Bagaimana Seorang
Lelaki Tampan Menjadi Terkenal
dan Beberapa Hal
Menjadi Perlu Diharamkan
Mungkin sudah saatnya candid camera terhadap manusia
diharamkan. Sama seperti selfie. Jika
selfie perlu diharamkan karena
berindikasi ganjen terhadap diri sendiri, maka candid camera memiliki indikasi dosa yang lebih buruk: menabrak
privasi orang lain.
Tentunya
wacana ini hanya sebatas pada target manusia, sebab manusialah yang punya
urusan dengan privasi. Binatang dan pohon punya hak hidup, tetapi tak punya
privasi, meskipun kadang kita membaca kabar ada selebriti yang berang ketika
peliharaannya difoto—melanggar privasi, katanya. Privasi kadang memang rancu;
di saat orang-orang di suatu tempat sibuk mengamankan auratnya, di tempat lain
ada orang merekam alat kelaminnya dengan latar belakang menara Pisa. Merekam
alat kelamin tentu juga perlu diharamkan jika konteksnya di luar keperluan
medis atau studi ilmiah. Demikian pula candid
camera, kadang kelakuan ini memang tidak bermaksud jahat. Namun, saat kau
tak bermaksud jahat, maka orang lainlah yang akan bermaksud jahat, dengan
memanfaatkan sesuatu yang telah kau perbuat tanpa izin. Dunia selalu begitu.
Sebuah
potret terunggah di Facebook, bergambar seorang remaja laki-laki di akhir usia
belasan sedang menghitung belanjaan di belakang kasir. Pengunggahnya adalah
seorang perempuan di kisaran usia tiga puluh yang memfokuskan hidup
bersosialnya untuk berbagai macam gosip dan aktivitas belanja. Sehari kemudian
foto itu telah digandakan di group-group yang namanya mencurigakan: “Cowok
Ganteng Jakarta”, “PBB (Penyuka Brondong Blasteran)”, “Hubungi Tante” dan
sebagainya. Group-group itu mengaku dibuat untuk kepentingan akun-akun
perempuan—atau oknum yang mengaku perempuan—dari yang berusia remaja hingga usia
yang layak disebut “tante” oleh mereka yang remaja. Tak lama kemudian foto itu
juga populer di group-group seperti “Mencari Bot”, “GGS (Ganteng-Ganteng Sekong)”,
“Om-Om Sukses dan Penyayang” dan sebagainya.
“Cakep
banget!” Komentar seperti ini banyak bertebaran ketika yang dibicarakan adalah
foto itu.
“Aku
senang dengan rambutnya. Berombak antara rapi dan berantakan. Natural sekali.”
Tulis seorang om yang kelihatannya sangat bersemangat.
“Apakah
dia keturunan Arab?” tanya seorang remaja berhijab di sebuah group; di group yang
berbeda terdapat banyak orang menanyakan hal yang sama, perempuan maupun
laki-laki.
“Bukan.
Kalau dia Arab, dia akan bernama Abdul. Bukan Ansel.” Jawab seseorang.
“Bukan
tidak mungkin seorang keturunan Arab bernama Ansel. Tak ada larangan, kan? Dan
yang bernama Abdul pun tak selalu keturunan Arab.” Jawab seseorang yang terlalu
serius.
“Dia
Cina.” Gurau seseorang yang terlalu melantur.
“Jangan
rasis!” Gubris yang lain, dan lagi-lagi terlalu serius.
“Ada
yang punya foto dia telanjang?” tanya seorang tante—yang foto profilnya sedang selfie dengan latar belakang demonstrasi
ormas berpakaian putih-putih.
“Astaghfirullah.”
Seseorang membalas tulisan tante di atas.
Namun,
sebetulnya yang paling berefek nyata adalah tulisan si pengunggah pertama foto
itu, yaitu tante biang gosip yang hobi belanja dan memotret tanpa izin.
Tulisannya ketika mengunggah foto itu: “Namanya Ansel. Mungkin umurnya dua
puluh atau belum sampai. Penjaga kasir Kiamart di Citos. Cakep, ya?”
Penjaga
kasir Kiamart Cilandak Town Square!
Jadi
sebetulnya obrolan di media sosial itu cuma imbas kecil. Imbas besar dan nyata
adalah yang terjadi di Kiamart sejak foto salah satu karyawannya itu beredar. Supermarket
itu mengalami banyak peningkatan pengunjung. Namun anehnya, pendapatan harian
hanya meningkat sedikit. Banyak pengunjung ke toko besar itu hanya membeli
beberapa sabun atau mi instan. Pamrih utama mereka adalah melihat Ansel dari
dekat. Ada banyak lajur kasir, tetapi hanya satu lajur saja yang mengalami
antrean dua sampai tiga kali lebih panjang dibanding antrean kasir lain, dan
beberapa anggota antrean betul-betul ngotot tak mau pindah lajur ketika
diarahkan petugas. Lalu, sementara si petugas kasir menghitung belanjaan,
pemilik belanjaan mengambil kesempatan untuk selfie. Atau candid. Atau
keduanya.
Yang
terjadi kemudian bisa ditebak: foto-foto Ansel semakin banyak di media sosial.
Awalnya Facebook, lalu Twitter tak mau ketinggalan. Tanda pagar tentang Ansel pernah
berada di peringkat lima trending topic
nasional.
