Jumat, 08 Januari 2016

Sebuah dongeng....

 

ELANG MUDA, dan GUNUNG YANG BERSERU!




Waktu tak pernah berhenti, Kawan. Ia sambung-menyambung. Direkam oleh dongeng-dongeng tua, lukisan-lukisan di gua yang dalam, aksara-aksara di atas rontal, foto-foto dari yang hitam putih hingga yang kaya warna, lalu bergerak di layar bioskop, televisi, komputer, dan sekarang menjelma pada layar kecil di tanganmu. Cerita-cerita menyeberang ke benak kita, berkecamuk lagi di dalam hati kita, meski masanya sudah jauh di belakang sana. Begitu pula kali ini, Kawan, cerita ini hadir dan mengajakmu meloncati waktu.
Tunda dulu kantuk dan laparmu, marilah bergabung ke tahun-tahun ketika lumbung-lumbung terbakar hangus oleh kobaran revolusi. Bahkan bantal dan tikar pun ikut menjadi tajam oleh gigitan kutu pinjal pengisap darah, juga oleh bau apak keringat perjuangan. Meski demikian, cita-cita dan untaian doa tetap tak padam—hanya itu yang bisa dilambungkan tinggi-tinggi, tentu, jauh melampaui cerobong-cerobong pabrik gula yang telah diduduki serdadu asing. Dua bulan sebelumnya para serdadu dari negeri bawah laut itu memang telah menyergap lagi, mencaplok negeri yang tiga setengah tahun sebelumnya sudah memproklamirkan kemerdekaan. Penjajah tak tahu malu! Mulut rakusnya telah ketagihan untuk terus mengisap—mengisap secara lebih keji dan lebih tamak.
Kota di cerita ini adalah sebuah kota kecil di timur Surakarta: Sragen, yang jantungnya ikut porak-poranda tatkala pasukan kolonialis Belanda datang menyerbu. Ya, Belanda telah bangkit kembali setelah sempat dikebiri oleh Jepang. Hari-hari para pribumi dilalui dalam amarah, sebab rakyat sudah kenyang oleh pahit-asam tiga setengah abad penjajahan. Kenyang itu berubah menjadi muak. Namun, tak semua amarah mampu ditembakkan dalam keberanian. Sebaliknya, tak sedikit yang terpaksa menyembunyikannya di balik ketundukan; para pribumi bekerja di kantor-kantor yang sudah dikuasai Belanda, mencelupkan wajah ke dalam air ludah demi mendapat nafkah. Nyatanya, dijajah memang bukan hal yang mengejutkan lagi di negeri ini. VOC, Inggris, Jepang, sudah khatam.
Lagi pula, orang-orang pribumi—yang dalam kisah ini diwakili oleh orang-orang Jawa—memang pandai menghibur diri. Di tengah penindasan pun masih mereka temukan kesenggangan untuk pergi ke arena judi di pasar; dadu, kartu, sabung ayam dan sebagainya. Jika uang habis dan tempayan kosong, mereka masih memiliki pepatah “mangan ra mangan, kumpul”.
Baiklah, tentu tak semua pribumi suka berjudi. Ada juga yang lebih suka mengisi kesenggangan dengan berkumpul di radio umum yang didirikan di sebuah kampung bernama Cantel, satu kilometer dari pabrik gula yang ada di pusat kota. Pesawat radio adalah barang mahal pada masa itu, sehingga hadirnya radio umum itu bisa menghibur rakyat—dengan siaran dari RRI Solo, entah itu berita, kethoprak, keroncong, atau klenengan. Sayangnya, itu adalah beberapa waktu lalu. Sejak serdadu Belanda menyerang lagi, radio umum pun lumpuh, sebab kota-kota besar yang memiliki stasiun radio banyak yang jatuh ke tangan Belanda. Kalaupun ada satu-dua penduduk yang memiliki pesawat radio, kini mereka pun tak akan berani menyalakannya, sebab suaranya akan memberi tanda kepada para maling dan garong bahwa ada rumah yang cocok untuk disatroni.
Kota telah senyap. Suara-suara hiburan rakyat telah lenyap. Kehidupan kembali pada suasana angker, seperti yang ada di dalam dongeng orang-orang tua Jawa: Genderuwo yang suka menyentil kemaluan orang yang buang hajat sembarangan; Wewe yang menggondol bocah ke atas pohon; Wedon yang suka meludahi orang hingga kulit melepuh. Tanah Jawa yang penuh hantu! Ah, mungkin daerah lain juga begitu.
Namun, Kawan, sesungguhnya peluru serdadu Belanda adalah kisah yang lebih mematikan. Mereka menggondol nyawa para pejuang, merenggut masa depan anak-anak yang menjadi yatim piatu karena perang, dan meludahi harga diri perempuan-perempuan pribumi yang mereka perkosa. Hanya sebagian orang yang berani melawan, yaitu para gerilyawan yang bersembunyi di desa-desa, di hutan-hutan angker di mana jin dan hantu-hantu rupanya tak lagi menakuti. Sebaliknya, hantu-hantu itu mungkin malah melindungi, dan mungkin juga bekerja sama untuk mengusir para penjajah yang sombong itu. Konon, para dedemit lebih suka bersahabat dengan manusia Jawa yang sopan dan rajin berbagi rejeki lewat sajen-sajen di bawah pohon besar. Atau, mungkin di daerah lain juga begitu?
Di Sragen yang kecil dan angker ini terdapat beberapa markas gerilyawan. Salah satunya adalah di sebuah desa di tapak kaki Gunung Lawu bagian utara, yaitu Desa Guworejo yang jaraknya tiga kilometer dari pusat kota. Ini adalah markas gerilyawan yang dipimpin oleh Letnan Priambodo, dan dari sinilah sesungguhnya dongeng ini dimulai.
Siang itu suasana di markas seketika tegang, karena baru datang sebuah laporan dari seorang perempuan muda yang sehari-hari menjadi juru ketik di kantor pabrik gula. Ketahuilah, pabrik gula itu adalah salah satu pos terbesar tentara Belanda, dan perempuan muda tadi membocorkan sebuah informasi kepada para gerilyawan.
“Lokasinya benar-benar sudah diketahui, Pak,” terang perempuan muda itu. “Saya mendengarkan percakapan mereka bahwa seorang pengkhianat perjuangan telah membocorkan lokasi pengungsian Kiai Menda di Jenawi.”
Raut muka Letnan Priambodo merah padam, geram. “Apa lagi yang kamu dengar, Sri? Adakah rencana dari Londo-Londo itu untuk melakukan operasi ke sana?”
Juru ketik yang juga informan gerilya bernama Sri itu mengangguk. “Berita baiknya, mereka tidak akan melakukan operasi hari ini. Tapi besok pagi. Berita buruknya, saya menangkap rencana mereka untuk berkoordinasi dengan Solo.”
Tangan Letnan Priambodo menggebrak meja. “Asu! Kalau benar, nasib markas di Jenawi bisa seperti markas di Tawang Mangu dulu, dibombardir dari udara! Besok pagi? Besok pagi itu singkat, Sri!”
“Saya rasa mereka sudah menyusun rencananya sejak beberapa hari kemarin, Pak. Tapi baru hari ini saya mengetahuinya,” jelas Sri, dengan raut menyesal bercampur dongkol karena tak bisa mengetahui situasi itu lebih dini.
“Tapi kita masih punya waktu untuk menyelamatkannya, Pak,” timpal Sersan Joko, di sebelah sang Letnan.
“Masih! Secepatnya kita utus orang untuk melaporkan situasi ini ke markas batalion di Karang Pandan,” tandas Letnan Priambodo. “Tapi yang tak kalah penting, kita juga harus mengabari markas di Jenawi supaya mereka bisa mempersiapkan diri sedini mungkin. Jika ternyata situasi semakin gawat, mereka sudah siap untuk menyelamatkan Kiai Menda.”
“Saya sanggup untuk ke Jenawi, Pak!” seorang laki-laki belia menyahut lantang. Seorang remaja.
Kerut dahi Sersan Joko meragu. “Kau baru dari Wonosido kemarin. Kau tak butuh istirahat, Paksi?”
Remaja bernama Paksi itu menyahut tanpa keraguan. “Satu malam sudah lebih dari cukup untuk istirahat, Pak. Saya sudah pernah ke Jenawi, saya hapal jalannya. Saya bisa ke sana secepatnya.”
Pak Pri—panggilan sang Letnan—bangkit berdiri dan kini sorot matanya tak menampakkan keraguan. Ia mendekat ke hadapan Paksi, menepuk-nepuk pundak remaja itu. “Kiai Menda adalah salah satu kunci penting perjuangan kita. Kita juga akan mengabari markas di Batu Jamus dan Bayanan agar siaga. Tapi, tugas ke markas di Jenawi kupercayakan kepadamu. Laksanakan tugasmu dengan baik!”
“Siap, Pak!”
Paksi. Dialah lakon di dongeng ini. Dia adalah seorang remaja yang bergabung dengan barisan tentara pelajar; seorang belia bermata sedikit sipit, tapi sorotnya setajam mata elang. Kulitnya tak mewarisi gelapnya kulit Jawa, ia sedikit lebih terang. Tidak tinggi, hanya sepundak rata-rata prajurit Belanda. Dengan perawakannya yang sedang itu, ia mampu bergerak setangkas seekor rusa. Tak berlama-lama, siang itu juga Paksi berangkat menjalankan tugasnya, menuju markas gerilyawan di Jenawi.
