Sabtu, 04 Juni 2016

Cerpen Baru



Bagaimana Seorang Lelaki Tampan Menjadi Terkenal
dan Beberapa Hal Menjadi Perlu Diharamkan


Mungkin sudah saatnya candid camera terhadap manusia diharamkan. Sama seperti selfie. Jika selfie perlu diharamkan karena berindikasi ganjen terhadap diri sendiri, maka candid camera memiliki indikasi dosa yang lebih buruk: menabrak privasi orang lain.
Tentunya wacana ini hanya sebatas pada target manusia, sebab manusialah yang punya urusan dengan privasi. Binatang dan pohon punya hak hidup, tetapi tak punya privasi, meskipun kadang kita membaca kabar ada selebriti yang berang ketika peliharaannya difoto—melanggar privasi, katanya. Privasi kadang memang rancu; di saat orang-orang di suatu tempat sibuk mengamankan auratnya, di tempat lain ada orang merekam alat kelaminnya dengan latar belakang menara Pisa. Merekam alat kelamin tentu juga perlu diharamkan jika konteksnya di luar keperluan medis atau studi ilmiah. Demikian pula candid camera, kadang kelakuan ini memang tidak bermaksud jahat. Namun, saat kau tak bermaksud jahat, maka orang lainlah yang akan bermaksud jahat, dengan memanfaatkan sesuatu yang telah kau perbuat tanpa izin. Dunia selalu begitu.
Sebuah potret terunggah di Facebook, bergambar seorang remaja laki-laki di akhir usia belasan sedang menghitung belanjaan di belakang kasir. Pengunggahnya adalah seorang perempuan di kisaran usia tiga puluh yang memfokuskan hidup bersosialnya untuk berbagai macam gosip dan aktivitas belanja. Sehari kemudian foto itu telah digandakan di group-group yang namanya mencurigakan: “Cowok Ganteng Jakarta”, “PBB (Penyuka Brondong Blasteran)”, “Hubungi Tante” dan sebagainya. Group-group itu mengaku dibuat untuk kepentingan akun-akun perempuan—atau oknum yang mengaku perempuan—dari yang berusia remaja hingga usia yang layak disebut “tante” oleh mereka yang remaja. Tak lama kemudian foto itu juga populer di group-group seperti “Mencari Bot”, “GGS (Ganteng-Ganteng Sekong)”, “Om-Om Sukses dan Penyayang” dan sebagainya.
“Cakep banget!” Komentar seperti ini banyak bertebaran ketika yang dibicarakan adalah foto itu.
“Aku senang dengan rambutnya. Berombak antara rapi dan berantakan. Natural sekali.” Tulis seorang om yang kelihatannya sangat bersemangat.
“Apakah dia keturunan Arab?” tanya seorang remaja berhijab di sebuah group; di group yang berbeda terdapat banyak orang menanyakan hal yang sama, perempuan maupun laki-laki.
“Bukan. Kalau dia Arab, dia akan bernama Abdul. Bukan Ansel.” Jawab seseorang.
“Bukan tidak mungkin seorang keturunan Arab bernama Ansel. Tak ada larangan, kan? Dan yang bernama Abdul pun tak selalu keturunan Arab.” Jawab seseorang yang terlalu serius.
“Dia Cina.” Gurau seseorang yang terlalu melantur.
“Jangan rasis!” Gubris yang lain, dan lagi-lagi terlalu serius.
“Ada yang punya foto dia telanjang?” tanya seorang tante—yang foto profilnya sedang selfie dengan latar belakang demonstrasi ormas berpakaian putih-putih.
“Astaghfirullah.” Seseorang membalas tulisan tante di atas.
Namun, sebetulnya yang paling berefek nyata adalah tulisan si pengunggah pertama foto itu, yaitu tante biang gosip yang hobi belanja dan memotret tanpa izin. Tulisannya ketika mengunggah foto itu: “Namanya Ansel. Mungkin umurnya dua puluh atau belum sampai. Penjaga kasir Kiamart di Citos. Cakep, ya?”
Penjaga kasir Kiamart Cilandak Town Square!
Jadi sebetulnya obrolan di media sosial itu cuma imbas kecil. Imbas besar dan nyata adalah yang terjadi di Kiamart sejak foto salah satu karyawannya itu beredar. Supermarket itu mengalami banyak peningkatan pengunjung. Namun anehnya, pendapatan harian hanya meningkat sedikit. Banyak pengunjung ke toko besar itu hanya membeli beberapa sabun atau mi instan. Pamrih utama mereka adalah melihat Ansel dari dekat. Ada banyak lajur kasir, tetapi hanya satu lajur saja yang mengalami antrean dua sampai tiga kali lebih panjang dibanding antrean kasir lain, dan beberapa anggota antrean betul-betul ngotot tak mau pindah lajur ketika diarahkan petugas. Lalu, sementara si petugas kasir menghitung belanjaan, pemilik belanjaan mengambil kesempatan untuk selfie. Atau candid. Atau keduanya.
Yang terjadi kemudian bisa ditebak: foto-foto Ansel semakin banyak di media sosial. Awalnya Facebook, lalu Twitter tak mau ketinggalan. Tanda pagar tentang Ansel pernah berada di peringkat lima trending topic nasional.
