Kamis, 07 April 2016

Sebuah cerpen....




BINATANG DI LANGIT-LANGIT



Awasi langit-langitmu.
Kau mungkin pernah dengar tentang “penjaring mimpi”. Itu adalah semacam jimat berbentuk jaring-jaring yang dibingkai sedemikian rupa cantiknya, hingga sepintas menyerupai hiasan gantung belaka. Jimat itu dibuat suku Indian untuk menangkal mimpi buruk datang ke dalam tidur mereka. Mereka keliru. Kuberi tahu padamu: kalaupun mereka tak mengalami mimpi buruk setelah memasang jimat itu di langit-langit, bukan karena mimpi buruk yang ditangkal, melainkan roh-roh yang hendak mencelakai mereka ketika tidur. Mimpi buruk sesungguhnya justru merupakan mekanisme alam bawah sadar kita untuk menggagalkan serangan roh-roh itu. Mimpi buruk itu bertindak sebagai alarm. Ketika roh-roh jahat mengancam, mimpi buruk membuat kita tersentak bangun, dengan demikian alam sadar kita menyala dan itu membuat roh-roh jahat gagal menguasai tidur kita, sebab kita telah terbangun dari ketidaksadaran kita.
“Penjaring mimpi” sekarang banyak kaujumpai di toko-toko souvenir. Hati-hati. Jika kau membelinya, pastikan jangan kaupasang di langit-langit kamar. Bukan karena jimat Indian itu omong kosong. Ketahuilah, di kalangan orang-orang Indian, jimat itu bekerja karena sudah dimantrai oleh seorang shaman. Jika tidak dimantrai, maka ia hanyalah mainan jaring-jaring belaka. Dan yang dijual di toko-toko itu pastilah bukan buatan seorang shaman. Bukan jimat. Jika kaupasang mainan itu di langit-langit kamarmu, roh-roh jahat justru melihatmu sedang menantang mereka, dan nyatanya jaring-jaring yang kaupasang itu mainan belaka. Tinggal tunggu waktu, suatu saat kau justru akan celaka dalam tidurmu.
Akan kuberi tahu rahasia kuno yang justru sering diabaikan orang. Kau tahu, dari manakah orang-orang Indian itu mendapatkan ide membuat jaring-jaring mimpi? Dari laba-laba. Binatang itu membuat jaring di banyak tempat. Hanya saja, tenda-tenda orang Indian bukan tempat yang menyenangkan bagi binatang itu, sebab orang-orang Indian di samping membangun tenda juga membuat perapian tak jauh dari tenda-tenda mereka. Asap, itu mengusir laba-laba. Maka jaring-jaring mimpi dibuat untuk menggantikan. Sekarang kau paham: jaring laba-laba adalah penangkal roh jahat yang sebenarnya. Masalahnya, kau juga mengusir laba-laba pembuat jaring dari langit-langit kamarmu, bukan?
Semakin bersih langit-langit kamarmu dari jaring laba-laba, semakin mudah roh jahat menyerangmu ketika tidur. Tak ada saat paling lemah bagimu selain ketika tidur. Sebab kau tak sadar. Bahkan, kadang rohmu diam-diam meninggalkan tubuhmu, dan tubuhmu dalam keadaan kosong. Roh-roh tak berniat menguasai tubuhmu. Namun mereka akan berupaya membuat rohmu tersesat dan tak dapat kembali ke dalam tubuh. Hasilnya: seseorang mati ketika tidur. Dan roh dari orang itu mengira dirinya hanya menjalani suatu mimpi yang panjang, hingga akhirnya mengetahui bahwa jasadnya sudah berada di liang lahat. Kadang ada roh orang mati yang bersikeras kembali ke jasadnya yang baru dikubur sehari dua hari, mengira ia dapat hidup lagi dan mendobrak tanah lalu keluar dari liang lahat. Yang terjadi, justru mereka terjebak di dalam tanah hidup-hidup. Dia berteriak-teriak di dalam tanah. Orang yang mendengar mengiranya suara hantu, dan memilih lari kocar-kacir. Hasilnya: dia mati lagi. Kali ini mati untuk seterusnya. Begitulah roh jahat mencelakai manusia ketika tidur. Dan kejahatan itu seringkali berhasil, sebab kau mengusir laba-laba dari langit-langit kamarmu.