Ia berangkat sendiri mendahului utusan yang lain, karena ingin bisa sampai ke tujuan secepatnya. Dua puluh kilometer jarak yang harus dicapainya. Hanya dengan kaki untuk menempuh, kepala untuk menyimpan pesan, dan mulut untuk menyampaikan kepada yang seharusnya. Pastinya bukan kepada serdadu Belanda, meski mereka tak pernah segan untuk menyiksa sampai mati. Paksi tak gentar, walau tanpa senjata. Tugas seorang kurir memang bukan membunuhi musuh, tetapi tetap bisa menentukan menang-kalah sebuah peperangan.
Matahari setinggi kening, Paksi baru menempuh sepertiga jarak perjalanannya. Jenawi ada di pinggul Lawu, sedangkan dia baru di lututnya. Dia menempuh rute lewat hutan karet Kedawung, hingga tibalah di sebuah desa bernama Sambirejo. Di situ dia berhenti untuk beristirahat sejenak, melepas lelah di regol sebuah rumah yang tampak tak berpenghuni.
Regol adalah gerbang berbentuk pondok kecil dengan serambi di dua sisi saling berhadapan. Sebuah gerbang di mana selalu diletakkan kendi berisi air, sebagai perwujudan nyata pepatah Jawa “urip iku mung mampir ngombe”. Hidup adalah singgah untuk minum. Di situ pula biasanya akan diletakkan air kembang setaman pada hari-hari tertentu, sebagai sajian bagi makhluk-makhluk tak kasat mata, para lelembut. Sungguh memang terlalu baik orang Jawa itu, membuat nafsu para penjajah menjadi tak mau cukup hanya mampir, tetapi ingin mereguk sebanyak dan selama mungkin apa yang dimiliki si tuan rumah. Bisa dilihat, kendi di dalam regol itu kini sudah kering, hanya diisi debu dan menjadi sarang kalajengking. (Dan, kelak rumah-rumah orang Jawa pun akan melupakan satu unsur penting dalam arsitekturnya itu: regol.)
Paksi membawa sendiri minumannya di sebuah botol, dia meneguknya separuh. Dia melepas kain pengikat pinggangnya untuk mengusap keringat. Melepas caping, mengipas-ngipaskannya untuk mengusir gerah. Lihatlah melalui imajinasimu: semua itu adalah atribut pakaian orang desa. Padahal, sebenarnya dia berasal dari keluarga kota yang berkecukupan dan dia juga seorang terpelajar. Dia meninggalkan keluarganya: Ibu yang suka menjahit sendiri baju untuknya, dan juga Eyang Putri yang dongeng-dongengnya membuat kangen. Dia meninggalkan rumah demi bergabung dengan laskar gerilya, dan karena tugasnya adalah sebagai kurir maka dia tak boleh berpenampilan menyolok—tampak sebagai orang desa biasa saja, itulah yang pas.
Dari dalam keteduhan regol, dipandanginya desa yang sepi itu. Ada kehidupan, tapi tampak mengasing, bersembunyi di dalam rumah-rumah gubuk yang jarang. Sawah-sawah mau menguning, tapi ladang-ladang tampak semrawut seperti telah dipanen sebelum waktunya. Di masa yang sulit itu, alih-alih berpesta untuk panen raya, banyak sawah-ladang malah menjadi sasaran para penjarah. Tak hanya jadi mangsa Belanda, tapi juga sesama pribumi yang lebih memilih memakan saudara sendiri daripada mati kelaparan. Ya, perampok, pengkhianat, kutu pinjal pribumi; mereka ini lebih buruk dari Genderuwo yang bahkan masih membayar sate gagak yang dijajakan orang. Lebih rendah dari Lelepah, yang suka makan manusia tapi tidak memakan sesamanya sendiri.
Paksi merasa sudah cukup dengan istirahatnya. Tatkala baru sepuluh langkah meninggalkan regol, dia berpapasan dengan seseorang. Orang di hadapan Paksi itu adalah pria yang jika dilihat dari busananya bukan Jawa ataupun Cina; dia berpakaian serba putih dengan buntalan bekal di panggulnya, dan tongkat bambu di genggaman tangan kanan—kelihatannya seorang pengelana. Orang itu belum terlalu tua, mungkin baru di awal empat puluhan, tapi rambut hitamnya digelung ke atas seperti cara berdandan dari masa-masa yang amat kuno.
“Sampeyan akan ke atas?” pengelana itu menyapa, seraya menunjuk gunung dengan tongkatnya. “Sampeyan” adalah bahasa Jawa. Namun dia tak terdengar Jawa. Cara mengucapnya seperti belum lama mengenal kata itu.
“Betul. Sampeyan sepertinya datang dari jauh? Hendak ke mana?” Paksi melayani ramah-tamah pengelana itu.
“Saya dari Bali,” jawab pengelana itu. Sambil menuju regol, dia menunjuk gunung lagi. “Saya juga akan ke sana, ke gunung itu. Tapi mungkin perlu istirahat semalam di sini.”
Dari Bali. Jauh benar. Sosok pengembara itu membuat Paksi tertarik. “Mendengarkan barang beberapa menit, aku masih punya segudang waktu untuk sampai di Jenawi,” begitu pikir Paksi. Dia pun kembali lagi, ikut ke regol, menuruti rasa ingin tahunya yang tinggi.
“Ada tujuan apa jauh-jauh dari Bali kemari?” tanya Paksi, tanpa sungkan menunjukkan rasa penasarannya.
Ditanya soal tujuan, pengembara itu mengulas senyum sarat arti. Sebelum menjawab, dia balik bertanya, “Apakah Sampeyan suka mendengarkan dongeng?”
Paksi membalas tersenyum sedikit canggung. “Orang Jawa selalu menyukai dongeng.”
“Baiklah. Temani saya duduk di sini,” ujar pengembara itu, mempersilakan Paksi duduk berhadapan dengannya. Lalu dia mulai bercerita, diawali dengan menyebutkan namanya, “Nama saya Bagus Kaja. Kaja artinya adalah ‘arah gunung’. Dan gunung adalah tempat yang sering menjadi tempat perlindungan. Dahulu, saat peradaban baru datang mendesak, masyarakat Majapahit yang merasa terancam menjadi tercerai-berai. Yang tak bisa meninggalkan Tanah Jawa, mencari tempat yang aman di pegunungan: Bromo, Lawu, dan gunung-gunung lainnya. Yang berhasil menyeberang ke Bali, menguasai tempat yang baru itu. Maka, serupa dengan yang terjadi di Jawa, masyarakat asli Bali yang merasa terancam juga menyingkir ke pegunungan. Saya adalah bagian dari silsilah yang tercerai itu. Saya mencari jejak moyang yang telah mokswa di puncak Lawu.”
Gunung, tempat berlindung?
“Dan kini para gerilyawan juga membangun markas-markas di pegunungan,” batin Paksi menanggapi, merenungkan benang merahnya sendiri atas penuturan pengembara itu. “Tapi kami berlindung bukan tanda menyerah, kami berlindung untuk menyusun perlawanan!”
Bagus Kaja melanjutkan dongengnya. “Nama asli Lawu adalah Gunung Mahendra—dari kata Maha Indra, salah satu Dewa yang kami muliakan: penghulu sorga, penguasa hujan dan halilintar, dan Dewa Perang Yang Adil. Di kedua dada Lawu terdapat candi; yang di barat adalah candi lahirnya manusia, yang di timur adalah kematian. Yang di timur itulah tersembunyi sebuah jalur purba untuk mencapai puncak Lawu—dongeng orang Jawa menyebutnya Puncak Arga Dumilah, yaitu Kahyangan tempat Dewa Kematian bermukim. Tetapi barangsiapa mampu menang dari kematian, maka ia telah mencapai puncak tertinggi yang sesungguhnya: mokswa, berpulang ke sorga. Seperti moyang saya.”
Paksi tercenung, mencerna baik-baik. Otaknya yang terpelajar membuatnya bertanya-tanya atas dasar pemikirannya sendiri, “Kematian? Bukankah timur adalah tempat lahirnya fajar? Dan fajar adalah awal sebuah hari? Awal kehidupan?”
“Itu karena bumi yang berpusar di sumbunya, Adi. Ketika bumi menjemput fajar di satu tempat, di saat yang sama di tempat lain ia menyambut senja. Begitu juga kematian, tak lain hanyalah menyambut kehidupan berikutnya. Fajar, senja, siang dan malam hanyalah selubung, cara manusia menandai waktu. Di dalamnya, lahir dan mati adalah perputaran.”
Paksi merenung kian jauh. Ia melihat keadaan negerinya. Isi dadanya mulai menggugat. “Jika demikian, lantas apakah penjajahan dan perjuangan hanyalah sandiwara yang tak perlu digulatkan? Apakah kemerdekaan akan datang dengan sendirinya? Apakah pahlawan mati karena sekadar layak mati, dan penjajah menjajah karena layak menjajah?”
Bagus Kaja berdiam sesaat menghadapi tanggapan Paksi. Dia dapat membaca ucapan Paksi yang terasa memanas itu, meski nadanya tidak tinggi.
“Bukan, Adi. Jika dharma-mu adalah seorang Ksatria, maka di tanganmulah ada panggilan untuk melawan, untuk memutar roda negeri ini agar lahir kembali sebagai bangsa yang merdeka. Sebab, membebaskan penderitaan, meski hanya di dunia, tetaplah mulia. Itulah panggilan bagi seorang Ksatria. Yang Brahmana sepertiku, biarlah menaburkan doa sembari melangkah mencari pulang.”