Reaksi terhadap foto-foto Ansel yang tersebar raya tentu sangat bervariasi. Tentu sebetulnya banyak reaksi yang cenderung wajar dan tidak dramatis, atau justru menjurus pada khotbah supaya para perumpi di dunia maya itu bertobat. Namun kita tahu bahwa reaksi-reaksi provokatiflah yang berpeluang paling tinggi untuk menjadi sorotan. Jadi mari kita sorot yang provokatif itu, dengan pendekatan yang menggunakan asumsi ini: ketika orang-orang telah menjadi penggemar atas sesuatu, maka selalu ada kecenderungan untuk munculnya tindakan yang kurang waras.
Hal provokatif dan kurang waras yang dimaksud dalam paragraf sebelumnya, di antaranya mencakup kemunculan beberapa meme tentang foto Ansel. Tentu saja ada meme dengan pesan moral yang bagus, kita tahu itu. Namun karena konteks yang kita dibahas adalah sesuatu yang “kurang waras”, maka meme yang dipersoalkan ini tak lain adalah foto Ansel yang dijadikan satu bingkai sebelah-menyebelah dengan foto patung David karya Michelangelo. Itu memang patung yang bagus. Masalahnya: patung itu telanjang. Jika kau pernah melihat patung itu, kau tentu setuju bahwa penisnya dipahat sangat menggemaskan. Sedosa apa pun pembuat meme itu, sepertinya dosa Michelangelo lebih besar. Seniman Italia itu telah memahat penis seorang nabi!
Dan kini sang nabi yang telanjang disandingkan dengan seorang penjaga kasir supermarket—yang tidak telanjang. Karyawan yang tak tahu diri!
“Kok Ansel tidak telanjang?!” Tulis tante yang fotonya berlatar belakang demonstrasi ormas. Betapa mulia tuntutannya—jika seorang nabi saja telanjang, pantaskah siapa pun yang mendampinginya masih berpakaian?
Foto Ansel sebingkai dengan patung David itu kemudian diblokir oleh Facebook, atas nama kesenonohan. Namun apa pun yang telanjur beredar di dunia maya tak akan pernah benar-benar bisa dihentikan, kita tahu itu. Termasuk foto hasil editan Photoshop yang menggabungkan kepala Ansel dengan badan telanjang aktor porno—seorang tante yang amat membutuhkan foto telanjang telah menyimpannya. Satu tempat memblokir, tempat lain dijadikan suaka.
Para penggemar yang telah menciptakan sendiri kegemaran itu, belum lelah membuat variasi tentang foto-foto yang melibatkan Ansel. Kita tahu, ada jenis penonton bioskop yang suka memotret karcis mereka dan kemudian mengunggahnya di media sosial. Penggemar Ansel melakukan hal absurd yang tak jauh beda: mengunggah foto struk belanja. Yang harus kentara di foto struk itu tentu saja adalah nama “Ansel” sebagai operator kasir. Prioritas berikutnya adalah menyangkut gengsi, yaitu total belanjaan. Namun, untuk mengabadikan jumlah belanjaan yang banyak maka membutuhkan struk yang panjang, dan dengan demikian akan sulit untuk memotret keseluruhannya tanpa membuatnya menjadi sedemikian kecil dan nama “Ansel” menjadi tak terbaca. Solusinya kemudian terpecahkan: tak perlu berbelanja banyak-banyak, sedikit saja tetapi pastikan harganya mahal. Sehingga struk dapat terpotret seluruhnya, nama Ansel tetap terbaca, dan angka di struk tidak memalukan untuk dipamerkan. Tidak banyak yang melakukan ini, tetapi ada.
Atasan Ansel di Kiamart senang-senang saja dengan fenomena itu. Dia tak peduli dengan meme yang juga beredar mengenai supermarket itu; meme itu berupa potret antrean panjang di Kiamart dengan Ansel sebagai penjaga kasir, dengan tulisan menohok “Tanda-tanda kiamart sudah dekat!”. Untuk apa mempedulikan orang-orang sirik yang meramalkan kiamat? Yang penting tokonya menjadi terkenal! Siapa pun tak boleh menyalahkan Kiamart, sebab bukan salah Kiamart jika memiliki karyawan yang sedemikian tampan. Bukan salah Ansel juga dilahirkan dengan wajah tampan. Tak ada yang salah, kecuali para penggemar dan pengamat yang ribut sendiri itu—seandainya mereka memang perlu untuk disalahkan.
Awalnya memang para penggemar yang teracuni hype itu begitu menjengkelkan karena membuat lajur antrean menjadi timpang, sedangkan kenaikan pendapatan di toko itu tak terlalu signifikan. Namun uang tetaplah uang, semakin banyak semakin bagus, meskipun pertambahannya tidak melonjak. Ansel menjadi “Employer of the Month”. Dan untuk suatu alasan yang tidak dijelaskan tetapi mudah diendus, Ansel tetap ditempatkan di kasir.
Namun, marilah mulai di bagian ini kita berlaku adil. Kita harus adil terhadap Ansel. Bagaimana dengannya? Apa yang dipikirkannya mengenai fenomena popularitas itu? Bagaimana dia merasakannya? Apakah “Employer of the Month” menjadi hiburan yang setimpal?
