Mimpi di Kedai Aswan
Fajar menyingsing adalah tanda untuk meninggalkan
mimpi-mimpi, agar dia dapat segera memenuhi realitasnya dengan
pekerjaan-pekerjaan di dapur. Siapkan masakan yang baru, dan keluarkan simpanan
yang ada di kulkas untuk dipanaskan. Air dididihkan agak banyak untuk merendam
teh; beras segera ditanak agar sudah menjadi nasi ketika jarum pendek tiba di
angka delapan. Lantai-meja-kursi-bifet sudah harus bersih; tisu dan tusuk gigi
tak boleh dalam keadaan habis. Kecoa, semut dan lalat harus disingkirkan, tapi
sebaiknya tidak membunuhnya. “Perbuatan
baik akan membawa keberuntungan!” Mantra itu diucap di hati. Pintu kedai
siap dibuka!
“Be Guling Aswan”, itulah nama kedainya, penjual
babi guling pertama dan—untuk sementara ini—menjadi satu-satunya di kota itu.
Aswan, pria 41 tahun itu, dalam waktu seperempat tahun telah menjaring puluhan
pelanggan. Belum melebihi tiga puluh, tetapi sebagai kuliner segmented pendatang baru di kotanya jumlah
itu sudah lumayan. Perlu dimengerti, menjadi kedai babi guling satu-satunya di
kota itu bukan berarti para pemakan bisa melupakan masakan babi yang lain. Bermacam
restoran Chinese food dengan bahan
daging babi sudah lama bercokol dan bersaing di kota itu.
“Anda asli dari Bali?” Pertanyaan itu paling sering
dilontarkan para tamu di obrolan pertama mereka dengan Aswan.
“Bukan. Tapi saya belajar resep asli secara langsung
di sana,” jelas Aswan. Lalu ceritanya bisa melebar: soal perbedaan cita rasa masakan
babi ala Tionghoa dan Bali, persaingan ketat kedai-kedai di kota itu, sampai
alasan mengapa dia memilih babi guling. “Ini adalah masakan babi terlezat,
menurut saya. Dan saya tahu kedai ini akan menjadi yang pertama di kota ini.”
Sesekali ada yang komplain, “Yang Anda masak ini
rasanya agak berbeda dari yang pernah saya coba di Bali.”
Dengan lihai Aswan menjelaskan bahwa tiap daerah di
Bali memiliki perbedaan cita rasa, baik itu dalam penyajian maupun menakar
bumbu. Babi guling di Tabanan umumnya disajikan dengan nasi merah; babi guling
di Gianyar mempertahankan pedas yang tinggi, kecuali beberapa kedai di Ubud
yang ramai turis bule—mereka perlu
kepedasan yang lebih moderat; sedangkan resep dari Klungkung menyeimbangkan
pedas-asin-gurih secara ringan tapi meresap. Tak lupa dia menambahkan: di
Buleleng siobak lebih tenar dibandingkan babi guling. Dia membual, siapa juga
yang tahu? Mungkin kau tahu, tapi ketika menyimak Aswan mendongeng dengan
sedemikian meyakinkan dan mengasyikkan maka hasratmu untuk membantah akan sirna
dengan sendirinya.
“Kalau di sini, di Jawa, makanan apa pun harus punya
unsur manis. Karenanya bumbu dari Bali saya modifikasi supaya lebih cocok
dengan lidah kebanyakan orang di sini: pedas dan manis!” tandas Aswan sambil
menuding dan menekan meja dengan telunjuknya. Semua itu dibeberkannya dalam
semangat yang amat hangat bagai aroma bumbu Bali ketika menyentuh hidung.
Pada akhirnya pujian dipetik juga, “Biarpun agak berbeda
dari yang di Bali, masakan Anda juga enak, kok.” Dan para tamu permisi dengan
wajah puas serta kenyang. Tak ada wajah kapok.
Sejauh ini tak ada yang mencerca masakan Aswan. Tak
pernah. Entah kalau dalam hati saja. Sedangkan halal-haram adalah soal lain;
nalarnya sudah tak mungkin orang yang pantang makan babi masuk ke kedai Aswan
untuk makan, sebab papan nama yang dibuat besar-besar sudah mengindikasikan dengan
jelas menu utama di situ, bahkan papan nama itu dilengkapi pula dengan gambar
babi ditusuk sedemikian rupa. Dan syukurlah itu adalah kota yang toleran. Tak ada
demo. Tak ada palakan, mengatasnamakan apa pun.
