia tuturkan, sebab jika tak ditolong olehnya entah bagaimana ia akan
sanggup tiba di Jenawi malam itu; mungkin dirinya sudah mati
kehabisan darah di jalan, maka amanat Letnan Priambodo tak akan
pernah sampai di markas Jenawi, dan Kiai Menda terlambat
diselamatkan.
Letnan
Ismoyo tercekat kaget ketika mendengar laporan Paksi. Terutama atas
kemungkinan pasukan Belanda yang ada di Sragen berkoordinasi dengan
Solo. Atas dasar pertimbangan itulah Letnan Priambodo akan
mengerahkan laskar dari Guworejo untuk bergabung dengan laskar Batu
Jamus, untuk menghadang pasukan Belanda di Ngargoyoso—jalur tengah
yang bisa menjadi akses menuju Jenawi. Markas batalion di Karang
Pandan—lereng Lawu bagian barat—juga telah dikabari, sehingga
akan siap jika pasukan Belanda datang dari arah Solo.
“Pak
Pri juga mengutus kurir untuk mengabarkan ke markas Bayanan. Mungkin
kawan-kawan saya sudah tiba lebih dulu, karena saya mendapat halangan
di perjalanan tadi. Maaf, Pak, keterlambatan saya membuat waktu
menjadi tak banyak lagi,” tandas Paksi, merasa segan dan malu.
“Syukurilah
keselamatanmu. Kita masih punya waktu untuk mempersiapkan diri,”
ujar Letnan Ismoyo menenangkan Paksi. “Saat ini Pak Mayor sedang
berada di Karang Pandan, tentu di sana beliau juga mendengar berita
ini. Beliau pasti akan kembali secepatnya. Sambil menunggu perintah
langsung dari beliau, kita bisa mengarahkan penduduk desa untuk
menyiapkan pengungsian.”
Malam
itu, pendaran sinar blencong
memperjelas gurat-gurat di wajah para laskar yang terbakar semangat.
Seakan-akan mereka sudah lama merindukan perang sahid itu, dan kini
tinggal menunggu pagi untuk menyongsongnya. Malam yang tegang. Malam
yang berkobar api perlawanan. Mata Paksi mengawang ke langit-langit
yang remang, seolah-olah di sana ada bayang-bayang bagaimana
pertempuran esok akan terjadi. Sinar blencong
yang goyang, menerpa isi ruangan menjadi serupa adegan wayang yang
menari dalam bisu. Sisi gelap dan terang terus beradu, tetapi takdir
hanya akan bicara ketika saatnya sudah tiba. Keyakinanlah yang
mendului bicara, bahwa esok akan ada kemenangan! Kalaupun tidak, mati
di medan keberanian juga bukanlah mati yang memalukan, meski
detik-detik kematian itu akan begitu suram, miris dan menyakitkan.
Seperti
tiba-tiba saja waktu sudah berembun. Pagi menyenggol bukit-bukit,
mengganti gumam celepuk menjadi cerewetnya prenjak. Fajar bergelimang
sahutan ayam, burung, kambing, kerbau dan sapi. Penduduk gunung pun
telah bergeliat sejak pagi buta. Hidup memang selalu sebuah
perlawanan, Kawan. Melawan jajahan kantuk, lapar, dingin, dan apa
pun. Sebagaimana tadi malam mereka telah mendengar bahwa pasukan
Belanda akan datang untuk memberondongkan senjata, maka pagi itu
mereka telah bersiap. Sebelum mengungsi, mereka sempatkan diri
memasak apa adanya untuk para laskar yang sebentar lagi akan
menyabung nyawa. Ada dongeng pagi tentang pesan alam kepada
bocah-bocah yang masih berkecimpung di tempat tidur. Ada canda di
beranda, ada gurau di dapur, ada gunjing lucu dari para gadis dan
mbok-mbok
tentang tentara pujaan mereka. Hari itu disongsong dengan bangga dan
lapang dada.
Langkah
Paksi pagi itu ditaburi senyum para penghuni dusun—sambutan
bersahaja untuk pemuda pemberani sepertinya. Terasa menegarkan,
membuat lukanya terasa jauh lebih baikan. Tenaganya juga sudah pulih.