“Aku lelah sekali,” curahnya ke seorang kawan yang ditemuinya secara kebetulan di kafetaria. Ansel menyedot jus melonnya separuh, lalu meneruskan, “Ini sudah menjadi aneh sekali. Setiap hari aku meladeni pembeli dua bahkan tiga kali lebih banyak dibanding yang lain. Dan saat mereka mulai memotret-motret, tak peduli aku sudah terlalu lelah untuk memasang senyum demi kamera mereka, ya ampun, itu betul-betul tak berperasaan! Sekarang mereka juga mulai meminta tanda tanganku di belakang struk belanja mereka. Bahkan beberapa ada yang bertanya alamat rumahku!”
“Selamat datang di dunia di mana semua yang tampan harus terkenal!” timpal si kawan dengan nada yang sedikit bernyanyi. Kawan Ansel itu bernama Leon; mereka dulu sekelas selama tiga tahun di SMA dan kini bekerja di kompleks mal yang sama tetapi untuk perusahaan yang berbeda. “Tak peduli kau pemulung, tak peduli kau tukang daging, tak peduli kau masih balita atau sudah bangkotan, bahkan meskipun kau seekor kambing, kalau kau tampan maka kau harus menjadi terkenal!”
“Ya, aku pernah melihat foto itu ... kambing yang katanya tampan,” gumam Ansel setengah melamun. “Tapi tidakkah itu semua aneh?”
“Masalahnya bukan aneh atau tidak. Masalahnya adalah itulah kenyataan.”
“Karena kenyataannya begitu, berarti aku harus melupakan keinginan untuk bekerja yang sewajarnya dan hidup dengan tenang?” tukas Ansel, seperti membutuhkan simpati.
Leon mendesah. “Hidup tenang adalah keinginan banyak orang. Tidak dilarang untuk dicapai di zaman apa pun. Tapi, untuk orang-orang tertentu, hidup tenang harus dicapai dengan usaha yang keras. Sepertinya.”
“Sial.”
“Ketampanan ada hikmahnya.”
Ansel tak menceritakan pada Leon perkembangan terbaru dari popularitasnya. Sebetulnya diam-diam Ansel memantau popularitasnya di dunia maya. Beruntung selama ini dia tak pernah pamer foto dirinya di media sosial, sehingga tak ada foto-fotonya yang tersebar, kecuali yang diambil pembeli ketika dia sedang bekerja di kasir dengan seragam Kiamart. Bahkan di Facebook dia memasang gambar kucing sebagai foto profil. Dia sangat menjaga privasi jejaring sosialnya. Namun baru-baru ini telah tersebar lagi foto dirinya, dan kali ini bukanlah foto ketika dia berseragam Kiamart. Yang barusan beredar ini sebetulnya foto yang sudah ada sebelum dia terkenal, yaitu ketika dia sedang berada di pusat kebugaran. Dia memakai celana pendek dan kaos sport tanpa lengan bermotif tiga warna horizontal (tapi bukan warna pelangi); kulitnya begitu cerah, sehingga bulu-bulu ketiaknya yang tipis dapat terlihat ketika tangannya sedang terangkat menyeka kepala. Begitulah dirinya di foto “terbaru” itu. Maka dalam hati dia memaki-maki orang yang memotretnya waktu itu, sebab tak ada pelaku penyebar foto yang lebih layak dicurigai selain orang itu. Namun perlu diketahui: oknum itu bukan Leon.
Sebetulnya, Leon juga sudah melihat foto “terbaru” itu di Facebook. Ada temannya yang memajang foto itu lalu terlihat di “beranda”. Namun demi menjaga perasaan Ansel agar tidak semakin memburuk, dia pilih tidak mengungkitnya.
“Andai aku perempuan, mungkin aku akan segera berhijab saja,” celetuk Ansel—kemudian dia tertawa sendiri.
“Tapi itu tak menutupi mukamu. Sedangkan kau disukai karena mukamu, kan?” tukas Leon. Sepertinya memang begitu. Muka dan rambut, barangkali. Sebetulnya, rambut Ansel memang mirip David, jadi pembuat meme itu tidak salah meskipun dalam batas tertentu kurang senonoh.
“Emm ... jadi aku juga perlu bercadar?” Ansel semakin melantur.
Kita tahu, aurat wajib ditutupi dari mata umum, sebab bagian itu dapat menimbulkan rangsangan bagi manusia lain terutama yang kadar kecabulannya tinggi. Menurut suatu agama, aurat seorang perempuan meliputi sebagian besar tubuhnya; yang tak termasuk aurat pada perempuan adalah wajah dan telapak tangan. Sedangkan aurat pada laki-laki adalah mencakup sekitar pusar ke bawah hingga paha—oleh karena itu laki-laki boleh telanjang dada di depan umum, meskipun pada situasi tertentu itu tidak sopan.
Namun, pada kasus Ansel, rupanya wilayah aurat laki-laki itu telah meluas. Dia bahkan tak perlu sampai bertelanjang dada, dia hanya kebetulan memperlihatkan ketiaknya saja dan ada orang-orang yang terangsang karenanya. Dan, sebetulnya wajahnya saja pun sudah cukup untuk membuat orang-orang tertentu berfantasi cabul, jadi tak mengherankan jika wajahnya pernah ditempel di badan telanjang model porno—wajah Ansel adalah kunci dari semua itu! Jadi, betulkah dia perlu cadar?