Mata hati brahmana itu kiranya sungguh tajam dan mampu membaca segala hal yang tersirat. Batin Paksi tergugah mendengar tuturnya. Sesunguhnya Paksi paham apa yang selayaknya dia jalankan, dan serta-merta dia pun tersadar bahwa di tempat itu sesungguhnya dia telah menunda sebuah tugas. Tiba-tiba dia merasa malu akan dirinya sendiri.
“Saya melihat ada beban di pundakmu,” ujar Bagus Kaja, melihat yang tak kasat. “Bolehkah saya untuk bisa mengingat namamu setelah pergi?”
“Nama saya Paksi.”
Senyum yang melintang di wajah brahmana itu melukiskan seolah-olah dia menyambut secercah ilham. Dia pun mengawali satu dongeng lagi. “Candi-candi di dada Gunung Lawu mengabadikan satu cerita, yaitu tentang Garuda yang perkasa. Sang Garuda dengan gagah berani mengalahkan para Dewa dan Ashura demi mendapatkan Air Kehidupan, agar dapat ditukar dengan pembebasan ibunya dari perbudakan. Karena kegigihannya, Hyang Indra memberikan hormat kepadanya. Ia laksana para pejuang, yang rela menukar nyawa demi memerdekakan Ibu Pertiwi. Paksi, ingatlah kisah ini seperti kau mengingat namamu sendiri. Paksi. Burung Perkasa. Garuda—Si Elang Jawa.”
Paksi hampir tak bisa berkata. Remaja itu terpekur. “Andai sekarang saya tidak sedang menunda tugas, akankah saya pernah mendengar cerita ini?” ucapnya pelan, dibubuhi perasaan beruntung, tapi juga sekaligus malu.
“Kalau begitu, sudah saatnya kaulanjutkan.”
Namun masih ada satu kecamuk di batin Paksi. “Apakah bagi seorang brahmana memang tak ada hasrat untuk berada di baris perlawanan? Jika soal pulang, bukankah kami juga ingin pulang? Jika bisa memilih, siapa yang akan memilih perang?”
“Kita tidak memilih perang. Tetapi kita menjawab perang melalui jalan yang berbeda.” Lalu untuk sesaat sorot mata brahmana itu tampak muram. “Ketika terjadi puputan di Badung, saat itu saya lahir dari sebuah rahim yang sekarat. Ketika terjadi puputan di desa Marga, saya di sana melantunkan doa untuk pahlawan-pahlawan yang gugur. Terlalu banyak darah yang sudah saya lihat, Adi....”
Keduanya hening. Kini giliran Paksi melihat, bahwa brahmana itu pun memiliki beban-beban yang pahit dalam hidupnya. Kiranya semua makhluk memang akan mencari jalan pulang ke Penciptanya. Namun tak semuanya menempuh jalan yang sama.
“Kiranya, Hyang Indra akan menurunkan hujan keadilan, sebab darah sudah banyak ditumpahkan sebagai sesajinya,” ucap brahmana itu seperti lantunan doa. Dia berdiri, mengulurkan tongkat bambunya kepada Paksi. “Tujuanku sudah dekat. Bawalah, agar kau ingat bahwa kau pernah mendengar dongeng dari pengelana yang memberimu ini....”
Paksi menerima pemberian itu, meski sejujurnya merasa sungkan. Tak elok jika menampik pemberian yang diulurkan dengan harapan baik. Dia pun bangkit. “Saya akan selalu mengingat perjumpaan ini, meski mungkin kita tak akan pernah berjumpa lagi. Terima kasih. Saya harus meneruskan perjalanan.”
Begitulah, perjumpaan disudahi. Di persinggahan itu dua penempuh perjalanan harus berpisah. Satu pesan terakhir dari Sang Brahmana melepas perginya Paksi, “Meskipun takdir sulit diterka, percayalah padanya.”
Paksi menyambung perjalanan mengemban amanat. Dia menyelipkan tongkat bambu yang kokoh itu di pinggangnya, melintangi punggung seakan-akan sebanding dengan senapan berpeluru. Langkahnya berlipat lebih gegas, membayar waktu yang telah terbuang—meski sebetulnya tak terbuang sia-sia.
Jalan pegunungan yang tak rata, berbukit dan berjurang, sudah seperti makanan ringan saja baginya. Matahari memang sudah sepinggang, tak lagi memanas. Malah sebaliknya, gunung kian mendingin. Napas sang angin berhinggapan di antara pepohonan penghuni hutan, berbisik-bisik seperti memedi yang mengintip mangsa. Namun itu tak mempan untuk menggertak nyali remaja pembawa berita itu. Paksi tak akan menyurutkan langkah sedikit pun demi misinya, yaitu menyelamatkan kunci penting perjuangan: Kiai Menda.
Sebetulnya, mengapa Kiai Menda menjadi sedemikian penting?
Kawan, pada masa ketika kita sedang membaca kisah ini, yaitu masa sekarang, yang orang tahu tentang “kiai” umumnya adalah gelar yang diberikan kepada para ulama. Namun, ketika kita meloncati waktu dan mendarat pada masa ketika terjadinya cerita ini, kita berada pada suatu masa ketika sebutan “kiai” tidak hanya disandang oleh para ulama. Jika engkau bisa membayangkan betapa jumlah pasukan Belanda begitu besar dengan persenjataan yang jauh lebih lengkap, maka perlawanan yang dilakukan oleh laskar pribumi bisa terdengar sebagai kenekatan yang tak masuk akal. Maka, seharusnya engkau pun tak perlu heran ketika mendengar bahwa kekuatan para pribumi seringkali datang dari tempat yang berada di luar akal. Tak perlu kaget, apalagi tersinggung, jika ketidaknalaran itu kemudian tercermin pada kenyataan bahwa gelar “kiai” tak hanya diberikan untuk jenis manusia saja. Tombak Kiai Plered, Meriam Kiai Amuk, Kereta Kiai Paksi Naga Liman, dan..., sekali lagi engkau jangan heran: orang Jawa juga memanggil harimau dengan sebutan “kiai”.
Jadi, siapakah sesungguhnya Kiai Menda?
Kita kembali dulu ke perjalanan, yang kita tempuh bersama Paksi. Ketika dia telah menjangkau separuh perjalanannya, sekonyong-konyong muncul sesuatu yang mengusiknya, membuatnya gentar, meski tak membuatnya mundur. Di kejauhan terlihat olehnya dua jeep patroli Belanda sedang bergerak menuruni tanjakan, menuju ke arahnya. Itu gawat! Mereka akan berpapasan dalam waktu kurang dari satu menit!
“Celaka!” batin Paksi mengumpat. Jantungnya berdegup kencang. Namun dia sudah tahu bagaimana harus bertindak ketika berpapasan patroli musuh: bersikap saja selayaknya penduduk desa yang habis pulang dari ladang, jangan tergesa-gesa seperti orang yang menyembunyikan sesuatu. Jangan mendongak atau memandangi terlalu lama, sebab itu bisa dikira menantang. Menunduk lebih baik, seperti orang yang takut, sebab umumnya orang pribumi awam memang takut pada tentara Belanda.
Dua jeep patroli itu telah berada sepuluh langkah di depan Paksi. Lebih jelas terlihat bahwa para penumpangnya membawa senapan. Jelas tentara! Dan sekarang mereka tepat berpapasan! Paksi seperti rencananya: terus berjalan, berikan sedikit kesan takut tapi tetap tenang. Dan, jeep-jeep itu pun melewatinya begitu saja, seperti melewati orang desa yang baru pulang dari ladang.
“Syukurlah!” Paksi lega dalam hati, karena situasi telah berjalan seperti apa yang diharapkannya.
Namun, keadaan tiba-tiba berubah hanya dalam waktu lima detik. Deg! Jantung Paksi menendang keras tatkala didengarnya jeep-jeep di belakangnya itu berhenti. Dan tanpa dia duga....
Dooorrrr...!
Paksi merasakan timah panas menusuk keras ke punggungnya, amat sangat kuat hingga tubuhnya terpelanting ke depan. Tubuh remaja itu jatuh tertelungkup menimpa tanah, dengan punggung yang basah oleh darah segar!
Terdengar suara tawa tentara Belanda di sore yang mencekam itu. Tawa mereka terumbar lebih menakutkan dari suara momok. Nadanya busuk dan bengis! Lalu mereka berdebat singkat dalam bahasa mereka....
“Kaulakukan hal yang tak penting!”
Si penembak menyahut kawannya, “Anak itu sangat tenang di depan kita. Lagi pula ini sudah mau gelap. Bisa saja dia anggota gerilya!”
“Dia hanya bocah. Harga kepalanya tak ada satu sen. Tapi kau membuang peluru seharga tiga puluh lima sen!”
Serdadu-serdadu itu tertawa lagi. Jeep mereka melaju, berlalu, meninggalkan perhentian yang mematikan itu seolah-olah barusan mereka hanya membunuh seekor tikus. Suara mesin menjauh teratur.
Di atas tanah yang bersimbah darah itu, perlahan Paksi mengangkat tubuhnya. Nyeri dan perih menyebar ke penjuru saraf. Bukan main sakitnya! Saat bersusah payah berdiri, seketika itu malah otaknya lumpuh. Dia pun roboh lagi.
Pingsan.
Ketika matanya terbuka dan kesadarannya terkumpul lagi, dia sudah berada di suatu tempat yang lain. Paksi kini sedang terbaring telungkup di atas dipan. Di sampingnya ada meja dengan lampu teplok, menerangi rumah gedek itu dengan cahaya remang. Ada seuntai rangkaian bunga kenanga yang disampirkan pada dinding gedek, menebar wangi lembut yang dapat membantu tubuh sakit itu untuk lebih tenang. Dia menyadari tubuhnya tak berbaju. Dan terasa ada yang menempel di punggungnya, menyejukkan bagian kulit yang meradang oleh luka tembak. Ia mencoba bangkit, tapi rupanya saraf-sarafnya masih terasa sangat nyeri. Dia ambruk lagi seraya mengerang pelan, menahan ngilu.