Reaksi
terhadap foto-foto Ansel yang tersebar raya tentu sangat bervariasi. Tentu
sebetulnya banyak reaksi yang cenderung wajar dan tidak dramatis, atau justru menjurus
pada khotbah supaya para perumpi di dunia maya itu bertobat. Namun kita tahu
bahwa reaksi-reaksi provokatiflah yang berpeluang paling tinggi untuk menjadi
sorotan. Jadi mari kita sorot yang provokatif itu, dengan pendekatan yang
menggunakan asumsi ini: ketika orang-orang telah menjadi penggemar atas
sesuatu, maka selalu ada kecenderungan untuk munculnya tindakan yang kurang
waras.
Hal
provokatif dan kurang waras yang dimaksud dalam paragraf sebelumnya, di
antaranya mencakup kemunculan beberapa meme
tentang foto Ansel. Tentu saja ada meme
dengan pesan moral yang bagus, kita tahu itu. Namun karena konteks yang kita
dibahas adalah sesuatu yang “kurang waras”, maka meme yang dipersoalkan ini tak lain adalah foto Ansel yang
dijadikan satu bingkai sebelah-menyebelah dengan foto patung David karya Michelangelo. Itu memang
patung yang bagus. Masalahnya: patung itu telanjang. Jika kau pernah melihat
patung itu, kau tentu setuju bahwa penisnya dipahat sangat menggemaskan. Sedosa
apa pun pembuat meme itu, sepertinya
dosa Michelangelo lebih besar. Seniman Italia itu telah memahat penis seorang
nabi!
Dan
kini sang nabi yang telanjang disandingkan dengan seorang penjaga kasir
supermarket—yang tidak telanjang. Karyawan yang tak tahu diri!
“Kok
Ansel tidak telanjang?!” Tulis tante yang fotonya berlatar belakang demonstrasi
ormas. Betapa mulia tuntutannya—jika seorang nabi saja telanjang, pantaskah
siapa pun yang mendampinginya masih berpakaian?
Foto
Ansel sebingkai dengan patung David
itu kemudian diblokir oleh Facebook, atas nama kesenonohan. Namun apa pun yang
telanjur beredar di dunia maya tak akan pernah benar-benar bisa dihentikan,
kita tahu itu. Termasuk foto hasil editan Photoshop yang menggabungkan kepala
Ansel dengan badan telanjang aktor porno—seorang tante yang amat membutuhkan
foto telanjang telah menyimpannya. Satu tempat memblokir, tempat lain dijadikan
suaka.
Para
penggemar yang telah menciptakan sendiri kegemaran itu, belum lelah membuat
variasi tentang foto-foto yang melibatkan Ansel. Kita tahu, ada jenis penonton
bioskop yang suka memotret karcis mereka dan kemudian mengunggahnya di media
sosial. Penggemar Ansel melakukan hal absurd yang tak jauh beda: mengunggah
foto struk belanja. Yang harus kentara di foto struk itu tentu saja adalah nama
“Ansel” sebagai operator kasir. Prioritas berikutnya adalah menyangkut gengsi,
yaitu total belanjaan. Namun, untuk mengabadikan jumlah belanjaan yang banyak
maka membutuhkan struk yang panjang, dan dengan demikian akan sulit untuk
memotret keseluruhannya tanpa membuatnya menjadi sedemikian kecil dan nama
“Ansel” menjadi tak terbaca. Solusinya kemudian terpecahkan: tak perlu
berbelanja banyak-banyak, sedikit saja tetapi pastikan harganya mahal. Sehingga
struk dapat terpotret seluruhnya, nama Ansel tetap terbaca, dan angka di struk
tidak memalukan untuk dipamerkan. Tidak banyak yang melakukan ini, tetapi ada.
Atasan
Ansel di Kiamart senang-senang saja dengan fenomena itu. Dia tak peduli dengan meme yang juga beredar mengenai
supermarket itu; meme itu berupa
potret antrean panjang di Kiamart dengan Ansel sebagai penjaga kasir, dengan
tulisan menohok “Tanda-tanda kiamart
sudah dekat!”. Untuk apa mempedulikan orang-orang sirik yang meramalkan
kiamat? Yang penting tokonya menjadi terkenal! Siapa pun tak boleh menyalahkan
Kiamart, sebab bukan salah Kiamart jika memiliki karyawan yang sedemikian
tampan. Bukan salah Ansel juga dilahirkan dengan wajah tampan. Tak ada yang
salah, kecuali para penggemar dan pengamat yang ribut sendiri itu—seandainya mereka
memang perlu untuk disalahkan.
Awalnya
memang para penggemar yang teracuni hype
itu begitu menjengkelkan karena membuat lajur antrean menjadi timpang,
sedangkan kenaikan pendapatan di toko itu tak terlalu signifikan. Namun uang
tetaplah uang, semakin banyak semakin bagus, meskipun pertambahannya tidak
melonjak. Ansel menjadi “Employer of the
Month”. Dan untuk suatu alasan yang tidak dijelaskan tetapi mudah diendus,
Ansel tetap ditempatkan di kasir.
Namun,
marilah mulai di bagian ini kita berlaku adil. Kita harus adil terhadap Ansel. Bagaimana
dengannya? Apa yang dipikirkannya mengenai fenomena popularitas itu? Bagaimana
dia merasakannya? Apakah “Employer of the
Month” menjadi hiburan yang setimpal?