Bahkan salah satu tetangga Aswan adalah seorang
haji, dan dia tidak protes. Dia hanya kadang saja meledek, “Koh Wan, kenapa tak
buka kedai kebab saja? Saya akan beli tiap hari. Malah orang yang pernah mencoba
keduanya bilang bahwa kebab lebih enak!”
Aswan selalu santai dalam menjawab, “Kebab sudah
dikuasai waralaba, Pak Haji, dan di kota ini sudah terlalu banyak yang menjual
kebab. Lagi pula, saya kan Cina, kalau kebab saya nanti dituduh tidak halal,
saya bisa dimusuhi encik-encik,
dianggap merusak citra makanan dari Timur Tengah.” (encik = sebutan bagi warga keturunan Arab di Jawa)
“Betul juga. Lebih baik sampeyan berjualan makanan yang sejak semula memang sudah haram,”
sahut Pak Haji.
Keduanya tidak pernah saling tersinggung tiap kali
membicarakan masalah—yang untuk orang lain—sangat sensitif itu. Jadi, kau juga
tak perlu tersinggung. Akan tetapi, sebaiknya memang jangan kaucoba berbicara
seperti itu ke orang lain yang dalam hal-hal fundamental berbeda darimu. Aswan
dan Pak Haji punya gaya relasi mereka sendiri yang tak harus kautiru.
Begitulah Aswan, pemilik kedai yang suka membagikan
cerita kepada tetamunya, atau kadang siapa saja, hampir mengenai apa pun. Suara
nyaring peralatan di dapur ditambah obrolan meriah di meja makan, itu sangat menghibur
hatinya. Menjauhkan hatinya dari kesenyapan. Ya, kesenyapan. Sebab, di balik raut
dan nada suka cita itu, sesungguhnya ada cerita-cerita yang tak mungkin dia
bagikan kepada mereka yang makan. Biarlah para tamu mengecap manis-gurih-pedas
masakan di kedai itu, bukan kenangan-kenangan pahit pemasaknya.
Pada suatu ketika dulu, jauh sebelum membuka kedai
itu, Aswan adalah seorang pegawai bank, setiap hari kerja duduk di kursi teller. Meskipun rumahnya masih
kontrakan, penghasilannya tidak buruk, dan wajahnya juga menarik. Dia memacari
kawan semasa kuliahnya, Vera. Lalu mereka menikah pada tahun 2000. Mereka
dikaruniai dua orang anak, laki-laki sulung dan perempuan bungsu. Titik balik
kehidupan ekonomi Aswan dirintis pada tahun 2005, ketika dia berspekulasi
dengan potensi jenmanii. Dia
memelihara dengan baik beberapa puluh pot. Tahun 2006 tanaman itu betulan
menjadi tren dengan harga jual selangit! Dia kaya secara drastis gara-gara
tanaman. Karena kesuksesan itu, dengan percaya diri dia berhenti dari
pekerjaannya di bank untuk fokus menekuni nursery.
Dia kemudian sanggup membeli rumah sendiri dan juga sebuah mobil baru. Saat
itu, kawan-kawannya yang masih bekerja di bank pasti mau bertukar nasib
dengannya.
Namun dua tahun kemudian tren tanaman hias anjlok
sedrastis ketika naik daun. Jenmanii
dan “Gelombang Cinta” bak primadona yang dijemput usia tua secara tergesa-gesa.
Jualan Aswan benar-benar tak laku lagi, sedangkan dia harus tetap memiliki
sumber uang. Daun-daun jenmanii yang
telah sempat menjelma lembaran uang dan ditabung baik-baik di bank, akhirnya dikerahkan
untuk banting setir. Dia membangun dan membuka toko kelontong tak jauh dari
rumahnya. Meskipun toko kelontong bukan ide besar sama sekali, setidaknya bisa
menjadi pertahanan sirkulasi pendapatan, pikir Aswan. Toh, jika dikelola dengan
baik, toko kelontong yang membesar juga akan memakmurkan pemiliknya.
Namun spekulasinya kali ini betul-betul luput.