“Lukamu tak terlalu dalam. Tapi sebaiknya jangan dipaksa. Istirahat saja dulu,” suara seorang laki-laki, muncul dari dapur yang bersebelahan dengan bilik itu. “Aku sudah keluarkan pelurunya. Kau beruntung, peluru itu tak sampai menembus dadamu.”
Paksi sedikit tercengang mengamati laki-laki yang kini duduk di sebelah dipannya. Dengan cahaya yang temaram dia bisa mengetahui bahwa sosok penolongnya itu sepantar dengannya. Sama-sama masih belia. Bahkan si penolong itu terkesan masih terlalu muda untuk mampu memahami cara mengobati luka tembak.
“Ini di mana?” Paksi bertanya.
“Di rumahku. Desa Kluwung, tak jauh dari tempat aku menemukanmu.”
Paksi menghela napas dengan berat. Lega karena selamat, tapi juga merasa berontak terhadap nasib: mengapa dirinya harus tertembak? Mengapa dia harus cedera sengilu itu hingga kini kesusahan untuk bangkit? Sekarang bagaimana dia akan melanjutkan tugasnya? Bisakah...?
“Bukankah tembakan itu seharusnya mampu membunuhku?”
Si penolong mengulurkan sesuatu kepadanya. “Ini. Tongkatmu ini sepertinya menahan peluru itu.”
Paksi ternganga, meraih tongkat pemberian Bagus Kaja itu. Tongkat dari bambu itu memang lebih kokoh dari bambu lainnya. Namun, tetaplah sukar untuk dipercaya jika sebatang bambu bisa menahan lesatan sebuah peluru! Tongkat itu patah, tapi tidak tanggal. Sebagian dari batang itu tampak melesak, terlihat serat-seratnya yang sebagian tercerabut dan sebagian lagi masih tertaut. Bekas itulah yang meredam laju peluru, sehingga timah panas itu tak terlalu dalam bersarang di punggung Paksi. Bambu yang lebarnya hanya tiga senti, berhasil menjaring peluru yang ditembakkan oleh seorang serdadu yang tentunya terlatih dalam menembak. Betapa kecil kemungkinannya? Bagaimana bisa pas? Ajaib.
“Memang sudah takdirmu selamat,” ucap penolong itu.
“Takdir sulit diterka, tapi percayalah padanya...,” kata-kata Bagus Kaja terngiang lagi di telinga Paksi.
Bagaimanapun, Paksi bersyukur atas nyawanya. Berkatalah dia kepada penolongnya itu, “Terima kasih. Bagaimanapun kau adalah bagian dari takdir yang menyelamatkanku. Namaku Paksi. Siapa namamu?”
“Gendhis.”
“Obat apa yang kaugunakan ini?”
“Daun ‘singkong Genderuwo’. Biar lukamu tidak menanah.”
‘Singkong Genderuwo’ adalah jenis singkong yang pahit untuk dimakan. Maka dijuluki dengan nama ‘genderuwo’, karena mungkin hanya makhluk itu yang doyan memakannya. Namun Paksi baru tahu bahwa daunnya ternyata bisa dijadikan obat.
“Dari mana kau mempelajarinya? Dengan siapa kau menolongku?”
“Pengetahuan turun-temurun. Aku tahu dari bapakku,” cerita Gendhis. Di tengah keremangan itu, tampak wajahnya menerawang. “Bapak dan ibuku sudah meninggal. Sudah dua tahun aku tinggal sendiri di sini.”
Artinya, dia sendirian menolong Paksi.
Paksi merasa terenyuh. “Orang tuamu meninggal dua tahun lalu?”
“Ibu meninggal saat melahirkanku. Bapak meninggal dua tahun lalu. Kata Tuan Wilhelm, karena terkena malaria.”
“Tuan Wilhelm?”
“Dokter dari Belanda. Beliau suka meneliti tanaman, dan selama beberapa tahun tinggal di komplek pabrik teh Kemuning. Beliau baik. Tapi tak mampu menolong Bapak, karena persediaan obat kina sedang habis.”
Paksi menyimak. Sesaat kemudian dia menjadi sedikit sinis. “Memang, tidak semua orang Belanda jahat. Tapi, bagaimanapun, yang menembakku adalah Belanda. Yang menembak mati bapakku adalah Jepang. Tak ada penjajah yang baik.”
Gendhis tersenyum samar. “Bagaimana dengan Cina?”
Paksi mendengus masam oleh sahutan Gendhis yang blak-blakan itu.
“Maaf, aku hanya gojek,” sambung Gendhis seraya tertawa pahit. “Toh, orang Jawa pun banyak yang menjadi tentara KNIL, dan banyak yang masih setia kepada Londo. Mereka menyebut gerilyawan sebagai pemberontak, padahal sama-sama pribumi. Tak semua orang yang dijajah merasa dijajah. Maaf..., aku berkata begini bukan bermaksud tak menghormati bapakmu yang ditembak penjajah.”
Paksi turut tertawa pahit. “Kau sendiri termasuk orang yang tak merasa dijajah?”
Gendhis menggeleng seraya melempar mukanya ke arah lain. “Aku tidak tahu. Aku hanya merasa bahwa tanah kelahiranku sudah lama terjajah sejak sebelum aku lahir.”
“Dan nyatanya, tak semua orang Belanda adalah jahat,” batin Paksi, kali ini menahan kesinisannya. Ia tersenyum miris. Getir. Namun, di samping itu ia juga kagum, karena sepertinya Gendhis bukan orang desa yang bodoh. Tutur halusnya terdengar pintar, meski bukan berarti sikapnya bisa disetujui.
Paksi memaksa diri untuk bangkit. Menolak dijajah rasa sakit! Gendhis membantunya dengan sabar. Paksi meraih kain ikat pinggangnya yang ia temukan di atas meja.
“Tolong bebatkan kain ini untuk membalut obatmu. Aku harus melanjutkan perjalanan malam ini juga. Di mana bajuku?”
Gendhis tampak keberatan melihat Paksi yang tergesa-gesa. “Kau akan nekat pergi?”
“Harus!”
Akan tetapi, saat Paksi melihat raut wajah penolongnya itu, samar-samar mulai tersadari olehnya, bahwa rasa keberatan Gendhis tampaknya bukan semata-mata mencemaskan lukanya. Oleh cahaya yang temaram, Paksi melihat raut wajah seorang remaja yang sepi hidupnya. Ia melihat ada jiwa yang gersang di balik sosok penolong yang sebatang kara itu.
Gendhis menuju ke lemari kayu di sudut ruangan. Lalu kembali lagi bersama selembar baju, diulurkan kepada Paksi. “Bajumu kotor oleh tanah dan darah. Kau bisa pakai ini.”
Paksi menerima baju pemberian Gendhis. Remang ruangan menyamarkan warna dan rupa baju itu, tapi tangan Paksi bisa meraba kainnya yang halus. Paling tidak, pasti kain kelas menengah. Bisa jadi itu adalah baju terbaik yang dimiliki Gendhis, anak desa yang yatim piatu itu. Paksi terharu. Ia memakainya, baju dengan aroma loro setu yang wanginya alami, bersahaja tapi tak kalah wibawa dari parfum-parfum ramuan industri Barat.
Gendhis menyiapkan sekadar minuman—jamu yang diramu dari beras dan rempah. Paksi minum hingga gelas tanah itu kosong. Oleh sebab kebaikan itu, Paksi menjadi tak sampai hati untuk cepat-cepat pergi, meski dia punya kewajiban yang masih tertunda dan harus segera dituntaskan. Kata “terima kasih” tidaklah cukup lagi.
“Bagaimana caramu hidup seorang diri di sini?” dia bertanya, ingin mengenal lebih dekat penolongnya itu.
Gendhis bercerita, “Aku menjadi buruh di pabrik karet, selain mengurus ladangku sendiri yang tak seberapa, peninggalan Bapak.”
“Apakah kau sekolah?”
Gendhis mengangguk. “Aku sempat ingin meneruskan ke SMP. Tapi bagaimana mungkin dengan situasi seperti ini? Baru-baru ini aku mendengar sekolah-sekolah sudah ditutup. Sekarang aku berpikir, bersekolah toh tidak membuat orang lepas dari masalah. Jadi, pentingkah untuk orang sepertiku?”
Paksi tersenyum pahit. Ia pun turut berkisah. “Sejak Belanda kembali menduduki kota, sekolah-sekolah terpaksa ditutup. Beberapa guru dan pelajar bergabung dengan gerilyawan. Termasuk aku. Padahal seharusnya tahun ini aku sudah lulus dari SMP. Tapi aku tak menyesalinya. Berjuang bukan hal yang harus disesali.”
Gendhis memperlihatkan senyum seolah-olah dia sempat menebak sesuatu, dan kini tebakannya benar. “Saat menemukanmu, aku sudah yakin bahwa kau anggota gerilya. Jika tidak, untuk apa Belanda menembakmu?”
“Kau agak keliru. Kadang tentara Belanda sengaja menembak siapa saja, agar orang-orang takut dan tunduk, dan tidak coba-coba membantu gerilyawan,” tutur Paksi, meluruskan. Sekarang ia jadi menyadari kebodohannya sendiri—seharusnya dia bersembunyi saat berjumpa dengan jeep-jeep Belanda itu. Rakyat biasa saja bisa ditembak, apalagi jika dicurigai sebagai gerilyawan?