“Aku
lelah sekali,” curahnya ke seorang kawan yang ditemuinya secara kebetulan di
kafetaria. Ansel menyedot jus melonnya separuh, lalu meneruskan, “Ini sudah
menjadi aneh sekali. Setiap hari aku meladeni pembeli dua bahkan tiga kali
lebih banyak dibanding yang lain. Dan saat mereka mulai memotret-motret, tak
peduli aku sudah terlalu lelah untuk memasang senyum demi kamera mereka, ya
ampun, itu betul-betul tak berperasaan! Sekarang mereka juga mulai meminta
tanda tanganku di belakang struk belanja mereka. Bahkan beberapa ada yang
bertanya alamat rumahku!”
“Selamat
datang di dunia di mana semua yang tampan harus terkenal!” timpal si kawan
dengan nada yang sedikit bernyanyi. Kawan Ansel itu bernama Leon; mereka dulu
sekelas selama tiga tahun di SMA dan kini bekerja di kompleks mal yang sama tetapi untuk
perusahaan yang berbeda. “Tak peduli kau pemulung, tak peduli kau tukang
daging, tak peduli kau masih balita atau sudah bangkotan, bahkan meskipun kau seekor
kambing, kalau kau tampan maka kau harus menjadi terkenal!”
“Ya,
aku pernah melihat foto itu ... kambing yang katanya tampan,” gumam Ansel
setengah melamun. “Tapi tidakkah itu semua aneh?”
“Masalahnya
bukan aneh atau tidak. Masalahnya adalah itulah kenyataan.”
“Karena
kenyataannya begitu, berarti aku harus melupakan keinginan untuk bekerja yang
sewajarnya dan hidup dengan tenang?” tukas Ansel, seperti membutuhkan simpati.
Leon
mendesah. “Hidup tenang adalah keinginan banyak orang. Tidak dilarang untuk
dicapai di zaman apa pun. Tapi, untuk orang-orang tertentu, hidup tenang harus
dicapai dengan usaha yang keras. Sepertinya.”
“Sial.”
“Ketampanan
ada hikmahnya.”
Ansel
tak menceritakan pada Leon perkembangan terbaru dari popularitasnya. Sebetulnya
diam-diam Ansel memantau popularitasnya di dunia maya. Beruntung selama ini dia
tak pernah pamer foto dirinya di media sosial, sehingga tak ada foto-fotonya
yang tersebar, kecuali yang diambil pembeli ketika dia sedang bekerja di kasir
dengan seragam Kiamart. Bahkan di Facebook dia memasang gambar kucing sebagai
foto profil. Dia sangat menjaga privasi jejaring sosialnya. Namun baru-baru ini
telah tersebar lagi foto dirinya, dan kali ini bukanlah foto ketika dia berseragam
Kiamart. Yang barusan beredar ini sebetulnya foto yang sudah ada sebelum dia
terkenal, yaitu ketika dia sedang berada di pusat kebugaran. Dia memakai celana
pendek dan kaos sport tanpa lengan
bermotif tiga warna horizontal (tapi bukan warna pelangi); kulitnya begitu
cerah, sehingga bulu-bulu ketiaknya yang tipis dapat terlihat ketika tangannya
sedang terangkat menyeka kepala. Begitulah dirinya di foto “terbaru” itu. Maka
dalam hati dia memaki-maki orang yang memotretnya waktu itu, sebab tak ada
pelaku penyebar foto yang lebih layak dicurigai selain orang itu. Namun perlu
diketahui: oknum itu bukan Leon.
Sebetulnya,
Leon juga sudah melihat foto “terbaru” itu di Facebook. Ada temannya yang
memajang foto itu lalu terlihat di “beranda”. Namun demi menjaga perasaan Ansel
agar tidak semakin memburuk, dia pilih tidak mengungkitnya.
“Andai
aku perempuan, mungkin aku akan segera berhijab saja,” celetuk Ansel—kemudian
dia tertawa sendiri.
“Tapi
itu tak menutupi mukamu. Sedangkan kau disukai karena mukamu, kan?” tukas Leon.
Sepertinya memang begitu. Muka dan rambut, barangkali. Sebetulnya, rambut Ansel
memang mirip David, jadi pembuat meme itu tidak salah meskipun dalam
batas tertentu kurang senonoh.
“Emm ... jadi aku juga perlu bercadar?”
Ansel semakin melantur.
Kita
tahu, aurat wajib ditutupi dari mata umum, sebab bagian itu dapat menimbulkan
rangsangan bagi manusia lain terutama yang kadar kecabulannya tinggi. Menurut
suatu agama, aurat seorang perempuan meliputi sebagian besar tubuhnya; yang tak
termasuk aurat pada perempuan adalah wajah dan telapak tangan. Sedangkan aurat
pada laki-laki adalah mencakup sekitar pusar ke bawah hingga paha—oleh karena
itu laki-laki boleh telanjang dada di depan umum, meskipun pada situasi
tertentu itu tidak sopan.
Namun,
pada kasus Ansel, rupanya wilayah aurat laki-laki itu telah meluas. Dia bahkan
tak perlu sampai bertelanjang dada, dia hanya kebetulan memperlihatkan
ketiaknya saja dan ada orang-orang yang terangsang karenanya. Dan, sebetulnya
wajahnya saja pun sudah cukup untuk membuat orang-orang tertentu berfantasi
cabul, jadi tak mengherankan jika wajahnya pernah ditempel di badan telanjang
model porno—wajah Ansel adalah kunci dari semua itu! Jadi, betulkah dia perlu
cadar?