Kelontong-kelontong waralaba berlabel mart
tiba-tiba menjamur di mana-mana, menjepit toko kelontong konvensional dari
semua arah. Pendapatan Aswan menjadi stagnan, lama-lama mulai defisit, lalu
pailit.
Kegagalan kali ini membuat kepalanya dipenuhi
kebuntuan. Istrinya pun mulai sering mengeluh. Pertengkaran mulai sering
terjadi, merembet ke makin banyak hal, kecil maupun besar. Suatu ketika, dalam
sebuah pertengkaran yang dipicu oleh kabel setrika yang konslet, Aswan khilaf
menempeleng istrinya. Dia menyesal dan minta maaf. Namun konklusi tak bisa
ditawar: Vera menggugat cerai—setelah sebelas tahun mereka menikah.
Vera kembali kepada orang tuanya yang tinggal di kota
lain. Sesuai putusan pengadilan, anak-anak ikut si ibu. Vera menikah lagi satu
setengah tahun kemudian. Bahwa suami barunya lebih kaya bukanlah hal yang
mengagetkan bagi Aswan, atau bagi siapa pun. Tidak mengagetkan, tapi tetaplah
menyakitkan bagi Aswan.
Kegagalan dalam bisnis maupun keluarga membuat Aswan
menjadi pesimistis dalam hal-hal lainnya. Maka dia bermain aman saja: ruko yang
kini menganggur disewakan. Seseorang mengontraknya untuk lima tahun. Jumlah
uang sewanya sangat lumayan. Namun, alih-alih berinvestasi dengan uang itu,
yang dilakukan Aswan hanyalah duduk-duduk seharian dan sendirian di rumahnya. Dia
sesapi pahitnya hidup menduda tanpa satu anak pun di sisinya. Ketika kangen
anak-anak—dan mantan istrinya—dia terbayang pada kedua orang tuanya yang dulu
meninggal dengan tenang di dekat anak-anak yang setia menunggui. Membayang di
benaknya, kelak dia akan mati tanpa ditunggui keluarga. Mati sendirian.
“Apa arti hidupku sekarang, dan nanti...?” batin
Aswan meraung, menguap bersama asap yang membubung dari batang-batang rokok.
Pikirannya terlalu kalut. Sepertinya itu memancing mimpi-mimpi
aneh untuk datang ke dalam tidurnya, selama beberapa malam. Dia melihat sesosok
lelaki tua berbusana ala Tiongkok kuno; sosok itu memanggul buntalan besar,
berjalan ke arah fajar. Di mimpi yang terakhir dia melihat lelaki tua itu makan
babi panggang dengan lahapnya. Babi itu disula di atas api dalam wujud utuh.
“Siapa dia? Penampilannya seperti perantau?” Aswan
merenungkan mimpinya, sambil menghabiskan sekotak rokok di beranda. Menurutnya,
pasti ada pesan tersembunyi dari mimpi-mimpi itu, semacam wangsit. “Bukankah
yang dia makan itu namanya babi guling?”
Di saat hampir bersamaan, dia mulai sadar bahwa tak
mungkin baginya terus-menerus menjalani hidup yang mampet seperti itu: membakar
uang demi menyumpalkan hawa tembakau ke dalam paru-parunya, tanpa pekerjaan dan
hanya menunggu uangnya habis tanpa menghasilkan harga diri. Maka pada saatnya
datanglah potongan-potongan visi masa depan, menyusup ke dalam kepalanya. Tanpa
merasa terinspirasi cerita Eat, Pray,
Love yang memiliki kesan seolah-olah untuk menemukan arti hidup haruslah dengan
bertualang sejauh-jauhnya, yang tentu konsekuensinya berbiaya mahal, Aswan
membuat keputusan ini: “Aku merantau saja!”
Dia memilih Bali, sebab dia merasa yakin babi guling
di mimpi itu adalah sebuah petunjuk. Dan lelaki tua itu berjalan menuju
matahari terbit; kita tahu bahwa “matahari terbit” sebetulnya mungkin saja
berarti “Jepang”, tetapi masalahnya babi guling tidak berasal dari negeri penuh
bunga sakura itu. Faktanya, Bali juga terletak di arah timur, jika ditempuh
dari kota tempat Aswan tinggal. Atau entah apa pun itu, yang pasti menganggur
sepanjang hari sambil terkenang-kenang keluarga yang telah kandas jelas
bukanlah cara yang bisa dipercaya untuk menemukan arti hidup. Maka pergilah
dia!
