Sabtu, 06 Februari 2016

Sebuah cerita pendek....




Mimpi di Kedai Aswan




Fajar menyingsing adalah tanda untuk meninggalkan mimpi-mimpi, agar dia dapat segera memenuhi realitasnya dengan pekerjaan-pekerjaan di dapur. Siapkan masakan yang baru, dan keluarkan simpanan yang ada di kulkas untuk dipanaskan. Air dididihkan agak banyak untuk merendam teh; beras segera ditanak agar sudah menjadi nasi ketika jarum pendek tiba di angka delapan. Lantai-meja-kursi-bifet sudah harus bersih; tisu dan tusuk gigi tak boleh dalam keadaan habis. Kecoa, semut dan lalat harus disingkirkan, tapi sebaiknya tidak membunuhnya. “Perbuatan baik akan membawa keberuntungan!” Mantra itu diucap di hati. Pintu kedai siap dibuka!
“Be Guling Aswan”, itulah nama kedainya, penjual babi guling pertama dan—untuk sementara ini—menjadi satu-satunya di kota itu. Aswan, pria 41 tahun itu, dalam waktu seperempat tahun telah menjaring puluhan pelanggan. Belum melebihi tiga puluh, tetapi sebagai kuliner segmented pendatang baru di kotanya jumlah itu sudah lumayan. Perlu dimengerti, menjadi kedai babi guling satu-satunya di kota itu bukan berarti para pemakan bisa melupakan masakan babi yang lain. Bermacam restoran Chinese food dengan bahan daging babi sudah lama bercokol dan bersaing di kota itu.
“Anda asli dari Bali?” Pertanyaan itu paling sering dilontarkan para tamu di obrolan pertama mereka dengan Aswan.
“Bukan. Tapi saya belajar resep asli secara langsung di sana,” jelas Aswan. Lalu ceritanya bisa melebar: soal perbedaan cita rasa masakan babi ala Tionghoa dan Bali, persaingan ketat kedai-kedai di kota itu, sampai alasan mengapa dia memilih babi guling. “Ini adalah masakan babi terlezat, menurut saya. Dan saya tahu kedai ini akan menjadi yang pertama di kota ini.”
Sesekali ada yang komplain, “Yang Anda masak ini rasanya agak berbeda dari yang pernah saya coba di Bali.”
Dengan lihai Aswan menjelaskan bahwa tiap daerah di Bali memiliki perbedaan cita rasa, baik itu dalam penyajian maupun menakar bumbu. Babi guling di Tabanan umumnya disajikan dengan nasi merah; babi guling di Gianyar mempertahankan pedas yang tinggi, kecuali beberapa kedai di Ubud yang ramai turis bule—mereka perlu kepedasan yang lebih moderat; sedangkan resep dari Klungkung menyeimbangkan pedas-asin-gurih secara ringan tapi meresap. Tak lupa dia menambahkan: di Buleleng siobak lebih tenar dibandingkan babi guling. Dia membual, siapa juga yang tahu? Mungkin kau tahu, tapi ketika menyimak Aswan mendongeng dengan sedemikian meyakinkan dan mengasyikkan maka hasratmu untuk membantah akan sirna dengan sendirinya.
“Kalau di sini, di Jawa, makanan apa pun harus punya unsur manis. Karenanya bumbu dari Bali saya modifikasi supaya lebih cocok dengan lidah kebanyakan orang di sini: pedas dan manis!” tandas Aswan sambil menuding dan menekan meja dengan telunjuknya. Semua itu dibeberkannya dalam semangat yang amat hangat bagai aroma bumbu Bali ketika menyentuh hidung.
Pada akhirnya pujian dipetik juga, “Biarpun agak berbeda dari yang di Bali, masakan Anda juga enak, kok.” Dan para tamu permisi dengan wajah puas serta kenyang. Tak ada wajah kapok.
Sejauh ini tak ada yang mencerca masakan Aswan. Tak pernah. Entah kalau dalam hati saja. Sedangkan halal-haram adalah soal lain; nalarnya sudah tak mungkin orang yang pantang makan babi masuk ke kedai Aswan untuk makan, sebab papan nama yang dibuat besar-besar sudah mengindikasikan dengan jelas menu utama di situ, bahkan papan nama itu dilengkapi pula dengan gambar babi ditusuk sedemikian rupa. Dan syukurlah itu adalah kota yang toleran. Tak ada demo. Tak ada palakan, mengatasnamakan apa pun.