“Lalu mengapa kau mengaku padaku, bahwa kau gerilyawan? Aku bisa saja menjual informasi kepada Belanda, demi sedikit tambahan uang?”
“Aku tak mencurigai orang yang telah berani menolongku. Lagi pula, bagaimanapun kau juga bisa menyimpulkan sendiri bahwa aku anggota gerilya. Untuk apa kututupi lagi?”
Hening. Suara binatang malam di luar rumah mengiringi pertautan antara Paksi dan Gendhis, yang baru sekali itu bertemu tetapi mendapati kisah-kisah yang bisa mereka bagi. Kisah-kisah yang sekilas tak sejalan, tetapi sesungguhnya membuat masing-masing merasa dilengkapi.
“Kaubilang, kau akan melanjutkan perjalanan?” Gendhis mengingatkan, meski rautnya tampak masih berat hati. Ia meraih sebuah benda kotak dari atas lemari. Ia bawa mendekat ke lampu teplok. Itu sebuah jam berbingkai kayu yang sudah tampak usang, tapi jarumnya masih bergerak.
Sudah pukul tujuh malam, dan amanat belum tiba di tujuan. Paksi tak mengira bahwa akhirnya ia akan merasakan hati yang amat berat untuk berpisah. Bahkan seakan-akan sakitnya luka tembak menjadi tak seberapa ketika ia merasa telah menemukan seorang kawan.
“Kenapa orang tuamu memberi nama ‘Gendhis’?”
“Aku lahir di pasaran Legi. Orang tua lainnya mungkin akan menamaiku ‘Legi’. Tapi bapakku tidak.”
“Bapakmu memberimu nama yang lebih berderajat. Legi—manis. Gendhis—gula. Di saat bapakmu kehilangan ibumu, lalu memberimu nama itu, tentu ada cita-cita yang dia tanamkan untukmu, bukan?”
Gendhis menjawab dengan wajah merenung. “Tentu agar aku bisa menyandang nama itu selama mungkin, sebab orang yang dicintainya tinggal aku—anak satu-satunya....”
“Itukah yang membuatmu tidak ingin bergabung dengan barisan pejuang—sebab seorang pejuang harus berani mati setiap saat?”
Gendhis mencerna kata-kata itu, dan menahan diri untuk tidak tersinggung. “Di saat aku tak punya siapa-siapa lagi, di saat aku tak punya cita-cita setinggi langit, di saat masa sulit datang silih berganti..., aku tidak mencari mati. Aku berani untuk tetap hidup, dengan segala ala kadar yang kupunya.”
“Berani mati bukan berarti memilih mati. Berani mati adalah hidup dengan lebih gigih.”
Gendhis membisu mendengar ucapan itu. Paksi menepuk-nepuk pundaknya, seperti seorang saudara yang mengulurkan rasa tenang.
“Maaf, aku tidak sedang memaksamu. Juga tidak bermaksud membuatmu tersinggung.”
Gendhis mengulas senyum tipis. “Jika kau memang masih ada waktu di sini, bisakah kau ceritakan tentang namamu? Atau keluargamu—jika kau tak keberatan...?”
Paksi tak keberatan. “Mata sipitku ini dari Bapak. Kulit gelapku dari Ibu. Tapi Eyang Putri selalu bilang, aku tak terlalu sipit, juga tak terlalu hitam. Ibuku selalu membantu Eyang berdagang kain, seringkali ke Solo untuk mengambil barang. Bapakku adalah Cina perantauan, bekerja sebagai juru tulis di Gereja Katolik Purbayan. Di lokasi yang sekarang menjadi kantor RRI Solo, di depannya ada sebuah warung, di situ kedua orang tuaku berkenalan. Setahun kemudian menikah.”
“Kau Katolik?”
“Bapakku Katolik. Ibuku seperti umumnya orang Jawa. Aku mungkin keduanya.” Lalu Paksi meraih kembali tongkat bambunya. Ia memandang ke lantai tanah yang pekat, lalu menggoreskan dua aksara dengan tongkatnya, bukan Latin ataupun Jawa. “Pei Shih, nama yang diberikan Bapak kepadaku. Oleh lidah Ibu, menjadi: Paksi.”
Gendhis tertarik menyimaknya. “Apakah arti nama yang diberikan bapakmu itu?”
Paksi kini termenung mengamati tongkat bambunya. Ia menjawab, “Artinya, Rakit Bambu Yang Kuat....”
Kembali hening.
“Sekarang sudah waktunya,” kata Paksi dalam hati. Ia bangkit berdiri, mengabaikan pedihnya luka tembak di punggung.
“Ke mana tujuanmu?” Gendhis bertanya, tanpa bermaksud mencegah lagi.
“Jenawi. Aku tak bisa menunda lagi, Gendhis.”
Gendhis tidak kaget dengan tujuan Paksi. Ia tak ingin membebani tamunya lagi. Paksi menerima botol airnya yang telah diisi penuh. Juga sebatang obor untuk penerang jalan. Dan..., sebonggol singkong rebus untuk bekal, yang diberikan Gendhis dalam keadaannya yang pas-pasan.
“Biarpun ‘Rakit Bambu’ hanya untuk sungai yang datar, kau masih punya nama dari ibumu, untuk mencapai tempat yang kautuju. Sebab, kautahu, kau menuju ke tempat yang tinggi,” ujar Gendhis di muka pintu.
“Lagi pula, muara sudah dikuasai musuh. Yogyakarta, ibukota negara, sudah jatuh. Gunung-gunung menjadi tempat para pejuang untuk berlindung. Tapi nama pemberian bapakku tetap mengajariku satu keyakinan: bambu menjadi rakit karena disatukan. Disatukan dan menjadi kuat!”
Gendhis mengantar hingga pertigaan, di muka jalan utama yang menuju ke Jenawi. Sekali lagi Paksi mengulurkan harapannya.
“Bergabunglah...?”
Gendhis tak sanggup mengangguk. “Semoga kau selamat. Dan suatu saat kita kembali berjumpa.” Hanya doa itu yang bisa ia jadikan jawaban.
Paksi menjadi sedih. “Besok pagi, Belanda akan melakukan serangan. Jalur ini mungkin akan mereka lewati. Jaga dirimu baik-baik.”
Kali ini Gendhis mengangguk.
Paksi memberikan tongkat bambunya. “Simpanlah. Jika aku selamat, aku akan ingat bahwa aku memberikan ini kepada orang yang telah menolongku. Terima kasih atas kebaikanmu.”
Dua remaja itu berpisah. Sosok-sosok belia yang mekar di tengah revolusi, seperti bunga-bunga yang mekar melawan semak-semak. Selalu ada bunga yang menyembul, selalu ada juga yang tersembunyi. Yang tersembunyi, mungkin tak akan dikenal dan dicatat oleh sejarah. Namun, yang menyembul mahkotanya, harus siap dipetik kapan saja oleh tangan-tangan peperangan. Keduanya mungkin akan sama-sama dilupakan. Akan tetapi, hati yang suci memang tak pernah menuntut untuk dirayakan, meski jerih payah telah meruah bersama nyawa-nyawa yang melayang.
Malam menjadi kawan perjalanan. Malam memang penuntun para gerilyawan—pejuang-pejuang yang tak kenal takut mementangkan jejak di antara bukit-bukit suram dan jejurang kelam. Terang berada di hati mereka karena semangat yang tak pernah padam itu. Itulah yang bergetar di dada Paksi, mengabaikan rasa sakit dan dingin yang menggigit tubuhnya.
Cahaya obor adalah sekadar pemandu agar kakinya tak terantuk batu. Tak perlu takut diketahui Belanda, sebab mereka tak akan berani keluar malam di tengah gunung. Yang melihat cahaya obor itu hanyalah penduduk desa di balik jendela-jendela. Mereka akan mengira nyala api itu adalah Banaspati atau Kemamang, dan mereka pun akan segera menutup jendela lalu memilih cepat tidur berkerudung selimut. Memang, hanya yang tangguh yang berani berjalan di garis para pejuang. Bekas peluru di punggung, akan menjadi kisah yang bisa diceritakan dengan bangga kepada anak cucu.
Konon, darah seorang pemberani akan tercium dengan mudah ketika ia berjalan menembus malam. Makhluk-makhluk tak kasat mata menghirup aromanya, lalu mereka akan keluar dari sarang. Mereka tak mau kalah. Mereka akan memamerkan kemampuan mereka, menjadikan medan gerilya sebagai sirkus astral yang tidak semua mata mampu melihat. Raksasa Kala Rahu akan menunda melahap rembulan, agar jalan-jalan tetap terang di saat malam. Wedon akan menyaru sebagai kabut putih yang membumbung dari dasar jurang, agar dapat ditengarai bahwa di situ ada sebuah jurang dan tak ada yang terperosok. Wewe Putih yang bermukim di pohon-pohon akan menjatuhkan buah yang dapat dimakan; orang sering mengira tawanya hanyalah suara burung malam. Genderuwo akan membuat perapian kecil untuk memanggang makanannya, dengan begitu jalanan akan bersih dari ular karena ular-ular menghangatkan diri di dekat perapian. Akan ada syukur di hati pejuang yang menempuh perjalanannya bersama malam. Namun, hanya mata ketiga yang bisa melihat, ada apa di balik tanda-tanda Sang Malam.