Seorang
temannya, tapi bukan Leon, pernah berkata begini: “Kalau laki-laki memakai
pakaian dan atribut perempuan, dia pasti LGBT!”
Sialnya,
akhir-akhir ini sering terdengar seruan bahwa LGBT itu juga haram. Kalau
begitu, memakai cadar berbahaya bagi Ansel, sebab dia akan menjadi LGBT. Lalu
apa solusinya? Ansel menyelami pikirannya: dari mana semua masalahnya berawal, jawabannya adalah dari foto yang diedarkan seorang tante tanpa seizinnya. Dia pun mulai berpikir bahwa sudah saatnya ada sesuatu yang harus diharamkan!
Mengapa
harus “haram”? Mengapa bukan “ilegal” saja? Kita tahu, hukum agama dan hukum
negara adalah sesuatu yang berbeda, kecuali jika negara dan agama dicampuradukkan.
Permasalahannya adalah: tak akan tepat guna jika candid atau selfie
dijadikan sebuah tindakan ilegal. Sebab negara adalah sesuatu yang perlu
serasional mungkin, terutama di aspek ekonomi; jika faktanya salah satu hal
yang paling dibicarakan seseorang tentang ponsel adalah kualitas kameranya,
maka bisakah sebuah negara melarang candid
dan selfie? Bisnis ponsel akan
anjlok! Negara ini bisa dimaki-maki oleh negara-negara pemasok ponsel dan
mereka bisa membalas dengan cara berhenti mengimport kopi dan tekstil. Di
samping itu, adakah negara yang tak butuh ponsel? Dan, adakah di zaman sekarang
ponsel tanpa kamera?
Oleh
karena itu, alih-alih menetapkan ilegal, lebih cerdik jika menetapkan candid dan selfie dan segala macam aktivitas berkenaan dengan foto yang dilakukan tanpa izin, adalah haram. Itu tidak akan membuat negara pemasok ponsel dan
kamera menjadi marah, sebab fatwa haram di negara ini tak akan serta merta
memengaruhi konsekuensi hukum—atau kebijakan ekonomi luar negeri. Saat kau
melakukan hal yang haram bagi suatu agama, belum tentu kau melanggar hukum
negara. Lalu, kalau begitu, apakah bisa membuat orang menjadi kapok memotret
seenaknya? Mungkin tidak. Namun setidaknya orang-orang usil itu akan menjadi
memikirkan pertanggungjawaban mereka kepada Tuhan. Sebab, meskipun fatwa haram
dibuat oleh manusia, para pelanggarnya akan dibuat berurusan dengan Tuhan.
Singkatnya, biar menjadi jelas bahwa mereka akan dihukum Tuhan, dan semoga
mereka takut karenanya. Kalaupun mereka masih tidak takut, yah, setidaknya kita
sudah berusaha. Dunia memang bandel.
Itu
bukan pikiran Saya. Itu adalah pikiran Ansel. Dia tak pernah lupa salat lima
waktu. Dan saat ini dia dibuat dilema gara-gara ketampanannya memicu antusiasme
tak waras. Dia sudah tampan dari lahir, dan masih tampan di usia sembilan
belas, dan mungkin akan tampan sampai tua. Bukankah itu berkat? Namun, apa yang
kau sendiri akan pikirkan, ketika sesuatu yang diberikan sebagai berkat
ternyata membuatmu kerepotan? Yah, Leon sudah menjawab: berkat memang ada
hikmahnya.
Kasihan
Ansel. Dia bingung. Dia menemukan banyak pihak untuk dikutuk, termasuk takdir,
sebab takdir telah memberinya berkat yang merepotkan. Namun mengutuk takdir
sama dengan mengutuk Tuhan, sebab Tuhan adalah oknum di balik takdir. Dan bagi
orang yang rajin sembahyang, mengutuk Tuhan lebih berbahaya dibanding
tante-tante yang memburu foto telanjang.
“Apa
yang biasanya bisa menghiburmu?” Leon memecah lamunan, menyadari kekalutan
temannya.
Ansel
mengerutkan alis sedikit. “Sorry?”
“Lakukanlah
hal-hal yang biasanya bisa menghiburmu, itu cara paling sederhana untuk kembali
merasa tenang. Lupakan sejenak soal foto-foto dan para pengagum. Itu semua
menjadi berat karena kau terlalu serius memikirkannya. Saat pikiranmu sudah
kembali relaks, masalah itu mungkin akan terasa lebih ringan—setidaknya kau
akan lebih santai menjalaninya.”
Ansel
menggeleng. “Awalnya aku juga menganggap santai hal ini. Dan lihat, hasilnya
malah makin parah.”
“Oke,
mungkin masalahmu tak akan langsung meringan begitu saja. Tapi setidaknya
berilah pikiranmu jeda. Jangan paksa kepalamu,” anjur Leon. Lalu dia menawarkan
langkah konkret: “Pergilah ke bioskop. Tontonlah film. Biasanya itu manjur.”
Ansel
menggeleng lagi. “Terakhir kali aku ke gym,
ada cewek mengikutiku. Dia mengaku mengenalku dari internet. Menyeramkan! Jadi
sekarang, selama itu adalah tempat umum, maka tak ada jaminan bisa memberiku
ketenangan.” Dia menghabiskan jus melonnya. “Sekarang aku paham mengapa
orang-orang terkenal butuh bodyguard.