Inilah pengetahuan kuno itu: laba-laba adalah binatang penjaga bagi manusia, diutus secara rahasia oleh pencipta kehidupan. Orang-orang tua di Jawa, dahulu, tak mau mengusir laba-laba yang masuk ke rumah. Mereka menganggapnya tanda akan datang rezeki. Kadang binatang itu juga dianggap membawa tanda bahwa akan ada tamu baik hati datang ke rumah. Maka jangan terkejut bahwa laba-laba oleh orang Jawa disebut “monggo”. Dalam makna lain, “monggo” berarti mempersilakan—sebuah salam yang biasa diucapkan kepada tamu. Hanya saja, orang Jawa luput mengetahui tugas laba-laba lainnya: bahwa jaring-jaringnya mengusir roh jahat.
Itulah kenapa Sarwo selalu membersihkan rumahnya dari sawang, selalu sampai sebersih-bersihnya. Dia tak paham pengetahuan kuno itu. Duda tua itu tinggal sendirian di rumahnya yang cukup terawat. Dia memiliki kelontong di bagian depan rumah. Namun di suatu pagi yang sudah agak siang kelontongnya belum dibuka juga, sedangkan dari jendela kaca dapat dilongok sepeda motor miliknya ada di dalam. Si pelongok, yaitu Pak RT yang datang dengan maksud menarik iuran ronda, menyimpulkan bahwa Sarwo ada di rumah. Karena berkali-kali ketukan tak berhasil membuat pintu dibukakan, Pak RT memutar ke belakang, lalu mengintip dari luar jendela kamar Si Duda. Melewati celah dari tirai yang tak menutup sepenuhnya, terlihat Sarwo yang berkaos singlet itu terbujur kaku di atas tempat tidurnya dengan kulit membiru. Mati. Dengan mata masih terbuka, membelalak ke atas.
Kampung geger. Warga dan kerabat terdekat Sarwo datang mengurusi tubuh tak bernyawa itu dalam kesedihan yang bercampur bingung dan gidik. Kematian Sarwo tidak wajar. Mata melotot, mulut menganga berbusa, jari-jari tangan mencengkeram ke dalam, sekujur tubuh kaku. Tak ada darah tercecer. Tak ada luka senjata tajam. Tak ada bekas jerat tali. Cuma ada sebekas gigitan di lehernya. Gigitan yang amat kecil, tetapi menghasilkan bengkak merah biru semacam bisul. Orang-orang menyimpulkan: Sarwo mati digigit ular. Ular yang sangat mematikan, dan secara entah bagaimana telah masuk ke kamarnya, dan menghabisi duda tua itu.
Namun ada petunjuk yang lebih dramatis sekaligus memalukan yang akan membuat kematian Sarwo kelak menjadi legenda di kampung itu, bahkan menyebar sampai ke seluruh kota. Sudah kujelaskan bahwa dia mati dalam kondisi kaku sekujur tubuh. Kupertegas: itu termasuk kemaluannya. Pada jasad biru itu, seonggok daging di selangkangannya tampak membengkak, tegak keras. Mati dalam keadaan ereksi!
“Apakah ini semacam azab?” lontar seorang pengurus jenasah dalam kengerian.
“Apakah azab harus menimpa orang baik-baik?’ sahut pengurus jenasah lainnya.
Salah satu kerabat mengeras tangisnya saat mendengar bisik-bisik para pengurus jenasah itu. Kerabat yang lain menghardik, meminta para pengurus jenasah itu pergi saja jika tak bisa menempatkan omongan yang pantas di rumah duka.
Bisik-bisik tetap tak dapat dihindari, dan merambah semakin luas di halaman yang telah dipenuhi pelayat. Beberapa mengembuskan gosip tentang kembalinya setan mitos bernama Anja-anja; makhluk gaib ini suka mengisap darah manusia di waktu tidur, dan korbannya pasti mati. Beberapa mengulik tentang jenis-jenis ular yang gigitannya memungkinkan korban mati dalam keadaan penis tegang—tapi tak ada yang mampu menjawab secara pasti ular jenis apa yang sanggup berbuat demikian. Beberapa sepakat soal azab, dengan prasangka bahwa di balik kesehariannya yang baik dan supel siapa tahu Sarwo menyembunyikan beberapa kemaksiatan.