Seorang temannya, tapi bukan Leon, pernah berkata begini: “Kalau laki-laki memakai pakaian dan atribut perempuan, dia pasti LGBT!”
Sialnya, akhir-akhir ini sering terdengar seruan bahwa LGBT itu juga haram. Kalau begitu, memakai cadar berbahaya bagi Ansel, sebab dia akan menjadi LGBT. Lalu apa solusinya? Ansel menyelami pikirannya: dari mana semua masalahnya berawal, jawabannya adalah dari foto yang diedarkan seorang tante tanpa seizinnya. Dia pun mulai berpikir bahwa sudah saatnya ada sesuatu yang harus diharamkan!
Mengapa harus “haram”? Mengapa bukan “ilegal” saja? Kita tahu, hukum agama dan hukum negara adalah sesuatu yang berbeda, kecuali jika negara dan agama dicampuradukkan. Permasalahannya adalah: tak akan tepat guna jika candid atau selfie dijadikan sebuah tindakan ilegal. Sebab negara adalah sesuatu yang perlu serasional mungkin, terutama di aspek ekonomi; jika faktanya salah satu hal yang paling dibicarakan seseorang tentang ponsel adalah kualitas kameranya, maka bisakah sebuah negara melarang candid dan selfie? Bisnis ponsel akan anjlok! Negara ini bisa dimaki-maki oleh negara-negara pemasok ponsel dan mereka bisa membalas dengan cara berhenti mengimport kopi dan tekstil. Di samping itu, adakah negara yang tak butuh ponsel? Dan, adakah di zaman sekarang ponsel tanpa kamera?
Oleh karena itu, alih-alih menetapkan ilegal, lebih cerdik jika menetapkan candid dan selfie dan segala macam aktivitas berkenaan dengan foto yang dilakukan tanpa izin, adalah haram. Itu tidak akan membuat negara pemasok ponsel dan kamera menjadi marah, sebab fatwa haram di negara ini tak akan serta merta memengaruhi konsekuensi hukum—atau kebijakan ekonomi luar negeri. Saat kau melakukan hal yang haram bagi suatu agama, belum tentu kau melanggar hukum negara. Lalu, kalau begitu, apakah bisa membuat orang menjadi kapok memotret seenaknya? Mungkin tidak. Namun setidaknya orang-orang usil itu akan menjadi memikirkan pertanggungjawaban mereka kepada Tuhan. Sebab, meskipun fatwa haram dibuat oleh manusia, para pelanggarnya akan dibuat berurusan dengan Tuhan. Singkatnya, biar menjadi jelas bahwa mereka akan dihukum Tuhan, dan semoga mereka takut karenanya. Kalaupun mereka masih tidak takut, yah, setidaknya kita sudah berusaha. Dunia memang bandel.
Itu bukan pikiran Saya. Itu adalah pikiran Ansel. Dia tak pernah lupa salat lima waktu. Dan saat ini dia dibuat dilema gara-gara ketampanannya memicu antusiasme tak waras. Dia sudah tampan dari lahir, dan masih tampan di usia sembilan belas, dan mungkin akan tampan sampai tua. Bukankah itu berkat? Namun, apa yang kau sendiri akan pikirkan, ketika sesuatu yang diberikan sebagai berkat ternyata membuatmu kerepotan? Yah, Leon sudah menjawab: berkat memang ada hikmahnya.
Kasihan Ansel. Dia bingung. Dia menemukan banyak pihak untuk dikutuk, termasuk takdir, sebab takdir telah memberinya berkat yang merepotkan. Namun mengutuk takdir sama dengan mengutuk Tuhan, sebab Tuhan adalah oknum di balik takdir. Dan bagi orang yang rajin sembahyang, mengutuk Tuhan lebih berbahaya dibanding tante-tante yang memburu foto telanjang.
“Apa yang biasanya bisa menghiburmu?” Leon memecah lamunan, menyadari kekalutan temannya.
Ansel mengerutkan alis sedikit. “Sorry?”
“Lakukanlah hal-hal yang biasanya bisa menghiburmu, itu cara paling sederhana untuk kembali merasa tenang. Lupakan sejenak soal foto-foto dan para pengagum. Itu semua menjadi berat karena kau terlalu serius memikirkannya. Saat pikiranmu sudah kembali relaks, masalah itu mungkin akan terasa lebih ringan—setidaknya kau akan lebih santai menjalaninya.”
Ansel menggeleng. “Awalnya aku juga menganggap santai hal ini. Dan lihat, hasilnya malah makin parah.”
“Oke, mungkin masalahmu tak akan langsung meringan begitu saja. Tapi setidaknya berilah pikiranmu jeda. Jangan paksa kepalamu,” anjur Leon. Lalu dia menawarkan langkah konkret: “Pergilah ke bioskop. Tontonlah film. Biasanya itu manjur.”
Ansel menggeleng lagi. “Terakhir kali aku ke gym, ada cewek mengikutiku. Dia mengaku mengenalku dari internet. Menyeramkan! Jadi sekarang, selama itu adalah tempat umum, maka tak ada jaminan bisa memberiku ketenangan.” Dia menghabiskan jus melonnya. “Sekarang aku paham mengapa orang-orang terkenal butuh bodyguard. Para bodyguard memang menguntit ke mana-mana, tapi setidaknya tak ada maksud personal ... atau maksud sentimental ... atau maksud obsesif.”