Para bodyguard memang menguntit ke
mana-mana, tapi setidaknya tak ada maksud personal ... atau maksud sentimental ...
atau maksud obsesif.”
“Kalau
begitu, tak ada tempat yang lebih baik selain di rumah saja,” tukas Leon.
Ansel
menggeleng lagi. “Mamaku terus membahas soal kemungkinan aku menjadi artis. Dia
mendorongku untuk mencari agen, mumpung sedang populer.”
“Bukankah
itu ide bagus? Daripada stres karena populer, lebih baik manfaatkan saja
popularitasmu. Kau bisa main film, menjadi aktor, dan itu bisa membuatmu
berpenghasilan lebih baik daripada hanya menjaga kasir.”
“Atau
... aku hanya akan bermain di sinetron,” dengus Ansel sinis.
“Ya,
‘Penjaga Kasir Naik Haji’. So what? Penghasilan
aktor sinetron pun tetap lebih baik daripada penjaga kasir—kalau sinetron itu
sukses.”
“Aku
tak mau popularitas semacam ini, ataupun uang yang dihasilkan dari popularitas
semacam ini! Please, mengertilah!”
tukas Ansel dengan penekanan yang dramatis, disertai mimik yang mengundang rasa
kasihan.
Leon
memandangi temannya dengan raut simpatik. “Sebetulnya, di satu sisi aku suka
idealismemu. Tapi ... kita hidup di Jakarta, man. Uang memang tak bisa membeli segalanya, tapi tetap saja uang
itu penting. Tapi ... yah, akhirnya kembali ke tujuan hidup masing-masing,
sih.” Dia menyesap kopinya yang sudah mendingin, lalu bertanya, “Jadi, apa
rencanamu?”
Ansel
mendesah. “Aku tak punya rencana. Aku cuma butuh ada teman yang
menemaniku—teman yang tak harus kukuatirkan memiliki maksud personal, maksud
sentimental atau maksud obsesif.”
“Ya.
Sepertinya aku teman yang seperti itu,” dengus Leon disertai tawa kecil tidak
tulus.
Mereka
saling kenal baik, tapi selama ini tak ada hal yang secara rutin bisa
dikerjakan bersama. Singkatnya: mereka jarang berbagi waktu. Jadi masih apriori
untuk menyimpulkan keduanya bersahabat. Sore itu mereka cuma kebetulan berada
di kafetaria yang sama. Dan kebetulan Leon bukan orang yang mudah terpengaruh
“kepopuleran” seseorang, sehingga Ansel nyaman bicara dengannya.
Ponsel
Ansel berdering. Dia mengangkat panggilan tak dikenal itu dengan ragu. “Halo
.... Ya, ini dengan siapa? .... Mmhh,
maaf, dari teve? Teve mana? Oh, oke .... Wawancara?”
Leon
dapat melihat wajah Ansel menjadi begitu dramatis seperti sedang mengalami
serangan asam lambung mendadak. Wajah itu tampak memucat dan bibirnya setengah
terbuka, gemetar.
“Sorry, tidak bisa .... Maaf, saya
betul-betul tidak bisa ....” tandas Ansel agak parau, seperti orang yang sedang
didesak-desak. Dia menutup ponsel saat kedengarannya orang yang menghubunginya
masih berusaha membujuk.
Ansel
baru saja menolak tawaran wawancara sebuah reality
show yang mengulik tentang fenomena orang-orang awam yang menjadi populer.
Leon
mencoba ingin tahu, “Kok gugup? Dari siapa tadi?”
Ansel
menjawab dengan pertanyaan, “Film apa yang sedang diputar di bioskop?”
Ansel pergi ke
bioskop sendirian saja dan memilih film secara spontan di tempat. Ansel
sebetulnya sudah mencoba mengajak Leon, tapi kawannya itu punya acara lain. Dan,
lagi-lagi Ansel merasakan masalah di tempat tujuannya: beberapa orang di lobi
bioskop kelihatannya mengenalnya. Orang-orang yang “kelihatannya kenal” itu memang
berjumlah tidak banyak, tetapi mereka tampak tersenyum-senyum dan
berbisik-bisik dan sorot mata mereka mengganggu. Ansel merasa tak nyaman. Betul
yang telah dia cemaskan: tempat umum tak lagi memberinya ketenangan. Namun, dia
betul-betul butuh hiburan. Di ruang sinema, dia memilih kursi yang tak
berdekatan dengan penonton lain. Itu artinya dia terpaksa duduk di deret cukup
depan. Dia mendongak sepanjang film. Dia keluar dari bioskop dengan leher
pegal. Dia juga tak ingat film tadi tentang apa.
Hari
berikutnya, seorang teman Ansel yang juga bekerja di Kiamart menawari apakah
dirinya mau ke karaoke malam nanti. Ya, hari itu gaji beserta bonus baru saja
cair, jadi saatnya berfoya-foya. Ansel mengiyakan dengan antusias. Dia pikir
lobi di tempat karaoke biasanya tak terlalu ramai orang—tak seramai di gedung
bioskop, pastinya—dan setelah dapat room
maka privasi akan terjaga, jadi dia tak akan terlalu diperhatikan oleh orang-orang
kecuali teman-teman seperkaraokean yang sudah dikenalnya. Lalu dia bisa
menyanyi sepuasnya. Hiburan yang menarik! Mengapa baru terpikir sekarang?