Namun kerabat Sarwo, didukung Pak RT dan tetangga-tetangga lainnya yang merasa perlu berpikir rasional, sepakat untuk menyerahkan kesimpulan pada petugas medis. Polisi sempat datang memeriksa jenasah dan beberapa saksi, dan berakhir dengan kesimpulan bahwa kematian Sarwo memang disebabkan gigitan “sesuatu”, dan mungkin itu murni kecelakaan. Selebihnya, polisi pun mempersilakan petugas medis mengambil sampel darah dari jenasah untuk diteliti. Petugas medis dari Puskesmas mengambil darah dan cairan-cairan lain dari jenasah Sarwo, termasuk darah yang tiba-tiba keluar deras dari kemaluan dan memerahkan kain kafan. Setelah darah di kemaluan itu keluar, barulah batang itu mengerut—kata orang-orang. Hari itu juga jenasah Sarwo tetap dimakamkan.
Aku sudah menyinggung tentang Anja-anja. Betul, setan itu memang ada. Ia semacam momok bersayap yang akan mendatangi malam sial seseorang, lalu secara tak terlihat mengisap darah orang itu ketika tidur, sampai orang itu mati. Mungkin setan ini adalah anak turun Raja Vlad Dracul dari Transylvania, dengan cara entah bagaimana tiba di Jawa. Atau, mungkin tak ada hubungannya dengan Vlad Dracul. Dan, sebetulnya juga tak ada hubungannya dengan kematian Sarwo.
Anja-anja sudah lama menghilang, sebab Tanah Jawa kini tak lagi gelap di malam hari. Lampu-lampu telah menelanjangi banyak pelosok kegelapan di negeri yang dulu sangat angker ini. Banyak jenis setan yang tak kuat menghadapi kondisi terang, Anja-anja termasuk di antaranya. Meskipun jaring laba-laba mampu membentengi langit-langit dari menyusupnya roh jahat, dan Sarwo selalu membersihkan rumahnya dari binatang itu, nyatanya bukanlah setan yang membunuh Sarwo. Dia tak dibunuh oleh sesuatu yang seharusnya diusir laba-laba. Dia dibunuh oleh laba-laba itu sendiri.
Setelah pulang dari penguburan Sarwo, Bobi memamerkan senyum puasnya di hadapanku. Remaja lugu itu memang membutuhkan motivator yang tepat supaya dapat menjadi liar secara selayaknya. Sebab remaja adalah usia setengah-setengah: malu tapi tak sanggup menangkis, marah tapi tak kuat melawan, muak tapi ragu melapor. Dia butuh orang yang dapat meramukan malu-marah-muak itu menjadi satu kekuatan bulat: pembalasan. Akulah orang itu.
“Kau puas dia sudah mati?” tanyaku.
“Dengan cara seperti itu, sangat puas!” jawabnya, menggelegak pelan tetapi mantap. “Dia sekarang boleh menangisi batang najisnya itu di liang lahat.”
Dendam Bobi sudah sepantasnya. Sarwo mencabulinya sejak dua tahun belakangan. Duda tua itu dulu ditinggalkan mantan istri dan anak—yang di hari kematiannya bahkan tak sudi datang—karena kegatalannya juga. Kupikir begitu. Dan Sarwo pintar memoles tampangnya menjadi wajah baik hati di hadapan hampir semua orang. Begitulah seorang pemangsa. Memang harus licik. Dia harus baik kepada banyak orang supaya leluasa melakukan keburukan terhadap segelintirnya. Dan dia memilih korban yang tepat: Bobi, anak yatim piatu yang dipelihara nenek pikun. Pada malam ataupun siang yang memihak nafsu jahat, Sarwo menyelinap ke rumah nenek pikun untuk memastikan si cucu ada tetapi si nenek tak ada. Pemangsa memang harus pintar. Dan terbukti penjahat itu telah menang beberapa kali, sebelum akhirnya aku datang sebagai paman Bobi dan mendapatkan cerita itu dari Bobi sendiri, lalu kami menyusun sebuah pembalasan.