Di Bali, selain plesir ke tempat-tempat elok dengan
cara hemat, Aswan tak lupa berburu makanan yang muncul di mimpinya. Dia suka
masakan daging babi sejak dulu, tetapi, setelah mencoba, rupanya babi guling
adalah yang paling berhasil memikat lidahnya. Puluhan warung babi guling pun
disinggahinya. Rianglah dia. Lupalah dia soal kesedihannya.
Ketika di Buleleng, dia bertemu klinik konsultasi
spiritual asuhan seorang keturunan Tionghoa. Dia segera teringat lelaki tua di
mimpinya. Maka mempirlah dia. Konsultan itu menggelari dirinya Suhu dan sudah tampak uzur, rambutnya di
bagian belakang dikepang amat panjang menyerupai Wong Fei Hung, tapi Aswan
curiga itu adalah wig. Aswan iseng berkonsultasi, menceritakan mimpinya, dan juga
sedikit curhat soal keluarga. Aswan meminta pendapat.
Sayang, Suhu tak bisa menjawab siapa sosok di mimpi
Aswan. “Mungkin leluhur Anda,” katanya berspekulasi. Lalu ia malah membicarakan shio dan peruntungan, “Anda lahir tahun
1974, berarti shio Anda Macan Kayu.
Macan adalah pemangsa yang buas. Anda cenderung bersifat keras.”
Bagi
Aswan, omongan Suhu tak sepenuhnya tepat. Dia merasa macan yang buas tidak
merepresentasikan sifatnya. “Saya justru moderat. Kalaupun ada kekerasan yang
pernah saya lakukan, itu adalah menampar istri saya—hanya sekali dan karena
khilaf, dan saya amat menyesalinya.”
“Sebentar,
apa zodiak Anda?”
“Libra,
Suhu.”
“Oh,
kelunakan itu dipengaruhi zodiak Anda. Libra adalah pemilik sifat yang
berimbang dan penyayang, itu menetralisir sifat yang berasal dari Macan,” jelas
Suhu yang rupanya juga paham zodiak Yunani—atau malah membuatnya kedengaran
seperti seorang pembual? Suhu melanjutkan, dan kalimatnya kali ini akan lebih
berefek bagi Aswan: “Macan juga adalah
pengintai yang sabar—sebetulnya Anda punya sifat tekun. Unsur kayu memberi
peluang dengan tanaman, tapi tak bertahan lama. Sebab bagaimanapun orientasi
macan adalah daging. Daging domba atau kambing sangat strategis.
Tapi karena yang muncul di mimpi Anda
daging babi, maka coba saja itu.”
Dari situlah ide membuka kedai babi guling datang.
Bahkan itu menjadi bukan sembarang ide. Aswan menganggapnya sebuah wahyu! Mimpinya
ternyata klop dengan shio dan dia pun
memang sedang jatuh hati pada babi guling. Itu jelas takdir, pikirnya. Begitulah,
Suhu dari Buleleng tak berhasil memberi tahu siapa yang datang di mimpi Aswan,
tetapi setidaknya dia telah berhasil membuat Aswan punya gairah untuk bekerja
dan berbisnis lagi.
Aswan tahu dan bisa memasak beberapa Chinese food, tetapi cara memasak babi
guling tentu sangat berbeda. Supaya bisa mempelajarinya, maka mulailah dia
mencari pekerjaan di restoran babi guling. Dia menghubungi beberapa teman yang
diketahuinya tinggal di Bali, lalu memanfaatkan koneksi mereka. Teman-temannya
ternyata berguna; dalam waktu yang terbilang singkat, Aswan mendapatkan
pekerjaan di restoran milik teman-dari-temannya.
Awalnya dia hanya sebagai pencuci perkakas. Tiga
bulan kemudian barulah dia boleh membantu menyiapkan base genep—bumbu rempah khas Bali. Di tahun kedua bekerja, dia
sudah cekatan membersihkan bagian dalam tubuh babi dan memasangkan sula
penyunduk. Dia juga sudah lihai mengguling babi di atas bara; menghasilkan
kulit yang renyah dan daging yang sedap. Membuat varian masakan seperti urutan, grabyas, sambal dan lawar juga dikuasainya. Hari-bulan-tahun dia
lewatkan untuk menghayati dan mematangkan ilmu barunya, sampai tahun ketiga
perantauannya.