Bahkan salah satu tetangga Aswan adalah seorang haji, dan dia tidak protes. Dia hanya kadang saja meledek, “Koh Wan, kenapa tak buka kedai kebab saja? Saya akan beli tiap hari. Malah orang yang pernah mencoba keduanya bilang bahwa kebab lebih enak!”
Aswan selalu santai dalam menjawab, “Kebab sudah dikuasai waralaba, Pak Haji, dan di kota ini sudah terlalu banyak yang menjual kebab. Lagi pula, saya kan Cina, kalau kebab saya nanti dituduh tidak halal, saya bisa dimusuhi encik-encik, dianggap merusak citra makanan dari Timur Tengah.” (encik = sebutan bagi warga keturunan Arab di Jawa)
“Betul juga. Lebih baik sampeyan berjualan makanan yang sejak semula memang sudah haram,” sahut Pak Haji.
Keduanya tidak pernah saling tersinggung tiap kali membicarakan masalah—yang untuk orang lain—sangat sensitif itu. Jadi, kau juga tak perlu tersinggung. Akan tetapi, sebaiknya memang jangan kaucoba berbicara seperti itu ke orang lain yang dalam hal-hal fundamental berbeda darimu. Aswan dan Pak Haji punya gaya relasi mereka sendiri yang tak harus kautiru.
Begitulah Aswan, pemilik kedai yang suka membagikan cerita kepada tetamunya, atau kadang siapa saja, hampir mengenai apa pun. Suara nyaring peralatan di dapur ditambah obrolan meriah di meja makan, itu sangat menghibur hatinya. Menjauhkan hatinya dari kesenyapan. Ya, kesenyapan. Sebab, di balik raut dan nada suka cita itu, sesungguhnya ada cerita-cerita yang tak mungkin dia bagikan kepada mereka yang makan. Biarlah para tamu mengecap manis-gurih-pedas masakan di kedai itu, bukan kenangan-kenangan pahit pemasaknya.
Pada suatu ketika dulu, jauh sebelum membuka kedai itu, Aswan adalah seorang pegawai bank, setiap hari kerja duduk di kursi teller. Meskipun rumahnya masih kontrakan, penghasilannya tidak buruk, dan wajahnya juga menarik. Dia memacari kawan semasa kuliahnya, Vera. Lalu mereka menikah pada tahun 2000. Mereka dikaruniai dua orang anak, laki-laki sulung dan perempuan bungsu. Titik balik kehidupan ekonomi Aswan dirintis pada tahun 2005, ketika dia berspekulasi dengan potensi jenmanii. Dia memelihara dengan baik beberapa puluh pot. Tahun 2006 tanaman itu betulan menjadi tren dengan harga jual selangit! Dia kaya secara drastis gara-gara tanaman. Karena kesuksesan itu, dengan percaya diri dia berhenti dari pekerjaannya di bank untuk fokus menekuni nursery. Dia kemudian sanggup membeli rumah sendiri dan juga sebuah mobil baru. Saat itu, kawan-kawannya yang masih bekerja di bank pasti mau bertukar nasib dengannya.
Namun dua tahun kemudian tren tanaman hias anjlok sedrastis ketika naik daun. Jenmanii dan “Gelombang Cinta” bak primadona yang dijemput usia tua secara tergesa-gesa. Jualan Aswan benar-benar tak laku lagi, sedangkan dia harus tetap memiliki sumber uang. Daun-daun jenmanii yang telah sempat menjelma lembaran uang dan ditabung baik-baik di bank, akhirnya dikerahkan untuk banting setir. Dia membangun dan membuka toko kelontong tak jauh dari rumahnya. Meskipun toko kelontong bukan ide besar sama sekali, setidaknya bisa menjadi pertahanan sirkulasi pendapatan, pikir Aswan. Toh, jika dikelola dengan baik, toko kelontong yang membesar juga akan memakmurkan pemiliknya.