Malam
itu teman Ansel memesan ruang medium untuk tiga jam. Pembuat ide ini adalah
Edwin, pegawai Kiamart yang bekerja di pos pengadaan barang. Ansel kenal baik,
seperti dia mengenal Leon—kenal baik tapi jarang bersama.
Ada
dua teman lainnya yang diajak oleh Edwin, dan mereka bukan pegawai Kiamart.
Ruangan karaoke selalu remang-remang, jadi Ansel tak memerhatikan teman-teman
Edwin secara jelas, kecuali bahwa salah satunya berkumis. Mereka mungkin juga
tak memerhatikan Ansel secara jelas. Jadi Ansel tak terlalu peduli, meskipun
sebetulnya tak terlalu sreg juga menyanyi sekamar di mana hanya ada satu orang
yang dikenalnya, dan dua orang lain yang tak dikenalnya. Padahal, ketika
menyusun rencana tadi siang, Edwin berkata bahwa ada pegawai Kiamart lainnya
yang juga akan ikut, sebut saja si A dan si B; saat sudah tiba di tempat itu,
Edwin berkata bahwa si A dan si B tidak jadi ikut.
Mereka
mulai bernyanyi bergantian dengan suara-suara yang tak satu pun layak diperhitungkan.
Yang penting senang, bukan? Dan beberapa botol juga menemani—botol berisi air
yang bisa menyala kalau disulut. Salah satu teman yang dibawa Edwin terlalu
sering meludah—sepertinya kebiasaan—dan berkali-kali menghampiri tong sampah stainless di ruangan untuk membuang isi
mulutnya. Ansel tidak nyaman. Namun air dalam botol tadi meredakan rasa
jijiknya terhadap segala sesuatu yang dia anggap menjijikkan, secara perlahan-lahan.
Yah, dia memang lelaki yang rajin salat, tetapi setiap orang selalu pernah mengalami
hal-hal khilaf.
Faktanya,
meskipun Ansel tak nyaman ketika di bioskop, ruang karaoke yang dipikirnya
lebih nyaman itu justru lebih membahayakan. Edwin pamit keluar sebentar setelah
dipikirnya Ansel sudah cukup banyak menenggak alkohol. Melihat Ansel
kelihatannya teronggok tanpa daya di sofa, dua teman Edwin yang remang-remang
itu pun mengira Ansel sudah cukup mabuk, dan mereka paham kode yang diberikan
Edwin. Maka diserbulah Ansel. Si kumis memegangi kedua lengan Ansel dari
belakang, sedangkan yang satu lagi membedah kemeja Ansel yang langsung bertemu dengan
dada bidang mulus beserta dua benda mungilnya.
“Mantap!”
seru si pembedah disertai gelak tawa. Lalu dengan dorongan nafsu mulutnya maju
untuk menyucup. Duk! Dengkul Ansel
lebih dulu menyambut pipi lelaki itu. Duk!
Sambutan kedua adalah pancalan tepat di muka! Orang itu mental dan terbenam
sempurna di balik sofa.
“Bocah
nakal!” seru si kumis saat melihat ulah Ansel yang memberontak. Ansel
digulingkan ke lantai, lalu pria berkumis itu mencoba menungganginya dari
depan. Akibatnya: selangkangan si kumis menghantam dengkul. Si kumis melenguh
dan mundur; Ansel berhasil bangkit berdiri dan membuat pertahanan. Si kumis
nekat menubruknya lagi. Namun Ansel lebih dulu menyambar tong stainless dan menyosorkannya ke jidat si
kumis. Dooong...! Si kumis terkapar
di lantai melihat bintang-bintang.
Ansel
memaki-maki dua pemerkosa yang gagal itu, yang kini telah bergelimpangan di
lantai. “Anjing!”, “Homo!” dan sebagainya. Untuk saat ini lupakanlah fakta
bahwa dia lelaki yang rajin salat, sebab dia sedang mabuk. Alkohol memang
jahanam!
Ansel
terpengaruh alkohol, tapi kesadarannya berada pada kadar yang masih dapat
diandalkan, sehingga dia masih cukup sigap menghadapi dua orang tadi—yang juga
terpengaruh alkohol. Sekarang dia agak terhuyung meninggalkan ruangan. Dia
bertemu Edwin di pintu keluar. Buk!
Pukulan dikirim untuk pegawai toko bermental germo itu. Ansel memakinya.
“Dibayar
berapa lu?!”
“Sorry, gua lagi butuh duit ....”
“Ya
jual aja diri lu sendiri!”
Tidak
laku, itu masalahnya.
Ansel
menggeloyor sepanjang trotoar. Dia lupa kalau dia tadi datang ke tempat itu
membawa motor. Dan kepalanya sekarang menjadi pusing—tadi juga sudah pusing,
tapi saat melawan dua orang di kamar karaoke pusing itu terlupakan sejenak. Dia
duduk di pinggir trotoar seperti gembel. Sebetulnya dia punya rumah, tentu
saja, dan ada keluarga di rumahnya, tapi sepertinya pusing di kepala membuatnya
memencet nomor lain di ponsel.
“Leon,
jemput gue bisa nggak ...?”
Dia menceritakan kejadian
di tempat karaoke itu. Sepanjang dia masih “sadar”, dia terus memaki-maki di
depan Leon. “Anjing!”, “Homo!” dan sebagainya. Tentu saja bukan Leon yang
dimakinya.