Aswan pulang dengan cita-cita barunya. Kedainya
didirikan secara sederhana di halaman depan rumah. Dia mendapatkan penyetok
babi sembelihan. Dua pembantu direkrut, bertugas mencuci perkakas, menyiapkan
bahan bumbu dan membantu memasak sesuai arahannya. Menakar komposisi bumbu,
menyula dan mengguling babi adalah mutlak bagian Aswan, tidak bisa tidak, agar
cita rasa masakannya terjaga. Dia memasang iklan di majalah lokal, sebab dia
sadar lokasi kedainya tak terlalu strategis. Dalam setengah tahun, kedai “Be
Guling Aswan” sudah mulai populer di kota itu.
Begitulah sejarah kedai Aswan, yang pada bagian tertentu
tak mungkin diceritakan kepada tamunya. Kau sekarang sudah tahu, bagian mana
yang tak mungkin dia ceritakan.
Jam enam sore waktunya tutup. Dua pembantunya
pulang, tak menginap. Di waktu-waktu yang dipenuhi sisa keletihan
itu, suasana mulai kembali senyap. Aswan yang sekarang memang sosok yang lebih
bersemangat, tetapi bukan berarti dia sudah kebal terhadap kesepian. Di jam-jam yang remang temaram seperti itu,
kerapuhannya selalu menyelinap lagi. Kesepiannya terulang dan dia mulai
melamun. Kadang cuma memikirkan hal-hal ringan, soal shio misalnya.
“Kurasa aku bukan tak berjodoh dengan tanaman.
Bisnis tanamanku mandeg bukan karena
aku ber-shio Macan, tapi karena tren
memang sudah berhenti. Pedagang jenmanii
yang tidak ber-shio Macan Kayu juga
apes sepertiku. Kelak tren batu akik pasti juga begitu,” gumamnya, sambil
menyirami beberapa tanaman di saat masjid di ujung gang sudah mendengungkan azan
Isya. Kadang dia juga masih memikirkan lelaki tua di mimpinya dulu. Sebenarnya
siapa orang itu? Lalu, kalau pikirannya sudah masuk ke hal yang berat, dia akan
terantuk pada pertanyaan ini lagi: “Apa arti hidupku sekarang, dan nanti?”
Lalu wajah anak-anaknya terbayang lagi. Willy yang
sulung sudah 14 tahun; Selly yang bungsu sudah 12 tahun. Sepulang dari Bali,
Aswan sempat mengunjungi mereka untuk memuaskan kerinduan. Akibatnya, itu malah
membuat keinginan untuk menjenguk lagi jadi lebih kuat dari sebelumnya,
sedangkan anak-anak itu sudah memiliki ayah baru. Rasa tersisih menjadi lebih
menyakitkan bagi Aswan. Dia selalu ingin tahu kabar anak-anaknya, tapi dia
takut perasaan itu nanti berkembang menjadi sikap posesif di tempat yang
keliru. Dia tahu diri. Dia tahu bahwa dulu dialah yang menampar istrinya. Vera
layak mendapat suami baru yang lebih baik, jika memang itu yang dikehendakinya.
Membiarkan anak-anak ikut si ibu adalah bagian dari cara Aswan menebus
kesalahannya pada Vera. Bahkan ketika Willy mengaku tak terlalu suka pada ayah
barunya, Aswan tetap menasihati, “Tapi kamu harus menyayangi Mama.”
Pagi-siang dibuka dengan aroma sedap dan derai para
tamu, lalu semua meredup dalam kemuraman senja. Itulah hari-hari Aswan bersama
kedai kebanggaannya. Hari-hari tanpa ditemani keluarga. Perantauannya tak bisa
mengubah itu. Pelanggan kedainya memang sudah puluhan, tetapi Aswan tak mau
tergesa-gesa menyebut dirinya sukses. Dulu dia pernah menjadi takabur ketika
bisnis tanamannya laris manis, tapi tanpa diduganya ternyata berakhir pahit.
Mungkin di tahun berikutnya, jika pelanggannya sudah melebihi seratus dan masih
terus bertambah, barulah dia layak menyebut diri sukses.