Namun spekulasinya kali ini betul-betul luput. Kelontong-kelontong waralaba berlabel mart tiba-tiba menjamur di mana-mana, menjepit toko kelontong konvensional dari semua arah. Pendapatan Aswan menjadi stagnan, lama-lama mulai defisit, lalu pailit.
Kegagalan kali ini membuat kepalanya dipenuhi kebuntuan. Istrinya pun mulai sering mengeluh. Pertengkaran mulai sering terjadi, merembet ke makin banyak hal, kecil maupun besar. Suatu ketika, dalam sebuah pertengkaran yang dipicu oleh kabel setrika yang konslet, Aswan khilaf menempeleng istrinya. Dia menyesal dan minta maaf. Namun konklusi tak bisa ditawar: Vera menggugat cerai—setelah sebelas tahun mereka menikah.
Vera kembali kepada orang tuanya yang tinggal di kota lain. Sesuai putusan pengadilan, anak-anak ikut si ibu. Vera menikah lagi satu setengah tahun kemudian. Bahwa suami barunya lebih kaya bukanlah hal yang mengagetkan bagi Aswan, atau bagi siapa pun. Tidak mengagetkan, tapi tetaplah menyakitkan bagi Aswan.
Kegagalan dalam bisnis maupun keluarga membuat Aswan menjadi pesimistis dalam hal-hal lainnya. Maka dia bermain aman saja: ruko yang kini menganggur disewakan. Seseorang mengontraknya untuk lima tahun. Jumlah uang sewanya sangat lumayan. Namun, alih-alih berinvestasi dengan uang itu, yang dilakukan Aswan hanyalah duduk-duduk seharian dan sendirian di rumahnya. Dia sesapi pahitnya hidup menduda tanpa satu anak pun di sisinya. Ketika kangen anak-anak—dan mantan istrinya—dia terbayang pada kedua orang tuanya yang dulu meninggal dengan tenang di dekat anak-anak yang setia menunggui. Membayang di benaknya, kelak dia akan mati tanpa ditunggui keluarga. Mati sendirian.
“Apa arti hidupku sekarang, dan nanti...?” batin Aswan meraung, menguap bersama asap yang membubung dari batang-batang rokok.
Pikirannya terlalu kalut. Sepertinya itu memancing mimpi-mimpi aneh untuk datang ke dalam tidurnya, selama beberapa malam. Dia melihat sesosok lelaki tua berbusana ala Tiongkok kuno; sosok itu memanggul buntalan besar, berjalan ke arah fajar. Di mimpi yang terakhir dia melihat lelaki tua itu makan babi panggang dengan lahapnya. Babi itu disula di atas api dalam wujud utuh.
“Siapa dia? Penampilannya seperti perantau?” Aswan merenungkan mimpinya, sambil menghabiskan sekotak rokok di beranda. Menurutnya, pasti ada pesan tersembunyi dari mimpi-mimpi itu, semacam wangsit. “Bukankah yang dia makan itu namanya babi guling?”
Di saat hampir bersamaan, dia mulai sadar bahwa tak mungkin baginya terus-menerus menjalani hidup yang mampet seperti itu: membakar uang demi menyumpalkan hawa tembakau ke dalam paru-parunya, tanpa pekerjaan dan hanya menunggu uangnya habis tanpa menghasilkan harga diri. Maka pada saatnya datanglah potongan-potongan visi masa depan, menyusup ke dalam kepalanya. Tanpa merasa terinspirasi cerita Eat, Pray, Love yang memiliki kesan seolah-olah untuk menemukan arti hidup haruslah dengan bertualang sejauh-jauhnya, yang tentu konsekuensinya berbiaya mahal, Aswan membuat keputusan ini: “Aku merantau saja!”
Dia memilih Bali, sebab dia merasa yakin babi guling di mimpi itu adalah sebuah petunjuk. Dan lelaki tua itu berjalan menuju matahari terbit; kita tahu bahwa “matahari terbit” sebetulnya mungkin saja berarti “Jepang”, tetapi masalahnya babi guling tidak berasal dari negeri penuh bunga sakura itu. Faktanya, Bali juga terletak di arah timur, jika ditempuh dari kota tempat Aswan tinggal. Atau entah apa pun itu, yang pasti menganggur sepanjang hari sambil terkenang-kenang keluarga yang telah kandas jelas bukanlah cara yang bisa dipercaya untuk menemukan arti hidup. Maka pergilah dia!