“Kalau begitu, tak ada tempat yang lebih baik selain di rumah saja,” tukas Leon.
Ansel menggeleng lagi. “Mamaku terus membahas soal kemungkinan aku menjadi artis. Dia mendorongku untuk mencari agen, mumpung sedang populer.”
“Bukankah itu ide bagus? Daripada stres karena populer, lebih baik manfaatkan saja popularitasmu. Kau bisa main film, menjadi aktor, dan itu bisa membuatmu berpenghasilan lebih baik daripada hanya menjaga kasir.”
“Atau ... aku hanya akan bermain di sinetron,” dengus Ansel sinis.
“Ya, ‘Penjaga Kasir Naik Haji’. So what? Penghasilan aktor sinetron pun tetap lebih baik daripada penjaga kasir—kalau sinetron itu sukses.”
“Aku tak mau popularitas semacam ini, ataupun uang yang dihasilkan dari popularitas semacam ini! Please, mengertilah!” tukas Ansel dengan penekanan yang dramatis, disertai mimik yang mengundang rasa kasihan.
Leon memandangi temannya dengan raut simpatik. “Sebetulnya, di satu sisi aku suka idealismemu. Tapi ... kita hidup di Jakarta, man. Uang memang tak bisa membeli segalanya, tapi tetap saja uang itu penting. Tapi ... yah, akhirnya kembali ke tujuan hidup masing-masing, sih.” Dia menyesap kopinya yang sudah mendingin, lalu bertanya, “Jadi, apa rencanamu?”
Ansel mendesah. “Aku tak punya rencana. Aku cuma butuh ada teman yang menemaniku—teman yang tak harus kukuatirkan memiliki maksud personal, maksud sentimental atau maksud obsesif.”
“Ya. Sepertinya aku teman yang seperti itu,” dengus Leon disertai tawa kecil tidak tulus.
Mereka saling kenal baik, tapi selama ini tak ada hal yang secara rutin bisa dikerjakan bersama. Singkatnya: mereka jarang berbagi waktu. Jadi masih apriori untuk menyimpulkan keduanya bersahabat. Sore itu mereka cuma kebetulan berada di kafetaria yang sama. Dan kebetulan Leon bukan orang yang mudah terpengaruh “kepopuleran” seseorang, sehingga Ansel nyaman bicara dengannya.
Ponsel Ansel berdering. Dia mengangkat panggilan tak dikenal itu dengan ragu. “Halo .... Ya, ini dengan siapa? .... Mmhh, maaf, dari teve? Teve mana? Oh, oke .... Wawancara?”
Leon dapat melihat wajah Ansel menjadi begitu dramatis seperti sedang mengalami serangan asam lambung mendadak. Wajah itu tampak memucat dan bibirnya setengah terbuka, gemetar.
“Sorry, tidak bisa .... Maaf, saya betul-betul tidak bisa ....” tandas Ansel agak parau, seperti orang yang sedang didesak-desak. Dia menutup ponsel saat kedengarannya orang yang menghubunginya masih berusaha membujuk.
Ansel baru saja menolak tawaran wawancara sebuah reality show yang mengulik tentang fenomena orang-orang awam yang menjadi populer.
Leon mencoba ingin tahu, “Kok gugup? Dari siapa tadi?”
Ansel menjawab dengan pertanyaan, “Film apa yang sedang diputar di bioskop?”

Ansel pergi ke bioskop sendirian saja dan memilih film secara spontan di tempat. Ansel sebetulnya sudah mencoba mengajak Leon, tapi kawannya itu punya acara lain. Dan, lagi-lagi Ansel merasakan masalah di tempat tujuannya: beberapa orang di lobi bioskop kelihatannya mengenalnya. Orang-orang yang “kelihatannya kenal” itu memang berjumlah tidak banyak, tetapi mereka tampak tersenyum-senyum dan berbisik-bisik dan sorot mata mereka mengganggu. Ansel merasa tak nyaman. Betul yang telah dia cemaskan: tempat umum tak lagi memberinya ketenangan. Namun, dia betul-betul butuh hiburan. Di ruang sinema, dia memilih kursi yang tak berdekatan dengan penonton lain. Itu artinya dia terpaksa duduk di deret cukup depan. Dia mendongak sepanjang film. Dia keluar dari bioskop dengan leher pegal. Dia juga tak ingat film tadi tentang apa.
Hari berikutnya, seorang teman Ansel yang juga bekerja di Kiamart menawari apakah dirinya mau ke karaoke malam nanti. Ya, hari itu gaji beserta bonus baru saja cair, jadi saatnya berfoya-foya. Ansel mengiyakan dengan antusias. Dia pikir lobi di tempat karaoke biasanya tak terlalu ramai orang—tak seramai di gedung bioskop, pastinya—dan setelah dapat room maka privasi akan terjaga, jadi dia tak akan terlalu diperhatikan oleh orang-orang kecuali teman-teman seperkaraokean yang sudah dikenalnya. Lalu dia bisa menyanyi sepuasnya. Hiburan yang menarik! Mengapa baru terpikir sekarang?