“Dan saat itu mungkin barulah aku pantas mencari
istri lagi,” pikir Aswan dalam galaunya. “Kalau memang aku masih laku....”
Tibalah akhir pekan, besok kedai itu akan libur
sehari karena Minggu. Hari itu babi pesanan tiba agak sore. Aswan ingin
menanganinya malam itu juga agar besok bisa lebih banyak bersantai. Organ-organ
bagian dalam dari babi itu sudah dipisahkan dalam keadaan bersih—meski harus
tetap dicuci lagi—dan bisa disimpan untuk sementara waktu di dalam kulkas. Petang
itu Aswan hendak membilas lalu memasangkan sula ke badan babi, lalu
menyimpannya ke dalam pembeku dan besok malam tinggal diguling. Dia berkelakar
sendiri sambil menyiapkan peralatan, “Oh, babi muda yang montok, kaulah yang
akan menemani malam Mingguku. Kurasa kau seekor jomblo saat disembelih, sebab
kau masih begitu muda. Mungkin yang kurasakan saat ini sama seperti yang
kaurasakan ketika disembelih: amat kesepian dan tak ada yang menolong kita.
Menyakitkan sekali. Kita senasib dengan cara yang berbeda.”
Namun kali ini ada perasaan yang tiba-tiba sangat
berbeda dari sebelumnya. Entah kenapa, ketika membilas babi itu Aswan merasa
seperti memandikan seorang anak. Secara bergantian wajah Willy dan Selly saat
balita membayangi benaknya—betapa montok mereka. Aswan sempat memaki dirinya sendiri
yang telah membayangkan seekor babi sebagai anaknya! Anehnya, meskipun sudah
ditepis, bayangan kedua anaknya selalu kembali lagi.
Aswan mulai menggerutu, “Sepertinya kau membuat
kutukan ketika disembelih! Akan kubersihkan cepat-cepat saja tubuhmu, sebelum
kau menulariku dengan pikiran-pikiran aneh yang lain.”
Sekarang babi itu siap untuk disula—ditusuk dari
mulut hingga tembus ke bagian yang lain. Namun lagi-lagi hati Aswan diusik oleh
perasaan yang bukan-bukan: dia tiba-tiba merasa sayang untuk menyunduk babi
itu. Barangkali karena wajah babi itu begitu damai, unyu, sehingga seolah-olah tak sepantasnya ia dibunuh dan dimasak
dengan cara sebengis itu. Namun bukankah wajah babi yang sudah-sudah juga
begitu? Ada apa dengan kali ini?
“Ah, sepertinya kau memang mengutuk penyembelih dan
pembeli dagingmu!” keluh Aswan, merasa heran sendiri. Lalu dia memohon di
hadapan tubuh mati itu, “Maafkan aku yang harus memperlakukan tubuhmu seperti
ini. Kita memang sudah punya bagian masing-masing di dalam takdir. Aku harus
menjalani jalan hidupku, kiranya kau tak marah. Babi-babi yang sebelumnya juga
tak pernah marah.”
Sekonyong-konyong muncul wujud yang amat ganjil di
dapur eksekusi yang senyap itu, serupa asap dari tubuh binatang mati itu
menggumpal-gumpal ke atas. Aswan kaget bukan kapalang, sampai hampir terjungkal
dari kursi!
“Siapa kau? Kau hantu atau apa?!” hardik Aswan dalam
kaget dan takutnya.
Penampakan itu membentuk sesosok manusia yang
wajahnya tampak utuh; pipinya gemuk, matanya sipit, tapi tubuhnya tampak samar—sepertinya
ia juga bertubuh gemuk. Makhluk itu tak berkata atau bersuara apa-apa. Namun ia
tampak begitu memelas, seperti menangis, lalu seperti bersujud dan memohon di
depan Aswan.
“Apa maumu?” tanya Aswan, setelah yakin makhluk itu
tak bermaksud mencelakainya. Namun makhluk itu tak bisa berkata-kata, hanya
terus-menerus memperlihatkan wajah melasnya yang mengundang belas kasihan.
“Dia ingin kau segera lakukan tugasmu, Aswan,” suatu
suara menjawab. Aswan cepat-cepat mencari asal suara itu. Di belakangnya
tampaklah lelaki tua yang dulu datang di mimpinya. Aswan kaget, tapi cepat
kembali tenang sebab dia pernah berjumpa sebelumnya dalam mimpi—dan lelaki tua
itu juga tak terlihat jahat.