“Man, sorry
nih, ya ... ini sudah malam. Kalau tetangga dengar, bisa dikira kita pacar yang
lagi berantem.” Leon memotong makian Ansel yang kesekian. “Gue kos di sini, dan
besok gue bisa diusir.”
Ansel
sadar. “Oke. Sorry.”
“Lu
mau tidur di sini?”
Ansel
mengangguk.
“Ya
sudah. Tidur. Lu sudah cerita sampai lu ulangi tiga kali! Cukup buat gue ingat
seumur hidup.” Lalu Leon terjun ke dipan, mendahului tidur.
Ansel
tidur di lantai, beralas kasur tipis. Dia tidur dengan cepat, dan dengan begitu
dia tak perlu mengulang ceritanya sampai yang keempat kali malam itu, dan
dengan begitu juga semua makiannya berhenti.
Pagi
harinya, Ansel bangun lebih dulu. Itu sebuah prestasi yang membanggakan, sebab
biasanya orang mabuk bangun lebih belakangan dibandingkan orang yang tidur
dalam keadaan waras. Mungkin karena Ansel selalu salat subuh, jadi otaknya
sudah terprogram untuk bangun pagi-pagi—sekalipun bukan untuk salat subuh. Leon
yang semalam berangkat tidur dalam keadaan waras—meskipun sangat kelelahan
karena mendengar cerita dan makian Ansel—pagi itu bangun sedikit lebih
belakangan. Saat bangun, Leon melihat kasur tipis di lantai sudah kosong.
“Sepertinya
si Ansel sudah pulang,” pikir Leon. Dia menggeloyor ke kamar mandi untuk
terkejut sedetik kemudian ....
“Woi!”
Ansel yang sedang kencing menyergah. Leon buru-buru menutup lagi pintu kamar
mandi.
“Kenapa
tidak dikunci?!” gerutu Leon. Dia tak dijawab.
Beberapa
menit kemudian keduanya sudah berhadapan di meja yang sama. Leon memegang segelas
sereal. Ansel juga.
“Sorry, aku sudah merepotkan,” kata Ansel
pelan. Lalu menyeruput sereal.
“Susah,
ya, jadi dirimu,” balas Leon menyindir. Menyeruput sereal.
“Homo-homo
sialan!” Ansel mulai memaki. Makian pertama pagi itu, tapi sudah tak sekasar
tadi malam.
“Kau
sudah menyebut kata itu puluhan kali sejak semalam, yang dibarengi dengan
nama-nama binatang.”
Ansel
mengerling. “Oh, ya?” Wajah tampannya tampak konyol.
“Ya.
Aku mengerti kejadian semalam menjengkelkan sekali untukmu. Tapi ... ayolah, kau
tak harus terus-menerus memaki, terlebih dengan kata itu.”
Keduanya
saling berpandangan. Pandangan dari mata Ansel lebih tajam dan penuh terka. “Kenapa?”
lontarnya pelan.
Pandangan
diam lagi selama beberapa detik.
“Gue
juga homo, tahu nggak?” jawab Leon
kemudian. Dia tersenyum kecut. Lalu menyeruput sereal lagi. “Tapi ini pertama
kalinya aku pakai kata itu. Pertama kali dan terakhir kali. Setelah ini,
kuharap aku tak akan mendengar kata itu lagi ... terlebih dari mulutmu.”
Terdapat
jeda agak lama, yang dilewatkan dengan saling berpandangan (lagi dan terus).
Lalu
Leon menambahkan singkat dan tegas, “Karena kita teman.”
Ansel
membuang muka dan terpekur. Lalu dia minta penegasan, “Serius?”
“Seriuslah,”
tegas Leon pelan. “Kau bukan orang pertama yang kuberi tahu. Sebetulnya aku tak
berencana memberi tahu, tapi jujur saja aku terganggu saat kau memaki-maki, dan
aku ingin kau mengerti bahwa tak semua gay itu brengsek seperti orang-orang
yang semalam mau memperkosamu.”
Ansel
memandangi Leon lagi. “Jujur saja, kau membuatku kaget.”
“Jujur
saja, aku takut setelah ini kau akan membenciku. Sama takutnya dengan melihatmu
memiliki cara berpikir yang sempit. Tapi, kupikir lebih baik aku bicara apa
adanya saja. Karena kita teman. Meskipun jarang ... yah, intinya kita teman,
kan?”
Ansel
tampak konyol lagi. “Jadi, nggak semua gay itu brengsek?”
Leon
meneguk sereal sampai habis. “Sorry,
gue tadi nggak sengaja lihat burung
lu. Tapi lu tahu gue nggak ada maksud buat ngapa-ngapain lu. Serius. Karena
kita teman.”
Ansel
tercenung. Beberapa detik kemudian tertawa. Hampir keras. Dia juga menghabiskan
serealnya, lalu berkata, “Lu bisa anterin gue ke tempat karaoke itu? Motor gue
ketinggalan.”
Internet
telah menjadi semacam inang bagi berbagai macam virus mental. Dalam kasus
Ansel, orang-orang mengidap penyakit yang membuat mereka seolah-olah memiliki
hak dokumentasi dan hak siar atas diri Ansel, sehingga boleh mendistribusikan foto-foto itu tanpa perlu izin lagi, dan
semua itu dilakukan dengan argumen: “Karena kami penggemarnya!”