Ia berjalan kaki ditemani salah seorang laskar menuju ke sebuah
tempat—tempat Kiai Menda berada.
Sebelumnya
Paksi sudah pernah ke desa itu, tetapi waktu itu nama “Kiai Menda”
belum banyak dikenal orang. Barulah akhir-akhir ini nama itu
menjulang pesat sebagai pengobar semangat para pejuang bumi Pertiwi.
Sejujurnya, itulah alasan Paksi memilih diutus ke Jenawi. Ia ingin
sekali melihatnya.
Paksi
tiba di sebuah rumah jati sederhana, di kaki salah satu bukit. Ia
disambut oleh seorang pria yang tampak penuh wibawa dan disegani oleh
orang-orang di sekitarnya.
“Bagaimana
lukamu?” pria itu menyapa dengan nada hangat dan penuh kesan,
seraya menjabat tangan Paksi.
“Sudah
membaik, Pak,” jawab Paksi dengan agak segan.
Pria
itu lalu berkata panjang lebar. “Saya baru di Karang Pandan kemarin
siang, di sana saya mendapat berita dari Guworejo tentang rencana
operasi militer Belanda. Tengah malam tadi saya sudah tiba lagi di
sini karena situasi yang genting ini. Kurir yang tiba di Karang
Pandan sudah memberi tahu bahwa ada kurir lain yang mengabari ke
Jenawi. Tapi..., saya terkejut kamu tiba dalam kondisi tertembak.
Syukurlah, kamu selamat.”
“Terima
kasih, Pak.”
“Siapa
namamu?”
“Nama
saya Paksi.”
Lalu
pria itu menyebutkan namanya pula. Dialah yang disebut ‘Pak Mayor’
oleh Letnan Ismoyo. Dan kenyataan itu membuat jantung Paksi
terkesiap, terharu dalam rasa hormat. Kini ia pun tak heran jika
orang-orang di sekitarnya tampak segan dan hormat kepada pria itu.
Kepada
Pak Mayor, Paksi dengan jujur menyampaikan, bahwa dia sangat ingin
tahu tentang Kiai Menda, karenanya ia datang ke rumah itu untuk bisa
melihatnya. Mayor muda itu tersenyum lebar saat mendengar pengakuan
Paksi. Dengan tidak keberatan, diajaknya Paksi menuju ke belakang
rumah itu. Berdua.
Sembari
berjalan kaki, “Kaupaham bentuk negara kita, Paksi?” Pak Mayor
bertanya.
“Kepulauan,
Pak.”
“Betul.
Lalu, menurutmu, manakah wilayah terluas yang dimiliki negara kita?
Darat atau laut?”
“Udara,
Pak. Karena mencakup wilayah di atas laut maupun darat.”
Pak
Mayor tertawa kagum. “Karena itulah, Paksi, kita tak boleh
melupakan apa yang bisa kita lakukan di udara.”
Ia
memperlihatkan sesuatu di hadapan Paksi. Di sebelah kandang kambing
terdapat sebuah ruangan kecil, dan di situ tersimpan seperangkat alat
yang membuat mata Paksi terpukau takjub.
“Inilah
yang ingin kaulihat,” ucap Pak Mayor. “Yang pertama sebagai milik
pribumi.”
Dengan
rasa takjub dan kagum, Paksi menjamah alat-alat itu. Telah ia lihat
kini, apa yang ingin dilihatnya. Sebuah mesin pemancar radio.
Pengobar semangat juang laskar-laskar gerilya. Kiai
Menda.
“Alat-alat
ini telah ikut merasakan asam garam perjuangan. Di saat kantor-kantor
radio di berbagai daerah banyak yang ditutup dan dihancurkan,
alat-alat ini berhasil diselamatkan dari stasiun RRI Solo yang
dibakar oleh tentara Belanda. Ketika stasiun radio di Tawang Mangu
juga diporakporandakan, maka tinggal ini yang menjadi sarana vital
untuk menyerukan semangat kemerdekaan di udara. Kami memilih Desa
Balong yang letaknya tersembunyi ini, supaya aman dari pengawasan
tentara Belanda.”