“Melakukan tugasku?” tanya Aswan bingung. “Tugasku
yang mana?”
“Dia ingin kau segera menusuknya saja, lalu
memasaknya sebagaimana pekerjaanmu sehari-hari,” jelas lelaki tua itu. “Dia
adalah roh dari binatang itu. Dan dia adalah anakmu di kehidupan sebelumnya.”
Kemudian, sekonyong-konyong Aswan merasa
diperlihatkan gambaran masa lalunya oleh suatu visi, bersamaan dengan ngiang
suara lelaki tua itu. “Si gendut itu adalah A Sun, anakmu. Di masa hidupnya dia
hanya tahu bersenang-senang dengan cara mengeruk hartamu.” Lalu pemandangan
berganti pada sosok lelaki paruh baya sedang menyusuri sungai, “Itu adalah
dirimu. Kau adalah seorang pedagang yang cukup kaya. Hari itu kau menemukan
seekor babi yang terseret arus sungai, dan menolongnya. Bertahun-tahun kau
memeliharanya sebagai binatang yang kaukasihi. Ketika hartamu terus dirongrong
A Sun, babi tua itu tetap kau pertahankan.” Pemandangan berganti lagi, “Tapi
lihatlah, ketika kau sedang tak di rumah, A Sun menyembelih babi tua itu,
memakan sebagian dagingnya, lalu sisanya dijual ke pasar agar dia bisa berjudi.
Kau amat marah. Tapi A Sun yang kurang ajar itu balas mengutukimu dan membakar
rumahmu. Karma membuatnya harus membayar di kehidupan yang sekarang.”
Pemandangan itu lalu lenyap. Lutut Aswan roboh di
lantai. Dia menatap nanar babi mati di hadapannya, dan arwah A Sun yang masih
bersujud.
“A Sun menyesali perbuatannya di masa lalu. Dia
ingin kaulakukan pekerjaanmu tanpa ragu. Sebab, dengan begitu hukum karma yang
dijalaninya saat ini tertebus secara setimpal, lalu kehidupannya yang berikut
bisa lebih baik.”
Hati Aswan tersentuh. “Jika itu bisa membuat
bebannya jadi lebih ringan, tentu aku akan mengabulkannya. Tapi mengapa
tanganku seperti tak sanggup? Jika ia memang menuntut demikian, lalu apa yang
membuatku merasa kesulitan untuk melakukannya?”
“Itu karena aku keberatan,” jawab lelaki tua itu.
“Aswan, lihatlah baik-baik, aku adalah ayah A Sun.”
Aswan ternganga. Telunjuknya gemetar menuding wajah
lelaki tua itu.
“Aku adalah rupamu ketika mati di usia 70 tahun di
kehidupan lalu,” ujar lelaki tua itu terkekeh. “Kita adalah roh yang sama.
Akulah yang berbicara sebagai kata hatimu: jangan
perlakukan babi yang ini seperti yang lain!”
Aswan terpekur lama. “Tetapi, bukankah inilah cara
untuk menyudahi penderitaannya...?”
Lelaki tua itu menggeleng. “Karmalah yang menuntut
begitu. Namun, tak bisakah hati kita lebih pemaaf?”
Aswan terdiam, merenung panjang dengan kaki terkulai
di lantai. Dia menatap A Sun. Perlahan-lahan, sosok gemuk itu menguap kian
samar, lalu hilang dari pandangan. Aswan melihat wajah A Sun sempat tersenyum
sebelum ia betul-betul lenyap.
“Mengapa ia tak bicara sedikit pun?” gumam Aswan.
Jawab lelaki tua, “Itu adalah misteri dari hukum
kehidupan yang dijalankan oleh roda-roda takdir—aku sendiri juga tidak tahu.”
“Lalu mengapa kita bisa bercakap-cakap?”
Lelaki tua terkekeh, “Kaupikir kita saling berucap
dengan lidah? Tidak. Sebab kita roh yang sama. Kita saling tahu tanpa orang
lain tahu.”
Aswan mengerti. Namun kini dia mulai mencemaskan
hidupnya lagi. “Kurasa kedai ini memang sudah takdirku, untuk mempertemukanku
dengan kejadian ini. Tapi setelah arwah A Sun tenang, apa yang akan kudapat
selanjutnya? Apakah hanya ini saja tujuan sesungguhnya?”