Dan malam telah hinggap di pukul sepuluh. Paksi tiba di Desa Balong, sebuah desa yang memiliki pendamping berupa bukit-bukit sebesar raksasa Kala Mercu. Desa itu adalah pusat wilayah Jenawi. Paksi tiba dengan selamat di tempat tujuannya. Namun, berkurangnya darah akibat luka tembak membuatnya melemah. Napasnya kepayahan. Meski demikian, ia tak hilang semangat untuk melambaikan obornya. Berayun, api menari membentuk pertanda di pekat malam. Terbaca oleh orang-orang penghuni bukit. Harapan Paksi terjadilah. Tiga orang turun dari bukit, menyambutnya.
“Saya Paksi, membawa berita dari markas Guworejo....”
Lalu, remaja pemberani itu roboh. Tubuhnya ditahan oleh para gerilyawan yang menyongsongnya. Dipapah, digendong menuju markas di atas bukit.
Di sebuah dipan, di rumah kayu yang diterangi tiga buah blencong, Paksi siuman. Ia dikerumuni tentara gerilya yang merasa terkejut oleh kedatangannya. Bagaimana tidak, ia tiba hampir tengah malam dan dalam kondisi mengalami luka tembak. Paksi menceritakan kisahnya kepada mereka. Pemuda bernama Gendhis turut menjadi bagian dari cerita yang ia tuturkan, sebab jika tak ditolong olehnya entah bagaimana ia akan sanggup tiba di Jenawi malam itu; mungkin dirinya sudah mati kehabisan darah di jalan, maka amanat Letnan Priambodo tak akan pernah sampai di markas Jenawi, dan Kiai Menda terlambat diselamatkan.
Letnan Ismoyo tercekat kaget ketika mendengar laporan Paksi. Terutama atas kemungkinan pasukan Belanda yang ada di Sragen berkoordinasi dengan Solo. Atas dasar pertimbangan itulah Letnan Priambodo akan mengerahkan laskar dari Guworejo untuk bergabung dengan laskar Batu Jamus, untuk menghadang pasukan Belanda di Ngargoyoso—jalur tengah yang bisa menjadi akses menuju Jenawi. Markas batalion di Karang Pandan—lereng Lawu bagian barat—juga telah dikabari, sehingga akan siap jika pasukan Belanda datang dari arah Solo.
“Pak Pri juga mengutus kurir untuk mengabarkan ke markas Bayanan. Mungkin kawan-kawan saya sudah tiba lebih dulu, karena saya mendapat halangan di perjalanan tadi. Maaf, Pak, keterlambatan saya membuat waktu menjadi tak banyak lagi,” tandas Paksi, merasa segan dan malu.
“Syukurilah keselamatanmu. Kita masih punya waktu untuk mempersiapkan diri,” ujar Letnan Ismoyo menenangkan Paksi. “Saat ini Pak Mayor sedang berada di Karang Pandan, tentu di sana beliau juga mendengar berita ini. Beliau pasti akan kembali secepatnya. Sambil menunggu perintah langsung dari beliau, kita bisa mengarahkan penduduk desa untuk menyiapkan pengungsian.”
Malam itu, pendaran sinar blencong memperjelas gurat-gurat di wajah para laskar yang terbakar semangat. Seakan-akan mereka sudah lama merindukan perang sahid itu, dan kini tinggal menunggu pagi untuk menyongsongnya. Malam yang tegang. Malam yang berkobar api perlawanan. Mata Paksi mengawang ke langit-langit yang remang, seolah-olah di sana ada bayang-bayang bagaimana pertempuran esok akan terjadi. Sinar blencong yang goyang, menerpa isi ruangan menjadi serupa adegan wayang yang menari dalam bisu. Sisi gelap dan terang terus beradu, tetapi takdir hanya akan bicara ketika saatnya sudah tiba. Keyakinanlah yang mendului bicara, bahwa esok akan ada kemenangan! Kalaupun tidak, mati di medan keberanian juga bukanlah mati yang memalukan, meski detik-detik kematian itu akan begitu suram, miris dan menyakitkan.
Seperti tiba-tiba saja waktu sudah berembun. Pagi menyenggol bukit-bukit, mengganti gumam celepuk menjadi cerewetnya prenjak. Fajar bergelimang sahutan ayam, burung, kambing, kerbau dan sapi. Penduduk gunung pun telah bergeliat sejak pagi buta. Hidup memang selalu sebuah perlawanan, Kawan. Melawan jajahan kantuk, lapar, dingin, dan apa pun. Sebagaimana tadi malam mereka telah mendengar bahwa pasukan Belanda akan datang untuk memberondongkan senjata, maka pagi itu mereka telah bersiap. Sebelum mengungsi, mereka sempatkan diri memasak apa adanya untuk para laskar yang sebentar lagi akan menyabung nyawa. Ada dongeng pagi tentang pesan alam kepada bocah-bocah yang masih berkecimpung di tempat tidur. Ada canda di beranda, ada gurau di dapur, ada gunjing lucu dari para gadis dan mbok-mbok tentang tentara pujaan mereka. Hari itu disongsong dengan bangga dan lapang dada.
Langkah Paksi pagi itu ditaburi senyum para penghuni dusun—sambutan bersahaja untuk pemuda pemberani sepertinya. Terasa menegarkan, membuat lukanya terasa jauh lebih baikan. Tenaganya juga sudah pulih. Ia berjalan kaki ditemani salah seorang laskar menuju ke sebuah tempat—tempat Kiai Menda berada.
Sebelumnya Paksi sudah pernah ke desa itu, tetapi waktu itu nama “Kiai Menda” belum banyak dikenal orang. Barulah akhir-akhir ini nama itu menjulang pesat sebagai pengobar semangat para pejuang bumi Pertiwi. Sejujurnya, itulah alasan Paksi memilih diutus ke Jenawi. Ia ingin sekali melihatnya.
Paksi tiba di sebuah rumah jati sederhana, di kaki salah satu bukit. Ia disambut oleh seorang pria yang tampak penuh wibawa dan disegani oleh orang-orang di sekitarnya.
“Bagaimana lukamu?” pria itu menyapa dengan nada hangat dan penuh kesan, seraya menjabat tangan Paksi.
“Sudah membaik, Pak,” jawab Paksi dengan agak segan.
Pria itu lalu berkata panjang lebar. “Saya baru di Karang Pandan kemarin siang, di sana saya mendapat berita dari Guworejo tentang rencana operasi militer Belanda. Tengah malam tadi saya sudah tiba lagi di sini karena situasi yang genting ini. Kurir yang tiba di Karang Pandan sudah memberi tahu bahwa ada kurir lain yang mengabari ke Jenawi. Tapi..., saya terkejut kamu tiba dalam kondisi tertembak. Syukurlah, kamu selamat.”
“Terima kasih, Pak.”
“Siapa namamu?”
“Nama saya Paksi.”
Lalu pria itu menyebutkan namanya pula. Dialah yang disebut ‘Pak Mayor’ oleh Letnan Ismoyo. Dan kenyataan itu membuat jantung Paksi terkesiap, terharu dalam rasa hormat. Kini ia pun tak heran jika orang-orang di sekitarnya tampak segan dan hormat kepada pria itu.
Kepada Pak Mayor, Paksi dengan jujur menyampaikan, bahwa dia sangat ingin tahu tentang Kiai Menda, karenanya ia datang ke rumah itu untuk bisa melihatnya. Mayor muda itu tersenyum lebar saat mendengar pengakuan Paksi. Dengan tidak keberatan, diajaknya Paksi menuju ke belakang rumah itu. Berdua.
Sembari berjalan kaki, “Kaupaham bentuk negara kita, Paksi?” Pak Mayor bertanya.
“Kepulauan, Pak.”
“Betul. Lalu, menurutmu, manakah wilayah terluas yang dimiliki negara kita? Darat atau laut?”
“Udara, Pak. Karena mencakup wilayah di atas laut maupun darat.”
Pak Mayor tertawa kagum. “Karena itulah, Paksi, kita tak boleh melupakan apa yang bisa kita lakukan di udara.”
Ia memperlihatkan sesuatu di hadapan Paksi. Di sebelah kandang kambing terdapat sebuah ruangan kecil, dan di situ tersimpan seperangkat alat yang membuat mata Paksi terpukau takjub.
“Inilah yang ingin kaulihat,” ucap Pak Mayor. “Yang pertama sebagai milik pribumi.”
Dengan rasa takjub dan kagum, Paksi menjamah alat-alat itu. Telah ia lihat kini, apa yang ingin dilihatnya. Sebuah mesin pemancar radio. Pengobar semangat juang laskar-laskar gerilya. Kiai Menda.
“Alat-alat ini telah ikut merasakan asam garam perjuangan. Di saat kantor-kantor radio di berbagai daerah banyak yang ditutup dan dihancurkan, alat-alat ini berhasil diselamatkan dari stasiun RRI Solo yang dibakar oleh tentara Belanda. Ketika stasiun radio di Tawang Mangu juga diporakporandakan, maka tinggal ini yang menjadi sarana vital untuk menyerukan semangat kemerdekaan di udara. Kami memilih Desa Balong yang letaknya tersembunyi ini, supaya aman dari pengawasan tentara Belanda.”
“Di tengah kandang kambing, sehingga sering ada suara kambing yang ikut menimbrung ketika siaran...,” sahut Paksi dengan raut haru. “Karena itu dijuluki menda—kambing. Radio Kambing.”