Di Bali, selain plesir ke tempat-tempat elok dengan cara hemat, Aswan tak lupa berburu makanan yang muncul di mimpinya. Dia suka masakan daging babi sejak dulu, tetapi, setelah mencoba, rupanya babi guling adalah yang paling berhasil memikat lidahnya. Puluhan warung babi guling pun disinggahinya. Rianglah dia. Lupalah dia soal kesedihannya.
Ketika di Buleleng, dia bertemu klinik konsultasi spiritual asuhan seorang keturunan Tionghoa. Dia segera teringat lelaki tua di mimpinya. Maka mempirlah dia. Konsultan itu menggelari dirinya Suhu dan sudah tampak uzur, rambutnya di bagian belakang dikepang amat panjang menyerupai Wong Fei Hung, tapi Aswan curiga itu adalah wig. Aswan iseng berkonsultasi, menceritakan mimpinya, dan juga sedikit curhat soal keluarga. Aswan meminta pendapat.
Sayang, Suhu tak bisa menjawab siapa sosok di mimpi Aswan. “Mungkin leluhur Anda,” katanya berspekulasi. Lalu ia malah membicarakan shio dan peruntungan, “Anda lahir tahun 1974, berarti shio Anda Macan Kayu. Macan adalah pemangsa yang buas. Anda cenderung bersifat keras.”
Bagi Aswan, omongan Suhu tak sepenuhnya tepat. Dia merasa macan yang buas tidak merepresentasikan sifatnya. “Saya justru moderat. Kalaupun ada kekerasan yang pernah saya lakukan, itu adalah menampar istri saya—hanya sekali dan karena khilaf, dan saya amat menyesalinya.”
“Sebentar, apa zodiak Anda?”
“Libra, Suhu.”
“Oh, kelunakan itu dipengaruhi zodiak Anda. Libra adalah pemilik sifat yang berimbang dan penyayang, itu menetralisir sifat yang berasal dari Macan,” jelas Suhu yang rupanya juga paham zodiak Yunani—atau malah membuatnya kedengaran seperti seorang pembual? Suhu melanjutkan, dan kalimatnya kali ini akan lebih berefek bagi Aswan: “Macan juga adalah pengintai yang sabar—sebetulnya Anda punya sifat tekun. Unsur kayu memberi peluang dengan tanaman, tapi tak bertahan lama. Sebab bagaimanapun orientasi macan adalah daging. Daging domba atau kambing sangat strategis. Tapi karena yang muncul di mimpi Anda daging babi, maka coba saja itu.”
Dari situlah ide membuka kedai babi guling datang. Bahkan itu menjadi bukan sembarang ide. Aswan menganggapnya sebuah wahyu! Mimpinya ternyata klop dengan shio dan dia pun memang sedang jatuh hati pada babi guling. Itu jelas takdir, pikirnya. Begitulah, Suhu dari Buleleng tak berhasil memberi tahu siapa yang datang di mimpi Aswan, tetapi setidaknya dia telah berhasil membuat Aswan punya gairah untuk bekerja dan berbisnis lagi.
Aswan tahu dan bisa memasak beberapa Chinese food, tetapi cara memasak babi guling tentu sangat berbeda. Supaya bisa mempelajarinya, maka mulailah dia mencari pekerjaan di restoran babi guling. Dia menghubungi beberapa teman yang diketahuinya tinggal di Bali, lalu memanfaatkan koneksi mereka. Teman-temannya ternyata berguna; dalam waktu yang terbilang singkat, Aswan mendapatkan pekerjaan di restoran milik teman-dari-temannya.
Awalnya dia hanya sebagai pencuci perkakas. Tiga bulan kemudian barulah dia boleh membantu menyiapkan base genep—bumbu rempah khas Bali. Di tahun kedua bekerja, dia sudah cekatan membersihkan bagian dalam tubuh babi dan memasangkan sula penyunduk. Dia juga sudah lihai mengguling babi di atas bara; menghasilkan kulit yang renyah dan daging yang sedap. Membuat varian masakan seperti urutan, grabyas, sambal dan lawar juga dikuasainya. Hari-bulan-tahun dia lewatkan untuk menghayati dan mematangkan ilmu barunya, sampai tahun ketiga perantauannya.