“Di
tengah kandang kambing, sehingga sering ada suara kambing yang ikut
menimbrung ketika siaran...,” sahut Paksi dengan raut haru. “Karena
itu dijuluki menda—kambing.
Radio Kambing.”
“Dan
radio ini menjadi lelucon yang paling dibenci oleh Belanda. Kautahu
kenapa? Sebab, saat tanah Belanda ditakhlukkan oleh Jerman, para
pemimpin negeri kincir angin itu lari mencari perlindungan ke
Inggris, ke luar negaranya. Lalu sekarang, di sini, mereka tahu kita
berlindung di gunung-gunung, menyiarkan berita dari kandang kambing
dengan pohon kelapa sebagai menara pemancar, tapi setidaknya tempat
perlindungan kita ini masih negeri kita sendiri. Kita tidak lari
kepada bangsa lain. Belanda boleh malu. Mereka terus meyakinkan
negara-negara lain dengan memutarbalikkan fakta, seolah-olah
merekalah pemerintah yang sah dan kita ini cuma pemberontak. Tapi, di
udara kita terus menjawab. Dari gunung ini kita berseru hingga ke
seberang samudera, sehingga dunia bisa tahu bahwa Indonesia adalah
bangsa berdaulat. Lewat udara, kita menggalang kekuatan dengan
pemerintahan darurat di Sumatera. Biarpun Presiden kita diasingkan,
Ibukota Yogyakarta dijatuhkan..., negara ini masih tegak, Paksi!”
“Tegak
di garis gerilya!” sahut Paksi, pelan tetapi mantap.
Pak
Mayor menepuk-nepuk bahu Paksi. “Banyak perwira yang gemilang,
mengawali ketentaraannya di usia sebayamu. Suprijadi, Slamet Rijadi,
Pak Gatot Soebroto.... Paksi, sesungguhnya kau tak akan kalah gagah
jika bersedia memanggul senjata.”
Paksi
menangkap maksud kalimat yang membujuk itu. Ia tersenyum agak semu.
Ia menjawab dengan nada sedikit bergurau. “Jika nanti perang
berakhir, dan penjajah-penjajah pergi dari negeri ini, saya ingin
kembali ke hari-hari di mana senjata saya bukan senapan. Tetapi pena.
Saya ingin menjadi wartawan, Pak. Semoga kelak Pak Maladi tidak lupa
kepada saya, kalau-kalau saya tiba di kantor RRI sambil membawa surat
lamaran.”
Maladi,
Mayor itu, tertawa. “Sekarang pun, kau sudah seorang pembawa warta.
Kau tak membawa senapan, tapi..., kau tetap segagah para tentara
itu.”
Pertemuan,
perkenalan dan percakapan di kandang kambing yang merangkap sebagai
kantor radio itu beralur hangat. Menandingi dinginnya pagi
pegunungan. Mengimbangi getar-getar keberanian, yang seakan-akan
sudah tak sabar untuk mencari tahu apakah kata takdir atas hari
itu—maut, atau tetap hidup? Yang pasti, semboyan tidak luntur:
sekali merdeka, tetap merdeka! Sekali di udara, tetap di udara!
Pagi
itu juga alat-alat radio siap dievakuasi. Tinggal menunggu situasi
apakah operasi militer Belanda benar-benar akan menyatroni wilayah
itu. Satu regu tentara, ditambah beberapa relawan dari desa setempat,
telah ditugaskan untuk memboyong alat-alat itu ke tempat yang sudah
ditentukan, tempat yang lebih aman. Sedangkan anggota gerilya lainnya
telah dikerahkan untuk maju ke garis depan, menghadang musuh di Desa
Pelang.
Langit
dinaungi mendung, yang di luar dugaan bergulung-gulung di tingkap
gunung. Seolah-olah alam pun telah membaca bahwa akan ada detik-detik
yang mencekam. Dan rupanya peristiwa itu benar-benar tiba. Pukul
delapan pagi, letusan-letusan mulai menggema!
