BINATANG DI LANGIT-LANGIT
Awasi
langit-langitmu.
Kau
mungkin pernah dengar tentang “penjaring mimpi”. Itu adalah semacam jimat
berbentuk jaring-jaring yang dibingkai sedemikian rupa cantiknya, hingga
sepintas menyerupai hiasan gantung belaka. Jimat itu dibuat suku Indian untuk
menangkal mimpi buruk datang ke dalam tidur mereka. Mereka keliru. Kuberi tahu
padamu: kalaupun mereka tak mengalami mimpi buruk setelah memasang jimat itu di
langit-langit, bukan karena mimpi buruk yang ditangkal, melainkan roh-roh yang
hendak mencelakai mereka ketika tidur. Mimpi buruk sesungguhnya justru
merupakan mekanisme alam bawah sadar kita untuk menggagalkan serangan roh-roh
itu. Mimpi buruk itu bertindak sebagai alarm. Ketika roh-roh jahat mengancam, mimpi
buruk membuat kita tersentak bangun, dengan demikian alam sadar kita menyala
dan itu membuat roh-roh jahat gagal menguasai tidur kita, sebab kita telah
terbangun dari ketidaksadaran kita.
“Penjaring
mimpi” sekarang banyak kaujumpai di toko-toko souvenir. Hati-hati. Jika kau
membelinya, pastikan jangan kaupasang di langit-langit kamar. Bukan karena
jimat Indian itu omong kosong. Ketahuilah, di kalangan orang-orang Indian, jimat
itu bekerja karena sudah dimantrai oleh seorang shaman. Jika tidak dimantrai, maka ia hanyalah mainan jaring-jaring
belaka. Dan yang dijual di toko-toko itu pastilah bukan buatan seorang shaman. Bukan jimat. Jika kaupasang
mainan itu di langit-langit kamarmu, roh-roh jahat justru melihatmu sedang
menantang mereka, dan nyatanya jaring-jaring yang kaupasang itu mainan belaka.
Tinggal tunggu waktu, suatu saat kau justru akan celaka dalam tidurmu.
Akan
kuberi tahu rahasia kuno yang justru sering diabaikan orang. Kau tahu, dari
manakah orang-orang Indian itu mendapatkan ide membuat jaring-jaring mimpi?
Dari laba-laba. Binatang itu membuat jaring di banyak tempat. Hanya saja,
tenda-tenda orang Indian bukan tempat yang menyenangkan bagi binatang itu,
sebab orang-orang Indian di samping membangun tenda juga membuat perapian tak
jauh dari tenda-tenda mereka. Asap, itu mengusir laba-laba. Maka jaring-jaring
mimpi dibuat untuk menggantikan. Sekarang kau paham: jaring laba-laba adalah
penangkal roh jahat yang sebenarnya. Masalahnya, kau juga mengusir laba-laba
pembuat jaring dari langit-langit kamarmu, bukan?
Semakin
bersih langit-langit kamarmu dari jaring laba-laba, semakin mudah roh jahat
menyerangmu ketika tidur. Tak ada saat paling lemah bagimu selain ketika tidur.
Sebab kau tak sadar. Bahkan, kadang rohmu diam-diam meninggalkan tubuhmu, dan
tubuhmu dalam keadaan kosong. Roh-roh tak berniat menguasai tubuhmu. Namun
mereka akan berupaya membuat rohmu tersesat dan tak dapat kembali ke dalam
tubuh. Hasilnya: seseorang mati ketika tidur. Dan roh dari orang itu mengira
dirinya hanya menjalani suatu mimpi yang panjang, hingga akhirnya mengetahui
bahwa jasadnya sudah berada di liang lahat. Kadang ada roh orang mati yang
bersikeras kembali ke jasadnya yang baru dikubur sehari dua hari, mengira ia
dapat hidup lagi dan mendobrak tanah lalu keluar dari liang lahat. Yang
terjadi, justru mereka terjebak di dalam tanah hidup-hidup. Dia
berteriak-teriak di dalam tanah. Orang yang mendengar mengiranya suara hantu,
dan memilih lari kocar-kacir. Hasilnya: dia mati lagi. Kali ini mati untuk
seterusnya. Begitulah roh jahat mencelakai manusia ketika tidur. Dan kejahatan
itu seringkali berhasil, sebab kau mengusir laba-laba dari langit-langit
kamarmu.