Aswan pulang dengan cita-cita barunya. Kedainya didirikan secara sederhana di halaman depan rumah. Dia mendapatkan penyetok babi sembelihan. Dua pembantu direkrut, bertugas mencuci perkakas, menyiapkan bahan bumbu dan membantu memasak sesuai arahannya. Menakar komposisi bumbu, menyula dan mengguling babi adalah mutlak bagian Aswan, tidak bisa tidak, agar cita rasa masakannya terjaga. Dia memasang iklan di majalah lokal, sebab dia sadar lokasi kedainya tak terlalu strategis. Dalam setengah tahun, kedai “Be Guling Aswan” sudah mulai populer di kota itu.
Begitulah sejarah kedai Aswan, yang pada bagian tertentu tak mungkin diceritakan kepada tamunya. Kau sekarang sudah tahu, bagian mana yang tak mungkin dia ceritakan.
Jam enam sore waktunya tutup. Dua pembantunya pulang, tak menginap. Di waktu-waktu yang dipenuhi sisa keletihan itu, suasana mulai kembali senyap. Aswan yang sekarang memang sosok yang lebih bersemangat, tetapi bukan berarti dia sudah kebal terhadap kesepian. Di jam-jam yang remang temaram seperti itu, kerapuhannya selalu menyelinap lagi. Kesepiannya terulang dan dia mulai melamun. Kadang cuma memikirkan hal-hal ringan, soal shio misalnya.
“Kurasa aku bukan tak berjodoh dengan tanaman. Bisnis tanamanku mandeg bukan karena aku ber-shio Macan, tapi karena tren memang sudah berhenti. Pedagang jenmanii yang tidak ber-shio Macan Kayu juga apes sepertiku. Kelak tren batu akik pasti juga begitu,” gumamnya, sambil menyirami beberapa tanaman di saat masjid di ujung gang sudah mendengungkan azan Isya. Kadang dia juga masih memikirkan lelaki tua di mimpinya dulu. Sebenarnya siapa orang itu? Lalu, kalau pikirannya sudah masuk ke hal yang berat, dia akan terantuk pada pertanyaan ini lagi: “Apa arti hidupku sekarang, dan nanti?”
Lalu wajah anak-anaknya terbayang lagi. Willy yang sulung sudah 14 tahun; Selly yang bungsu sudah 12 tahun. Sepulang dari Bali, Aswan sempat mengunjungi mereka untuk memuaskan kerinduan. Akibatnya, itu malah membuat keinginan untuk menjenguk lagi jadi lebih kuat dari sebelumnya, sedangkan anak-anak itu sudah memiliki ayah baru. Rasa tersisih menjadi lebih menyakitkan bagi Aswan. Dia selalu ingin tahu kabar anak-anaknya, tapi dia takut perasaan itu nanti berkembang menjadi sikap posesif di tempat yang keliru. Dia tahu diri. Dia tahu bahwa dulu dialah yang menampar istrinya. Vera layak mendapat suami baru yang lebih baik, jika memang itu yang dikehendakinya. Membiarkan anak-anak ikut si ibu adalah bagian dari cara Aswan menebus kesalahannya pada Vera. Bahkan ketika Willy mengaku tak terlalu suka pada ayah barunya, Aswan tetap menasihati, “Tapi kamu harus menyayangi Mama.”
Pagi-siang dibuka dengan aroma sedap dan derai para tamu, lalu semua meredup dalam kemuraman senja. Itulah hari-hari Aswan bersama kedai kebanggaannya. Hari-hari tanpa ditemani keluarga. Perantauannya tak bisa mengubah itu. Pelanggan kedainya memang sudah puluhan, tetapi Aswan tak mau tergesa-gesa menyebut dirinya sukses. Dulu dia pernah menjadi takabur ketika bisnis tanamannya laris manis, tapi tanpa diduganya ternyata berakhir pahit. Mungkin di tahun berikutnya, jika pelanggannya sudah melebihi seratus dan masih terus bertambah, barulah dia layak menyebut diri sukses.