Sarwo, dialah setannya. Dialah roh jahat itu. Karena roh jahat itu telah mendiami satu tubuh manusia, jaring laba-laba tak kuat lagi menghalaunya, sebanyak apa pun jaring telah dibuat. Maka kuutus laba-laba istimewa untuk membunuh setan itu. Ia adalah satu yang berhasil ditemukan setelah puluhan kawannya yang bersama-sama datang dari Brazil tumpah menyebar melarikan diri, gara-gara petugas pelabuhan memergoki usaha penyelundupan itu. Ia ditampung oleh seorang pedagang reptil dan serangga, sebelum akhirnya kubeli untuk melengkapi koleksi laba-labaku. Brazilian Wandering Spider, kuambil dari rumahku di kota. Tarantula hanyalah junior baginya, dan Black Widow hanyalah janda gatelan. Jika ada laba-laba berani menerkam bahkan mengejar manusia, maka hanyalah Si Laba-laba Brazil ini. Bobi sendiri yang melemparkan binatang itu ke kasur Sarwo melalui jendela. Eksekusi itu memang haknya. Kalau laba-laba itu kelak akan ditemukan atau menggigit orang lain, biarlah itu menjadi perkara lain.
Laba-laba itu baik jika kau tahu tugasnya masing-masing. Jangan usir Si Pembuat Jaring dari langit-langitmu. Sebab ia bertugas melindungi tidurmu dari roh jahat dan mimpi buruk. Meski begitu, kau pun tetap harus waspada terhadap langit-langit itu. Jaring laba-laba melindungimu dari roh jahat dan mimpi buruk, tetapi tak bisa melindungimu dari binatang-binatang lain yang juga tinggal di langit-langit. Di balik eternit kamarmu, di bawah genting, ada ruang pengap dan lembap yang penuh debu-debu menggumpal, di situlah kalajengking dan kelabang seringkali tinggal. Kau tak tahu kapan kalajengking dan kelabang akan merayap keluar lalu jatuh dari langit-langit dan menimpa wajahmu ketika tidur. Ia akan menyengat matamu, atau masuk ke telingamu lalu menggigit. Jika kau diserang di lokasi lain, kalajengking dan kelabang tak cukup untuk membunuhmu. Tapi serangan di kepala, mungkin akan membuatmu tak bangun lagi. Kau akan mati. Tidak mati dalam keadaan ereksi, tetapi mati dalam keadaan yang tetap menyakitkan. Maka awasilah langit-langitmu.
Tunggu dulu! Bukan berarti kau tak perlu mengawasi lantaimu. Kau tahu ada puluhan laba-laba dari Brazil yang lepas dan melarikan diri. Mungkin satu atau dua dari mereka sedang bersembunyi di kolong rumahmu. Bahkan mungkin beranak-pinak. Gigitannya akan membuatmu kesakitan sampai ereksi, lalu mati. Dan ketahuilah: mereka berani mengejar! 






catatan: foto bukan milik penulis cerita, melainkan hasil meminjam dari kazanah google.com.





 

4 komentar:

The Dannsaurus Blog mengatakan...

Kalau buat cerita fiksi apa harus cari data sedetail nonfiksi juga?

Noel mengatakan...

Yang penting datanya akurat dan bisa dipercaya. Kalau datanya detail lebih baik. Tapi ketika dituangkan sebagai elemen pendukung dalam fiksi, sebetulnya tak harus detail. Jika data-data itu harus dimasukkan dalam narasi ataupun dialog, masukkan secara proporsional dan sebagaimana perlu saja. Dan eksekusilah secara estetik--sebab menulis fiksi jelas tidak sama dengan menulis artikel.

The Dannsaurus Blog mengatakan...

Makasih infonya.

Anonim mengatakan...

Mas noel karung 25 nya kapan di post ?