Jadi,
sepertinya memang ada orang yang ditakdirkan untuk menjadi objek. Dan takdir
itu sebetulnya tak selalu berada di balik sosok yang tampan, tapi kadang juga
di balik sosok yang dekil. Keduanya bisa sama-sama menjadi objek, bedanya
adalah yang tampan menjadi objek pujian sedangkan yang dekil menjadi objek
cacian. Pada titik tertentu, yang tampan juga bisa menjadi objek kesinisan
sedangkan yang dekil menjadi objek simpati. Pujian, cacian, kesinisan dan
simpati—Ansel tak meminta semua itu. Dia hanya ingin situasi hidupnya tenang. Dia
remaja yang sederhana. Hanya saja, siapa yang bisa menolak takdir? Takdir telah
bertitah: tampanlah kau sejak dilahirkan, dan repotlah kau karenanya!
Ansel
tak bisa menolak takdir, tapi untung takdirlah yang akhirnya bosan sendiri pada
ketampanannya. Dunia ini sesungguhnya penuh dengan orang rupawan—kau pasti tahu
itu, kan? Ketika rupawan yang satu tak ingin dikenal, maka rupawan yang lain
akan segera menggeser posisinya. Para pemuja tampang di media sosial itu memang
sejak awal tak pantas diladeni, sebab kebanyakan dari mereka cuma pemburu-pemburu
yang manja dan mudah ngambek. Keengganan Ansel lama-lama dirasakan juga oleh
mereka, dan ... ya, akhirnya mereka pun mulai memaki. “Dasar sombong!”, “Sok
kecakepan!”, “Memangnya cowok cakep cuma kamu?” dan sebagainya. Namanya juga
orang-orang terjangkit virus. Tidak waras.
Ansel
memutuskan berhenti bekerja di Kiamart. Resign.
Bukan karena dia menyerah pada ulah para penguntit dan pengedar foto yang di
depan hidung mengaku sebagai penggemar, melainkan ingin mengamankan diri dari
tindakan kalap. Sebab jika dia masih terus bekerja di Kiamart, dia akan terus
bertemu dengan orang yang pernah mencoba “menjual” tubuhnya ke pria-pria mesum.
Memang, Edwin-lah yang semestinya tahu diri untuk keluar dari pekerjaannya; tetapi
untuk apa mengharapkan perasaan tahu diri dari orang yang berani menjual tubuh
orang lain—tanpa izin—seperti dia? Ansel merasa lebih punya harga diri dan
kewarasan untuk dijaga, maka dia hengkang tanpa tunggu-tunggu.
Dia
cuma menganggur sebulan. Salah satu pamannya membuka sebuah kafe bertema teh di
sebuah kompleks wisata di lereng Gunung Salak. Ansel ke sana, menjadi penjaga
kasir lagi. Beberapa pekerja di kafe itu ada yang mengenalinya sebagai “wajah
yang populer”, tetapi untunglah mereka orang yang waras sehingga tidak
bertingkah macam-macam. Yang memendam perasaan mungkin ada, tetapi semuanya
terkendali. Kali ini tak mungkin tidak terkendali, sebab Ansel adalah keponakan
tersayang si bos. Kuncinya adalah: hargai privasi seseorang, sekagum apa pun dirimu
padanya. Dan terhadap orang-orang yang bisa menjaga sikap, Ansel adalah orang
yang sangat welcome.
Ansel
nyaman bekerja di kafe itu. Penuh aroma teh dan hawanya selalu sejuk. Maka,
saatnya melupakan wacana mengharamkan candid
dan selfie. Itu tidak penting lagi.
Dua
bulan kemudian dia tahu dari pesan singkat bahwa Leon kini juga sedang
menganggur dan butuh pekerjaan. Ansel mengundangnya, lalu nepotisme berperan.
Sekarang Ansel dan Leon bekerja di tempat yang sama. Artinya, mereka kini jadi
sering bersama. Dalam konteks pekerjaan.
Sementara
itu, orang-orang yang dulu tergila-gila pada Ansel kini juga mulai
melupakannya. Sekali lagi, wajah-wajah rupawan mudah dicari; siapa yang betul-betul
menunjukkan minat untuk semakin terkenal, dan kalau bisa dibumbui beberapa
drama kehidupan sehari-hari, tentu ditambah pula dengan sesekali sudi
memamerkan tubuhnya, maka popularitasnya akan bertahan lebih lama. Sisi
positifnya: ia bisa menjadikan itu siasat karier, agar bisa digaet untuk masuk
acara televisi atau bursa model. Sisi negatifnya: besar kemungkinan ia akan
menjadi objek fantasi bagi pemuja yang mesum, dan suatu ketika kepalanya akan
ditempelkan di badan model porno. Dia harus tahan dan maklum, sebab memang ada
jenis manusia yang sangat membutuhkan fantasi seperti itu. Dan dalam kasus
Ansel, sebetulnya beberapa orang masih mengharapkan foto telanjangnya—yang
bukan editan.
Namun
takdir harus selalu punya kejutan. Ketika beberapa orang harus puas hanya
dengan foto porno hasil editan, dan sebagian lagi membayangkan tubuh polos
Ansel seperti patung David, ada satu
orang yang beruntung pernah melihat penis Ansel secara senyatanya.
Kalau
kau bertanya, Leon akan menjawab, “Seingatku, bentuknya tak seperti milik David.”
1 komentar:
minae...
kirain Ansel bakalan sama Leon...
Edwin nyebelin banget sih, pake acara mencari keuntungan dari terkenalnya Ansel, teman macam apa itu? untung Ansel bisa menyelamatkan diri...
Posting Komentar