Inilah
pengetahuan kuno itu: laba-laba adalah binatang penjaga bagi manusia, diutus
secara rahasia oleh pencipta kehidupan. Orang-orang tua di Jawa, dahulu, tak
mau mengusir laba-laba yang masuk ke rumah. Mereka menganggapnya tanda akan
datang rezeki. Kadang binatang itu juga dianggap membawa tanda bahwa akan ada
tamu baik hati datang ke rumah. Maka jangan terkejut bahwa laba-laba oleh orang
Jawa disebut “monggo”. Dalam makna
lain, “monggo” berarti
mempersilakan—sebuah salam yang biasa diucapkan kepada tamu. Hanya saja, orang
Jawa luput mengetahui tugas laba-laba lainnya: bahwa jaring-jaringnya mengusir
roh jahat.
Itulah
kenapa Sarwo selalu membersihkan rumahnya dari sawang, selalu sampai
sebersih-bersihnya. Dia tak paham pengetahuan kuno itu. Duda tua itu tinggal
sendirian di rumahnya yang cukup terawat. Dia memiliki kelontong di bagian
depan rumah. Namun di suatu pagi yang sudah agak siang kelontongnya belum
dibuka juga, sedangkan dari jendela kaca dapat dilongok sepeda motor miliknya
ada di dalam. Si pelongok, yaitu Pak RT yang datang dengan maksud menarik iuran
ronda, menyimpulkan bahwa Sarwo ada di rumah. Karena berkali-kali ketukan tak
berhasil membuat pintu dibukakan, Pak RT memutar ke belakang, lalu mengintip
dari luar jendela kamar Si Duda. Melewati celah dari tirai yang tak menutup
sepenuhnya, terlihat Sarwo yang berkaos singlet itu terbujur kaku di atas
tempat tidurnya dengan kulit membiru. Mati. Dengan mata masih terbuka,
membelalak ke atas.
Kampung
geger. Warga dan kerabat terdekat Sarwo datang mengurusi tubuh tak bernyawa itu
dalam kesedihan yang bercampur bingung dan gidik. Kematian Sarwo tidak wajar.
Mata melotot, mulut menganga berbusa, jari-jari tangan mencengkeram ke dalam,
sekujur tubuh kaku. Tak ada darah tercecer. Tak ada luka senjata tajam. Tak ada
bekas jerat tali. Cuma ada sebekas gigitan di lehernya. Gigitan yang amat
kecil, tetapi menghasilkan bengkak merah biru semacam bisul. Orang-orang
menyimpulkan: Sarwo mati digigit ular. Ular yang sangat mematikan, dan secara
entah bagaimana telah masuk ke kamarnya, dan menghabisi duda tua itu.
Namun
ada petunjuk yang lebih dramatis sekaligus memalukan yang akan membuat kematian
Sarwo kelak menjadi legenda di kampung itu, bahkan menyebar sampai ke seluruh
kota. Sudah kujelaskan bahwa dia mati dalam kondisi kaku sekujur tubuh.
Kupertegas: itu termasuk kemaluannya. Pada jasad biru itu, seonggok daging di
selangkangannya tampak membengkak, tegak keras. Mati dalam keadaan ereksi!
“Apakah
ini semacam azab?” lontar seorang pengurus jenasah dalam kengerian.
“Apakah
azab harus menimpa orang baik-baik?’ sahut pengurus jenasah lainnya.
Salah
satu kerabat mengeras tangisnya saat mendengar bisik-bisik para pengurus
jenasah itu. Kerabat yang lain menghardik, meminta para pengurus jenasah itu
pergi saja jika tak bisa menempatkan omongan yang pantas di rumah duka.
Bisik-bisik
tetap tak dapat dihindari, dan merambah semakin luas di halaman yang telah
dipenuhi pelayat. Beberapa mengembuskan gosip tentang kembalinya setan mitos
bernama Anja-anja; makhluk gaib ini suka mengisap darah manusia di waktu tidur,
dan korbannya pasti mati. Beberapa mengulik tentang jenis-jenis ular yang
gigitannya memungkinkan korban mati dalam keadaan penis tegang—tapi tak ada
yang mampu menjawab secara pasti ular jenis apa yang sanggup berbuat demikian.