Di
Ngargoyoso, tentara gerilya menghadang konvoy pasukan Belanda yang
membawa sepuluh jeep
lengkap dengan sten-gun
dan pelontar mortir. Jumlah pasukan Belanda memang tak sebanding
dengan jumlah laskar gerilya yang terdiri dari gabungan laskar
Guworejo dan Batu Jamus. Belanda kalah jumlah, tetapi menang
persenjataan. Mereka membabi-buta, melemparkan mortir ke bukit-bukit
tempat tentara gerilya membidikkan senapan dengan amunisi yang tipis.
Korban di kubu republik banyak berjatuhan.
Namun,
pada akhirnya penguasaan medan dan kerja sama yang baik adalah kunci
jalannya peperangan. Ngargoyoso adalah milik para laskar gerilya!
Tubuh yang berguguran menjadi pembayaran yang setimpal. Di
Ngargoyoso, pasukan Belanda akhirnya berhasil dikalahkan.
Laskar-laskar bersorak! Satu utusan mengabarkan ke markas Balong,
bahwa kubu gerilyawan di Ngargoyoso telah memukul mundur pasukan
Belanda.
“Allahu’akbar!”
Berita kemenangan itu disambut dengan sorak-sorai bersahutan.
Kemenangan
di Ngargoyoso menjadi amunisi mental bagi pasukan gerilya untuk
melanjutkan perlawanan, sebab pertempuran belumlah tuntas. Terbukti,
pasukan Belanda juga merambah jalur yang membawa mereka tiba di Desa
Pelang. Sekarang saatnya, regu yang bertanggung jawab atas peralatan
radio harus segera bergerak mengamankan alat-alat itu.
Perang
sengit berkecamuk di Pelang. Sesuai strategi yang telah dikoordinasi
secara kilat sejak tadi malam, pasukan gerilya dari Balong-Jenawi dan
Bayanan bergabung di Pelang. Desa Pelang adalah sebuah titik di mana
dua jalur dari arah Sragen bertemu, lalu menjadi satu jalur menuju
Balong-Jenawi. Itu menjadikannya titik yang amat strategis dan
menjadi taruhan besar, sebab letaknya hanya tiga kilometer di bawah
Balong. Jika bobol, maka pasukan musuh akan leluasa menyerbu markas
di Balong. Meski peralatan radio dan juga penduduk desa sudah
diungsikan, tak pantas memberi ruang sedikit pun kepada penjajah
untuk menang!
Paksi
disarankan agar mengamankan diri bersama para pengungsi. Namun ia tak
menurut. Ia mendaki salah satu bukit di Desa Balong. Dari situ ia
dapat melihat kaki gunung di utara, di mana asap-asap mengepul dan
ledakan-ledakan menggelegar. Ia menegarkan diri menjadi saksi mata
peperangan. Ia pun bimbang; sesungguhnya ia ingin bergabung ke sana,
ke medan pertempuran. Ia malu jika hanya berdiam. Namun Pak Maladi
melarangnya. Beliau membuat Paksi teringat pada ucapannya sendiri,
yang pernah ia ucapkan kepada Gendhis, bahwa berani mati bukan
berarti mencari mati. Garis depan di medan pertempuran hanyalah untuk
prajurit yang tahu cara menggunakan senjata. Sebagai anggota tentara
pelajar, sesungguhnya Paksi tahu cara menggunakan senjata. Akan
tetapi, saat ini ia sedang terluka. Lagi pula, Pak Maladi tahu—Paksi
sendiri juga tahu—bahwa hatinya lebih memilih berjuang di luar
medan mesiu.
Namun,
siapa yang tak akan goyah hatinya, ketika menyaksikan nyawa-nyawa
berguguran di medan dharma?
Paksi
menengadah ke langit, menaikkan segala rasa gundahnya kepada Yang
Mahakuasa. Di langit ia dapat melihat, mendung bergulung semakin
gelap. Bisa dipastikan, tak akan mungkin Belanda mengerahkan angkatan
udaranya. Setidaknya, bombardir maut dari udara yang pernah menimpa
Tawang Mangu tidak akan terulang hari itu. Namun, apakah berarti
perlawanan menjadi mudah begitu saja?
Sekonyong-konyong,
dilihatnya seorang anggota laskar yang berlari terengah-engah
meninggalkan arena perang. Batin Paksi terusik akan prasangka yang
tak enak. Ia segera turun dari bukit.