“Dan saat itu mungkin barulah aku pantas mencari istri lagi,” pikir Aswan dalam galaunya. “Kalau memang aku masih laku....”
Tibalah akhir pekan, besok kedai itu akan libur sehari karena Minggu. Hari itu babi pesanan tiba agak sore. Aswan ingin menanganinya malam itu juga agar besok bisa lebih banyak bersantai. Organ-organ bagian dalam dari babi itu sudah dipisahkan dalam keadaan bersih—meski harus tetap dicuci lagi—dan bisa disimpan untuk sementara waktu di dalam kulkas. Petang itu Aswan hendak membilas lalu memasangkan sula ke badan babi, lalu menyimpannya ke dalam pembeku dan besok malam tinggal diguling. Dia berkelakar sendiri sambil menyiapkan peralatan, “Oh, babi muda yang montok, kaulah yang akan menemani malam Mingguku. Kurasa kau seekor jomblo saat disembelih, sebab kau masih begitu muda. Mungkin yang kurasakan saat ini sama seperti yang kaurasakan ketika disembelih: amat kesepian dan tak ada yang menolong kita. Menyakitkan sekali. Kita senasib dengan cara yang berbeda.”
Namun kali ini ada perasaan yang tiba-tiba sangat berbeda dari sebelumnya. Entah kenapa, ketika membilas babi itu Aswan merasa seperti memandikan seorang anak. Secara bergantian wajah Willy dan Selly saat balita membayangi benaknya—betapa montok mereka. Aswan sempat memaki dirinya sendiri yang telah membayangkan seekor babi sebagai anaknya! Anehnya, meskipun sudah ditepis, bayangan kedua anaknya selalu kembali lagi.
Aswan mulai menggerutu, “Sepertinya kau membuat kutukan ketika disembelih! Akan kubersihkan cepat-cepat saja tubuhmu, sebelum kau menulariku dengan pikiran-pikiran aneh yang lain.”
Sekarang babi itu siap untuk disula—ditusuk dari mulut hingga tembus ke bagian yang lain. Namun lagi-lagi hati Aswan diusik oleh perasaan yang bukan-bukan: dia tiba-tiba merasa sayang untuk menyunduk babi itu. Barangkali karena wajah babi itu begitu damai, unyu, sehingga seolah-olah tak sepantasnya ia dibunuh dan dimasak dengan cara sebengis itu. Namun bukankah wajah babi yang sudah-sudah juga begitu? Ada apa dengan kali ini?
“Ah, sepertinya kau memang mengutuk penyembelih dan pembeli dagingmu!” keluh Aswan, merasa heran sendiri. Lalu dia memohon di hadapan tubuh mati itu, “Maafkan aku yang harus memperlakukan tubuhmu seperti ini. Kita memang sudah punya bagian masing-masing di dalam takdir. Aku harus menjalani jalan hidupku, kiranya kau tak marah. Babi-babi yang sebelumnya juga tak pernah marah.”
Sekonyong-konyong muncul wujud yang amat ganjil di dapur eksekusi yang senyap itu, serupa asap dari tubuh binatang mati itu menggumpal-gumpal ke atas. Aswan kaget bukan kapalang, sampai hampir terjungkal dari kursi!
“Siapa kau? Kau hantu atau apa?!” hardik Aswan dalam kaget dan takutnya.
Penampakan itu membentuk sesosok manusia yang wajahnya tampak utuh; pipinya gemuk, matanya sipit, tapi tubuhnya tampak samar—sepertinya ia juga bertubuh gemuk. Makhluk itu tak berkata atau bersuara apa-apa. Namun ia tampak begitu memelas, seperti menangis, lalu seperti bersujud dan memohon di depan Aswan.
“Apa maumu?” tanya Aswan, setelah yakin makhluk itu tak bermaksud mencelakainya. Namun makhluk itu tak bisa berkata-kata, hanya terus-menerus memperlihatkan wajah melasnya yang mengundang belas kasihan.
“Dia ingin kau segera lakukan tugasmu, Aswan,” suatu suara menjawab. Aswan cepat-cepat mencari asal suara itu. Di belakangnya tampaklah lelaki tua yang dulu datang di mimpinya. Aswan kaget, tapi cepat kembali tenang sebab dia pernah berjumpa sebelumnya dalam mimpi—dan lelaki tua itu juga tak terlihat jahat.