Malam itu teman Ansel memesan ruang medium untuk tiga jam. Pembuat ide ini adalah Edwin, pegawai Kiamart yang bekerja di pos pengadaan barang. Ansel kenal baik, seperti dia mengenal Leon—kenal baik tapi jarang bersama.
Ada dua teman lainnya yang diajak oleh Edwin, dan mereka bukan pegawai Kiamart. Ruangan karaoke selalu remang-remang, jadi Ansel tak memerhatikan teman-teman Edwin secara jelas, kecuali bahwa salah satunya berkumis. Mereka mungkin juga tak memerhatikan Ansel secara jelas. Jadi Ansel tak terlalu peduli, meskipun sebetulnya tak terlalu sreg juga menyanyi sekamar di mana hanya ada satu orang yang dikenalnya, dan dua orang lain yang tak dikenalnya. Padahal, ketika menyusun rencana tadi siang, Edwin berkata bahwa ada pegawai Kiamart lainnya yang juga akan ikut, sebut saja si A dan si B; saat sudah tiba di tempat itu, Edwin berkata bahwa si A dan si B tidak jadi ikut.
Mereka mulai bernyanyi bergantian dengan suara-suara yang tak satu pun layak diperhitungkan. Yang penting senang, bukan? Dan beberapa botol juga menemani—botol berisi air yang bisa menyala kalau disulut. Salah satu teman yang dibawa Edwin terlalu sering meludah—sepertinya kebiasaan—dan berkali-kali menghampiri tong sampah stainless di ruangan untuk membuang isi mulutnya. Ansel tidak nyaman. Namun air dalam botol tadi meredakan rasa jijiknya terhadap segala sesuatu yang dia anggap menjijikkan, secara perlahan-lahan. Yah, dia memang lelaki yang rajin salat, tetapi setiap orang selalu pernah mengalami hal-hal khilaf.
Faktanya, meskipun Ansel tak nyaman ketika di bioskop, ruang karaoke yang dipikirnya lebih nyaman itu justru lebih membahayakan. Edwin pamit keluar sebentar setelah dipikirnya Ansel sudah cukup banyak menenggak alkohol. Melihat Ansel kelihatannya teronggok tanpa daya di sofa, dua teman Edwin yang remang-remang itu pun mengira Ansel sudah cukup mabuk, dan mereka paham kode yang diberikan Edwin. Maka diserbulah Ansel. Si kumis memegangi kedua lengan Ansel dari belakang, sedangkan yang satu lagi membedah kemeja Ansel yang langsung bertemu dengan dada bidang mulus beserta dua benda mungilnya.
“Mantap!” seru si pembedah disertai gelak tawa. Lalu dengan dorongan nafsu mulutnya maju untuk menyucup. Duk! Dengkul Ansel lebih dulu menyambut pipi lelaki itu. Duk! Sambutan kedua adalah pancalan tepat di muka! Orang itu mental dan terbenam sempurna di balik sofa.
“Bocah nakal!” seru si kumis saat melihat ulah Ansel yang memberontak. Ansel digulingkan ke lantai, lalu pria berkumis itu mencoba menungganginya dari depan. Akibatnya: selangkangan si kumis menghantam dengkul. Si kumis melenguh dan mundur; Ansel berhasil bangkit berdiri dan membuat pertahanan. Si kumis nekat menubruknya lagi. Namun Ansel lebih dulu menyambar tong stainless dan menyosorkannya ke jidat si kumis. Dooong...! Si kumis terkapar di lantai melihat bintang-bintang.
Ansel memaki-maki dua pemerkosa yang gagal itu, yang kini telah bergelimpangan di lantai. “Anjing!”, “Homo!” dan sebagainya. Untuk saat ini lupakanlah fakta bahwa dia lelaki yang rajin salat, sebab dia sedang mabuk. Alkohol memang jahanam!
Ansel terpengaruh alkohol, tapi kesadarannya berada pada kadar yang masih dapat diandalkan, sehingga dia masih cukup sigap menghadapi dua orang tadi—yang juga terpengaruh alkohol. Sekarang dia agak terhuyung meninggalkan ruangan. Dia bertemu Edwin di pintu keluar. Buk! Pukulan dikirim untuk pegawai toko bermental germo itu. Ansel memakinya.
“Dibayar berapa lu?!”
“Sorry, gua lagi butuh duit ....”
“Ya jual aja diri lu sendiri!”
Tidak laku, itu masalahnya.
Ansel menggeloyor sepanjang trotoar. Dia lupa kalau dia tadi datang ke tempat itu membawa motor. Dan kepalanya sekarang menjadi pusing—tadi juga sudah pusing, tapi saat melawan dua orang di kamar karaoke pusing itu terlupakan sejenak. Dia duduk di pinggir trotoar seperti gembel. Sebetulnya dia punya rumah, tentu saja, dan ada keluarga di rumahnya, tapi sepertinya pusing di kepala membuatnya memencet nomor lain di ponsel.
“Leon, jemput gue bisa nggak ...?”

Dia menceritakan kejadian di tempat karaoke itu. Sepanjang dia masih “sadar”, dia terus memaki-maki di depan Leon. “Anjing!”, “Homo!” dan sebagainya. Tentu saja bukan Leon yang dimakinya.
“Man, sorry nih, ya ... ini sudah malam. Kalau tetangga dengar, bisa dikira kita pacar yang lagi berantem.” Leon memotong makian Ansel yang kesekian. “Gue kos di sini, dan besok gue bisa diusir.”