“Bagaimana
situasi perang? Kenapa lari seperti itu?” tanya Paksi ketika
berpapasan dengan orang itu di kaki bukit.
“Belanda
datang dengan pasukan gabungan! Pasukan Belanda dari Madiun datang
lewat jalur Jogorogo! Pasukan kita di Pelang terpaksa mundur ke
Menjing...!”
Paksi
kaget. Sungguh tak dinyana, Belanda juga mendatangkan pasukannya dari
Madiun, masuk dari Jogorogo, jalur timur! Belanda rupanya tidak
memandang sebelah mata kubu gerilyawan di Gunung Lawu. Namun masih
terlalu dini juga untuk percaya bahwa pasukan kubu republik telah
kalah.
“Mundur
belum berarti kalah!” sergah Paksi. Meskipun terkejut oleh situasi,
ia cepat paham bahwa mundurnya pasukan gerilya ke Menjing bisa jadi
untuk mencari titik pertahanan yang lebih baik. Bukan berarti
menyerah!
Anggota
laskar yang kabur itu melanjutkan larinya. Paksi geram. Apa yang
harus ia lakukan terhadap pengecut? Dirabanya sesuatu di selipan kain
pinggang: sebuah pistol yang terisi, pemberian Letnan Ismoyo untuk
berjaga-jaga. Paksi menimbang sejenak.
Apa
yang harus dilakukan terhadap pengecut?
Tentu,
jangan mengikutinya! Jangan menjadi sama dengannya!
Paksi
memutuskan membawa langkahnya ke Menjing, sebuah desa dua kilometer
di bawah Balong, lokasi di mana pasukan gerilya menempati titik
pertahanan yang baru. Ia memilih bergabung di garis depan!
Ledakan-ledakan
bergema kian jelas. Tentara gerilya berlindung di bukit-bukit sambil
membidikkan tembakan ke pasukan Belanda. Pertempuran sengit tak
terkira. Pasukan Belanda masih tersisa cukup banyak, mereka berada di
celah bukit lainnya dan tampaknya siap merangsek semakin dekat.
Pasukan gerilya telah banyak yang berguguran, amunisi juga kian
menipis. Sedangkan peluru dan mortir Belanda seakan tak ada habisnya
menghujani.
Paksi
maju tanpa takut menyongsong medan tempur. Dan bersamaan dengan itu,
sekonyong-konyong ia melihat bangkitnya tanda-tanda alam yang kian
perkasa. Ia terhenti dengan hati yang bergetar, dengan mata terpana
ke langit. Butir-butir air berjatuhan, kian lama kian deras. Paksi
pun teringat doa Bagus Kaja, yang tampaknya telah diterima oleh para
dewa.
Hujan
keadilan!
Paksi
menjadi saksi mata, tatkala derasnya hujan membuat sebongkah batu
besar tiba-tiba roboh dari atas bukit. Ia seolah-olah melihat Dewa
Indra Sang Penguasa Gunung melemparkan bajra
dari atas bukit itu, menggempur pasukan Belanda yang bercokol di
bawahnya! Dentum keras menggema bersamaan dengan dua jeep
Belanda yang terpental dari tempatnya. Pasukan Belanda tercerai-berai
dalam seketika, layaknya pasukan Firaun ketika diterpa gelombang
raksasa di Laut Merah.
“Gott
verdome!”
Para
Belanda itu kocar-kacir, memaki-maki dalam bahasa mereka. Formasi
mereka kacau. Jalannya perang berubah!
Di
saat yang ajaib itu, pasukan bantuan dari Batalion Lawu datang.
Kekuatan laskar gerilya bangkit, meluncurkan peluru-peluru laksana
naracabala
yang mengamuk di Kurusetra,
merobek lapisan hujan yang merona kian merah oleh biasan darah!
Musuh
bertekuk lutut.
Sorak
kemenangan menggema dari bukit-bukit. Guyur hujan terdengar seperti
derai tawa alam, yang memuncak tatkala kilat menggelegar dari timur
ke barat. Alam ikut merayakan—tetapi hanya mata ketiga yang mampu
membacanya.