“Dan radio ini menjadi lelucon yang paling dibenci oleh Belanda. Kautahu kenapa? Sebab, saat tanah Belanda ditakhlukkan oleh Jerman, para pemimpin negeri kincir angin itu lari mencari perlindungan ke Inggris, ke luar negaranya. Lalu sekarang, di sini, mereka tahu kita berlindung di gunung-gunung, menyiarkan berita dari kandang kambing dengan pohon kelapa sebagai menara pemancar, tapi setidaknya tempat perlindungan kita ini masih negeri kita sendiri. Kita tidak lari kepada bangsa lain. Belanda boleh malu. Mereka terus meyakinkan negara-negara lain dengan memutarbalikkan fakta, seolah-olah merekalah pemerintah yang sah dan kita ini cuma pemberontak. Tapi, di udara kita terus menjawab. Dari gunung ini kita berseru hingga ke seberang samudera, sehingga dunia bisa tahu bahwa Indonesia adalah bangsa berdaulat. Lewat udara, kita menggalang kekuatan dengan pemerintahan darurat di Sumatera. Biarpun Presiden kita diasingkan, Ibukota Yogyakarta dijatuhkan..., negara ini masih tegak, Paksi!”
“Tegak di garis gerilya!” sahut Paksi, pelan tetapi mantap.
Pak Mayor menepuk-nepuk bahu Paksi. “Banyak perwira yang gemilang, mengawali ketentaraannya di usia sebayamu. Suprijadi, Slamet Rijadi, Pak Gatot Soebroto.... Paksi, sesungguhnya kau tak akan kalah gagah jika bersedia memanggul senjata.”
Paksi menangkap maksud kalimat yang membujuk itu. Ia tersenyum agak semu. Ia menjawab dengan nada sedikit bergurau. “Jika nanti perang berakhir, dan penjajah-penjajah pergi dari negeri ini, saya ingin kembali ke hari-hari di mana senjata saya bukan senapan. Tetapi pena. Saya ingin menjadi wartawan, Pak. Semoga kelak Pak Maladi tidak lupa kepada saya, kalau-kalau saya tiba di kantor RRI sambil membawa surat lamaran.”
Maladi, Mayor itu, tertawa. “Sekarang pun, kau sudah seorang pembawa warta. Kau tak membawa senapan, tapi..., kau tetap segagah para tentara itu.”
Pertemuan, perkenalan dan percakapan di kandang kambing yang merangkap sebagai kantor radio itu beralur hangat. Menandingi dinginnya pagi pegunungan. Mengimbangi getar-getar keberanian, yang seakan-akan sudah tak sabar untuk mencari tahu apakah kata takdir atas hari itu—maut, atau tetap hidup? Yang pasti, semboyan tidak luntur: sekali merdeka, tetap merdeka! Sekali di udara, tetap di udara!
Pagi itu juga alat-alat radio siap dievakuasi. Tinggal menunggu situasi apakah operasi militer Belanda benar-benar akan menyatroni wilayah itu. Satu regu tentara, ditambah beberapa relawan dari desa setempat, telah ditugaskan untuk memboyong alat-alat itu ke tempat yang sudah ditentukan, tempat yang lebih aman. Sedangkan anggota gerilya lainnya telah dikerahkan untuk maju ke garis depan, menghadang musuh di Desa Pelang.
Langit dinaungi mendung, yang di luar dugaan bergulung-gulung di tingkap gunung. Seolah-olah alam pun telah membaca bahwa akan ada detik-detik yang mencekam. Dan rupanya peristiwa itu benar-benar tiba. Pukul delapan pagi, letusan-letusan mulai menggema!
Di Ngargoyoso, tentara gerilya menghadang konvoy pasukan Belanda yang membawa sepuluh jeep lengkap dengan sten-gun dan pelontar mortir. Jumlah pasukan Belanda memang tak sebanding dengan jumlah laskar gerilya yang terdiri dari gabungan laskar Guworejo dan Batu Jamus. Belanda kalah jumlah, tetapi menang persenjataan. Mereka membabi-buta, melemparkan mortir ke bukit-bukit tempat tentara gerilya membidikkan senapan dengan amunisi yang tipis. Korban di kubu republik banyak berjatuhan.
Namun, pada akhirnya penguasaan medan dan kerja sama yang baik adalah kunci jalannya peperangan. Ngargoyoso adalah milik para laskar gerilya! Tubuh yang berguguran menjadi pembayaran yang setimpal. Di Ngargoyoso, pasukan Belanda akhirnya berhasil dikalahkan. Laskar-laskar bersorak! Satu utusan mengabarkan ke markas Balong, bahwa kubu gerilyawan di Ngargoyoso telah memukul mundur pasukan Belanda.
“Allahu’akbar!” Berita kemenangan itu disambut dengan sorak-sorai bersahutan.
Kemenangan di Ngargoyoso menjadi amunisi mental bagi pasukan gerilya untuk melanjutkan perlawanan, sebab pertempuran belumlah tuntas. Terbukti, pasukan Belanda juga merambah jalur yang membawa mereka tiba di Desa Pelang. Sekarang saatnya, regu yang bertanggung jawab atas peralatan radio harus segera bergerak mengamankan alat-alat itu.
Perang sengit berkecamuk di Pelang. Sesuai strategi yang telah dikoordinasi secara kilat sejak tadi malam, pasukan gerilya dari Balong-Jenawi dan Bayanan bergabung di Pelang. Desa Pelang adalah sebuah titik di mana dua jalur dari arah Sragen bertemu, lalu menjadi satu jalur menuju Balong-Jenawi. Itu menjadikannya titik yang amat strategis dan menjadi taruhan besar, sebab letaknya hanya tiga kilometer di bawah Balong. Jika bobol, maka pasukan musuh akan leluasa menyerbu markas di Balong. Meski peralatan radio dan juga penduduk desa sudah diungsikan, tak pantas memberi ruang sedikit pun kepada penjajah untuk menang!
Paksi disarankan agar mengamankan diri bersama para pengungsi. Namun ia tak menurut. Ia mendaki salah satu bukit di Desa Balong. Dari situ ia dapat melihat kaki gunung di utara, di mana asap-asap mengepul dan ledakan-ledakan menggelegar. Ia menegarkan diri menjadi saksi mata peperangan. Ia pun bimbang; sesungguhnya ia ingin bergabung ke sana, ke medan pertempuran. Ia malu jika hanya berdiam. Namun Pak Maladi melarangnya. Beliau membuat Paksi teringat pada ucapannya sendiri, yang pernah ia ucapkan kepada Gendhis, bahwa berani mati bukan berarti mencari mati. Garis depan di medan pertempuran hanyalah untuk prajurit yang tahu cara menggunakan senjata. Sebagai anggota tentara pelajar, sesungguhnya Paksi tahu cara menggunakan senjata. Akan tetapi, saat ini ia sedang terluka. Lagi pula, Pak Maladi tahu—Paksi sendiri juga tahu—bahwa hatinya lebih memilih berjuang di luar medan mesiu.
Namun, siapa yang tak akan goyah hatinya, ketika menyaksikan nyawa-nyawa berguguran di medan dharma?
Paksi menengadah ke langit, menaikkan segala rasa gundahnya kepada Yang Mahakuasa. Di langit ia dapat melihat, mendung bergulung semakin gelap. Bisa dipastikan, tak akan mungkin Belanda mengerahkan angkatan udaranya. Setidaknya, bombardir maut dari udara yang pernah menimpa Tawang Mangu tidak akan terulang hari itu. Namun, apakah berarti perlawanan menjadi mudah begitu saja?
Sekonyong-konyong, dilihatnya seorang anggota laskar yang berlari terengah-engah meninggalkan arena perang. Batin Paksi terusik akan prasangka yang tak enak. Ia segera turun dari bukit.
“Bagaimana situasi perang? Kenapa lari seperti itu?” tanya Paksi ketika berpapasan dengan orang itu di kaki bukit.
“Belanda datang dengan pasukan gabungan! Pasukan Belanda dari Madiun datang lewat jalur Jogorogo! Pasukan kita di Pelang terpaksa mundur ke Menjing...!”
Paksi kaget. Sungguh tak dinyana, Belanda juga mendatangkan pasukannya dari Madiun, masuk dari Jogorogo, jalur timur! Belanda rupanya tidak memandang sebelah mata kubu gerilyawan di Gunung Lawu. Namun masih terlalu dini juga untuk percaya bahwa pasukan kubu republik telah kalah.
“Mundur belum berarti kalah!” sergah Paksi. Meskipun terkejut oleh situasi, ia cepat paham bahwa mundurnya pasukan gerilya ke Menjing bisa jadi untuk mencari titik pertahanan yang lebih baik. Bukan berarti menyerah!
Anggota laskar yang kabur itu melanjutkan larinya. Paksi geram. Apa yang harus ia lakukan terhadap pengecut? Dirabanya sesuatu di selipan kain pinggang: sebuah pistol yang terisi, pemberian Letnan Ismoyo untuk berjaga-jaga. Paksi menimbang sejenak.
Apa yang harus dilakukan terhadap pengecut?
Tentu, jangan mengikutinya! Jangan menjadi sama dengannya!
Paksi memutuskan membawa langkahnya ke Menjing, sebuah desa dua kilometer di bawah Balong, lokasi di mana pasukan gerilya menempati titik pertahanan yang baru. Ia memilih bergabung di garis depan!
Ledakan-ledakan bergema kian jelas. Tentara gerilya berlindung di bukit-bukit sambil membidikkan tembakan ke pasukan Belanda. Pertempuran sengit tak terkira. Pasukan Belanda masih tersisa cukup banyak, mereka berada di celah bukit lainnya dan tampaknya siap merangsek semakin dekat. Pasukan gerilya telah banyak yang berguguran, amunisi juga kian menipis. Sedangkan peluru dan mortir Belanda seakan tak ada habisnya menghujani.