“Melakukan tugasku?” tanya Aswan bingung. “Tugasku yang mana?”
“Dia ingin kau segera menusuknya saja, lalu memasaknya sebagaimana pekerjaanmu sehari-hari,” jelas lelaki tua itu. “Dia adalah roh dari binatang itu. Dan dia adalah anakmu di kehidupan sebelumnya.”
Kemudian, sekonyong-konyong Aswan merasa diperlihatkan gambaran masa lalunya oleh suatu visi, bersamaan dengan ngiang suara lelaki tua itu. “Si gendut itu adalah A Sun, anakmu. Di masa hidupnya dia hanya tahu bersenang-senang dengan cara mengeruk hartamu.” Lalu pemandangan berganti pada sosok lelaki paruh baya sedang menyusuri sungai, “Itu adalah dirimu. Kau adalah seorang pedagang yang cukup kaya. Hari itu kau menemukan seekor babi yang terseret arus sungai, dan menolongnya. Bertahun-tahun kau memeliharanya sebagai binatang yang kaukasihi. Ketika hartamu terus dirongrong A Sun, babi tua itu tetap kau pertahankan.” Pemandangan berganti lagi, “Tapi lihatlah, ketika kau sedang tak di rumah, A Sun menyembelih babi tua itu, memakan sebagian dagingnya, lalu sisanya dijual ke pasar agar dia bisa berjudi. Kau amat marah. Tapi A Sun yang kurang ajar itu balas mengutukimu dan membakar rumahmu. Karma membuatnya harus membayar di kehidupan yang sekarang.”
Pemandangan itu lalu lenyap. Lutut Aswan roboh di lantai. Dia menatap nanar babi mati di hadapannya, dan arwah A Sun yang masih bersujud.
“A Sun menyesali perbuatannya di masa lalu. Dia ingin kaulakukan pekerjaanmu tanpa ragu. Sebab, dengan begitu hukum karma yang dijalaninya saat ini tertebus secara setimpal, lalu kehidupannya yang berikut bisa lebih baik.”
Hati Aswan tersentuh. “Jika itu bisa membuat bebannya jadi lebih ringan, tentu aku akan mengabulkannya. Tapi mengapa tanganku seperti tak sanggup? Jika ia memang menuntut demikian, lalu apa yang membuatku merasa kesulitan untuk melakukannya?”
“Itu karena aku keberatan,” jawab lelaki tua itu. “Aswan, lihatlah baik-baik, aku adalah ayah A Sun.”
Aswan ternganga. Telunjuknya gemetar menuding wajah lelaki tua itu.
“Aku adalah rupamu ketika mati di usia 70 tahun di kehidupan lalu,” ujar lelaki tua itu terkekeh. “Kita adalah roh yang sama. Akulah yang berbicara sebagai kata hatimu: jangan perlakukan babi yang ini seperti yang lain!”
Aswan terpekur lama. “Tetapi, bukankah inilah cara untuk menyudahi penderitaannya...?”
Lelaki tua itu menggeleng. “Karmalah yang menuntut begitu. Namun, tak bisakah hati kita lebih pemaaf?”
Aswan terdiam, merenung panjang dengan kaki terkulai di lantai. Dia menatap A Sun. Perlahan-lahan, sosok gemuk itu menguap kian samar, lalu hilang dari pandangan. Aswan melihat wajah A Sun sempat tersenyum sebelum ia betul-betul lenyap.
“Mengapa ia tak bicara sedikit pun?” gumam Aswan.
Jawab lelaki tua, “Itu adalah misteri dari hukum kehidupan yang dijalankan oleh roda-roda takdir—aku sendiri juga tidak tahu.”
“Lalu mengapa kita bisa bercakap-cakap?”
Lelaki tua terkekeh, “Kaupikir kita saling berucap dengan lidah? Tidak. Sebab kita roh yang sama. Kita saling tahu tanpa orang lain tahu.”
Aswan mengerti. Namun kini dia mulai mencemaskan hidupnya lagi. “Kurasa kedai ini memang sudah takdirku, untuk mempertemukanku dengan kejadian ini. Tapi setelah arwah A Sun tenang, apa yang akan kudapat selanjutnya? Apakah hanya ini saja tujuan sesungguhnya?”