Pertempuran
yang dahsyat purna. Nyawa-nyawa beristirahat di tempat mereka pulang.
Matahari pun hendak menyudahi sorenya. Waktu merangkak kepada petang.
Tak
ada pesta, Kawan, meski ada rasa menang. Biarlah tanah di bumi yang
berpesta, dengan darah-darah para ksatria yang tertumpah merah
seperti anggur. Kabar duka kepada keluarga tentu akan tiba, tetapi,
semoga akan menjadi duka yang patut dibanggakan. Seperti halnya rindu
yang selalu digadang-gadang oleh para ibu dan bapa, ketika menanti
pulangnya putera mereka dari medan dharma. Maka mereka akan memiliki
dua senyum terindah dalam hidup mereka: senyum ketika melihat anak
mereka lahir, dan senyum ketika menyambut sang anak sebagai pahlawan.
Entah sang anak datang dengan tawanya, atau hanya namanya. Engkau
pasti mengerti, Kawan, seringkali senyum dan air mata terurai
bersamaan.
Di
atas bukit itu, Paksi duduk merenung. Ia teringat akan Ibu yang dulu
melepasnya dengan beriring air mata, kala ia memutuskan bergabung
dengan pasukan gerilya. Namun, air mata itu dihias dengan senyum
bangga. Itulah ketika hati seorang ibu menunjukkan kemuliaan. Engkau
seperti juga aku, Kawan..., tak akan mampu melukiskannya. Begitu pun
Paksi. Tak terlukis rindunya untuk pulang sejenak, sekadar memberi
warta bahwa ia baik-baik saja. Sebab, rapuhnya hati seorang ibu
kadang juga tak bisa dilukiskan.
Paksi
berdiri, menatap lengkungan warna di langit tenggara bukit. Orang
Jawa menyebutnya ‘kluwung’.
Ia pun teringat nama sebuah desa, di mana tinggal seorang remaja
sebatang kara yang kemarin petang telah menyelamatkan
nyawanya—Gendhis, yang memilih hidup aman karena merasa sebagai
sisa terakhir dari keluarganya. Namun, bukankah Paksi juga anak
semata wayang dari ibunya? Toh, dirinya tak memilih sembunyi dalam
kehidupan yang aman seperti Gendhis.
Di
mata Paksi, walaupun pelangi adalah warna-warna yang indah,
sesungguhnya itu hanyalah fatamorgana. Engkau harus membelakangi
matahari untuk bisa melihat pelangi, sebab engkau akan selalu berada
di antara keduanya. Haruskah terkecoh oleh bayangan yang indah
itu—membohongi diri dari kenyataan, seolah-olah hidup tidak sedang
berada di dalam pertaruhan? Namun, bagaimanapun Gendhis memang berhak
seandainya ingin memilih tinggal di rumahnya yang tenang, dan menutup
mata dari merahnya medan perang. Setiap orang punya alasan untuk
membuat sebuah pilihan, dan pilihan itu seringkali bukanlah hal yang
sederhana untuk dihakimi. Meskipun pelangi hanyalah fatamorgana,
engkau haruslah menghadapi hujan terlebih dahulu sebelum bisa
menyaksikannya. Bahkan, hujan yang sudah kauhadapi pun tak selalu
akan mendatangkan pelangi untukmu. Semua memiliki perjuangannya
masing-masing.
Paksi
membalikkan tubuhnya, meninggalkan pelangi itu di belakang, dan
melihat ke arah mentari petang yang semburat keemasan. Dan
terkejutlah ia, tatkala dilihatnya satu sosok muncul dari kejauhan.
Ia pun bergegas turun, untuk menyambut di kaki bukit. Kini, sosok itu
tepat di depannya, lebih jelas wajahnya dibandingkan kemarin malam.
Seorang sebayanya, berkulit kuning sawo matang dan bermata
redam—wajah lugu remaja desa, memancarkan jiwa yang gersang, tetapi
di dalamnya masih menyimpan secercah harapan.
“Aku
tak menyangka kau kemari?” sapa Paksi.
“Aku
lega kau baik-baik saja,” Gendhis menjawab, seraya menggenggam
tongkat bambu milik Paksi yang terselip di pinggangnya.