Ansel sadar. “Oke. Sorry.”
“Lu mau tidur di sini?”
Ansel mengangguk.
“Ya sudah. Tidur. Lu sudah cerita sampai lu ulangi tiga kali! Cukup buat gue ingat seumur hidup.” Lalu Leon terjun ke dipan, mendahului tidur.
Ansel tidur di lantai, beralas kasur tipis. Dia tidur dengan cepat, dan dengan begitu dia tak perlu mengulang ceritanya sampai yang keempat kali malam itu, dan dengan begitu juga semua makiannya berhenti.
Pagi harinya, Ansel bangun lebih dulu. Itu sebuah prestasi yang membanggakan, sebab biasanya orang mabuk bangun lebih belakangan dibandingkan orang yang tidur dalam keadaan waras. Mungkin karena Ansel selalu salat subuh, jadi otaknya sudah terprogram untuk bangun pagi-pagi—sekalipun bukan untuk salat subuh. Leon yang semalam berangkat tidur dalam keadaan waras—meskipun sangat kelelahan karena mendengar cerita dan makian Ansel—pagi itu bangun sedikit lebih belakangan. Saat bangun, Leon melihat kasur tipis di lantai sudah kosong.
“Sepertinya si Ansel sudah pulang,” pikir Leon. Dia menggeloyor ke kamar mandi untuk terkejut sedetik kemudian ....
“Woi!” Ansel yang sedang kencing menyergah. Leon buru-buru menutup lagi pintu kamar mandi.
“Kenapa tidak dikunci?!” gerutu Leon. Dia tak dijawab.
Beberapa menit kemudian keduanya sudah berhadapan di meja yang sama. Leon memegang segelas sereal. Ansel juga.
“Sorry, aku sudah merepotkan,” kata Ansel pelan. Lalu menyeruput sereal.
“Susah, ya, jadi dirimu,” balas Leon menyindir. Menyeruput sereal.
“Homo-homo sialan!” Ansel mulai memaki. Makian pertama pagi itu, tapi sudah tak sekasar tadi malam.
“Kau sudah menyebut kata itu puluhan kali sejak semalam, yang dibarengi dengan nama-nama binatang.”
Ansel mengerling. “Oh, ya?” Wajah tampannya tampak konyol.
“Ya. Aku mengerti kejadian semalam menjengkelkan sekali untukmu. Tapi ... ayolah, kau tak harus terus-menerus memaki, terlebih dengan kata itu.”
Keduanya saling berpandangan. Pandangan dari mata Ansel lebih tajam dan penuh terka. “Kenapa?” lontarnya pelan.
Pandangan diam lagi selama beberapa detik.
“Gue juga homo, tahu nggak?” jawab Leon kemudian. Dia tersenyum kecut. Lalu menyeruput sereal lagi. “Tapi ini pertama kalinya aku pakai kata itu. Pertama kali dan terakhir kali. Setelah ini, kuharap aku tak akan mendengar kata itu lagi ... terlebih dari mulutmu.”
Terdapat jeda agak lama, yang dilewatkan dengan saling berpandangan (lagi dan terus).
Lalu Leon menambahkan singkat dan tegas, “Karena kita teman.”
Ansel membuang muka dan terpekur. Lalu dia minta penegasan, “Serius?”
“Seriuslah,” tegas Leon pelan. “Kau bukan orang pertama yang kuberi tahu. Sebetulnya aku tak berencana memberi tahu, tapi jujur saja aku terganggu saat kau memaki-maki, dan aku ingin kau mengerti bahwa tak semua gay itu brengsek seperti orang-orang yang semalam mau memperkosamu.”
Ansel memandangi Leon lagi. “Jujur saja, kau membuatku kaget.”
“Jujur saja, aku takut setelah ini kau akan membenciku. Sama takutnya dengan melihatmu memiliki cara berpikir yang sempit. Tapi, kupikir lebih baik aku bicara apa adanya saja. Karena kita teman. Meskipun jarang ... yah, intinya kita teman, kan?”
Ansel tampak konyol lagi. “Jadi, nggak semua gay itu brengsek?”
Leon meneguk sereal sampai habis. “Sorry, gue tadi nggak sengaja lihat burung lu. Tapi lu tahu gue nggak ada maksud buat ngapa-ngapain lu. Serius. Karena kita teman.”
Ansel tercenung. Beberapa detik kemudian tertawa. Hampir keras. Dia juga menghabiskan serealnya, lalu berkata, “Lu bisa anterin gue ke tempat karaoke itu? Motor gue ketinggalan.”

Internet telah menjadi semacam inang bagi berbagai macam virus mental. Dalam kasus Ansel, orang-orang mengidap penyakit yang membuat mereka seolah-olah memiliki hak dokumentasi dan hak siar atas diri Ansel, sehingga boleh mendistribusikan foto-foto itu tanpa perlu izin lagi, dan semua itu dilakukan dengan argumen: “Karena kami penggemarnya!”