“Semua akan diungkap pada saatnya, Aswan.” Kemudian lelaki tua bercerita lagi, “Perbuatan baikku di masa lalu terhadap babi yang malang itu menjodohkanmu dengan usaha ini. Dulu aku sendiri pedagang yang jujur, tapi..., ah, sayangnya aku jadi terlalu mengutamakan hartaku. Tabiat A Sun adalah hasil dari lemahnya didikanku. Aku kurang sayang pada keluarga, itu kusesali di hari tuaku. Maaf, Aswan, sepertinya aku membuatmu harus membayar akibatnya juga. Kedai ini akan mencukupimu, tapi mungkin tak akan sampai membuatmu kaya raya.”
Mereka bertatap-tatapan—dua wajah dari roh yang sama, dari waktu yang berbeda. “Kurasa, sekarang giliranku untuk mulai memaafkan diriku sendiri,” ucap Aswan dalam-dalam. “Lagi pula, aku juga sudah pernah kaya. Dan kekayaan itu membuatku tak dicintai sepenuh hati.”
Sama seperti A Sun, lelaki tua itu tersenyum sebelum menghilang dari pandangan. Suara terakhirnya, “Kau sungguh betul. Kasih sayanglah harta yang paling menghidupi!” Lalu lenyaplah sosok itu ketika berjalan menuju pintu, ke arah fajar.
Di dapur senyap yang diterobos sinar pagi itu, Aswan terbangun dari tidurnya.
Minggu pagi itu, Aswan mengubur jasad babi yang semalam telah mendatangkan mimpi aneh padanya. Dikuburnya di halaman belakang rumah, disertai doa serta curahan pengampunan dari hatinya. “Takdir memiliki banyak pintu yang tak kita duga. Mungkin semalam hanyalah mimpi belaka. Tapi tak ada buruknya aku memperlakukanmu begini. Semoga jiwamu tak resah lagi. Semoga baiklah hidupmu berikutnya.”
Karena telah memesan babi yang tak jadi dimasak, berarti besok Aswan masih harus libur. “Ah, biarlah aku libur beberapa hari,” pikirnya tenang. Meskipun itu berarti dalam beberapa hari rumahnya akan sepi dari suara penggorengan, senyap dari cuap para tamu dan canda para pembantu.
Sesekali, selama beberapa hari ke depan, bolehlah dia tak perlu bangun pagi-pagi amat hanya karena harus mengejar realitasnya dengan pekerjaan-pekerjaan di dapur. Air dididihkan seperlunya saja; beras ditanak tanpa perlu diburu jarum jam. Lantai-meja-kursi-bifet tetap perlu dibersihkan, tapi tisu dan tusuk gigi yang baru boleh ditunda. Kecoa, semut dan lalat harus disingkirkan, tapi sebaiknya tidak membunuhnya. Binatang tak boleh dibunuh jika tujuannya hanya untuk membuatnya mati; jika binatang dibunuh untuk membuatnya menghidupi, barulah dapat dimaklumi, meski tak selalu dibenarkan juga. Menghidupi manusia adalah salah satunya, makhluk pelapar yang penuh cita rasa! Di balik itu, dengan cara misterius, takdir menakar karma segala makhluk dengan ukuran setimpal. “Perbuatan baik akan membawa keberuntungan!” Mantra itu tetap diucap, meski pintu kedai tidak dibuka.
Kemudian, di tengah sepinya itu, Aswan melihat seseorang telah berdiri di depan rumahnya. Dia seorang bocah remaja yang tampak tampan dan kelihatannya akan menjadi lelaki gagah di masa depan.
“Ayah?” seru anak lelaki itu, ketika wajah keduanya bertemu.
Anak itu menghambur, merapat dalam dekapan sang ayah yang demikian erat. Ada tangis rindu di mata Aswan. Ada kata-kata yang membuat pertanyaan “apakah arti hidup” tiba-tiba terasa tak diperlukan lagi.
“Ayah, aku ingin tinggal dengan Ayah saja....”



8 Mei 2015, 10:18 WIB






1 komentar:

Anonim mengatakan...

Suka...