Beberapa sepakat soal azab, dengan prasangka bahwa di balik kesehariannya yang
baik dan supel siapa tahu Sarwo menyembunyikan beberapa kemaksiatan.
Namun
kerabat Sarwo, didukung Pak RT dan tetangga-tetangga lainnya yang merasa perlu
berpikir rasional, sepakat untuk menyerahkan kesimpulan pada petugas medis.
Polisi sempat datang memeriksa jenasah dan beberapa saksi, dan berakhir dengan
kesimpulan bahwa kematian Sarwo memang disebabkan gigitan “sesuatu”, dan
mungkin itu murni kecelakaan. Selebihnya, polisi pun mempersilakan petugas
medis mengambil sampel darah dari jenasah untuk diteliti. Petugas medis dari
Puskesmas mengambil darah dan cairan-cairan lain dari jenasah Sarwo, termasuk
darah yang tiba-tiba keluar deras dari kemaluan dan memerahkan kain kafan. Setelah
darah di kemaluan itu keluar, barulah batang itu mengerut—kata orang-orang. Hari
itu juga jenasah Sarwo tetap dimakamkan.
Aku
sudah menyinggung tentang Anja-anja. Betul, setan itu memang ada. Ia semacam
momok bersayap yang akan mendatangi malam sial seseorang, lalu secara tak
terlihat mengisap darah orang itu ketika tidur, sampai orang itu mati. Mungkin
setan ini adalah anak turun Raja Vlad Dracul dari Transylvania, dengan cara
entah bagaimana tiba di Jawa. Atau, mungkin tak ada hubungannya dengan Vlad
Dracul. Dan, sebetulnya juga tak ada hubungannya dengan kematian Sarwo.
Anja-anja
sudah lama menghilang, sebab Tanah Jawa kini tak lagi gelap di malam hari.
Lampu-lampu telah menelanjangi banyak pelosok kegelapan di negeri yang dulu
sangat angker ini. Banyak jenis setan yang tak kuat menghadapi kondisi terang,
Anja-anja termasuk di antaranya. Meskipun jaring laba-laba mampu membentengi
langit-langit dari menyusupnya roh jahat, dan Sarwo selalu membersihkan
rumahnya dari binatang itu, nyatanya bukanlah setan yang membunuh Sarwo. Dia
tak dibunuh oleh sesuatu yang seharusnya diusir laba-laba. Dia dibunuh oleh
laba-laba itu sendiri.
Setelah
pulang dari penguburan Sarwo, Bobi memamerkan senyum puasnya di hadapanku.
Remaja lugu itu memang membutuhkan motivator yang tepat supaya dapat menjadi
liar secara selayaknya. Sebab remaja adalah usia setengah-setengah: malu tapi
tak sanggup menangkis, marah tapi tak kuat melawan, muak tapi ragu melapor. Dia
butuh orang yang dapat meramukan malu-marah-muak itu menjadi satu kekuatan
bulat: pembalasan. Akulah orang itu.
“Kau
puas dia sudah mati?” tanyaku.
“Dengan
cara seperti itu, sangat puas!” jawabnya, menggelegak pelan tetapi mantap. “Dia
sekarang boleh menangisi batang najisnya itu di liang lahat.”
Dendam
Bobi sudah sepantasnya. Sarwo mencabulinya sejak dua tahun belakangan. Duda tua
itu dulu ditinggalkan mantan istri dan anak—yang di hari kematiannya bahkan tak
sudi datang—karena kegatalannya juga. Kupikir begitu. Dan Sarwo pintar memoles
tampangnya menjadi wajah baik hati di hadapan hampir semua orang. Begitulah
seorang pemangsa. Memang harus licik. Dia harus baik kepada banyak orang supaya
leluasa melakukan keburukan terhadap segelintirnya. Dan dia memilih korban yang
tepat: Bobi, anak yatim piatu yang dipelihara nenek pikun. Pada malam ataupun
siang yang memihak nafsu jahat, Sarwo menyelinap ke rumah nenek pikun untuk
memastikan si cucu ada tetapi si nenek tak ada. Pemangsa memang harus pintar.