Paksi maju tanpa takut menyongsong medan tempur. Dan bersamaan dengan itu, sekonyong-konyong ia melihat bangkitnya tanda-tanda alam yang kian perkasa. Ia terhenti dengan hati yang bergetar, dengan mata terpana ke langit. Butir-butir air berjatuhan, kian lama kian deras. Paksi pun teringat doa Bagus Kaja, yang tampaknya telah diterima oleh para dewa.
Hujan keadilan!
Paksi menjadi saksi mata, tatkala derasnya hujan membuat sebongkah batu besar tiba-tiba roboh dari atas bukit. Ia seolah-olah melihat Dewa Indra Sang Penguasa Gunung melemparkan bajra dari atas bukit itu, menggempur pasukan Belanda yang bercokol di bawahnya! Dentum keras menggema bersamaan dengan dua jeep Belanda yang terpental dari tempatnya. Pasukan Belanda tercerai-berai dalam seketika, layaknya pasukan Firaun ketika diterpa gelombang raksasa di Laut Merah.
“Gott verdome!” Para Belanda itu kocar-kacir, memaki-maki dalam bahasa mereka. Formasi mereka kacau. Jalannya perang berubah!
Di saat yang ajaib itu, pasukan bantuan dari Batalion Lawu datang. Kekuatan laskar gerilya bangkit, meluncurkan peluru-peluru laksana naracabala yang mengamuk di Kurusetra, merobek lapisan hujan yang merona kian merah oleh biasan darah!
Musuh bertekuk lutut.
Sorak kemenangan menggema dari bukit-bukit. Guyur hujan terdengar seperti derai tawa alam, yang memuncak tatkala kilat menggelegar dari timur ke barat. Alam ikut merayakan—tetapi hanya mata ketiga yang mampu membacanya.
Pertempuran yang dahsyat purna. Nyawa-nyawa beristirahat di tempat mereka pulang. Matahari pun hendak menyudahi sorenya. Waktu merangkak kepada petang.
Tak ada pesta, Kawan, meski ada rasa menang. Biarlah tanah di bumi yang berpesta, dengan darah-darah para ksatria yang tertumpah merah seperti anggur. Kabar duka kepada keluarga tentu akan tiba, tetapi, semoga akan menjadi duka yang patut dibanggakan. Seperti halnya rindu yang selalu digadang-gadang oleh para ibu dan bapa, ketika menanti pulangnya putera mereka dari medan dharma. Maka mereka akan memiliki dua senyum terindah dalam hidup mereka: senyum ketika melihat anak mereka lahir, dan senyum ketika menyambut sang anak sebagai pahlawan. Entah sang anak datang dengan tawanya, atau hanya namanya. Engkau pasti mengerti, Kawan, seringkali senyum dan air mata terurai bersamaan.
Di atas bukit itu, Paksi duduk merenung. Ia teringat akan Ibu yang dulu melepasnya dengan beriring air mata, kala ia memutuskan bergabung dengan pasukan gerilya. Namun, air mata itu dihias dengan senyum bangga. Itulah ketika hati seorang ibu menunjukkan kemuliaan. Engkau seperti juga aku, Kawan..., tak akan mampu melukiskannya. Begitu pun Paksi. Tak terlukis rindunya untuk pulang sejenak, sekadar memberi warta bahwa ia baik-baik saja. Sebab, rapuhnya hati seorang ibu kadang juga tak bisa dilukiskan.
Paksi berdiri, menatap lengkungan warna di langit tenggara bukit. Orang Jawa menyebutnya ‘kluwung’. Ia pun teringat nama sebuah desa, di mana tinggal seorang remaja sebatang kara yang kemarin petang telah menyelamatkan nyawanya—Gendhis, yang memilih hidup aman karena merasa sebagai sisa terakhir dari keluarganya. Namun, bukankah Paksi juga anak semata wayang dari ibunya? Toh, dirinya tak memilih sembunyi dalam kehidupan yang aman seperti Gendhis.
Di mata Paksi, walaupun pelangi adalah warna-warna yang indah, sesungguhnya itu hanyalah fatamorgana. Engkau harus membelakangi matahari untuk bisa melihat pelangi, sebab engkau akan selalu berada di antara keduanya. Haruskah terkecoh oleh bayangan yang indah itu—membohongi diri dari kenyataan, seolah-olah hidup tidak sedang berada di dalam pertaruhan? Namun, bagaimanapun Gendhis memang berhak seandainya ingin memilih tinggal di rumahnya yang tenang, dan menutup mata dari merahnya medan perang. Setiap orang punya alasan untuk membuat sebuah pilihan, dan pilihan itu seringkali bukanlah hal yang sederhana untuk dihakimi. Meskipun pelangi hanyalah fatamorgana, engkau haruslah menghadapi hujan terlebih dahulu sebelum bisa menyaksikannya. Bahkan, hujan yang sudah kauhadapi pun tak selalu akan mendatangkan pelangi untukmu. Semua memiliki perjuangannya masing-masing.
Paksi membalikkan tubuhnya, meninggalkan pelangi itu di belakang, dan melihat ke arah mentari petang yang semburat keemasan. Dan terkejutlah ia, tatkala dilihatnya satu sosok muncul dari kejauhan. Ia pun bergegas turun, untuk menyambut di kaki bukit. Kini, sosok itu tepat di depannya, lebih jelas wajahnya dibandingkan kemarin malam. Seorang sebayanya, berkulit kuning sawo matang dan bermata redam—wajah lugu remaja desa, memancarkan jiwa yang gersang, tetapi di dalamnya masih menyimpan secercah harapan.
“Aku tak menyangka kau kemari?” sapa Paksi.
“Aku lega kau baik-baik saja,” Gendhis menjawab, seraya menggenggam tongkat bambu milik Paksi yang terselip di pinggangnya.
“Aku juga lega melihatmu selamat,” sahut Paksi.
Gendhis menerawang sejenak. “Semalaman aku merenung. Dan sekarang barulah aku mengerti, bahwa berani hidup bukan berarti untuk hidup seorang diri. Jika aku bergabung dengan barisan gerilya, mungkin aku akan menemukan rumah baru yang penuh bahaya. Tetapi, setidaknya bukanlah rumah yang senyap.”
“Rumah yang penuh bunyi senjata. Rumah di mana kau akan memiliki banyak saudara,” sambut Paksi dengan perasaan haru. “Tak ada pesta. Tapi kau akan disambut dengan hormat.”
Keduanya saling menyambut senyum masing-masing. Dua remaja itu melangkah bersama, menembus petang yang mulai tenggelam di balik bukit-bukit. Menuju desa, di mana para laskar beristirahat sambil memeluk panji-panji kemenangan.
Gadis-gadis dusun yang sederhana moleknya, telaten merawat para tentara yang di saat terluka kadang masih suka genit dan manja. Yang gugur, akan disemayamkan secara sederhana saja; cukup ditaburi doa, dipayungi tangan-tangan gagah yang menghormat. Malam mereka akan dibungkus oleh para mbah yang berdongeng tentang Baratayuda. Atau sekadar tembang Dandhanggula, atau Asmaradhana. Lalu pagi akan dibuka oleh embun pegunungan yang membasuh sawah ladang dan bukit-bukit hijau; prenjak bersahutan bersama ayam, kerbau dan sapi, dan tentu juga kambing, yang mengembik bersama siaran radio “Kiai Menda”, menggema dari gunung hingga ke seberang samudera. Semangat yang sama akan selalu diserukan—semangat putera-puteri Pertiwi, laksana pekik Elang Jawa yang merajai udara.
Waktu tak pernah berhenti, Kawan. Ia sambung-menyambung. Cerita-cerita menyeberang ke benak kita, berkecamuk lagi di dalam hati kita, meski masanya sudah jauh di belakang sana. Dan tentang semangat yang tak pernah padam itu, ia pun tak pernah berhenti menyeberangi waktu. Jika gemanya sampai di hatimu, engkau tentu tahu bagaimana ia berseru. Kali ini tak butuh mata ketiga. Hatimu pasti tahu.

---

Saya dedikasikan untuk para pahlawan di balik kiprah epik “Radio Kambing”—yang kini beristirahat dalam damai di Museum Pers, Solo. Untuk Bude Sulami dan Bude Subarti—bunga-bunga pejuang yang telah mengarungi banyak gunung; dan, terkhusus untuk Bapak, yang telah menghias masa remajanya dengan menapaki jalur gerilya Sragen-Jenawi, kemudian menurunkan dongeng-dongengnya yang kuingat sampai sekarang. Aku rindu dongeng kalian.

Terima kasih untuk tim “Aquarel” yang pernah membukukan—versi pertama—cerita ini.


3 komentar:

Anonim mengatakan...

Dua tahun saya menunggu cerita ini bs saya baca sampai tuntas.. dua tahun jg sy habiskan utk hunting bagaimana sy bisa dapat buku ini baik secara hard copy atau mungkin soft copy.. dua tahun saya selalu mengganggu noěll utk bermurah hati memberi kesempatan saya utk tahu kelanjutan cerita ini.. mencari cerita sejenis tentu sangat banyak.. tapi sebuah cerita yg pada akhirnya membutuhkan perenungan. Membutuhkan pemikiran yg dalam..sampai di hati bisa menyerap intisari tentu sangat bermakna.. with all my heart..saya seperti kehabisan kata2,mungkin ucapan saja tdk cukup..terima kasih noěll atas kemurahan hatinya.. semoga Tuhan memberikan kesehatan dan umur panjang.. Terima kasih karena telah memberikan kesempatan saya untuk merenung dan berpikir setelah membaca tulisan anda..

Anonim mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
minae mengatakan...

kegigihan yang membuahkan hasil, dengan semangat pantang menyerah, Pakas juga bisa menumbuhkan semangat juang Gendhis...