“Semua akan diungkap pada saatnya, Aswan.” Kemudian
lelaki tua bercerita lagi, “Perbuatan baikku di masa lalu terhadap babi yang
malang itu menjodohkanmu dengan usaha ini. Dulu aku sendiri pedagang yang
jujur, tapi..., ah, sayangnya aku jadi terlalu mengutamakan hartaku. Tabiat A
Sun adalah hasil dari lemahnya didikanku. Aku kurang sayang pada keluarga, itu
kusesali di hari tuaku. Maaf, Aswan, sepertinya aku membuatmu harus membayar
akibatnya juga. Kedai ini akan mencukupimu, tapi mungkin tak akan sampai membuatmu
kaya raya.”
Mereka bertatap-tatapan—dua wajah dari roh yang
sama, dari waktu yang berbeda. “Kurasa, sekarang giliranku untuk mulai
memaafkan diriku sendiri,” ucap Aswan dalam-dalam. “Lagi pula, aku juga sudah
pernah kaya. Dan kekayaan itu membuatku tak dicintai sepenuh hati.”
Sama seperti A Sun, lelaki tua itu tersenyum sebelum
menghilang dari pandangan. Suara terakhirnya, “Kau sungguh betul. Kasih sayanglah
harta yang paling menghidupi!” Lalu lenyaplah sosok itu ketika berjalan menuju
pintu, ke arah fajar.
Di dapur senyap yang diterobos sinar pagi itu, Aswan
terbangun dari tidurnya.
Minggu pagi itu, Aswan mengubur jasad babi yang
semalam telah mendatangkan mimpi aneh padanya. Dikuburnya di halaman belakang
rumah, disertai doa serta curahan pengampunan dari hatinya. “Takdir memiliki
banyak pintu yang tak kita duga. Mungkin semalam hanyalah mimpi belaka. Tapi
tak ada buruknya aku memperlakukanmu begini. Semoga jiwamu tak resah lagi.
Semoga baiklah hidupmu berikutnya.”
Karena telah memesan babi yang tak jadi dimasak,
berarti besok Aswan masih harus libur. “Ah, biarlah aku libur beberapa hari,”
pikirnya tenang. Meskipun itu berarti dalam beberapa hari rumahnya akan sepi
dari suara penggorengan, senyap dari cuap para tamu dan canda para pembantu.
Sesekali, selama beberapa hari ke depan, bolehlah
dia tak perlu bangun pagi-pagi amat hanya karena harus mengejar realitasnya
dengan pekerjaan-pekerjaan di dapur. Air dididihkan seperlunya saja; beras
ditanak tanpa perlu diburu jarum jam. Lantai-meja-kursi-bifet tetap perlu
dibersihkan, tapi tisu dan tusuk gigi yang baru boleh ditunda. Kecoa, semut dan
lalat harus disingkirkan, tapi sebaiknya tidak membunuhnya. Binatang tak boleh
dibunuh jika tujuannya hanya untuk membuatnya mati; jika binatang dibunuh untuk
membuatnya menghidupi, barulah dapat dimaklumi, meski tak selalu dibenarkan
juga. Menghidupi manusia adalah salah satunya, makhluk pelapar yang penuh cita
rasa! Di balik itu, dengan cara misterius, takdir menakar karma segala makhluk
dengan ukuran setimpal. “Perbuatan baik
akan membawa keberuntungan!” Mantra itu tetap diucap, meski pintu kedai
tidak dibuka.
Kemudian, di tengah sepinya itu, Aswan melihat
seseorang telah berdiri di depan rumahnya. Dia seorang bocah remaja yang tampak
tampan dan kelihatannya akan menjadi lelaki gagah di masa depan.
“Ayah?” seru anak lelaki itu, ketika wajah keduanya
bertemu.
Anak itu menghambur, merapat dalam dekapan sang ayah
yang demikian erat. Ada tangis rindu di mata Aswan. Ada kata-kata yang membuat
pertanyaan “apakah arti hidup” tiba-tiba terasa tak diperlukan lagi.
“Ayah, aku ingin tinggal dengan Ayah saja....”
8 Mei 2015, 10:18 WIB
1 komentar:
Suka...
Posting Komentar