Dan terbukti penjahat itu telah menang beberapa kali, sebelum akhirnya aku
datang sebagai paman Bobi dan mendapatkan cerita itu dari Bobi sendiri, lalu
kami menyusun sebuah pembalasan.
Sarwo,
dialah setannya. Dialah roh jahat itu. Karena roh jahat itu telah mendiami satu
tubuh manusia, jaring laba-laba tak kuat lagi menghalaunya, sebanyak apa pun
jaring telah dibuat. Maka kuutus laba-laba istimewa untuk membunuh setan itu.
Ia adalah satu yang berhasil ditemukan setelah puluhan kawannya yang
bersama-sama datang dari Brazil tumpah menyebar melarikan diri, gara-gara petugas
pelabuhan memergoki usaha penyelundupan itu. Ia ditampung oleh seorang pedagang
reptil dan serangga, sebelum akhirnya kubeli untuk melengkapi koleksi
laba-labaku. Brazilian Wandering Spider,
kuambil dari rumahku di kota. Tarantula
hanyalah junior baginya, dan Black Widow
hanyalah janda gatelan. Jika ada laba-laba berani menerkam bahkan mengejar
manusia, maka hanyalah Si Laba-laba Brazil ini. Bobi sendiri yang melemparkan
binatang itu ke kasur Sarwo melalui jendela. Eksekusi itu memang haknya. Kalau
laba-laba itu kelak akan ditemukan atau menggigit orang lain, biarlah itu
menjadi perkara lain.
Laba-laba
itu baik jika kau tahu tugasnya masing-masing. Jangan usir Si Pembuat Jaring
dari langit-langitmu. Sebab ia bertugas melindungi tidurmu dari roh jahat dan mimpi
buruk. Meski begitu, kau pun tetap harus waspada terhadap langit-langit itu.
Jaring laba-laba melindungimu dari roh jahat dan mimpi buruk, tetapi tak bisa
melindungimu dari binatang-binatang lain yang juga tinggal di langit-langit. Di
balik eternit kamarmu, di bawah genting, ada ruang pengap dan lembap yang penuh
debu-debu menggumpal, di situlah kalajengking dan kelabang seringkali tinggal.
Kau tak tahu kapan kalajengking dan kelabang akan merayap keluar lalu jatuh
dari langit-langit dan menimpa wajahmu ketika tidur. Ia akan menyengat matamu,
atau masuk ke telingamu lalu menggigit. Jika kau diserang di lokasi lain,
kalajengking dan kelabang tak cukup untuk membunuhmu. Tapi serangan di kepala,
mungkin akan membuatmu tak bangun lagi. Kau akan mati. Tidak mati dalam keadaan
ereksi, tetapi mati dalam keadaan yang tetap menyakitkan. Maka awasilah
langit-langitmu.
Tunggu
dulu! Bukan berarti kau tak perlu mengawasi lantaimu. Kau tahu ada puluhan
laba-laba dari Brazil yang lepas dan melarikan diri. Mungkin satu atau dua dari
mereka sedang bersembunyi di kolong rumahmu. Bahkan mungkin beranak-pinak. Gigitannya
akan membuatmu kesakitan sampai ereksi, lalu mati. Dan ketahuilah: mereka
berani mengejar!
catatan: foto bukan milik penulis cerita, melainkan hasil meminjam dari kazanah google.com.

4 komentar:
Kalau buat cerita fiksi apa harus cari data sedetail nonfiksi juga?
Yang penting datanya akurat dan bisa dipercaya. Kalau datanya detail lebih baik. Tapi ketika dituangkan sebagai elemen pendukung dalam fiksi, sebetulnya tak harus detail. Jika data-data itu harus dimasukkan dalam narasi ataupun dialog, masukkan secara proporsional dan sebagaimana perlu saja. Dan eksekusilah secara estetik--sebab menulis fiksi jelas tidak sama dengan menulis artikel.
Makasih infonya.
Mas noel karung 25 nya kapan di post ?
Posting Komentar