“Aku
juga lega melihatmu selamat,” sahut Paksi.
Gendhis
menerawang sejenak. “Semalaman aku merenung. Dan sekarang barulah
aku mengerti, bahwa berani hidup bukan berarti untuk hidup seorang
diri. Jika aku bergabung dengan barisan gerilya, mungkin aku akan
menemukan rumah baru yang penuh bahaya. Tetapi, setidaknya bukanlah
rumah yang senyap.”
“Rumah
yang penuh bunyi senjata. Rumah di mana kau akan memiliki banyak
saudara,” sambut Paksi dengan perasaan haru. “Tak ada pesta. Tapi
kau akan disambut dengan hormat.”
Keduanya
saling menyambut senyum masing-masing. Dua remaja itu melangkah
bersama, menembus petang yang mulai tenggelam di balik bukit-bukit.
Menuju desa, di mana para laskar beristirahat sambil memeluk
panji-panji kemenangan.
Gadis-gadis
dusun yang sederhana moleknya, telaten merawat para tentara yang di
saat terluka kadang masih suka genit dan manja. Yang gugur, akan
disemayamkan secara sederhana saja; cukup ditaburi doa, dipayungi
tangan-tangan gagah yang menghormat. Malam mereka akan dibungkus oleh
para mbah
yang berdongeng tentang Baratayuda.
Atau sekadar tembang Dandhanggula,
atau Asmaradhana.
Lalu pagi akan dibuka oleh embun pegunungan yang membasuh sawah
ladang dan bukit-bukit hijau; prenjak bersahutan bersama ayam, kerbau
dan sapi, dan tentu juga kambing, yang mengembik bersama siaran radio
“Kiai Menda”, menggema dari gunung hingga ke seberang samudera.
Semangat yang sama akan selalu diserukan—semangat putera-puteri
Pertiwi, laksana pekik Elang Jawa yang merajai udara.
Waktu
tak pernah berhenti, Kawan. Ia sambung-menyambung. Cerita-cerita
menyeberang ke benak kita, berkecamuk lagi di dalam hati kita, meski
masanya sudah jauh di belakang sana. Dan tentang semangat yang tak
pernah padam itu, ia pun tak pernah berhenti menyeberangi waktu. Jika
gemanya sampai di hatimu, engkau tentu tahu bagaimana ia berseru.
Kali ini tak butuh mata ketiga. Hatimu pasti tahu.
---
Saya
dedikasikan untuk para pahlawan di balik kiprah epik “Radio
Kambing”—yang kini beristirahat dalam damai di Museum Pers, Solo.
Untuk Bude Sulami dan Bude Subarti—bunga-bunga pejuang yang telah
mengarungi banyak gunung; dan, terkhusus untuk Bapak, yang telah
menghias masa remajanya dengan menapaki jalur gerilya Sragen-Jenawi,
kemudian menurunkan dongeng-dongengnya yang kuingat sampai sekarang.
Aku rindu dongeng kalian.
Terima
kasih untuk tim “Aquarel” yang pernah membukukan—versi
pertama—cerita ini.
3 komentar:
Dua tahun saya menunggu cerita ini bs saya baca sampai tuntas.. dua tahun jg sy habiskan utk hunting bagaimana sy bisa dapat buku ini baik secara hard copy atau mungkin soft copy.. dua tahun saya selalu mengganggu noěll utk bermurah hati memberi kesempatan saya utk tahu kelanjutan cerita ini.. mencari cerita sejenis tentu sangat banyak.. tapi sebuah cerita yg pada akhirnya membutuhkan perenungan. Membutuhkan pemikiran yg dalam..sampai di hati bisa menyerap intisari tentu sangat bermakna.. with all my heart..saya seperti kehabisan kata2,mungkin ucapan saja tdk cukup..terima kasih noěll atas kemurahan hatinya.. semoga Tuhan memberikan kesehatan dan umur panjang.. Terima kasih karena telah memberikan kesempatan saya untuk merenung dan berpikir setelah membaca tulisan anda..
kegigihan yang membuahkan hasil, dengan semangat pantang menyerah, Pakas juga bisa menumbuhkan semangat juang Gendhis...
Posting Komentar