Jadi, sepertinya memang ada orang yang ditakdirkan untuk menjadi objek. Dan takdir itu sebetulnya tak selalu berada di balik sosok yang tampan, tapi kadang juga di balik sosok yang dekil. Keduanya bisa sama-sama menjadi objek, bedanya adalah yang tampan menjadi objek pujian sedangkan yang dekil menjadi objek cacian. Pada titik tertentu, yang tampan juga bisa menjadi objek kesinisan sedangkan yang dekil menjadi objek simpati. Pujian, cacian, kesinisan dan simpati—Ansel tak meminta semua itu. Dia hanya ingin situasi hidupnya tenang. Dia remaja yang sederhana. Hanya saja, siapa yang bisa menolak takdir? Takdir telah bertitah: tampanlah kau sejak dilahirkan, dan repotlah kau karenanya!
Ansel tak bisa menolak takdir, tapi untung takdirlah yang akhirnya bosan sendiri pada ketampanannya. Dunia ini sesungguhnya penuh dengan orang rupawan—kau pasti tahu itu, kan? Ketika rupawan yang satu tak ingin dikenal, maka rupawan yang lain akan segera menggeser posisinya. Para pemuja tampang di media sosial itu memang sejak awal tak pantas diladeni, sebab kebanyakan dari mereka cuma pemburu-pemburu yang manja dan mudah ngambek. Keengganan Ansel lama-lama dirasakan juga oleh mereka, dan ... ya, akhirnya mereka pun mulai memaki. “Dasar sombong!”, “Sok kecakepan!”, “Memangnya cowok cakep cuma kamu?” dan sebagainya. Namanya juga orang-orang terjangkit virus. Tidak waras.
Ansel memutuskan berhenti bekerja di Kiamart. Resign. Bukan karena dia menyerah pada ulah para penguntit dan pengedar foto yang di depan hidung mengaku sebagai penggemar, melainkan ingin mengamankan diri dari tindakan kalap. Sebab jika dia masih terus bekerja di Kiamart, dia akan terus bertemu dengan orang yang pernah mencoba “menjual” tubuhnya ke pria-pria mesum. Memang, Edwin-lah yang semestinya tahu diri untuk keluar dari pekerjaannya; tetapi untuk apa mengharapkan perasaan tahu diri dari orang yang berani menjual tubuh orang lain—tanpa izin—seperti dia? Ansel merasa lebih punya harga diri dan kewarasan untuk dijaga, maka dia hengkang tanpa tunggu-tunggu.
Dia cuma menganggur sebulan. Salah satu pamannya membuka sebuah kafe bertema teh di sebuah kompleks wisata di lereng Gunung Salak. Ansel ke sana, menjadi penjaga kasir lagi. Beberapa pekerja di kafe itu ada yang mengenalinya sebagai “wajah yang populer”, tetapi untunglah mereka orang yang waras sehingga tidak bertingkah macam-macam. Yang memendam perasaan mungkin ada, tetapi semuanya terkendali. Kali ini tak mungkin tidak terkendali, sebab Ansel adalah keponakan tersayang si bos. Kuncinya adalah: hargai privasi seseorang, sekagum apa pun dirimu padanya. Dan terhadap orang-orang yang bisa menjaga sikap, Ansel adalah orang yang sangat welcome.
Ansel nyaman bekerja di kafe itu. Penuh aroma teh dan hawanya selalu sejuk. Maka, saatnya melupakan wacana mengharamkan candid dan selfie. Itu tidak penting lagi.
Dua bulan kemudian dia tahu dari pesan singkat bahwa Leon kini juga sedang menganggur dan butuh pekerjaan. Ansel mengundangnya, lalu nepotisme berperan. Sekarang Ansel dan Leon bekerja di tempat yang sama. Artinya, mereka kini jadi sering bersama. Dalam konteks pekerjaan.
Sementara itu, orang-orang yang dulu tergila-gila pada Ansel kini juga mulai melupakannya. Sekali lagi, wajah-wajah rupawan mudah dicari; siapa yang betul-betul menunjukkan minat untuk semakin terkenal, dan kalau bisa dibumbui beberapa drama kehidupan sehari-hari, tentu ditambah pula dengan sesekali sudi memamerkan tubuhnya, maka popularitasnya akan bertahan lebih lama. Sisi positifnya: ia bisa menjadikan itu siasat karier, agar bisa digaet untuk masuk acara televisi atau bursa model. Sisi negatifnya: besar kemungkinan ia akan menjadi objek fantasi bagi pemuja yang mesum, dan suatu ketika kepalanya akan ditempelkan di badan model porno. Dia harus tahan dan maklum, sebab memang ada jenis manusia yang sangat membutuhkan fantasi seperti itu. Dan dalam kasus Ansel, sebetulnya beberapa orang masih mengharapkan foto telanjangnya—yang bukan editan.
Namun takdir harus selalu punya kejutan. Ketika beberapa orang harus puas hanya dengan foto porno hasil editan, dan sebagian lagi membayangkan tubuh polos Ansel seperti patung David, ada satu orang yang beruntung pernah melihat penis Ansel secara senyatanya.
Kalau kau bertanya, Leon akan menjawab, “Seingatku, bentuknya tak seperti milik David.”







1 komentar:

Anonim mengatakan...

minae...
kirain Ansel bakalan sama Leon...
Edwin nyebelin banget sih, pake acara mencari keuntungan dari terkenalnya Ansel, teman macam apa itu? untung Ansel bisa menyelamatkan diri...